RSS

Hari Ke 11 : Interlaken (Lake Brienz, Lake Thun & St. Beatus Caves)

01 Jun

Oleh : Vicky Kurniawan

Percayakah dirimu pada pepatah “Manusia merencanakan tetapi Tuhanlah yang menentukan?”. Dulunya saya menganggap itu adalah pepatah biasa tanpa arti, tetapi kemudian saya justru benar-benar meyakininya ketika mulai aktif jalan-jalan. Kenapa bisa ?. Waktu cuti yang terbatas, membuat saya harus merencanakan suatu perjalanan dengan sebaik-baiknya. Jadi sebelum pergi, saya selalu membuat itinerary atau rencana perjalanan sedetail mungkin mulai dari jam, jalur transportasi sampai harga semuanya harus ada dalam rencana saya. Apalagi didukung kecanggihan informasi saat ini, semua informasi seperti itu sangat mudah untuk didapat. Tapi percayalah teman, tidak ada satupun rencana perjalanan yang pernah saya buat dapat terwujud 100%, terwujud 75% nya saja sudah bagus. Selalu saja ada hal-hal di luar kendali yang membuatnya tidak kesampaian. Maka jadilah di setiap perjalanan saya selalu harus belajar tentang keikhlasan, kesabaran,  lebih-lebih ketakwaan dan meyakini bahwa semua memang terjadi atas kehendakNya. Diatas segala galanya saya juga harus selalu belajar dan meyakini bahwa kehendakNya lah yang terbaik. Terkadang memang kecewa tapi sekali lagi percayalah bahwa Tiada sehelai daun pun gugur, melainkan Dia mengetahuinya.

Dari kiri ke kanan, Puncak Eiger, Monch dan Jungfrau (Photo by : Steinmann)

Dari kiri ke kanan, Puncak Eiger, Monch dan Jungfrau (Photo by : Steinmann)

Begitu juga dengan perjalanan kali ini. Sudah sejak lama saya bermimpi untuk pergi ke Jungfraujoch, salah satu tempat yang dijuluki Top of Europe karena memiliki stasiun kereta tertinggi di Eropa dan tampaknya memiliki salju abadi disana. Saat riset, melihat foto- fotonya saja sudah membuat saya ngiler. Bukan hanya saljunya tapi pemandangan desa- desa kecil di jajaran gunungnya serasa menyejukkan mata. Akhirnya setelah merayu pak bendahara saya memasukkannya dalam rencana perjalanan walaupun harga tiketnya selangit dan membayangkannya menjadi puncak destinasi dari perjalanan kali ini. Bayangkan dengan menggunakan Eurail Pass saja, kami masih harus mengeluarkan biaya kurang lebih CHF 197.60 atau sekitar Rp. 1.9 juta perorang untuk tiket kereta kelas 2 pulang pergi dari Interlaken menuju puncak. Rencananya selain mencapai puncak, kita juga akan berhenti di sebuah desa kecil bernama Lauterbrunnen dan Grindewald.

Air terjun Staubbach Falls di Lauterbrunnen (Photo by : talesarefortelling)

Air terjun Staubbach Falls di Lauterbrunnen (Photo by : talesarefortelling)

Sayangnya walaupun dengan perencanaan yang matang ada beberapa hal yang membuat saya harus membatalkan kunjungan saya ke Jungfraujoch padahal saya sudah tiba tepat dikakinya. Yang pertama dan utama adalah kondisi kesehatan ibu. Sepuluh hari di jalan dan berpindah kota terus setiap hari mulai terasa efeknya bagi beliau. Mulai lebih emosian, kalau sedang jalan-jalan perlu waktu istirahat lebih lama dan terkadang terlihat tidak begitu tertarik akan segala sesuatu. Satu lagi, mungkin beliau sudah mulai kangen rumah dan muak dengan Indomie rasa kari ayam atau abon yang hampir setiap hari kami makan 🙂 . Dalam kondisi seperti ini bukanlah hal yang baik kalau kami memaksanya untuk ikut. Sudah mengeluarkan uang jutaan rupiah kalau hati sedang tidak mood pasti rasanya juga akan hambar. Selain itu karena dalam kunjungan ini kita akan mendaki dengan kereta sampai ketinggian 3.454 meter maka dibutuhkan kondisi yang prima bila tidak ingin terkena Altitude Sickness yang biasanya mulai menyerang diatas ketinggian 2500 meter.

The Aletsch glacier yang terlihat dari Jungfraujoch (Photo by : Jurmo)

The Aletsch glacier yang terlihat dari Jungfraujoch (Photo by : Jurmo)

Hal kedua yang juga penting adalah keadaan cuaca. Semalam sebelum tidur, saya mengecek beberapa kali keadaan cuaca di Jungfrajoch. Cuacanya memang sedikit mengkhawatirkan karena hujan dan berkabut. Dari beberapa website yang saya baca sudah banyak yang mengingatkan untuk tidak pergi kalau cuacanya berkabut karena tidak akan ada apa-apa yang bisa dilihat. Jadi saat mau tidur saya berdoa dan berharap begitu keras agar cuaca besok bisa sedikit cerah yang bisa menjadi pertanda bahwa Allah menghendaki saya untuk pergi kesana. Tapi ternyata saat saya bangun keesokan harinya hujan mulai turun dan benar juga ketika saya cek ternyata cuacanya cukup buruk untuk pergi ke puncak.

Pemandangan Junfraujoch saat berkabut (Photo by : wisemonkeysabroad)

Pemandangan Junfraujoch saat berkabut (Photo by : wisemonkeysabroad)

Akhirnya ya sudahlah. Lagi-lagi saya harus belajar menerima kekecewaan bahwa apa yang diangan-angankan tidak harus bisa terwujud. Jadi saya ambil sisi baiknya saja karena hari ini saya punya waktu satu hari bebas dari itinerary. Rasanya cukup melegakan dan menyenangkan mengisi waktu sehari ini untuk bersantai, terserah mau ngapain karena sebenarnya itulah inti dari liburan kan ? 🙂 .

Jungfraujoch

Nah, kenapa ada judul ini padahal destinasinya tidak jadi?. Sayang membuang hasil riset  tentang Jungfraujoch jadi disini saya bagikan beberapa informasi yang didapat. Siapa tahu bermanfaat bagi siapa saja yang ingin berkunjung kesana. Sebagai imbalannya, jangan lupa kalau sampai disana kirim foto dan tag nama saya di FB. Biar serasa ikut jalan-jalan walaupun sensasinya beda 🙂 . Jungfraujoch, walaupun dinamai Top of Europe bukanlah sebuah gunung melainkan sebuah sambungan landai diantara dua gunung, Jungrau yang punya ketinggian 4158 meter dan Monch yang tingginya ‘cuma’ 4107 meter. Jungfraujoch sendiri berada di ketinggian 3454 meter. Memiliki stasiun kereta tertinggi di Eropa dan tempat observasi astronomi tertinggi di dunia, tidaklah mengherankan kalau tempat ini kemudian dijuluki Top of Europe walaupun sebenarnya top of Europe yang asli dipegang oleh Mont Blanc sebagai gunung tertinggi di Eropa.

a. Persiapan sebelum berangkat

Dengan harga tiket yang mahal tidak ada salahnya kita bersiap-siap sebelum pergi agar hasil yang didapat lebih maksimal. Pertama, cek cuaca sebelum pergi. Tidak ada gunanya pergi kesana bila cuaca tidak cerah dan berkabut. Keadaan cuaca disekitar Jungfraujoch dapat dilihat disini . Kedua, pakailah baju yang sesuai. Bila pergi di musim semi pakailah baju berlapis sehingga memungkinkan untuk lepas pakai sesuai suhu. Jangan lupa membawa serta perlengkapan musim dingin seperti syal, topi dan kacamata gelap.

Pemandangan Jungfraujoch di bulan Juli

Pemandangan Jungfraujoch di bulan Juli saat musim panas (Photo by : travelsnapstories)

Ketiga, sediakan waktu yang cukup. Paling tidak diperlukan waktu minimal 2 jam untuk mengunjungi Jungfraujoch dengan perjalanan kurang lebih 2.5 jam sekali jalan. Jadi kunjungan kesini idealnya memakan waktu minimal 7 jam belum ditambah bila ingin berhenti di desa-desa kecil di sepanjang perjalanan. Keempat, perhatikan kesehatan sebelum berangkat. Terletak di ketinggian 3454 m siapa saja bisa mengalami Altitude Sickness ringan. Jadi perhatikan kesehatan terutama untuk anak dibawah 2 tahun, orang tua dan ibu hamil.

b. Rute

Ada dua jalur kereta untuk menuju puncak Jungfraujoch, satu melalui Lauterbrunnen dan satunya lagi melalui Grindelwald. Jadi dari Interlaken akan ada satu rangkaian gerbong menuju Jungfraujoch. Sampai di Zweilutschinen kedua kereta itu akan berpisah. Rangkaian bagian depan akan lewat jalur kanan melewati Lauterbrunnen sedangkan rangkaian belakang akan melewati jalur kiri melewati Grindewald. Kedua kereta ini akan bersatu kembali di Kleine Scheidegg untuk bersama-sama menuju Jungfraujoch.

Peta Jungfraujoch

Peta Jungfraujoch

Jadi hati-hati kalau naik kereta ini dari Interlaken, jangan sampai salah duduk bila tidak ingin berakhir di kota yang salah. Rencana saya waktu itu adalah naik melalui Grindewald dan turun melalui Lauterbrunnen agar kita dapat melihat dua sisi yang berbeda. Bila ada waktu inginnya pada saat naik berhenti dulu di Grindewald dan pada saat turun berhenti juga di Lauterbrunnen.

c. Tiket

Terus terang tiket untuk naik sampai Jungfraujoch sangatlah mahal bahkan bagi orang Eropa sekalipun. Bila tidak memakai pass, kita harus membayar CHF 204 (sekitar Rp. 2, 8 juta) untuk tiket kereta kelas 2 pulang pergi dari Interlaken. Harga tiket termurah bila tidak menggunakan pass adalah Good Morning Tickets seharga CHF 145. Tapi tiket ini memiliki syarat yaitu harus naik dari Kleine Scheidegg ke Jungfraujoch antara jam 08.00 atau 08.30 dan turun tidak lebih dari jam 1 siang.  Jadi kalau mau memanfaatkan tiket ini, jam 8 atau 08.30 pagi kita sudah harus sampai di Kleine Scheidegg. Bila dirimu menginap di Interlaken, kamu sudah harus naik kereta paling tidak jam 6 pagi karena perjalanan dari Interlaken menuju Kleine Scheidegg akan memakan waktu kurang lebih 1.5 jam.

Kereta Api Jungfraujoch - Kleine Scheidegg (Photo by: april14,1978)

Kereta Api Jungfraujoch – Kleine Scheidegg (Photo by: april14,1978)

Bila kita punya pass, maka harga tiket akan berkurang antara 25 sampai 50 %. Diantara berbagai macam pass, Swiss Half Fare Card lah yang memberikan diskon terbesar yaitu 50%. Pass yang lain seperti Swiss Travel Pass, Jungfrau Travel Pass dan Eurail Global Pass hanya akan memberikan diskon sebesar 25% itupun hanya untuk rute-rute tertentu. Harga tiket kereta menuju Jungfrauch dapat dilihat disini.   Bila kamu memiliki pass klik kata Discount di sebelah kanan untuk mengetahui harganya setelah dikurangi pass.

d. Atraksi di Jungfraujoch

Nah apa yang bisa dilakukan di Jungfraujoch ?. Yang jelas banyak sekali atraksi-atraksi outdoor dan indoor disana diantaranya : Pertama, naik lift setinggi 117 meter menuju Sphinx observatory. Disini kita bisa menikmati pemandangan sekeliling baik dari teras atau dari dalam gedung yang dilengkapi dengan jendela-jendela berkaca lebar dan luas. Kedua, kita bisa mengunjungi Ice Palace yang menyimpan banyak ukiran-ukiran salju.

Pemandangan dari Sphinx Observatory (atas, Photo by : dailymail) dan Ice Palace (bawah, Photo by : huffpost)

Pemandangan dari Sphinx Observatory (atas, Photo by : dailymail) dan Ice Palace (bawah, Photo by : huffpost)

Ketiga, mengunjungi The Alpine Sensation sebuah terowongan sepanjang 250 meter yang dikanan kirinya dihiasi dengan gambar dan patung yang menceritakan sejarah pembangunan Jungfrau Railway. Terowongan ini menghubungkan Sphinx observatory dan Ice Palace. Keempat, bermain salju sepuas-puasnya di Grosser Aletsch Glacier yang terbentang sejauh 22 km dan merupakan glacier terbesar di pegunungan Alpen. Kabarnya ketebalan es disini mencapai 1 km. Pantas saja saat musim panas kita malah bisa melakukan kegiatan kelima yaitu bermain kereta luncur, ski dan snowboarding di Snow Fun Park-nya.

Alpine Sensation (Photo by : jungfrau)

Alpine Sensation (Photo by : jungfrau)

Bagi yang tidak suka kegiatan outdoor masih ada kegiatan keenam, yaitu mengunjugi Lindt Swiss Chocolate Heaven. Disitu kita bisa belajar sejarah coklat dan cara pembuatannya. Peta berbagai atraksi di Jungfraujoch dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

jungfruajoch-map

Lake Brienz

Jadi apa kegiatan saya setelah batal ke Jungfraujoch ?. Walaupun namanya hari santai, rugi buat saya untuk malas-malasan di hotel. Jadi setelah mandi, sholat dan sarapan, sekitar jam 8 pagi kita cabut dari hotel untuk mengeksplore Interlaken. Hal pertama yang saya lakukan hari ini adalah memanfaatkan benefit dari Eurail Pass yaitu gratis naik BLS Boat Services di Lake Brienz dan Lake Thun. Jadwal keberangkatan cruise di kedua danau ini bisa dicek disini. Tidak mau rugi, rencananya hari ini saya mau mengeksplore kedua danau tersebut. Pada kesempatan pertama, saya ingin menjelajah Danau Brienz terlebih dahulu.

Lake Brienz

Lake Brienz

Salah satu pangkalan boat untuk menyusuri Lake Brienz bernama Interlaken Ost Brs Bonigen terletak sekitar 400 meter dari stasiun kereta Interlaken Ost. Untuk menuju stasiun ini, dari hostel kita dapat naik kereta atau bis. Bosan naik kereta, kami memilih naik bis. Jadi dari hostel kami berjalan kurang lebih 150 mt menuju halte bis terdekat yaitu Interlaken, Zentralplatz. Peta jalan kaki dari hostel menuju halte bis dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Halte Bis Interlaken, Zentralplatz

Halte Bis Interlaken, Zentralplatz

Kemudian di halte ini naik bis no. 102 arah Interlaken Ost turun di stasiun Interlaken Ost. Dari stasiun ini, jalan kaki ke pangkalan boat Interlaken Ost Bsr dengan menunjuk pada peta berikut.

Pada saat naik kita tinggal menunjukkan Eurail Pass dan secara otomatis petugas akan mengarahkan kita ke ruang kelas 1 yang terletak di upper deck. Perjalanan menyusuri danau Brienz memakan waktu kurang lebih 75 menit. Seperti di danau Lucerne, boat juga akan berhenti beberapa kali untuk menaik turunkan penumpang. Dalam perjalanan selama 75 menit ini kami lebih banyak berada dalam ruangan karena diluar dingin, hujan dan berkabut. Sekali-kali saya dan suami keluar bila cuaca memungkinkan. Berbeda dengan pangkalan boat di Lake Lucerne yang langsung berada di pinggir danau, pangkalan boat Interlaken Ost Bsr terletak di sungai Aare sehingga kapal harus menyusuri sungai itu sebelum sampai ke danau.

Pemandangan saat menyusuri sungai Aare dari atas boat

Pemandangan saat menyusuri sungai Aare dari atas boat

Begitu sampai di danau kapal mulai meningkatkan kecepatan dan pemandangan mulai berganti. Pemandangannya hampir sama seperti saat menyusuri danau Lucerne, pegunungan Alpen yang bersalju dan kota-kota kecil Swiss dengan rumah kayunya. Keadaan kabin kelas satunya tidak sebagus boat di lake Lucerne tapi lumayan juga karena begitu keluar posisinya langsung berada di bagian depan teras teratas.

Pemandangan di tepi Lake Brienz

Pemandangan di tepi Danau Brienz

Sesampai di pangkalan boat Brienz BrS, kami turun dan disambut hujan yang sangat deras. Rencananya sampai di Brienz, saya ingin mengunjungi Ballenberg Open-air Museum. Berlainan dengan museum biasa, sesuai dengan namanya Ballenberg merupakan museum berbentuk outdoor yang menampilkan bangunan tradisional dari seluruh Swiss. Museum ini memiliki hampir 100 bangunan yang dipindahkan dari tempat aslinya dan hampir semua daerah di Swiss punya satu bangunan yang mewakili disini. Bayangan saya mungkin mirip seperti Taman Mini Indonesia Indah. Bangunan-bangunan ini tidaklah kosong melainkan dilengkapi dengan perabot sesuai jaman yang mewakilinya. Sayangnya hujan yang semakin deras membuat saya harus membatalkan kunjungan ke museum ini karena petugas di Tourist Information mengingatkan bahwa ini adalah outdoor museum yang susah dinikmati dikala hujan. Lagi-lagi saya harus kecewa karena sudah dua tujuan yang tidak bisa dikunjungi.

Salah satu koleksi Ballenberg Open-air Museum (Photo by : European Traveler)

Salah satu koleksi Ballenberg Open-air Museum (Photo by : European Traveler)

Bagi yang ingin mengunjungi museum ini, setelah turun dari kapal bisa naik bis no 151 arah Brünig-Hasliberg, Bahnhof turun di Ballenberg West Museum. Website resminya dapat diakses disini. Setelah gagal ke Ballenberg kami memutuskan untuk kembali ke Interlaken dengan kereta. Apalagi ibu sudah terlihat lelah dan ingin istirahat di hostel saja. Akhirnya kami memutuskan kembali ke hostel sembari menunggu hujan reda sekaligus makan siang dan sholat dulu sebelum menjelajah danau Thun. Transportasi dari stasiun Brienz – Rothorn Railway menuju Interlaken West dapat dilihat pada gambar berikut :

bis

Setelah istirahat sejenak untuk makan siang dan sholat di hostel, saya dan suami siap menjelajah danau kedua yaitu lake Thun. Ibu memilih tidak ikut dan memutuskan untuk istirahat saja di hostel. Sebenarnya saya agak kuatir kalau tidak pergi bertiga dengan ibu, karena salah satu syarat diskon 15% pembelian Eurail Pass adalah membeli pass lebih dari satu orang yang akan digunakan traveling terus bersama-sama. Tapi melihat kondisi ibu yang memang sudah sangat lelah akhirnya kami nekat saja pergi berdua.

Lake Thun 

Terletak di sebelah barat Interlaken, danau ini dulunya menjadi satu dengan danau Brienz. Tapi setelah jaman es berakhir, kedua danau ini akhirnya terpisah. Dengan area yang lebih luas daripada Danau Brienz, penduduk lokal disekitar danau Thun sering kebanjiran bila terjadi hujan deras. Hal ini disebabkan karena sungai Aare yang menjadi saluran danau Thun kesulitan menampung limpahan airnya. Apalagi juga ditambah limpahan air dari danau Brienz yang terletak lebih tinggi 6 meter daripada danau Thun.

Pemandangan Danau Thun dari castle of Oberhofen (Photo by : kurt.fotosuisse)

Pemandangan Danau Thun dari castle of Oberhofen (Photo by : kurt.fotosuisse)

Dibutuhkan waktu 2 jam naik boat untuk menyeberangi danau ini dari Interlaken. Tapi saya tidak berencana naik boat selama itu karena saya pikir pemandangannya hampir sama. Selain itu saya ingin sampai kembali di Interlaken sebelum jam 6 sore untuk mengikuti Interlaken Free Walking Tour. Pangkalan boat danau Thun ini terletak dekat dengan stasiun Interlaken West. Untuk menuju kesana ada dua pilihan : naik bis no. 21,102 dan 103 dari halte Zentralplatz atau jalan kaki menurut peta berikut ini :

Saat akan naik kapal, kami cukup menunjukkan kartu Eurail Pass dan naik ke kabin kelas 1. Waktu duduk, sempat ditanya oleh petugas dimana orang ketiga dalam pass ini. Dengan tampang tidak berdosa saya jawab saja sedang pergi ke kamar mandi 🙂 . Untung petugasnya tidak bertanya-tanya lagi. Rencananya saya akan naik boat ini sampai pemberhentian ke 2 yaitu Beatushöhlen-Sundlauenen karena ada satu tujuan yang ingin saya kunjungi tidak jauh dari situ. Perjalanan menyusuri danau Thun ini seperti diduga suasananya hampir sama dengan saat melintasi danau Brienz. Mula-mula kapal akan menyusuri sungai Aare yang sempit sebelum bergerak menuju danau Thun yang luas.

Upper Deck BLS Schifffahrt Thunersee

Upper Deck BLS Schifffahrt Thunersee

Pemandangan di Sungai Aare

Pemandangan di Sungai Aare

Perjalanan dari pangkalan boat Interlaken West menuju Beatushöhlen-Sundlauenen memakan waktu kurang lebih 35 menit. Sebenarnya agak kuatir juga kalau terlewat pemberhentiannya, mengingat diatas kapal tidak ada semacam pengumuman akan berhenti dimana. Jadi di setiap pemberhentian kami usahakan melihat tulisan di dermaganya sekaligus menghitung berapa kali pemberhentian yang sudah dilewati. Untung saja tempat yang saya tuju berada di pemberhentian kedua jadi tidak perlu capek-capek dan waspada terus 🙂 .

St. Beatus-Höhlen Caves

Sesampai di pemberhentian Beatushöhlen-Sundlauenen kami turun dari kapal dan mulai trekking menuju gua. Jarak dari pangkalan boat menuju gua kurang lebih 1 km dan memakan waktu kurang lebih 30 menit jalan kaki. Jalur trekkingnya mendaki melewati hutan-hutan dan merupakan sebagian kecil dari jalur yang disebut Old Pilgrim’s Route. Di beberapa tempat jalur trekkingnya berupa tangga-tangga dari batu. Pada setengah kilo pertama saya sudah kehabisan nafas karena mendaki. Jadi sedikit-sedikit jalan dan sedikit-sedikit istirahat sambil berpikir untung ibu tidak ikut. Lagi enak-enaknya beristirahat sambil mengatur nafas, tiba-tiba saya didahului oleh serombongan murid TK yang rupanya juga akan berdarmawisata ke gua. Sialnya anak-anak kecil itu tenang-tenang aja jalan mendaki bahkan sambil bercerita dan menyanyi-nyanyi. Doh, benar-benar berbanding terbalik dengan saya. Jangankan menyanyi untuk bicara saja nafas rasanya sudah hampir putus 🙂 .

Jalan menuju St.Beatus Cave melalui Old Pilgrim Road

Jalan menuju St.Beatus Cave melalui Old Pilgrim Road

Tapi semakin mendaki pemandangannya memang semakin indah. Di satu sisi hutan lebat membayang sedangkan disisi lainnya terlihat pemandangan danau dan pegunungan Alpen di kejauhan dengan salju di puncaknya. Hutannya lumayan lebat seperti hutan-hutan Shire di film Lord Of The Ring saat Frodo dikejar pasukan Nazgul. Waktu itu sempat ragu juga apakah kami berada di jalur yang benar karena sore itu suasana disekitarnya sangat sepi hanya kami berdua yang ada di jalan setapak itu. Logikanya dengan gua seterkenal itu tidak mungkin kalau jalannya begini sepi.

Salah satu pemandangan dari Pilgrimage Road

Salah satu pemandangan dari Pilgrimage Road

Untunglah tidak lama kemudian tampaklah gerbang kayu menuju gua dan saya merasa lega karena kita berada di jalur yang benar. Terus terang jalur trekkingnya tidak cocok bagi orang tua dengan kondisi yang tidak fit dan anak-anak dibawah usia 6 tahun karena jalurnya yang mendaki. Tapi pemandangannya memang indah dan patut diacungi jempol. Peta jalan kaki dari pemberhentian boat Beatushöhlen-Sundlauenen menuju gua dapat dilihat pada peta di bawah ini.

St. Beatus Caves dinamakan sesuai dengan Beatus of Lungern salah satu orang suci dalam agama Kristen yang makamnya terletak di depan pintu gua ini. Konon kabarnya St. Beatus yang sebenarnya adalah orang Irlandia bertapa di gua ini dan disinilah dia mengalahkan naga penghuni gua. Bangkai naga dibuang di danau Thun dan kabarnya bisa terlihat jika air danau sedang tenang. Setelah membeli tiket untuk masuk kedalam gua, sambil menunggu turnya dimulai kami melihat-lihat keseluruhan kompleks St Beatus Cave. Selain gua, dalam kompleks ini juga terdapat Cave Museum yang berisi tentang sejarah gua, tipe-tipe bebatuannya, dan macam-macam flora dan fauna dalam gua. Sayangnya tiket masuk ke dalam museum terpisah dari tiket masuk ke dalam gua.

Pintu Masuk St Beatus Cave

Pintu Masuk St Beatus Cave

Guided tour ke dalam gua ini diadakan setiap 45 menit, dengan durasi 75 menit untuk menyelusuri gua. Didalam gua sudah dipasang jalur trekking yang jelas dilengkapi dengan lampu dan papan petunjuk sehingga sebenarnya tanpa guided tour orang bisa menelusurinya sendiri. Untuk masuk kedalam gua ini, pengunjung disarankan memakai baju hangat karena suhunya yang konstan berkisar antara 8 sampai 10 derajat celcius. Sebelum masuk kita diajak melihat-lihat replika kehidupan St Beatus di dalam gua sekaligus melihat-lihat makamnya. Menurut catatan, St. Beatus meninggal pada usia 112 tahun dan sangat dikultuskan oleh para pengikutnya. Dikenang sebagai rasul pertama ke Swiss, ajaran dari Beatus tersebar luas di Abad Pertengahan dan bertahan sampai periode Reformasi ketika jamaah diusir kembali dari guanya. Setelah periode kekacauan ini,  relik – relik St. Beatus dipindahkan ke kapel di Lungern , Obwalden. Sedangkan gunung di mana ia tinggal sampai kematiannya masih menjadi tempat ziarah, dan di namai sesuai namanya yaitu Beatenberg.

Makam St.Beatus dan replika kehidupannya

Makam St.Beatus dan replika kehidupannya

Setelah mengunjungi makam St Beatus, secara berombongan kita diantar masuk kedalam gua. Di beberapa tempat yang dianggap menarik, guide akan berhenti untuk menerangkan tentang keadaan gua. Selain keindahan stalagtit dan stalakmitnya yang mengagumkan, didalam gua ini juga mengalir sungai yang deras sehingga di beberapa tempat membentuk kolam yang akhirnya akan keluar menjadi air terjun di luar. Jadi tidak mengherankan bila didalamnya juga terdapat tumbuh-tumbuhan yang biasanya tidak bisa hidup didalam gua. Untuk menambah efek dramatis dibeberapa tempat dipasang lampu sorot sehinga keindahan stalakmit dan stalagmitnya lebih menonjol. Uniknya di tempat lampu-lampu itu menyorot tumbuh tanaman-tanaman karena lampu tersebut tanpa sengaja berfungsi juga sebagai pengganti dari sinar matahari.

Bagian Dalam St. Beautushohlen Cave

Bagian Dalam St. Beautushohlen Cave

Secara keseluruhan gua ini terawat dengan rapi, sayangnya jalurnya yang bertangga dan naik turun tidak bisa diakses oleh kursi roda. Gua ini juga tidak cocok untuk orang tua dengan kondisi yang tidak fit dan anak-anak kecil. Bagi penggemar wisata alam yang sudah bosan dengan gunung, gua ini patut direkomendasikan. Tapi bila pemberhentianmu hanya singkat saja, destinasi ke gua ini bisa dihilangkan. Usai ikut tour, kami memilih jalur pulang yang berbeda dari saat datang. Kali ini kami akan mencoba pulang lewat pintu depan dan dari situ menunggu bis menuju Interlaken. Ternyata perjalanan pulang pemandangannya tidak kalah menarik dengan jalur Pilgrimage Road. Di kejauhan tampak pegunungan Alpen diliputi salju dan awan tipis, sementara birunya danau Thun menjadi latar belakang yang paling dominan.

Pemandangan di sekitar area St. Beautus Cave

Pemandangan di sekitar area St. Beautus Cave

Air Terjun St. Beautus Hohlen Cave

Air Terjun St. Beautus Hohlen Cave

Dalam lingkungan gua ini juga terdapat picnic area dan playground yang dihiasi oleh tema St. Beautus yaitu naga. Peta area St. Beautus Cave dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

2015-03-22-011-st-beatus-hc3b6hlen-beatenberg-switzerland-e1427372008936

Untuk kembali ke Interlaken, dari halte bus di depan pintu gerbang St. Beautus kita naik bis no 21 jurusan Interlaken Ost, Bahnhof dan turun di stasiun Interlaken West.

Interlaken Free Walking Tour

Satu lagi rencana saya yang tidak kesampaian hari ini adalah mengikuti kegiatan jalan-jalan di seputar Interlaken. Rencananya sepulang dari St. Beautus mau ikutan Interlaken Free Walking Tour yang diadakan oleh organisasi lokal setempat. Dalam tur ini kita akan diajak menyusuri kota sekaligus belajar tentang sejarah dan legenda Interlaken. Sebenarnya kegiatan Free Walking Tour seperti ini hampir selalu ada di beberapa kota besar di Eropa. Yang paling terkenal adalah Sandeman’s New Europe yang memiliki Free Walking Tour di hampir 18 kota di Eropa, Amerika dan Middle East. Saya sebenarnya sudah gatal ingin ikutan karena dengan mengikuti tur-tur semacam itu kita dapat menghemat anggaran. Sayangnya kondisi ibu tidak memungkinkan untuk diajak tur seperti itu. Berdasarkan pengalaman, ikut Walking Tour dengan peserta bule harus tahan capek dan jalan cepat. Satu lagi etikanya yaitu harus serius ikutan tur, tidak boleh berisik sendiri dan foto-foto terlalu lama.

Interlaken Free Walking Tour (Photo by : interlakenfreetour)

Interlaken Free Walking Tour (Photo by : interlakenfreetour)

Kebetulan karena ibu tidak ikut saya mengajak suami untuk ikutan Interlaken Free Walking Tour. Kegiatan yang akan saya ikuti ini bukan program dari Sandeman, tapi diprakarsai oleh organisasi masyarakat setempat. Jadwal tur dan meeting points nya dapat dilihat disini. Tur rencananya akan dilaksanakan selama 2 jam dimulai jam 6 sore di hostel Backpackers  Villa  Sonnenhof. Sayangnya, saat jalan kaki dari stasiun bis Interlaken West menuju meeting points, hujan deras mulai mengguyur. Akhirnya karena kehujanan dan kedinginan, saya hanya bisa pasrah ketika suami mengajak kembali ke hostel saja. Padahal di websitenya tertulis dalam cuaca apapun tur akan tetap berjalan. Tapi yah kalau dipikir-pikir saya juga nggak mau ikutan walking tour sambil hujan-hujanan. Peta naik bis atau jalan kaki dari stasiun bis Interlaken West ke hostel Backpackers  Villa  Sonnenhof dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

Bila kondisimu tidak memungkinkan untuk ikutan tur semacam itu, kamu bisa mengadakan acara walking tour sendiri dengan panduan peta offline. Salah satu yang menjadi favorit saya adalah rute walking tour yang dirancang oleh website GPSMYCITY. Di website ini kita bisa mendowload peta berisi rute sekaligus keterangan dan sejarah tempat-tempat yang menarik untuk dikunjungi. Untuk Interlaken Sight Self Guided Tour dapat di lihat disini . Sebelum pulang kami mampir dulu ke Hongkong Asian Supermarket dekat hostel untuk berbelanja bahan makanan yang sudah mulai menipis. Salah satu yang kami beli adalah beras, karena beras yang dibawa dari Indonesia sudah habis Ternyata tekstur berasnya lain dengan tekstur beras dari Indonesia. Yang kami beli di sini ternyata bulirnya lebih utuh dan tidak lengket serta menggumpal saat dimasak. Kalau soal rasa, jelas beras Indonesia lebih enak. Ketika saya protes soal rasa berasnya yang aneh, suami saya malah bilang “Ya itu beras yang sehat, vitaminnya masih banyak karena tidak diproses macam-macam”. Ihhh, padahal harganya mahal. Beli cuma sekitar 3 kg tapi dengan harga yang sama bisa dapat sekarung kalau di Indonesia. Oooohhh, betapa cintanya aku dengan Indonesia 🙂 .

Biaya Hari Ke 11

untitled2

Kronologi Waktu

untitled3

 

 

Advertisements
 
28 Comments

Posted by on June 1, 2016 in Interlaken, Swiss

 

Tags: , , , ,

28 responses to “Hari Ke 11 : Interlaken (Lake Brienz, Lake Thun & St. Beatus Caves)

  1. Herry Tan

    July 5, 2016 at 12:44 pm

    Mbak…kpn postingan baru? 🙂

     
    • Vicky Kurniawan

      July 17, 2016 at 6:24 pm

      Ha Ha Ha tersindir banget nih Saya usahakan secepatnya ya mas Herry

       
  2. tiara

    July 21, 2016 at 5:06 pm

    MBBB ak bingung, kok naik bus dan kereta dr hostel menuju danaun thun,, kesana ksni ga baayar? soalnya tidak ada di excel biaya?
    terus kok kykny jago bgt tau naik nomer yang mana, cara stopnya lihat di layar ya pemberhentian selanjutnya?

     
    • Vicky Kurniawan

      July 21, 2016 at 9:34 pm

      Halo mbak Tiara, transportasi di Interlaken saya tulis di artikel sebelumnya di hari ke 10 https://jejakvicky.com/2016/04/25/hari-ke-10-zurich-lucerne-interlaken-mt-pilatus-walking-tour-lucerne/ . Jadi di Interlaken bila menginap di Hostel atau Hotel mereka akan memberikan kartu sakti bernama Guest Card yang akan diberikan saat check inn. Kartu ini memberikan akses gratis ke semua transportasi umum dalam Zone 80, Iseltwald, Saxeten dan Niederried termasuk diskon ke beberapa atraksi dan museum di area Jungfrau Region. Guest Card ini hanya berlaku selama kita tinggal di area ini. Jadi karena kita tinggal selama 2 malam disini maka kartunya berlaku 2 kali 24 jam. itu kalau kita naik bus sedangkan kalau naik kereta kita tinggal menunjukkan Eurail Pass. Makanya biaya transportasi tidak tercantum di Excell.

      Mengenai nomer bis di Interlaken bisa dilihat via google map atau dicek jalurnya disini http://www.interlaken.ch/en/information-and-journey-to-interlaken/travel-tips-interlaken/online-timetable-switzerland.html

       
      • tiara

        July 22, 2016 at 11:23 am

        Terima kasih infony mb, saya mau tanya lagi

        1. Jika kita bole flash back ke perjalanan hari ke 9, dari zurich hb st menuju Rheinfall kan jg pke eurailpass ? hanya tinggal ditunjukan ke petugas atau harus genti jadi kartu token gitu?
        2. Apakah hotel city backpacker jg mendapatkan guest card ? apakah digunakan jg?
        3. Lalu perjalanan hari ke 10 Zurich HB ke Lucerne St jg menggunakan eurail pass?
        4. Start awal naik panaromic train / golden itu letaknya di stasiun mana mb? Apakah dari st. Lucerne (tmpt kalian menitipkan luggage storage?)
        5. Lalu panaromic train itu kan tibanya di Interlaken Ost, lalu mb menuju Interlake West utk menuju hostel, apakah itu pk euraipass jg ? tks y mb

         
      • Vicky Kurniawan

        July 25, 2016 at 11:57 pm

        Halo mbak Tiara :
        1. Iya mbak tinggal di tunjukkan aja pass nya
        2. Semua hostel atau hotel di Interlaken akan memberikan guest card.
        3. Iya mbak pakai pass
        4. Dari Lucerne HBF tempat saya menitipkan luggage storage
        5. Iya pakai Eurail Pass juga

         
  3. Megawati Hendrawan

    August 31, 2016 at 10:13 pm

    mbak Vicky bolehkah ngubungi pribadi ..saya orang batu mau nanya lebih detil mbak thanks

     
    • Vicky Kurniawan

      August 31, 2016 at 10:50 pm

      Boleh mbak Megawati. Tolong kirim no wa via inbox FB saya. Nanti saya hubungi via WA

       
      • ubugibabyshop

        January 15, 2017 at 5:58 pm

        Mbak Vicky maaf, id FB nya apa?

         
      • Vicky Kurniawan

        January 15, 2017 at 9:27 pm

        Tinggal klik Badge FB saya di bagian kanan bawah

         
  4. Megawati Hendrawan

    August 31, 2016 at 10:14 pm

    hari selanjutnya belum ya

     
    • Vicky Kurniawan

      August 31, 2016 at 10:51 pm

      Belum sempat nulis mbak 🙂 sabar ya

       
  5. Travelling Addict

    September 3, 2016 at 12:11 am

    Ga sabar nunggu kelanjutan perjalanan mba vicky

     
    • Vicky Kurniawan

      September 6, 2016 at 9:09 pm

      Ha ha ha sabar ya..haduhhh gak sempat sempat nulis nih.

       
  6. jonathan

    September 6, 2016 at 9:32 pm

    kalau mau ke gimmelwald gimana ya mba? dari interlaken. apakah ada rekomendasi lain yg lebih bagus? apakah memungkinkan membawa koper2 gede ke daerah tersebut? kalau ada tempat penitipan dimana? apakah aman?

    terima kasih..

     
    • Vicky Kurniawan

      September 7, 2016 at 9:41 pm

      Kalau mau ke Grindelwald tetap aja naik kereta ke Jungfrauch dari Interlaken. Jangan lupa pilih kereta bagian belakang karena Rangkaian bagian depan akan lewat jalur kanan melewati Lauterbrunnen. Untuk koper besar bisa dititipkan di Luggage Storage di Stasiun Interlaken.

       
  7. Rifqy Faiza Rahman

    September 21, 2016 at 1:54 am

    Khas MBak Vicky dalam mengulas catatan perjalanan. Detail dan informatif. Foto-fotonya juga keren dan membantu “menerbangkan” angan supaya bisa mengikuti jejak Mbak Vicky hehe.

     
    • Vicky Kurniawan

      September 22, 2016 at 7:17 pm

      Ha ha masih kalah kualitas fotonya sama punya mas Rifqy…

       
  8. Hendra Kurniawan (@stefano_hendra)

    October 6, 2016 at 1:29 pm

    nunggu hari berikutnya juga nih mbak..hehehe

     
    • Vicky Kurniawan

      October 14, 2016 at 8:35 pm

      Ha ha iya mas, saya sudah nulis draftnya tapi nggak selesai selesai 🙂

       
  9. Herry Tan

    October 12, 2016 at 7:18 pm

    Blog ini masi akan diperbaharui gk ya?’

     
    • Vicky Kurniawan

      October 14, 2016 at 8:38 pm

      ha ha ha..masih dok sedang dalam proses..sabar ya dok..

       
  10. elisabetyas

    October 27, 2016 at 3:53 pm

    Hai Mba Vicky,

    Salam kenal ya. Aku Elisabeth.
    Mau nanya donk. Kalau mau ke Jungfraujoch, apakah tiketnya harus dibeli via online? Ataukah kita bisa beli on the spot? Thank you sebelumnya 😊

     
    • Vicky Kurniawan

      October 28, 2016 at 4:37 pm

      Kalau pas high season mending beli tiket via online mbak karena takutnya nggak kebagian. Tapi kalau saya dengan tiket semahal itu mending beli on the spot aja soalnya kalau nggak jadi berangkat biar nggak stress. Lagian kalau beli on the spot enaknya kita masih punya kesempatan untuk cek cuaca dulu sebelum naik.

       
  11. kikie

    December 31, 2016 at 2:04 pm

    mbak Vicky, salam kenal.

    saya mau menanyakan mengenai biaya yang disebutkan di bagian Jungfrau tapa pass adalah sekitar CHF 204. itu memang hanya untuk biaya tiket kereta saja ya mbak? setelah sampai atas, masuk ke tempat séminal Spinx atau Ice Palace tidak perlu membayar lagi?

    dan untuk tiket kereta, seharga itu apakah untuk pp di hari yang sama? karena kalau saya semisalnya memiliki rencana untuk ke Murren dan menginapnya di Lauterbrunnen kemudian ke Jungfrau, saya masih belum mendapat gambaran lengkap mbak untuk melakukannya dalam waktu lebih dari sehari.

    terimakasih banyak sebelumnya.

     
    • Vicky Kurniawan

      January 3, 2017 at 7:37 pm

      Halo Kikie…

      1. Tiket sudah termasuk entry ke Sphinx dan Ice Palace
      2. Itu untuk PP di hari yang sama walaupun kita juga boleh turun dan naik lagi di stasiun-stasiun yang dilalui keretanya. Kalau ingin menginap mending beli tiket dengan rute putusan

       
  12. dewi

    March 4, 2017 at 10:15 pm

    kalau kita naik kereta ke jungfraujoch, untuk ke atraksi-atraksi yang ada harus beli tiket lagi kah?

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: