RSS

Hari Ke 8 : Munich (Fussen & Old Town Munich)

Oleh : Vicky Kurniawan

Saat menyusun itinerary saya tidak pernah ragu memilih Munich sebagai salah satu destinasinya. Disamping dekat dengan beberapa tujuan di Austria, ada satu hal yang membuat saya harus mampir ke kota ini. Destinasi yang menjadi impian saya sejak lama adalah Neuschwanstein Castle, kastil ala Sleeping Beauty Disney yang terletak di Fussen kurang lebih 133 km sebelah selatan Munich. Jadilah saya merencanakan untuk menginap 2 malam di kota ini sebelum melanjutkan perjalanan ke kota berikutnya yaitu Zurich.

Neuschwanstein Castle

Neuschwanstein Castle dilihat dari Marienbrucke Bridge

Fussen

Terletak 5 km dari perbatasan Jerman – Austria, Fussen adalah sebuah kota kecil penghasil biola. Namanya menjadi terkenal karena ada beberapa kastil besar yang dibangun di areanya. Selain Neuschwanstein dan Hohenschwangau ada juga Hohes Schloss yang dulunya merupakan istana musim panas Prince Bishop of Ausburg. Dari Munich, kota ini dapat dicapai dengan menggunakan kereta sedangkan Neuschwanstein Castle yang terletak kurang lebih 4 km dari sini dapat dijangkau dengan menggunakan bis dari Fussen. Transportasi dari Munich menuju Neuschwanstein dapat dilihat ada gambar berikut ini.

Rute kereta Munich - Fussen Read the rest of this entry »

 
19 Comments

Posted by on March 11, 2016 in Jerman, Munich

 

Tags: , , , ,

Hari Ke 7 : Obertraun – Munich (Salzburg)

Oleh : Vicky Kurniawan

Pagi-pagi terbangun oleh suara alarm di handphone, uhhhh dengan mata setengah melek mulai mengintip jam berapa sekarang. Ternyata sudah jam 5 pagi, bergegas bangun dari tempat tidur untuk mandi dan sholat shubuh. Sebetulnya males banget harus bangun dan check out pagi-pagi. Tapi apa daya hari ini kita harus segera pergi ke Salzburg dilanjutkan ke Munich. Jadi untuk menyegarkan mata saya membuka jendela mengharapkan melihat gunung pagi ini, ternyata yah hari masih gelap. Saya lupa kalau saat musim semi di bulan Mei seperti sekarang ini, matahari akan terbit sekitar pukul setengah enam dan terbenam sekitar jam setengah sembilan malam. Jadi waktu kita kemarin pulang ke hotel hampir jam 8 malam, suasana diluar masih terang benderang. Itulah salah satu alasan mengapa saya suka traveling di musim semi karena waktu terangnya lebih panjang.

Suasana Obertraun sekitar jam setengah delapan malam

Suasana Obertraun sekitar jam setengah delapan malam

Ketika nasi di rice cooker matang dan sarapan siap, kami bertiga makan di teras sambil menikmati pemandangan pagi yang indah disertai hawa segar pegunungan. Kami sengaja tidak makan sarapan pagi dari hotel karena pasti menunya roti. Rencananya sarapan pagi dari hotel akan kita bawa sebagai bekal di jalan. Kebetulan saat check inn tadi malam kami memberitahu petugas resepsionis yang super ramah kalau mau check out pagi-pagi. Dia bilang kalau resepsionis akan buka jam 8 pagi jadi kalau mau check out diluar jam itu cukup meletakkan kunci saja di meja. Di luar dugaan dia juga bilang akan meletakkan sarapan pagi kami di meja resepsionis. Jadi sambil check out bisa sekalian mengambil jatah makan pagi. Tidak lupa kami ingatkan kalau bisa menunya vegetarian saja jadi tidak usah pakai daging. Untuk mempermudah urusan sengaja bilang vegetarian, soalnya malas banget kalau mau menerangkan tentang halal food. Untung saja kami sudah sarapan nasi dan bekal yang dibawa dari Indonesia karena ternyata sarapan paginya seperti sudah diduga terdiri dari sandwhich isi telur ditambah apel besar satu butir dan satu botol air mineral untuk masing-masing orang. Alhamdulillah lumayan untuk mengganjal perut nanti siang.

Read the rest of this entry »

 
22 Comments

Posted by on February 25, 2016 in Austria, Salzburg

 

Tags: , , , , ,

Hari Ke 6 : Munich – Obertraun (Hallstatt)

Oleh : Vicky Kurniawan

Tengah malam terbangun oleh suara pintu kompartemen yang dibuka dengan keras dan sejurus kemudian terdengar suara, “passport and ticket please”. Dengan mata setengah terpejam, tangan saya merogoh-rogoh bawah bantal tempat terakhir kali saya menyimpan paspor dan tiket dan ternyata mereka TIDAK ADA. What ? ?.. Mata yang tadinya setengah merem langsung melek 100 watt, dimana? dimana?. Pas mencoba duduk langsung DUK, kepala kejeduk langit-langit. Tanpa sadar saya langsung berteriak keras “WADOH”, kontan 5 penumpang, kondektur dan petugas keamanan perbatasan semuanya pada menengok keatas. Mungkin mereka berpikir, bahasa apa “wadoh” itu ?. Sambil menggosok-nggosok kepala yang sakit saya merasakan ada yang mengganjal di perut. Rupanya tanpa sadar saya sudah memindahkan paspor dan tiket dari bawah bantal ke kantong baju dalam. Langsung deh umek membuka selimut, jaket, sweater dan kaos masih ditambah perjuangan membuka resleting kantong baju dalam yang macet (duh). Akhirnya sambil keringatan saya mengulurkan paspor dan tiket pada petugas dibawah (pheww). Setelah selesai, mereka mengucapkan terima kasih dan berlalu dari situ. Secepat mereka datang secepat itu pulalah mereka pergi sampai seperti mimpi saja.

Hallstatt

Hallstatt

Tanpa terasa saya kembali hanyut dalam mimpi merasakan enaknya naik kereta tidur. Ini pertama kalinya saya naik kereta tidur untuk perjalanan malam yang panjang. Biasanya saya dan suami akan memilih naik bis yang harganya lebih murah. Tapi demi ibu tercinta bolehlah sekali ini kami membuat pengecualian. Enak juga ternyata pergi dengan ibu karena bisa dijadikan alasan untuk sedikit kemewahan 🙂 . Rasanya sudah lama sekali tidur, ketika saya merasakan keretanya berhenti. “Ah paling cuma menaik turunkan penumpang”, pikir saya. Setelah berjalan kurang lebih 30 menit, kereta masih belum jalan juga. Penasaran sekaligus kepanasan karena AC nya mati, saya turun dari tempat tidur dan melihat keluar. Kami sampai di stasiun Mannheim dan kereta berhenti cukup lama untuk menunggu lokomotif penariknya. Saya memang pernah membaca di suatu artikel kalau jalur City Night Line ini menerapkan sistim Through Coach dimana dalam suatu rangkaian perjalanan dia akan ditarik bergantian oleh dua kereta yang berbeda. Sebagai contoh misal dari Amsterdam berangkat dua kereta dengan dua jurusan yang berbeda, satu jurusan Amsterdam – Munich dan satu lagi Amsterdam – Zurich. Dari Amsterdam mereka akan berangkat bersama-sama dalam satu rangkaian, sampai di Manheim mereka akan berpisah. Kereta menuju Munich akan bergabung dengan kereta dari Paris dengan tujuan Munich, sedangkan kereta menuju Zurich akan bergabung dengan kereta dari Hamburg. Dengan sistem ini penumpang tidak perlu berpindah kereta dan perusahaan kereta api juga tertolong dengan efisiensinya.

Read the rest of this entry »

 
34 Comments

Posted by on January 21, 2016 in Austria, Hallstatt, Obertraun

 

Tags: , , , , , , , , , , , , ,

Hari Ke 5 : Amsterdam – Munich (Edam, Volendam & Marken)

Oleh : Vicky Kurniawan

Udara pagi terasa dingin ketika saya menapakkan kaki keluar dari hostel. Termometer di hand phone sebenarnya masih menunjuk ke angka 12 derajat tapi dinginnya sudah ampun ampunan. Sambil menunggu suami dan ibu mertua check out saya mengamati tukang ledeng yang sedang bekerja memperbaiki pipa di sepanjang jalan Warmoesstraat. Ternyata susah juga memperbaiki pipa di sini mengingat jalanan yang sempit dan berbatu. Seperti layaknya kota-kota kuno di Eropa, jalan kebanyakan ditutupi dengan ubin atau batu dan bukan aspal. Tapi dengan mengerahkan sedikit tenaga bisa juga mas tukang mengangkat batu tersebut dan memeriksa pipa di dalamnya. Kalau diamati tukang pipanya ganteng juga. Kelihatan maskulin dengan celana jeans, kaos putih dan sabuk peralatan di pinggang. Coba kalau dibawa ke Indonesia bisa jadi artis dia. Sambil mengamatinya bekerja saya berpikir, “Duh, kalau pipanya diperbaiki pasti jalanan bakal tambah macet, soalnya jalan ini kan sempit,”. Tapi pemikiran saya ternyata salah karena petang harinya saat saya kembali ke hotel jalannya sudah rapi seperti sedia kala seolah-olah tidak pernah didongkel sama sekali. Bah, coba tukang-tukang PDAM di Indonesia seperti ini nggak bakalan ada tuh orang jatuh ke lubang galian sampai masuk rumah sakit.

Jalan Warmoesstraat depan Hostel Meeting Point

Jalan Warmoesstraat depan Hostel Meeting Point

Perhatian saya sedikit teralihkan ketika terdengar suara gedebuk keras barang-barang dijatuhkan dari tingkat atas rumah sebelah. Rupanya si penghuni sedang mengadakan pembersihan besar-besaran. Cara membersihkannya juga unik. Cukup menaruh gerobak sampah besar di bawah jendela dan mereka tinggal membuang barang-barang yang tidak dikehendaki melaluinya. Dengan begitu mereka tidak perlu naik turun tangga yang sempit untuk membuang sampah-sampah itu. Praktis juga. Saat akan memasukkan barang-barang berat ke dalam rumah, mereka mengikatnya dengan tali dan mengereknya masuk lewat jendela. Tidak heran banyak rumah-rumah kuno di Amsterdam yang memiliki kerekan di atapnya. Jadi kerekan disini memang ada fungsinya dan bukan sekedar hiasan saja.

Kerekan di atap rumah (atas) dan cara mereka memasukkan barang (bawah) Photo by : gypsynester.com

Kerekan di atap rumah (atas) dan cara mereka memasukkan barang (bawah) Photo by : gypsynester.com

Setelah selesai urusan check out dan menitipkan backpack, mulailah kami berjalan menuju stasiun Amsterdam Centraal untuk naik bis menjelajah dua kota dalam itinerary saya yaitu Volendam dan Marken.

Sepeda di Amsterdam

Dalam perjalanan menuju halte bis di Amsterdam Centraal, saya dibuat kagum melihat tempat parkir sepeda yang bertingkat-tingkat. Bukan sepeda motor tapi sepeda pancal. Yah, dengan jumlah sepeda lebih banyak dari jumlah penduduk seharusnya saya tidak perlu terlalu heran dengan hal tersebut. Bagi Amsterdammers, sepeda sudah menjadi bagian dari hidup. Hampir 58% warganya menggunakan sepeda untuk pergi kemana saja. Dari orang tua, anak-anak, remaja bahkan mbak-mbak kantoran dengan sepatu hak tinggi semuanya menggunakan sepeda. Jenis sepeda yang digunakan pun bermacam-macam dari city bikes, road bikes sampai mountain bikes. Tapi kebanyakan mereka menggunakan city bikes berjenis omafiets atau opafiets yang modelnya tidak banyak berubah sejak abad ke 18.

Read the rest of this entry »

 
15 Comments

Posted by on January 16, 2016 in Belanda, Edam, Marken, Volendam

 

Tags: , , , , , , ,

Hari Ke 4 : Amsterdam (Zaanse Schans, Keukenhoff & Red Light District)

Oleh  Vicky Kurniawan

Apa yang paling ingin kamu lihat bila pergi ke Belanda ? kalau saya tentu saja ingin melihat kincir angin dan bunga tulipnya. Walaupun bunga tulip Belanda aslinya berasal dari Turki, tapi hanya negara inilah yang dikenal sebagai produsen tulip terbesar di dunia. Tidak heran kalau Belanda selalu mengindetikkan dirinya dengan bunga tulip. Jadilah hari ini, kami mengunjungi dua tempat yang menjadi trade mark Belanda yaitu kincir angin dan bunga tulip. Untuk melihat kincir angin, ada beberapa tempat yang disarankan yaitu di Kinderdijk, Zaanse Schans dan Schiedam. Yah, dengan ribuan kincir angin di seluruh Belanda tidak menutup kemungkinan diluar tempat-tempat itu kita dapat menjumpainya baik masih digunakan ataupun tidak.

Salah satu Sudut Keukenhoff

Ibu di Salah satu Sudut Keukenhoff

Untuk melihat bunga tulip, tentu saja tempat yang paling direkomendasikan adalah Keukenhoff. Walaupun sebenarnya banyak tempat-tempat lain di Belanda yang juga menyajikan keindahan tulip. Bila punya waktu lebih, beberapa website bahkan menyarankan untuk tidak mengunjungi Keukenhoff. Mereka menyarankan untuk menjelajahi ladang tulip di seputaran Lisse, Hillegom Noordwijkerhout dan De Zilk. Selain lebih alami alasan lain adalah untuk menghemat biaya tiket masuk Keukenhoff yang harganya cukup lumayan. Tapi sayangnya, bunga tulip tidak mekar dalam waktu yang sama persis setiap tahun karena semua tergantung pada suhu. Pada umumnya mereka baru mekar pertengahan Maret dan mencapai puncaknya pada pertengahan April sebelum akhirnya luruh pada akhir Mei. Jadi hanya 3 bulan dalam waktu sepanjang tahun. Diluar waktu itu, bila ingin melihat tulip datang saja ke Bloemenmarkt atau Albert Cuypmarkt yang buka sepanjang tahun 🙂 .

Zaanse Schans

Zaanse Schans pada dasarnya adalah sebuah museum dengan konsep indoor dan outdoor. Tapi jangan dibayangkan tempat ini seperti sebuah museum yang membosankan sebaliknya di dalamnya akan dijumpai pemandangan indah khas Belanda yang membuat kita betah mengunjunginya. Zaanse Schans ini saya pilih karena letaknya yang dekat dengan Amsterdam sedangkan dua tempat yang lain seperti Kinderdijk dan Schiedam lebih dekat ke Rotterdam. Dengan jarak kurang lebih 20 km dari Amsterdam, tempat ini bisa dikunjungi dengan bis atau kereta. Bila naik bis, dari Amsterdam Central Station platform E bisa naik Connexxion bus no. 391 yang akan turun tepat di halte depan Zaanse Schans. Bila punya Eurail Pass seperti kami bisa naik kereta ke stasiun Koog-Zaandijk dilanjutkan jalan kaki kurang lebih 1 km ke Zaanse Schans. Transportasi dari Hostel Meeting Point ke Zaanse Schans dapat dilihat pada gambar di bawah ini :

Read the rest of this entry »

 
17 Comments

Posted by on December 9, 2015 in Amsterdam, Belanda, Lisse, Zaanse Schans

 

Tags: , , ,