RSS

Hari Ke 10 : Zurich – Lucerne – Interlaken (Mt.Pilatus & Walking Tour Lucerne)

25 Apr

Oleh : Vicky Kurniawan

Jam 9 malam saat masuk kamar, akhirnya kami bertemu dengan tiga teman sekamar. Dua cowok dan satu cewek yang semuanya muda-muda. Resiko menginap di hostel, kebanyakan penghuninya pasti berusia muda. Waktu menginap di sebuah hostel di Sydney, dalam kamar berisi 8 orang hanya saya saja yang berusia senja. Lainnya rata-rata anak muda yang baru lulus SMA atau lagi kuliah. Kalau disini saya bisa tenang karena yang paling tua pastilah ibu mertua saya 🙂 . Waktu kami masuk kamar, ketiga anak muda itu sedang bersiap-siap untuk tidur. Biasanya kalau jam 9 malam mereka sudah mau tidur, pasti besok paginya mereka akan cabut pagi-pagi untuk mengejar pesawat, bis atau kereta yang paling pagi. Normalnya jam 9 malam mereka baru keluar untuk mencari hiburan malam dan hang out sampai pagi. Makanya kalau menginap di hostel saya jarang banget ketemu teman sekamar karena jam tubuhnya berbeda. Buat veteran seperti saya, jam 9 malam udah waktunya bobok cantik dan mimpi indah.

Saya dan Ibu Mertua di Schloss Laufen

Saya dan Ibu Mertua di Schloss Laufen

Seperti kebanyakan bule pada umumnya, mereka suka buka baju dan pakai celana pendek saja kalau mau tidur. Begitu juga anak muda nan ganteng yang tidur disebelah tempat tidur ibu saya. Karena risih kontan saja ibu saya mengomel dalam bahasa jawa, “Doh, wanyik iki (bahasa malangan untuk orang) gak nggawe klambi opo gak adem yo?”, (Duh, orang ini nggak pakai baju apa nggak kedinginan ya?). “Mau tah buk, tukar tempat tidur sama saya. Mumpung anaknya ganteng , ha ha ha”, goda saya dari tempat tidur teratas. “Ntar ibuk nggak bisa tidur karena kebayang-bayang bule nggak pakai baju,” he he kata saya tambah nakal nggodainya. “Hush,” kata ibu saya. “Ayo sana-sana tidur,” kata ibu mertua sambil tertawa. He he he kasihan banget dia, sudah tua tapi kok tega-teganya anaknya mengajak menginap di hostel deket bule yang nggak pakai baju lagi. Duh, maaf ya buk.

Perjalanan Zurich – Lucerne

Waktu saya bangun jam setengah enam pagi keesokan harinya, ketiga anak muda itu masih tidur dengan nyenyak. “Mana katanya mau bangun pagi-pagi. Itu mereka masih tidur”, kata ibu saya.”Tunggu aja sebentar bu”, kata saya sambil menyambar handuk dan pergi ke kamar mandi. Eh, bener juga pas saya balik ke kamar, mereka bertiga sudah menghilang. Busyet cepet bener kerjanya padahal saya hanya 15 menit di kamar mandi. “Bener, ternyata mereka memang pergi pagi-pagi. Tadi begitu bangun langsung ganti, sarapan roti sama susu di tempat tidur langsung cabut. Byuh byuh cepet banget ya”, kata ibu heran. Ha ha ha emangnya kayak kita yang persiapan pergi aja mesti mandi kembang 7 rupa, belum nanak nasi, bikin mie dan ngopi-ngopi cantik 🙂 . Itu mah bisa 1.5 jam sendiri.

Dapur dan tempat makan di City Backpacker Hostel Biber

Dapur dan tempat makan di City Backpacker Hostel Biber

Setelah makan pagi, check out dan menaruh kunci di Drop Box (karena resepsionis belum buka) kami pun berjalan kaki ke Zurich HB untuk mengejar kereta api ke Lucerne.  Perjalanan dari Zurich ke Lucerne memakan waktu kurang lebih 56 menit. Pilihan keretanya sangat beragam dan kebanyakan langsung menuju Lucerne tanpa berganti kereta. Contoh jadwal kereta dari Zurich HB (kalau di Eurail Timetable tertulis Zuerich HB) ke Lucerne (di Eurail Timetable tertulis Luzern Switzerland) dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

untitled

Sekali lagi, selama di Swiss jangan sampai ketiduran di kereta karena pemandangannya sangat indah. Dalam perjalanan dari Zurich ke Lucerne ini kita akan banyak melewati daerah-daerah pedesaan di Swiss yang tidak jauh-jauh dari gunung berlapis es di puncaknya, hutan, rumah kayu dan padang-padang yang hijau. Pokoknya kalau dulu waktu kecil sering baca “Heidi” pasti seneng banget kalau kesini soalnya pemandangannya persis seperti cerita di buku itu.

Luggage Storage di Lucerne Train Station

Setiba di stasiun Lucerne sekitar jam 08.25, kami mencari tempat penitipan koper dengan mengikuti gambar koper berwarna biru di papan petunjuk arah. Kantor penyimpanannya terletak di lantai bawah dengan harga sewa saat itu CHF 7 untuk loker terbesar. Saat itu kami menyewa 2 loker terbesar untuk 2 backpack ukuran 25 dan 75 liter, satu koper besar dan satu koper kecil. Harga loker terbaru bisa dilihat disini. Selain kantor penyimpanan di lantai bawah, ada juga loker-loker berkoin di sisi sebelah barat dan timur jalur kereta dengan tarif CHF 1.19 permenit.

Luggage Storage Di Bagian Timur dan petanya (Atas), dan di bagian barat serta petanya (bawah)

Luggage Storage Di Bagian Timur dan petanya (Atas), dan di bagian barat serta petanya (bawah)

Untuk mengetahui apakah ada fasilitas left luggage lockers di stasiun kereta Swiss kita dapat mengklik www.sbb.ch.  Klik kata ‘en’ di bagian tengah atas untuk bahasa Inggris. Klik ‘Station & services’ kemudian ‘Our rail stations’.  Klik ‘Find your station’ pada kolom kiri.  Ketikkan nama stasiun, kemudian klik bagian ‘Equipment’ dan lihat bagian ‘Lockers’.  Selain di bagian Equpment, fasilitas left luggage juga bisa dicari di bagian ‘Service’. Bila di stasiun tersebut tersedia fasilitas staffed left luggage office, maka di bagian Service akan tertulis ‘Left luggage office’. Di situ akan tersedia informasi mengenai ukuran loker, jam buka serta harga sewanya. Beres dengan urusan koper dan backpack, maka dimulailah petualangan kami di Lucerne.

