RSS

Hari Ke 13 : Jenewa – Paris (Cathedrale Notre Dame de Paris & Paris Walking Tour 1)

Oleh : Vicky Kurniawan

Waktu menunjukkan jam 5 pagi ketika suara adzan terdengar di telinga. Dalam mimpi serasa tidur di rumah dimana masjid hanya beda satu blok dan setiap kali adzan selalu terdengar sampai ke rumah. “Hoeyyy…sholat..sholat”, terdengar suara fals menganggu suara adzan yang merdu. Duh, siapa sih ini yang punya suara begitu menganggu. Tidak berhenti hanya disitu, tiba-tiba ada yang menggelitiki kaki dan ada tangan yang membuka paksa kelopak mata saya yang masih tertutup. Aduuhh, tentu saja saya hapal siapa yang suka membangunkan dengan cara yang tidak elegan. Siapa lagi kalau bukan travel mate saya tercinta. Duhhh, untung dia bawa ibunya kalau tidak pasti ada perang bantal pagi ini. Setelah membuka mata lebar-lebar baru sadar kalau suara adzan yang saya dengar berasal dari hape suami yang diletakkan persis di dekat telinga.

Akhirnya, ketemu sama Eiffel juga

Akhirnya, ketemu Eiffel juga

Hmm, suara adzan itu begitu mengingatkan saya akan rumah. Sejenak rasa rindu akan rumah dan ketiga permata hati saya tiba-tiba menyeruak. Biasanya paling lama saya pergi hanya 9 hari, 13 hari merupakan rekor tersendiri. Pergi paling lama dan tanpa menangis karena kangen rumah. Biasanya saya sangat sentimentil, lihat anak-anak kecil sedang mainan aja serasa hati ini pinginnya langsung pulang. Tapi rasanya hari ini rekor itu akan terpecahkan karena tiba-tiba ada setetes air mata yang jatuh ke pipi. Suami saya yang sudah siap-siap mengambil bantal untuk mulai perang melihat perubahan wajah saya. Dia menurunkan bantalnya dan berkata, “Udah, ayo mandi nanti kita ketinggalan kereta. Katanya pengen naik TGV seperti Jason Bourne”. Teringat akan TGV, semangat saya naik lagi. Ah, dibalik kecuekannya ternyata dia sensitif juga.

Perjalanan Jenewa – Paris

Sebenarnya ada dua pilihan kereta untuk perjalanan dari Jenewa ke Paris. Satu, memakai High Speed Train yang memakan waktu kurang lebih 3 jam (wajib reservasi) dan yang kedua, memakai regional train dengan durasi waktu kurang lebih 8 jam (tidak memerlukan reservasi). Sebenarnya pertimbangan memilih kereta cepat semata mata bukan karena Jason Bourne (ha ha ha alasan) tapi karena waktu yang terbataslah yang mengharuskan kami tiba di Paris dengan cepat. Dengan biaya reservasi sebesar CHF 32 perorang (sekitar Rp. 434.000) untuk kelas 2, sebenarnya kalau tidak terburu-buru sungguh ogah saya membayar biaya sebesar itu. Tapi demi waktu tercepat menuju ke Paris jadilah hari ini kami naik kereta cepat TGV yang identik dengan film Jason Bourne karena beberapa kali kereta ini muncul di filmnya.

Read the rest of this entry »

 
4 Comments

Posted by on November 21, 2016 in Paris, Perancis

 

Tags: , , , , , ,

Hari Ke 12 : Interlaken – Jenewa (The Palais des Nations, Jardin des Anglais, Plaine de Planpalais, Parc des Bastions, Jardin Botanique)

Oleh : Vicky Kurniawan

Jam sudah menunjukkan pukul 6 pagi ketika kami chek out dan keluar dari hotel. Tujuan kami selanjutnya adalah ibukota Swiss yaitu Jenewa. Sebenarnya saya kurang suka dengan kota besar dan tidak pernah berniat memasukkannya dalam rencana perjalanan. Tapi setelah mengotak atik rute, untuk menuju kota berikutnya yaitu Paris memang lebih efisien bila saya mampir di Jenewa. Maka jadilah Jenewa menjadi tujuan berikutnya setelah Interlaken. Sebagai kota dengan jumlah organisasi internasional terbanyak di dunia, Jenewa menjadi pusat diplomasi dunia. Walaupun PBB sekarang bermarkas besar di New York, Jenewa boleh dibilang berperan sebagai markas besar PBB di Eropa karena masih banyak kegiatan-kegiatannya yang dilaksanakan di Palais des Nations, Jenewa. Selain itu masih banyak anak-anak organisasi PBB seperti WHO dan ILO dan kurang lebih 20 organisasi internasional diantaranya Palang Merah dunia yang bermarkas di sana.

Salah Satu Sudut Kota Jenewa

Salah Satu Sudut Kota Jenewa

Disamping menjadi pusat diplomasi, Jenewa juga menjadi pusat keuangan dunia karena banyak perusahaan-perusahaan keuangan yang berperan penting dalam perekonomian dunia bermarkas di sana. Hal itu termasuk bank-bank, jasa pengelolaan keuangan, dan beberapa organisasi keuangan dunia seperti IFC (International Finance Corporation).

Transportasi Interlaken – Jenewa

Perjalanan menggunakan kereta Interlaken – Jenewa memakan waktu rata-rata 3 jam dengan minimal satu kali ganti kereta di Bern. Stasiun utama di tengah kota bernama Genève-Cornavin atau disebut juga Gare de Cornavin (GFF).  Walaupun berperan sebagai stasiun utama, banyak kereta api jarak jauh yang mengakhiri jalurnya bukan disini tetapi di Geneva Airport Railway Station (Geneve Aeroport/GVA) yang berjarak 6 menit berkereta. Jadi hati-hati kalau mau turun disini jangan sampai kelewatan. Transportasi dari Hostel Happy Inn (Interlaken) menuju Jenewa dapat dilihat ada gambar dibawah ini :

Untitled Read the rest of this entry »

 
11 Comments

Posted by on November 5, 2016 in Jenewa, Swiss

 

Tags: , , , , , , ,

Hari Ke 11 : Interlaken (Lake Brienz, Lake Thun & St. Beatus Caves)

Oleh : Vicky Kurniawan

Percayakah dirimu pada pepatah “Manusia merencanakan tetapi Tuhanlah yang menentukan?”. Dulunya saya menganggap itu adalah pepatah biasa tanpa arti, tetapi kemudian saya justru benar-benar meyakininya ketika mulai aktif jalan-jalan. Kenapa bisa ?. Waktu cuti yang terbatas, membuat saya harus merencanakan suatu perjalanan dengan sebaik-baiknya. Jadi sebelum pergi, saya selalu membuat itinerary atau rencana perjalanan sedetail mungkin mulai dari jam, jalur transportasi sampai harga semuanya harus ada dalam rencana saya. Apalagi didukung kecanggihan informasi saat ini, semua informasi seperti itu sangat mudah untuk didapat. Tapi percayalah teman, tidak ada satupun rencana perjalanan yang pernah saya buat dapat terwujud 100%, terwujud 75% nya saja sudah bagus. Selalu saja ada hal-hal di luar kendali yang membuatnya tidak kesampaian. Maka jadilah di setiap perjalanan saya selalu harus belajar tentang keikhlasan, kesabaran,  lebih-lebih ketakwaan dan meyakini bahwa semua memang terjadi atas kehendakNya. Diatas segala galanya saya juga harus selalu belajar dan meyakini bahwa kehendakNya lah yang terbaik. Terkadang memang kecewa tapi sekali lagi percayalah bahwa Tiada sehelai daun pun gugur, melainkan Dia mengetahuinya.

Dari kiri ke kanan, Puncak Eiger, Monch dan Jungfrau (Photo by : Steinmann)

Dari kiri ke kanan, Puncak Eiger, Monch dan Jungfrau (Photo by : Steinmann)

Begitu juga dengan perjalanan kali ini. Sudah sejak lama saya bermimpi untuk pergi ke Jungfraujoch, salah satu tempat yang dijuluki Top of Europe karena memiliki stasiun kereta tertinggi di Eropa dan tampaknya memiliki salju abadi disana. Saat riset, melihat foto- fotonya saja sudah membuat saya ngiler. Bukan hanya saljunya tapi pemandangan desa- desa kecil di jajaran gunungnya serasa menyejukkan mata. Akhirnya setelah merayu pak bendahara saya memasukkannya dalam rencana perjalanan walaupun harga tiketnya selangit dan membayangkannya menjadi puncak destinasi dari perjalanan kali ini. Bayangkan dengan menggunakan Eurail Pass saja, kami masih harus mengeluarkan biaya kurang lebih CHF 197.60 atau sekitar Rp. 1.9 juta perorang untuk tiket kereta kelas 2 pulang pergi dari Interlaken menuju puncak. Rencananya selain mencapai puncak, kita juga akan berhenti di sebuah desa kecil bernama Lauterbrunnen dan Grindewald.

Read the rest of this entry »

 
23 Comments

Posted by on June 1, 2016 in Interlaken, Swiss

 

Tags: , , , ,

Hari Ke 10 : Zurich – Lucerne – Interlaken (Mt.Pilatus & Walking Tour Lucerne)

Oleh : Vicky Kurniawan

Jam 9 malam saat masuk kamar, akhirnya kami bertemu dengan tiga teman sekamar. Dua cowok dan satu cewek yang semuanya muda-muda. Resiko menginap di hostel, kebanyakan penghuninya pasti berusia muda. Waktu menginap di sebuah hostel di Sydney, dalam kamar berisi 8 orang hanya saya saja yang berusia senja. Lainnya rata-rata anak muda yang baru lulus SMA atau lagi kuliah. Kalau disini saya bisa tenang karena yang paling tua pastilah ibu mertua saya🙂 . Waktu kami masuk kamar, ketiga anak muda itu sedang bersiap-siap untuk tidur. Biasanya kalau jam 9 malam mereka sudah mau tidur, pasti besok paginya mereka akan cabut pagi-pagi untuk mengejar pesawat, bis atau kereta yang paling pagi. Normalnya jam 9 malam mereka baru keluar untuk mencari hiburan malam dan hang out sampai pagi. Makanya kalau menginap di hostel saya jarang banget ketemu teman sekamar karena jam tubuhnya berbeda. Buat veteran seperti saya, jam 9 malam udah waktunya bobok cantik dan mimpi indah.

Saya dan Ibu Mertua di Schloss Laufen

Saya dan Ibu Mertua di Schloss Laufen

Seperti kebanyakan bule pada umumnya, mereka suka buka baju dan pakai celana pendek saja kalau mau tidur. Begitu juga anak muda nan ganteng yang tidur disebelah tempat tidur ibu saya. Karena risih kontan saja ibu saya mengomel dalam bahasa jawa, “Doh, wanyik iki (bahasa malangan untuk orang) gak nggawe klambi opo gak adem yo?”, (Duh, orang ini nggak pakai baju apa nggak kedinginan ya?). “Mau tah buk, tukar tempat tidur sama saya. Mumpung anaknya ganteng , ha ha ha”, goda saya dari tempat tidur teratas. “Ntar ibuk nggak bisa tidur karena kebayang-bayang bule nggak pakai baju,” he he kata saya tambah nakal nggodainya. “Hush,” kata ibu saya. “Ayo sana-sana tidur,” kata ibu mertua sambil tertawa. He he he kasihan banget dia, sudah tua tapi kok tega-teganya anaknya mengajak menginap di hostel deket bule yang nggak pakai baju lagi. Duh, maaf ya buk.

Perjalanan Zurich – Lucerne

Waktu saya bangun jam setengah enam pagi keesokan harinya, ketiga anak muda itu masih tidur dengan nyenyak. “Mana katanya mau bangun pagi-pagi. Itu mereka masih tidur”, kata ibu saya.”Tunggu aja sebentar bu”, kata saya sambil menyambar handuk dan pergi ke kamar mandi. Eh, bener juga pas saya balik ke kamar, mereka bertiga sudah menghilang. Busyet cepet bener kerjanya padahal saya hanya 15 menit di kamar mandi. “Bener, ternyata mereka memang pergi pagi-pagi. Tadi begitu bangun langsung ganti, sarapan roti sama susu di tempat tidur langsung cabut. Byuh byuh cepet banget ya”, kata ibu heran. Ha ha ha emangnya kayak kita yang persiapan pergi aja mesti mandi kembang 7 rupa, belum nanak nasi, bikin mie dan ngopi-ngopi cantik🙂 . Itu mah bisa 1.5 jam sendiri.

Read the rest of this entry »

 
19 Comments

Posted by on April 25, 2016 in Interlaken, Lucerne, Swiss

 

Tags: , , , , , , ,

Hari Ke 9 : Munich – Zurich (Rheinfall, Schloss Laufen & Walking Tour Zurich’s Bahnhofstrasse)

Oleh : Vicky Kurniawan

Enam hari di Eropa terhitung sudah 14 kali naik kereta dengan rata-rata naik 2-3 kali perhari. Jadi gimana sih rasanya naik kereta kelas 1 keliling Eropa?. Yang jelas sangat nyaman karena lebih sepi, tempat duduknya lebih luas, jarak antar kaki lebih lebar dan jendelanya luas sehingga kita bisa puas mengagumi pemandangan diluar. Di beberapa kereta kita bahkan dikasih minuman dan snack gratis, koran gratis, bahkan tersedia WiFi dan Power sockets. Tapi naik kereta kelas 1 itu terkadang ada nggak enaknya juga. Yang jelas kita sering dipandang “aneh” saat naik, dugaan saya kalau yang ini mungkin terkait soal penampilan. Di kebanyakan perjalanan saya seringnya mengenakan baju-baju kasual seperti jeans, kaos, sweater ditambah jaket pokoknya nggak modis banget deh. Jadi pas kita berombongan naik, kebanyakan para penumpang memandang kami dengan tatapan ” Eh yakin loe, tiketnya kelas 1?”. Nah, kalau sudah begitu saya jadi ingat banget nasehat teman saya, “Yah, kalau tiketmu kelas 1 berpakaianlah seperti kelas 1,”. He he he mungkin benar juga nasehatnya. Cuman satu yang dia tidak tahu kalau tiket kelas 1 saya ini tiket “terpaksa” karena Eurail Pass untuk adult hanya tersedia untuk kelas 1. Tiket kelas 2 hanya berlaku bagi pembeli yang berusia 12-25 tahun dan berlaku bagi jenis Eurail Pass tertentu (seperti Select Pass 2 Countries dan One Country Pass). Selain itu, yah terima aja kalau dimasukkan kelas 1.

Sekali sekali jadi penumpang kelas 1

Sekali sekali jadi penumpang kelas 1

Tapi ada satu hal yang menjadi hiburan saya di gerbong ini, yaitu kalau ada pemeriksaan tiket. Saat pemeriksaan, pak kondektur akan mengusir orang-orang yang tidak punya tiket kelas 1. Walaupun kebanyakan ngusirnya nggak pakai bahasa Inggris, tidak diperlukan dukun ampuh untuk tahu kalau mereka diusir. “You need 1st class ticket to sit here. Please proceed to 2nd class cars”. Kalau ada yang ngeyel biasanya dia tinggal bilang, “If you want to sit here, you have to pay extra”. Nah, paling puas tuh kalau liat wajah-wajah yang tadinya menghina kita terus akhirnya tahu kalau tiket kita juga kelas 1. Yeee, dikiranya tampang Asia seperti kita nggak bisa bayar tiket kelas 1 apa. Tapi akhirnya saya berusaha memahami jalan pikiran mereka. Dengan harga tiket tiga kali lebih mahal daripada second class, yang naik disini bisa dibilang kebanyakan orang berduit. Kalau tidak businessman yah orang biasa yang mau membayar ekstra demi kenyamanan. Jarang banget ada turis yang naik di kelas 1. Jadi sangat sulit memulai percakapan dengan mereka karena kebanyakan sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri. Pernah nih yang duduk dekat kami seorang businessman yang begitu naik langsung membuka laptop dan bekerja dengan giat selama 4 jam penuh sampai kereta sampai. Mengabaikan begitu saja pemandangan indah diluar dan tentu saja mengabaikan orang-orang disekitarnya.

Read the rest of this entry »

 
10 Comments

Posted by on March 24, 2016 in Swiss, Zurich

 

Tags: , , , , ,