Lucerne

Lucerne yang dalam bahasa Jerman disebut Luzern adalah sebuah kota kecil nan indah di Swiss tengah. Kota ini menjadi kota terpadat di Swiss tengah walaupun penduduknya hanya sekitar 80 ribuan dengan Jerman sebagai bahasa yang paling banyak digunakan disana. Sebagai kota yang terdekat dengan Mt. Pilatus dan Mt Rigi tidaklah mengherankan bila Lucerne menjadi pusat transit bagi para turis yang ingin kesana. Tapi sebenarnya bukan hanya sebagai tempat transit karena kotanya sendiri sangat cantik dengan danau, Chapel Bridge dan lorong-lorong kotanya yang unik. Nah,apa saja yang kita lakukan di Lucerne ?.

a). Mt. Pilatus

Kalau sudah di Swiss kurang pas rasanya kalau belum naik ke salah satu gunungnya. Terus terang memilih salah satu gunung di Swiss yang bagus untuk didatangi amatlah susah karena rata-rata semua pemandangannya indah dan aksesnya sama-sama mudah. Tapi sejak pertama kali membaca-baca tentang Swiss, hati saya sudah terlanjur cinta dengan perjalanan Golden Round Trip menuju menuju gunung Pilatus. Makanya sampai dibela-belain mampir di Lucerne.

Peta Golden Round Trip menuju gunung Pilatus

Peta Golden Round Trip menuju gunung Pilatus

Golden Round Trip ini merupakan satu dari dua paket perjalanan yang ditawarkan pengelola gunung Pilatus bagi pengunjung yang ingin menikmati keindahan gunung ini secara maksimal. Sayangnya Golden Round Trip ini hanya dibuka bulan Mei sampai Oktober yang meliputi : perjalanan 50-90 menit melintasi danau Luzern (gratis bila punya Eurail Pass), dilanjutkan perjalanan 40 menit menggunakan kereta api menuju puncak Pilatus. Dari puncak Pilatus, kita akan diajak turun menggunakan  aerial cableway menuju Frakmuntegg sebelum diakhiri dengan naik panorama gondola menuju Kriens dan kembali dengan bis ke Lucerne. Jadi dalam perjalanan itu kita akan merasakan naik boat, kereta api, cableway, gondola dan bis. Golden Round Trip ini tiketnya memang mahal, tapi kalau punya Eurail Pass kita akan mendapat potongan sekitar 45%. Sebagai contoh untuk jalur yang saya ambil dari Luzern – Alpnachstad – Pilatus Kulm – Kriens dengan boat kelas 1, tarif normalnya adalah CHF 107 per orang (tahun 2014). Dengan Eurail Pass saya cukup membayar sebesar CHF 47.60 perorang. Harga terbaru Golden Round Trip bisa dilihat disini , sedangkan waktu-waktu pemberangkatannya bisa dilihat disini. Untuk harga dengan menggunakan Eurail Pass baru dapat dilihat setelah mendownload detail price list di bagian terbawah halaman Prices atau untuk lebih mudahnya kita juga dapat melihat harganya disini .

Gerbang Utama Bahnhof Luzern

Gerbang Utama Bahnhof Luzern

Rangkaian pertama dari Golden Round Trip adalah naik boat menuju Alpnachstad.  Dari stasiun kereta Lucerne (Bahnhof Luzern) pangkalan boat ini mudah dicari karena terletak persis di depan stasiun. Jadi dari stasiun keluar saja melalui pintu utama yang penampakannya seperti foto diatas. Dari situ cari pier no 2 untuk boat menuju Alpnachstad. Bila nomor piernya berubah tanyakan kepada petugas dimana Boat menuju Alpnachstad berlabuh. Peta pier boat di seputaran Bahnhof Luzern dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Peta Pier

Sebelum naik kita dapat membeli Golden Round Trip tiket di loket pier dengan menunjukkan Eurail Global Pass. Tiket yang didapat masih berupa tiket cetak biasa yang masih harus ditukar lagi dengan tiket sesungguhnya di stasiun kereta Alpnachstad sebelum naik ke gunung Pilatus. Urusan tiket selesai, kita menunggu untuk diperbolehkan naik ke atas boat.

Loket Pier (Kiri Atas) dan Boatnya (Kanan atas dan bawah). Photo by : pilatus.webtuning-cdn.ch & koleksi pribadi

Loket Pier (Kiri Atas) dan Boatnya (Kanan atas dan bawah). Photo by : pilatus.webtuning-cdn.ch & koleksi pribadi

Perjalanan selama 90 menit menyeberangi danau Lucerne ini merupakan salah satu perjalanan dengan pemandangan terindah. Bergeser sedikit meninggalkan Luzern, kita disuguhi pemandangan kota dengan bangunan-bangunan tua di sepanjang sisi danaunya. Semakin jauh meninggalkan kota, pemandangan berganti kali ini desa-desa kecil dengan rumah-rumah kayu berlatar belakang gunung Pilatus yang menjulang tinggi di kejauhan. Di sepanjang perjalanan, boat ini memang berhenti di beberapa kota kecil di pinggir danau untuk menaik turunkan penumpang. Sayangnya, saat itu hujan rintik-rintik mulai turun sehingga kita banyak ngendon dalam ruang kelas 1 yang nyaman. Bila cuaca cerah pemandangannya bisa seperti foto dibawah ini.

Pemandangan dari atas boat menyeberangi danau Luzern (Photo By : travelingcanucks.com)

Pemandangan dari atas boat menyeberangi danau Luzern (Photo By : travelingcanucks.com)

Sampai di pelabuhan boat di Alpnachstad, kami berjalan kaki menuju stasiun kereta Pilatus Bahn untuk naik Pilatus Cogwheel. Pada dasarnya sangat mudah menemukan stasiun kereta ini karena kebanyakan penumpang boat yang turun di Alpnachstad pasti bertujuan ke Pilatus Bahn. Keluar dari pelabuhan berjalan saja ke arah kiri, disitu ada tangga turun menyeberang melalui terowongan bawah tanah dengan stasiun kereta Pilatus Bahn berada di ujungnya. Sebelum naik kereta jangan lupa menukarkan tiket yang kita beli dengan tiket kereta. Peta jalan kaki dari pelabuhan boat menuju stasiun kereta dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

Stasiun Kereta Pilatus Bahn

Stasiun Kereta Pilatus Bahn

Berbeda dengan kereta api pada umumnya, Cogwheel Train atau disebut juga Rack Railway memiliki kemampuan untuk mendaki karena memiliki bentuk rel dan roda seperti gerigi yang saling mencengkeram. Rack Railway memiliki bermacam-macam sistem pencengkraman tapi yang dipakai disini adalah Locher Rack System yang memungkinkan kereta mendaki sampai kemiringan 50%. Hal ini disesuaikan dengan kondisi Pilatus yang tingkat kemiringannya tinggi. Oleh sebab itu cogwheel train di Pilatus ini juga dijuluki The world’s steepest railway (48%) karena tidak ada kereta lain di gunung-gunung Eropa yang menggunakan sistem ini selain Pilatus Bahn.

Locher Rack (atas) dan Pilatus Cogwheel Train (bawah) Photo by : pilatus.ch)

Locher Rack System (atas) dan Pilatus Cogwheel Train (bawah) Photo by : pilatus.ch)

Locher juga merupakan nama dari penemu system ini yang dulu sekitar 125 tahun yang lalu dikatakan gila karena mengemukakan ide untuk membangun kereta api yang bisa mendaki sepanjang 4.2 km naik ke puncak Pilatus. Selain rel dan rodanya, hal unik lain dari Cogwheel Train ini adalah tempat duduknya. Di kereta ini tempat duduk penumpang tidak mendatar seperti kereta pada umumnya tapi bertingkat dengan kabin masinis berada paling atas. Jadi usahakan mendapat tempat duduk menghadap masinis dan dekat dengan jendela supaya tidak berjalan mundur.

Gerbong Pilatus Cogwheel Train

Gerbong Pilatus Cogwheel Train

Jadi gimana rasanya naik Cogwheel train ini?. Perjalanan mendaki Pilatus dengan menggunakan kereta ini ternyata menjadi salah satu pemandangan paling saya ingat sepanjang perjalanan menjelajah Eropa. Saat kereta mulai berjalan pemandangannya masih biasa saja. Pohon-pohon menghijau sepanjang kiri kanan jalan dengan kota Alpnachstad semakin mengecil di bawah. Makin keatas, tiba-tiba turun hujan salju dengan butiran-butiran kecil yang menghebohkan orang satu kereta. Memang saat itu saya naik berombongan dengan turis-turis yang kemungkinan besar bukan dari negara-negara bersalju seperti Indonesia, Italia. Portugal, Argentina. Jadi melihat salju seperti itu saja langsung pada geger.

Pemandangan Awal Biasa Saja

Pemandangan Awal Biasa Saja

Mulai Terlihat Sedikit Salju

Mulai Terlihat Sedikit Salju

Naik terus melewati terowongan, salju mulai turun agak lebat sehingga dahan-dahan pohon mulai tertutup. Pak masinis menyuruh kami menutup jendela karena hawa mulai terasa dingin. Semakin naik dan naik akhirnya tibalah kami di lereng gunung yang putih semua tertutup salju. Duh orang-orang di kereta langsung pada ber WOW dan buru-buru mengeluarkan kamera untuk berfoto. Suasana jadi heboh. Saya sama sekali tidak mengira kalau saat itu puncak Pilatus sedang bersalju karena suasana di kaki gunung terang benderang tanpa salju setitikpun. Jadi judulnya mendadak salju di Pilatus nih 🙂 .

Pohon-pohon mulai tertutup salju

Pohon-pohon mulai tertutup salju

Pemandangan saat hampir mencapai puncak

Pemandangan saat hampir mencapai puncak

Keluar dari kereta sampailah kami di puncak Pilatus. Ada 2 hotel dan beberapa restoran di puncak gunung ini. Yang paling tua adalah hotel Pilatus Klum yang umurnya hampir sama dengan rel keretanya yaitu 125 tahun. Di puncak gunung ini kami memuaskan diri bermain salju yang saat itu masih turun dengan deras. Lempar-lemparan bola saju, tiduran sambil membuat gambar kupu-kupu sampai mencicipi gimana rasanya salju yang baru turun dari langit. Pokoknya kami lakukan segala atraksi norak yang pernah terpikir ketika orang melihat salju untuk pertama kalinya. Diluar dugaan ternyata suhu tidak sedingin bayangan kita semula dan tekstur salju yang baru turun ternyata lembut, putih dan empuk seperti es serut.

Salju di Puncak Pilatus

Salju di Puncak Pilatus

Di puncak ini kita juga banyak menjumpai burung Alpine Chough, sejenis burung gagak dengan paruh berwarna kuning. Burung ini memang terkenal hidup di daerah pegunungan karena kemampuan adaptasinya terhadap udara beroksigen tipis. Jadi tidak heran walaupun namanya Alpine Chough burung ini juga banyak dijumpai di jajaran pegunungan Nepal, Afrika Utara dan Asia Tengah. Kebetulan saat itu ibu membawa roti tawar dalam tasnya, jadilah kita bermain-main sambil memberi makan mereka. Begitu tahu kalau kami membawa makanan, burung-burung disekitar tempat itu semua langsung mendekat. Seru juga memberi mereka makan, karena burung-burung ini sangat jinak dan bertengger seenaknya di kepala, tangan dan bahu bila kita diam. Akhirnya banyak pengunjung lain yang memotret kita dengan burung-burung itu. Untuk menambah keasyikan kita bagi-bagikan juga roti yang dibawa kepada pengunjung lain supaya mereka bisa ikutan memberi makan burung-burung itu.

Alpine Chough

Alpine Chough

Geli tapi Asyik

Geli tapi Asyik

Puas main salju, kami turun dari puncak Pilatus menggunakan  aerial cableway menuju Frakmuntegg. Beda dengan Aerial Cableway baru yang disebut Dragon Ride, cableway yang saya naiki tahun 2014 ini jarak tempuhnya lebih lama dan bentuknya sama seperti cable car dengan bodi yang lebih lebar. Walaupun demikian pemandangan saat turun sama indahnya seperti saat naik. Yang menarik disini adalah warna hutan saat sebagian areanya tertutup salju dan sebagian lagi masih berwarna hijau tanpa salju. Rasanya seperti melihat pohon yang ditaburi gula putih, indah seperti gambar-gambar di kartu pos saat natal.

Aerial Cableway Pilatus

Aerial Cableway Pilatus

Pemandangan dari Aerial Cableway

Pemandangan dari Aerial Cableway

Sesampai di Frakmuntegg, kami berganti moda transportasi. Kali ini naik Cable Car yang biasa disebut Panorama Gondola. Berkapasitas 4 orang, kami bertiga satu kabin dengan orang Yunani yang kebetulan bersolo traveling keliling Eropa. Jadilah dalam perjalanan turun kami membahas tentang Yunani dan Indonesia. Seperti biasa kami memotivasinya supaya berkunjung ke Bali, destinasi paling terkenal di dunia. Sekaligus mengenalkan Bali sebagai bagian kecil dari Indonesia. Selanjutnya kami memanas-manasinya supaya pergi ke Bromo sambil menunjukkan foto gunung dan padang savana-nya yang indah. Sebagai gantinya dia menyuruh kami berkunjung ke Yunani untuk melihat Santo Rini dan Meteora. Baiklah kakak, semoga di Pilatus ini Allah mendengar doa kami untuk pergi ke Yunani 🙂 . Perjalanan menggunakan Panorama Gondola ini memakan waktu kurang lebih 30 menit. Tanpa terasa sambil mengobrol dan melihat pemandangan indah di luar sampailah kami di tujuan akhir yaitu Kriens, sebuah desa kecil di kaki gunung Pilatus.

Panorama Gondola Pilatus

Panorama Gondola Pilatus

Pemandangan dari Panorama Gondola

Pemandangan dari Panorama Gondola

b). Mampir ke Rumah Mas Krisna Diantha

Turun dari stasiun Panorama Gondola di Kriens, berbekal peta saya mampir ke rumah Mas Krisna Diantha, teman sesama member Backpacker Dunia yang sekarang sudah menjadi warganegara Swiss. Belum pernah bertemu dan hanya saling komentar di Face Book, mas Krisna memberikan ancer-ancer rumahnya “pokoknya kalau dilihat dari Panorama Gondola, ada tenda putih di halaman belakangnya” 🙂 🙂 . Tapi petunjuk jalan yang unik itu ternyata bisa membuat saya sampai di rumahnya. Di Kriens ini jalannya mendaki naik turun, maklum saja karena letaknya memang di kaki gunung. Jadi rasanya nafas sudah habis saat mendaki ke rumah mas Krisna. Kebetulan saat saya mampir ke rumahnya, dia sedang pulang untuk makan siang sebelum lanjut bekerja. Tersanjungnya lagi, dia masih menyempatkan diri masakin bakso buat kita. “Bakso rasa Swiss” katanya. Hmm, baksonya ternyata enak juga. Rasanya badan jadi hangat setelah dingin-dingin main salju disambung makan bakso panas yang pedas. Hah, rasanya seperti pulang ke Indonesia 🙂 .

Ketemu Penjual Bakso Kriens

Ketemu Penjual Bakso Kriens

Selama makan, dia banyak bercerita tentang kehidupannya di Swiss. Ibu saya yang baru pertama kali bertandang ke rumah bule (istrinya orang Swiss asli loh), terkesima melihat mesin cuci piring yang biasanya hanya dia lihat di TV. Uniknya, mas Krisna dengan sabar menerangkan cara kerja mesin cuci piring itu kepada ibu saya 🙂 . Kalau melihat rumahnya memang enak banget. Betul-betul menunjukkan tingkat keamanan yang baik di Swiss. Rumahnya tanpa pagar, terkesan luas dengan kaca-kaca yang lebar tanpa teralis dan halaman belakang pemandangan Gondola Pilatus yang sedang naik turun. Enaknya lagi, begitu membuka jendela kamar langsung kelihatan Gunung Pilatus di kejauhan.

Halaman Belakang Rumah

Halaman Belakang Rumah

Di halaman belakang rumahnya ada kandang kelinci yang rapi bikinan sendiri. Di Swiss kalau mau mengundang tukang untuk bikin kandang, ongkosnya akan selangit. Kalau pakai tukang biayanya bisa CHF 6000 padahal kalau bikin sendiri habisnya hanya CHF 700. Jadi akhirnya mau tidak mau harus mandiri dan bikin sendiri. Nah itu bedanya dengan tinggal di Indonesia. Kalau di Indonesia apa-apa gampang dan murah, bikin orang jadi malas dan kurang mandiri. Yah, kalau saya sih terus terang kalau bikin kandang kelinci seperti itu tinggal panggil tukang atau beli di pasar 🙂 (ketahuan banget males nya). Jadi salah satu keuntungan tinggal di negara mahal adalah kamu akan belajar menjadi lebih mandiri. Bila perlu pekerjaan-pekerjaan teknis seperti  mengecat, memasang wallpaper atau membuat meja juga harus dilakukan sendiri karena semuanya serba mahal dan berat di ongkos kalau harus memanggil tukang profesional.

Kandang kelinci di halaman belakang rumah

Kandang kelinci di halaman belakang rumah

Lebih lanjut kita berdiskusi soal pajak di Swiss. Seperti juga di Indonesia, besarnya pajak di Swiss bersifat progresif tergantung pada besarnya pendapatan dengan tarif maksimal 11,5 % (sangat kecil dibanding negara-negara lain seperti Australia yang besarnya sampai 30%). Jadi tidak heran kalau Swiss disebut juga surganya pajak karena tingkat pajak yang rendah, didukung kestabilan politik di negaranya dan banyaknya fasilitas pengurangan pajak bagi perusahaan Swiss yang berbisnis di luar negeri atau orang asing yang tinggal di Swiss. Selain tergantung pendapatan, pajak juga memiliki tarif yang berbeda di tiap daerah dengan Jenewa sebagai daerah dengan tingkat pajak tertinggi (sekitar 17%-76%). Uniknya lagi selain hal-hal tersebut diatas, pajak juga dipengaruhi oleh status keluarga. Pasangan yang sudah menikah pajaknya lebih kecil daripada yang masih bujangan. Selain pajak daerah masih ada juga Church Tax yang berlaku bagi pemeluk salah satu dari tiga gereja nasional yang terdiri dari Roman Catholic, Christian Catholic dan Protestant. Pajak-pajak tersebut akan kembali terutama dalam bentuk pendidikan yang murah. Pendidikan mulai dari SD sampai SMA gratis, kemudian untuk kuliah pun biayanya tidak terlalu tinggi dengan biaya rata-rata CHF 300 sampai CHF 500 per semester.

Souvenir Celengan di sebuah toko di Lucerne

Souvenir Celengan di sebuah toko di Lucerne

Setelah puas mengobrol dan makan, kamipun berpamitan untuk kembali ke Lucerne. Baiknya lagi, dia bersedia mengantar kami ke Lucerne sebelum lanjut bekerja. Lumayan jadi nggak usah naik bis. Saat naik ke dalam mobil, mas Krisna memastikan kami semua memakai sabuk pengaman. Dia sampai turun ke belakang untuk mengecek apakah ibu dan saya sudah memakai sabuk pengaman dengan benar. Memang peraturan keselamatan mengemudi di Swiss sangatlah ketat. Salah satu aturannya antara lain tidak boleh menyetir mobil memakai sandal flip flop dan telanjang kaki. Untuk menghindari polusi, mesin dimatikan saat menunggu kereta melintas atau saat menunggu lampu merah. Jadi untuk alasan yang sama kita juga tidak boleh memanasi mobil sebelum pergi. Anak di bawah usia 12 tahun dan tinggi dibawah 150 cm harus memakai kursi khusus (nah jadi susah kalau naik taksi). Satu hal yang paling menyenangkan adalah mereka harus selalu mendahulukan pejalan kaki yang akan menyeberang di Zebra Cross. Memang pengalaman saya selama menyeberang di Eropa, pejalan kaki adalah raja. Kaki baru turun ke Zebra Cross aja mobil-mobil yang jaraknya masih jauh pun langsung berhenti dan memberi jalan (jadi sungkan sendiri). Tahu sendiri kan kalau di Indonesia. Pejalan kaki adalah sampah. Pedestrian yang sudah sangat kecil masih sering diserobot sama kendaraan roda dua belum lagi kalau menyeberang jalan susahnya minta ampun walaupun menyeberangnya sudah di Zebra Cross.

Salah satu sudut jaln-jalan di pegunungan Swiss (Photo by : Krisna Diantha)

Salah satu sudut jalan-jalan di pegunungan Swiss (Photo by : Krisna Diantha)

Dalam perjalanan ke Lucerne, kami masih diajak jalan-jalan sedikit sama mas Krisna keliling-keliling Kriens. Pemandangannya memang indah, suasananya nyaman, tentram dan sepi. Mungkin disini orang jadi bebas stress yah :). Tapi kata suami saya, “halah nanti kalau lama-lama disini juga stress, soalnya nggak ada orang jualan kelilingan yang lewat”. Hah, dasar perut aja yang dipikir. Sesampai di Lucerne. kami turun di sekitar Chapel Bridge. Setelah berpamitan dan mengucapkan banyak – banyak terima kasih kami pun melanjutkan perjalanan menjelajah kota Lucerne.

c). Walking Tour Lucerne

Penjelajahan kami di Lucerne dimulai dari Chapel Bridge dan berakhir di stasiun kereta api Luzern. Rute sepanjang 1.7 km ini kami tempuh selama kurang lebih 2 jam karena banyak berhenti untuk berfoto dan beristirahat. Peta Walking Tour di Lucerne dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Tempat tujuan pertama adalah landmark Lucerne yang paling terkenal yaitu Chapel Bridge atau Kapellbrücke. Jembatan ini merupakan satu-satunya jembatan kayu bertutup tertua di Eropa. Dibangun pada abad ke 13, jembatan ini menjadi unik karena di bagian atasnya terdapat 147 lukisan panel kayu berbentuk segitiga yang indah. Lukisan – lukisan ini menceritakan sejarah kota Lucerne serta biografi dari 2 Patron Saint Lucerne yaitu St. Leodegar dan St. Maurice. Sayangnya jembatan ini pernah dilalap api pada tahun 1993, sehingga banyak panel-panel lukisannya yang rusak. Sampai saat ini hanya 30 dari 147 panel yang berhasil direstorasi. Sayang sekali memang karena lukisan-lukisan itu sangat indah, berwarna warni dengan sedikit cerita dibawahnya.

Chappel Bridge (atas), Lukisan Panel dalam jembatan (bawah)

Chappel Bridge (atas), Lukisan Panel dalam jembatan (bawah)

Dari Chappel Bridge, kami berjalan kurang lebih 150 mt menuju salah tempat belanja paling ngetop di Lucerne yaitu Schwanenplatz (Swan’s Square). Jaman dulu batas kota berakhir disini dengan dinding, pintu gerbang dan menara-menara. Sekarang disini hanya ada satu menara tersisa digantikan oleh bangunan-bangunan yang kebanyakan merupakan cafe, restoran dan toko souvenir. Di Schwanenplatz ini terdapat beberapa galeri penjual jam Swiss terkenal seperti Rolex, Gubelin dan Bucherer. Kalau ingat jam Rolex jadi ingat kata-kata mas Krisna, “Hanya orang Indonesia yang beli jam Rolex”. Orang Swiss sendiri yang terkenal low profile malah jarang membeli merek-merek mahal tersebut.

Menara di Schwanenplatz

Menara di Schwanenplatz

Setelah window shopping di Schwanenplatz kami berjalan kembali ke arah Chappel Bridge menuju Kapellplatz. Tempat ini seperti juga Chappel Bridge diberi nama sesuai dengan nama gereja St. Peter’s Chapel yang berada tidak jauh dari situ. Alun-alun ini mudah dikenali karena ditengahnya terdapat air mancur yang disebut Fritschi Fountain. Konon kabarnya dibawah air mancur ini terdapat kuburan Brother Fritzi yang berperan penting dalam tradisi karnaval Lucerne.

Kapellplatz & Fritschi Fountain

Kapellplatz & Fritschi Fountain

Berjalan sekitar 200 mt ke arah barat sampailah kami di Kornmarkt atau Grain Market. Dinamai demikian karena sampai abad ke 19, tempat ini merupakan pasar gandum. Bahkan lantai dasar Balai Kota yang berada di dekat tempat itu dijadikan sebagai tempat penyimpanan gandum dengan lantai atas tetap berfungsi sebagai Town Hall. Walaupun sekarang tempat ini hanya dipakai untuk beberapa kegiatan resmi seperti pernikahan, bangunan balai kota ini masih terlihat kokoh dengan menara jam tinggi yang berada disebelahnya.

Kornmarkt & Rathaus (Town Hall)

Kornmarkt & Rathaus (Town Hall)

Dari Kornmarkt, kami berjalan menuju Hirschenplatz dan Weinmarkt. Keduanya adalah alun-alun dengan beberapa bangunan berlukis cantik di depannya. Memang salah satu hal yang paling saya ingat di Lucerne adalah bangunan-bangunan kunonya yang dihiasi dengan lukisan dan mural-mural yang indah. Lukisan-lukisan tersebut bisa berupa cerita atau dekorasi seperti bunga dan tulisan-tulisan berhias. Beberapa bahkan menceritakan sejarah dari tempat disekitarnya. Weinmarkt sendiri dulunya adalah Wine Market dan merupakan alun-alun utama kota Lucerne. Bahkan disinilah Town Hall pertama dibangun sebelum dipindahkan ke Kornmarkt.

Tulisan biru yang terbaca sebagai "Weinmarkt"

Tulisan biru yang terbaca sebagai “Weinmarkt”

Kalau yang ini diambil dari kisah-kisah Injil

Kalau yang ini diambil dari kisah-kisah Injil

Berjalan terus melewati Weinmarkt sampailah kami di Mühlenplatz (Mill’s Square), sebuah alun-alun terbuka menghadap sungai Reuss. Dari sini kami menyeberang melewati Spreuerbridge. Tidak sepopuler Chappel Bridge yang berada disebelah timurnya, jembatan ini sebenarnya memiliki konstruksi yang sama. Sama-sama tua, tertutup dan memiliki panel segitiga berlukis di bagian dalamnya. Lukisan-lukisan di jembatan ini seluruhnya berjumlah 67 buah yang dilukis pada abad ke 16 berjudul “Dance Of Death”. Kematian yang disitu diwakili dengan gambar tengkorak terlihat berdansa dengan beberapa orang diantaranya orang kaya, wanita cantik, nelayan bahkan pendeta. Semua orang itu mati bila berdansa dengannya. Pada intinya seri lukisan ini menggambarkan bahwa kematian itu tidak pandang bulu dan berlaku bagi siapa saja. Lukisan-lukisan semacam ini biasanya terdapat di pemakaman, dilukis disini sebagai peringatan bahwa pernah terjadi wabah besar (The Black Plague) pada abad ke 13 yang menewaskan 40% penduduk kota Lucerne.

Spreuer Bridge dan lukisan di dalamnya

Spreuer Bridge dan lukisan di dalamnya

Spreuer Bridge ini dulunya dibangun untuk menghubungkan pabrik penggilingan gandum dengan area tukang roti yang tinggal di bagian kiri sungai. Sementara kebanyakan penduduk Lucerne tinggal di area kanan, para tukang roti itu harus tinggal disebelah kiri karena ketakutan akan kebakaran akibat api yang harus selalu hidup di tungku mereka. Selain lukisan, satu hal lagi yang istimewa di Spreuer Bridge ini adalah Nadelwehr-nya. Disebelah jembatan ini terdapat paku-paku kayu atau Nadelwehr yang bisa dipindahkan untuk mengatur ketinggian air sekaligus mengatur aliran air yang menuju pembangkit listrik.  Paku-paku kayu ini merupakan bagian dari sistim pengairan pada abad ke 16 yang masih digunakan terus sampai sekarang.

Nadelwehr di Spreuer Bridge

Nadelwehr di Spreuer Bridge

Kunjungan ke Spreuer Bridge ini sekaligus mengakhiri penjelajahan kami di Lucerne. Dalam perjalanan menyusuri sungai Reuss menuju Stasiun kereta Lucerne, kami berbelok ke Reustegg untuk sekali lagi mengagumi keindahan sungai. Sambil duduk-duduk di pinggiran sungainya, saya memberi makan burung-burung dara dan angsa yang banyak berkeliaran di sekitar tempat itu. Kalau tidak ingat kereta yang harus cepat-cepat kami kejar, ingin rasanya duduk-duduk disini sambil terus memandangi keindahan kota dan menunggu lampu-lampu di Chappel Bridge menyala. Kabarnya pemandangan Chappel Bridge di waktu malam lebih indah daripada siang hari dengan lampu-lampu yang menghiasinya.

Memberi makan burung dara di tepi sungai Reuss

Memberi makan burung dara di tepi sungai Reuss

Pemandangan Chappel Bridge di waktu malam (Photo By : George Oze dari fineartamerica.com)

Pemandangan Chappel Bridge di waktu malam (Photo By : George Oze dari fineartamerica.com)

Sesampainya di stasiun kereta, kami mengambil backpack dan koper dari loker. Ibu yang sudah sedari tadi ingin buang air kecil akhirnya memutuskan pergi ke Toilet. Selama di Eropa karena tahu kalau fee toiletnya mahal, ibu selalu berusaha buang air di hostel sebelum berangkat, di kereta dan tempat-tempat gratis lainnya. Hanya di Lucerne ini untuk pertama kalinya beliau menggunakan toilet umum. Ternyata fee toiletnya beneran mahal. Untuk BAB tarifnya CHF 2 (Rp. 26.6000, Buang Air Kecil CHF 1.5 (Rp. 19.950) dan yang paling mahal untuk mandi CHF 12 (Rp. 159.600). Sakit hati karena harus bayar hampir Rp. 20.000 untuk pipis, jadi pipisnya dilama-lamain. Pokoknya dinikmati beneran dah 🙂 .

Perjalanan Lucerne – Interlaken

Perjalanan menggunakan kereta dari Lucerne menuju Interlaken OST ini masuk dalam jaringan The Golden Pass Route yang membentang dari Lucerne (Swiss) sampai Montreux (Perancis). Dinamakan Golden Pass karena jalur keretanya dirancang khusus untuk melewati tempat-tempat berpemandangan indah. Bukan hanya jalur keretanya saja tapi bentuk gerbongnya juga dirancang dengan jendela-jendela lebar dan kursi yang nyaman sehingga penumpang bisa puas melihat pemandangan indah diluar. Sebenarnya jalur Golden Pass ini terbagi menjadi 3 bagian : Pertama, dari Luzern ke Interlaken Ost, Kedua, dari Interlaken Ost ke Zweisimmen dan terakhir dari Zweisimmen to Montreux. Sayangnya, karena waktu yang terbatas, saya hanya bisa mencoba satu bagian saja yaitu dari Lucerne ke Interlaken Ost. Enaknya lagi, walaupun dioperasikan oleh tiga kereta yang berbeda, semuanya gratis bila menggunakan Eurail Pass. Bila ingin naik Panoramic Train ini, jadwalnya bisa dilihat di website resminya disini.

Bagian Luar dan dalam dari Panoramic Train ZentralBahn

Bagian Luar dan dalam dari Panoramic Train ZentralBahn

Nah, sekarang kalau sudah tahu mau naik Panoramic Train pastikan jangan sampai tidur. Soalnya sayang banget kalau tidur karena pemandangannya benar-benar indah. Saat kereta api meninggalkan Lucerne, kita akan lewat di sepanjang kaki Pilatus. Disini kita kembali menyusuri Danau Lucerne. Kalau tadi kita menyusurinya dengan kapal ditengah danau, kini kita melewatinya lagi dengan kereta di sepanjang pinggirnya. Jadi kita bisa mengamati lebih detail kota-kota dan desa-desa kecil yang tadi kita lewati dengan kapal. Kebanyakan rumah-rumahnya terbuat dari kayu berwarna hijau dengan latar belakang pegunungan Alpine yang memutih di puncaknya. Pemandangan itu masih diselingi dengan hijaunya rumput-rumput dan birunya danau di kejauhan. Indah sekali.

Pemandangan dari tepi danau Lucerne (Photo by : Anda Galffy)

Pemandangan dari tepi danau Lucerne (Photo by : Anda Galffy)

Jauh melewati danau Lucerne, kita akan melewati dua danau yang lebih kecil yaitu Sarnersee dan Lungernsee, sebelum kereta mulai memanjat melewati Brünig Pass. Pass ini memiliki ketinggian kurang lebih 1008 meter, yang tidak tinggi kalau menurut standar Swiss :). Saat mendaki, kita meninggalkan dua danau kecil itu dikejauhan sehingga pemandangan berganti menjadi pegunungan. Setelah mendaki, kereta akan turun sepanjang 413 meter menuju Meiringen yang berada di ketinggian 595 meter di dasar lembah. Disini jalur keretanya berubah menjadi jalur kereta Cogwheel Train. Sayangnya saya bukan fotografer profesional dan karena jendelanya tidak terbuka jadi memotret disini memang memiliki banyak tantangan. Ini beberapa foto dari Anda Galffy di websitenya travelnotesandbeyond.com yang bisa mewakili pemandangan yang saya lihat saat itu.

Lucerne

Lucerne2

Di Meiringen ini kereta berganti arah, menyusuri Hasli Valley sebelum mencapai kota Brienz di pinggir danau Brienz. Sekitar 20 menit kemudian kereta tiba di Interlaken Ost yang merupakan pintu gerbang menuju Jungfrau Region. Bisa dibilang inilah 2 jam perjalanan terindah dalam hidup saya dan menjadi Highlight dari seluruh perjalanan saya ke Eropa.

Interlaken

Dinamai Intelaken karena kota ini terletak persis diantara dua danau, Brienzersee dan Thunersee atau lebih dikenal dengan Lake Brienz dan Lake Thun. Interlaken adalah base camp paling populer bagi para pengunjung outdoor sports diseputaran Bernese Oberland Alps karena posisinya yang gampang dicapai dari beberapa kota utama di Swiss. Kotanya sendiri cukup kecil sehingga bisa dikelilingi dengan jalan kaki atau bersepeda. Enaknya disini, bila menginap di Hostel atau Hotel mereka akan memberikan kartu sakti bernama Guest Card yang akan diberikan saat check inn. Kartu ini memberikan akses gratis ke semua transportasi umum dalam Zone 80, Iseltwald, Saxeten dan  Niederried termasuk diskon ke beberapa atraksi dan museum di area Jungfrau Region. Guest Card ini hanya berlaku selama kita tinggal di area ini. Jadi karena kita tinggal selama 2 malam disini maka kartunya berlaku 2 kali 24 jam. Rute-rute transportasi yang tercakup dalam Guest Card bisa dilihat disini dan diskon-diskon yang diberikan oleh kartu ini bisa dicek disini .

Guest Card Interlaken

Guest Card Interlaken

Tiap tamu yang menginap di Interlaken ini dikenai apa yang dinamakan Resort Tax. Jadi kartu ini merupakan salah satu bentuk pengembalian pajak tersebut. Buat saya apapun itu, lumayan juga buat mengurangi biaya transport saat berkeliling di sini.

Akomodasi di Interlaken

Di Interlaken kami menginap di Happy Inn Lodge, salah satu hostel yang berjarak kurang lebih 350 meter dari stasiun kereta Interlaken West. Jadi setibanya di stasiun Interlaken Ost dari Lucerne, kami naik kereta Long Distance Train (IC) arah Basel dan turun di stasiun Interlaken West. Dari sini tinggal jalan kaki menyusuri jalan Aarmühlestrasse menuju hostel. Peta jalan kaki dari stasiun Interlaken West ke Hostel Happy Inn Lodge dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

Happy Inn Lodge ini saya pesan melalui situs Hostelbookers.com dengan rate 32.81 USD (Rp. 388.025) per orang per malam untuk kamar triple (shared bathroom) atau 3 bed Private Shared Bathroom. Kelebihan dari hostel ini adalah dekat dengan supermarket. Selain Coop dan Migros ada Grocery Store kecil bernama Hongkong Asian Supermarket di jalan Florastrasee yang menyediakan berbagai macam bahan makanan. Selain dekat dengan Supermarket, kelebihan lainnya adalah kamar dan kamar mandi yang super bersih serta tersedianya colokan dan handuk bersih.

Bagian Depan dan Dapur Happy Lodge Inn Interlaken

Bagian Depan dan Dapur Happy Lodge Inn Interlaken

Kelemahan hostel ini antara lain pertama, lampu di kamar mandinya yang sering mati. Mungkin demi penghematan lampu di kamar mandi dibuat otomatis hanya menyala selama kurang lebih 5 menit. Setelah disela beberapa menit mati, lampu itu akan otomatis menyala kembali. Jadi kalau kamu pas BAB atau mandinya lama, yah nikmati saja beberapa kali mati lampu dan kemudian menyala lagi. Saya yang takut sekali akan kegelapan jadi siap-siap bawa handphone kalau mau ke kamar mandi. Jadi pas lampunya mati paling tidak masih ada sedikit cahaya dari handphone. Kelemahan kedua, yaitu tidak ada kompor di dapurnya. Jadi kalau mau memanaskan sesuatu harus rebutan karena hanya ada dua microvawe di dapurnya. Sebenarnya buat kita tidak masalah karena bawa rice cooker sendiri kita jadi bisa masak di kamar. Kelemahan ketiga, bagi yang sensitif terhadap suara pilih kamar yang jauh dari bar nya karena suara musik terdengar cukup keras sampai mereka tutup kurang lebih jam 12.30. Satu lagi yang perlu diingat kalau hostel ini tidak memiliki meja resepsionis tersendiri. Jadi urusan check inn dan check out dapat berhubungan dengan pelayan bar atau restoran di lantai pertama.

Kamar kami di Happy Inn Lodge

Kamar kami di Happy Inn Lodge

Setelah mandi, masak dan makan malam kamipun beristirahat sambil melihat foto-foto bersalju di Pilatus pagi tadi. Udara sangat dingin di Interlaken sampai-sampai penghangat ruanganpun tidak mampu menghangatkan kamar yang dingin. Jadi terpaksa saya tidur dengan sweater dan jaket, lengkap dengan kaos kaki, topi, syal dan sarung tangan. Itupun masih ditambah dengan selimut tebal yang menutupi sekujur badan. Mengintip di tempat tidur sebelah, suami saya sudah ngorok dengan hanya berselimut sarung tanpa jaket ataupun selimut. Duh betapa irinya saya saat itu dengan orang yang berlemak banyak seperti dia  🙂 .

Biaya Hari Ke 10

Biaya

Kronologi Waktu

Waktu

Advertisements
 
23 Comments

Posted by on April 25, 2016 in Interlaken, Lucerne, Swiss

 

Tags: , , , , , , ,

23 responses to “Hari Ke 10 : Zurich – Lucerne – Interlaken (Mt.Pilatus & Walking Tour Lucerne)

  1. winnymarlina

    April 25, 2016 at 8:21 pm

    kak aku suka dengan tulisan kak lengkap lengkip bisa jadi panduan

     
    • Vicky Kurniawan

      April 26, 2016 at 10:30 am

      He he terima kasih ya Winny karena sudah mampir kesini..

       
      • nelly

        April 29, 2016 at 9:24 pm

        Kk vicky.hari ke 11 nya blm di tulis ya

         
      • Vicky Kurniawan

        April 29, 2016 at 10:30 pm

        Iya mbak Nelly..sabar ya 🙂 .

         
      • Nell

        April 29, 2016 at 10:55 pm

        Byk yg saya pelajari dari blog kk.jafi pingin tau yg eropa ini biar bisa ikutin cara2 nya.trim ya

         
      • Vicky Kurniawan

        May 1, 2016 at 11:17 am

        Sama -sama mbak Nelly..terima kasih sudah mampir kesini ya..

         
  2. @eviindrawanto

    April 25, 2016 at 9:55 pm

    Aku ikutan geli membayangkan si ibu mertua yang terkejut melihat si bule yang tidur tidak pakai baju. Jangankan si Ibu aku yang masih agak muda anak aja (ciyeeeee..) pasti resah dan gelisah dan tak nyaman melihatnya 🙂

     
    • Vicky Kurniawan

      April 26, 2016 at 10:31 am

      Ha ha ha mbak Evi pasti orangnya sensitif…

       
  3. Tika

    April 26, 2016 at 5:35 am

    Wah akhirnya keluar juga yang ditunggu2 hahaha

     
    • Vicky Kurniawan

      April 26, 2016 at 10:32 am

      He he he…duh sampai kamu pulang sepertinya seri Eropa ini bakalan belum kelar ya tik 🙂

       
  4. mila said

    April 26, 2016 at 1:17 pm

    mba vicky apa sih itu bahasanya usia senja hahahaa.. mba vicky mah masih jauh dari senja, cocoknya usia jam 12 siang wkwkwkwk

     
    • Vicky Kurniawan

      April 28, 2016 at 6:38 pm

      Ha ha ha itu kamu jam 12 siang, kalau aku mah udah Ashar atuh neng, udah mau Maghrib…

       
  5. Rifqy Faiza Rahman

    April 29, 2016 at 10:31 pm

    Seru banget Mbak. Swiss ini termasuk negara impian saya, setidaknya untuk traveling 🙂

     
  6. Sharon Loh

    June 27, 2016 at 5:40 pm

    Detilllll banget tulisannya kak. Foto2nya jg banyak. Bs dijadiin referensi banget kalo mau kesana *who knows when*

    Btw bisa dibayangin deh si ibu kebingungan liat bule bule nya, wong dia udah pake baju setebel itu ya ^^ wakkakaka.

     
    • Vicky Kurniawan

      June 30, 2016 at 5:19 am

      Ha ha ha iya mbak. Untung saya sudah bawa dia kesini karena 7 bulan setelah pulang dari Eropa beliau kena stroke ringan. Tapi alhamdulillah sekarang sudah sembuh walaupun tidak bisa pulih seperti dulu. Terima kasih sudah mampir kesini ya

       
  7. Cicik Pujiastutik

    July 23, 2016 at 5:30 pm

    tulisan tulisannya asik dan ga lebay 🙂

     
    • Vicky Kurniawan

      July 25, 2016 at 11:58 pm

      Terima kasih mbak Cicik. Jangan kapok mampir kesini ya

       
  8. rynari

    November 18, 2016 at 6:49 pm

    Salam kenal mbak Vicky, ikutan menyimak perjalanan Mt Pilatus. Baru penjajakan komparasi Mt Pilatus dg Mt Titlis, kayaknya Pilatus lebih seru ya. Terimakasih

     
    • Vicky Kurniawan

      November 18, 2016 at 8:09 pm

      Salam kenal juga mbak Prih. Terima kasih sudah mampir kesini ya. Jalan ke Titlis dong mbak, nanti gantian ceritain ke saya 🙂 .

       
  9. Dira

    March 12, 2017 at 3:07 pm

    Mbak, tulisannya sangat membantu memberikan info buat para traveller.
    Mbak, saya minta alamat emailnya atau fb dong.
    Mau tanya2 info mengenai pass interail itu gimana2, bener2 butuh pencerahan. Terima kasih

     
  10. srikandicraft

    April 2, 2017 at 10:06 pm

    Met malam Mbak Vicky. salam kenal.. terima kasih info perjalanannya. boleh saya email ya Mbak.mau tanya2 ttg perjalanan keliling eropa yang mumer. terima kasih.

    Bunda Yoely

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: