RSS

Author Archives: Vicky Kurniawan

Hari Ke 15 : Paris – Luxembourg (Vianden & Luxembourg Old Town)

Oleh : Vicky Kurniawan

Pagi pagi sudah nongkrong di balkon kamar hotel. Sambil sarapan, iseng iseng ngelihat dua orang yang lagi tidur nyenyak di trotoar jalan depan stasiun Gare de l’East. Melihat dari gaya tidurnya yang sembarangan terlihat kalau mereka sebenarnya bukan gelandangan profesional tapi orang mabuk yang ketiduran di jalan. Tiba-tiba tanpa diduga, salah satu dari kedua orang itu bangun dan kencing di tempat yang ditidurinya tadi. Otomatis air kencingnya memercik mercik ke wajah temannya yang sedang tidur. Akhirnya terbangunlah temannya itu. Pasti marah nih!, pikir saya. Tapi di luar dugaan ternyata temannya tidak marah malah kencing bareng di trotoar itu. Setelahnya mereka pergi bareng sambil berangkulan mungkin masih puyeng akibat mabuk semalaman.  Benar-benar pemandangan yang aneh. Tidak mengherankan kalau jalan-jalan di sekitar stasiun Gare de l’East berbau pesing mungkin karena banyak orang mabuk yang kencing sembarangan seperti mereka. Inilah salah satu sisi lain dari Paris yang mungkin tidak banyak orang tahu.

Orang Mabuk di jalanan (Photo by : noticiascuriosas.com)

 Perjalanan kereta Paris – Luxembourg

Kereta ke Luxembourg akan berangkat pada pukul 8.15. Tapi demi ketenangan hati sejam sebelumnya kami sudah berangkat walaupun diperlukan kurang dari 5 menit untuk jalan kaki dari hotel ke stasiun. Walaupun sudah reservasi jauh jauh hari, kami masih tidak kebagian kereta langsung ke Luxembourg. Jadi dari Paris kami naik kereta cepat ke kota kecil bernama Nancy kemudian dari situ lanjut dengan kereta lain menuju Luxembourg. Yang masuk reservasi hanya kereta cepat menuju Nancy, selanjutnya kereta dari Nancy menuju Luxembourg tidak diperlukan reservasi. Rute perjalanan dari Paris – Luxemborg dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Ingat nomor dan jenis kereta dapat berubah sesuai tanggal dan jam keberangkatan tapi pada intinya destinasi yang dituju adalah sama. Jadi jangan lupa  cek ulang di Google Map atau Eurail Timetable. Perjalanan kereta dari Paris ke Luxembourg ini memakan waktu kurang lebih 3,5 jam.

Akomodasi Di Luxembourg

Luxembourg hanya punya satu stasiun utama yaitu Gare de Luxembourg yang menjadi tempat pemberhentian akhir kereta domestik dan internasional. Ini memudahkan saya memilih lokasi penginapan yang strategis. Sayangnya akomodasi yang dekat dengan stasiun ini terbilang cukup mahal. Akhirnya pilihan jatuh kepada Hotel Empire yang berjarak hanya 150 meter dari stasiun. Saking dekatnya begitu keluar langsung ci luk ba..hotelnya udah langsung terlihat di depan stasiun. Peta jalan kaki dari stasiun Gare de Luxembourg ke hotel dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
Read the rest of this entry »

Advertisements
 
11 Comments

Posted by on January 26, 2018 in Luxembourg

 

Tags: , , ,

Hari Ke 14 : Paris (Chateau de Versailles, Jardin des Plantes, Mosquee de Paris & Walking Tour Gare de East)

Oleh : Vicky Kurniawan

Hari ke dua di Paris. Semalam cukup nyenyak juga tidurnya walaupun ada beberapa orang mabuk yang berteriak teriak di jalan sampai malam. Di hari kedua ini saya berencana melihat salah satu istana terindah dan terluas di dunia yaitu Istana Versailles. Pertama kali kepingin melihat istana ini ketika seorang teman sesama traveler memasang foto Hall of Mirror yang menjadi bagian dari istana Versailles di timelinenya. Sejak itu istana Versailles seolah menjadi destinasi wajib bagi saya bila berkunjung ke Paris. Terletak kurang lebih 20 km sebelah barat Paris, Versailles dapat dijangkau dengan menggunakan kereta yang sebenarnya termasuk juga dalam rute Eurail Pass.

Istana Versailles dilihat dari udara (Photo by : wikimedia.org)

Istana Versailles dilihat dari udara (Photo by : wikimedia.org)

Menurut teori istana ini dapat dicapai dalam waktu 20 menit menggunakan kereta lokal RER C line. Kereta RER sama dengan kereta metro, hanya saja jangkauannya lebih luas sampai di luar batas kota Paris. Salah satu pemberhentian terdekat bila menggunakan kereta RER C adalah stasiun Versailles-Rive Gauche. Pemberhentian ini merupakan pemberhentian terakhir jadi jangan risau karena tidak mungkin terlewat. Keluar dari stasiun ini ada beberapa penunjuk jalan menuju istana yang kurang lebih dapat ditempuh dengan lima belas menit jalan kaki. Transportasi dari hotel menuju istana dapat dilihat pada gambar berikut.

rute-versailles Read the rest of this entry »

 
10 Comments

Posted by on June 4, 2017 in Paris, Perancis, Versailles

 

Tags: , , , ,

Hari Ke 13 : Jenewa – Paris (Cathedrale Notre Dame de Paris & Paris Walking Tour)

Oleh : Vicky Kurniawan

Waktu menunjukkan jam 5 pagi ketika suara adzan terdengar di telinga. Dalam mimpi serasa tidur di rumah dimana masjid hanya beda satu blok dan setiap kali adzan selalu terdengar sampai ke rumah. “Hoeyyy…sholat..sholat”, terdengar suara fals menganggu suara adzan yang merdu. Duh, siapa sih ini yang punya suara begitu menganggu. Tidak berhenti hanya disitu, tiba-tiba ada yang menggelitiki kaki dan ada tangan yang membuka paksa kelopak mata saya yang masih tertutup. Aduuhh, tentu saja saya hapal siapa yang suka membangunkan dengan cara yang tidak elegan. Siapa lagi kalau bukan travel mate saya tercinta. Duhhh, untung dia bawa ibunya kalau tidak pasti ada perang bantal pagi ini. Setelah membuka mata lebar-lebar baru sadar kalau suara adzan yang saya dengar berasal dari hape suami yang diletakkan persis di dekat telinga.

Akhirnya, ketemu sama Eiffel juga

Akhirnya, ketemu Eiffel juga

Hmm, suara adzan itu begitu mengingatkan saya akan rumah. Sejenak rasa rindu akan rumah dan ketiga permata hati saya tiba-tiba menyeruak. Biasanya paling lama saya pergi hanya 9 hari, 13 hari merupakan rekor tersendiri. Pergi paling lama dan tanpa menangis karena kangen rumah. Biasanya saya sangat sentimentil, lihat anak-anak kecil sedang mainan aja serasa hati ini pinginnya langsung pulang. Tapi rasanya hari ini rekor itu akan terpecahkan karena tiba-tiba ada setetes air mata yang jatuh ke pipi. Suami saya yang sudah siap-siap mengambil bantal untuk mulai perang melihat perubahan wajah saya. Dia menurunkan bantalnya dan berkata, “Udah, ayo mandi nanti kita ketinggalan kereta. Katanya pengen naik TGV seperti Jason Bourne”. Teringat akan TGV, semangat saya naik lagi. Ah, dibalik kecuekannya ternyata dia sensitif juga.

Perjalanan Jenewa – Paris

Sebenarnya ada dua pilihan kereta untuk perjalanan dari Jenewa ke Paris. Satu, memakai High Speed Train yang memakan waktu kurang lebih 3 jam (wajib reservasi) dan yang kedua, memakai regional train dengan durasi waktu kurang lebih 8 jam (tidak memerlukan reservasi). Sebenarnya pertimbangan memilih kereta cepat semata mata bukan karena Jason Bourne (ha ha ha alasan) tapi karena waktu yang terbataslah yang mengharuskan kami tiba di Paris dengan cepat. Dengan biaya reservasi sebesar CHF 32 perorang (sekitar Rp. 434.000) untuk kelas 2, sebenarnya kalau tidak terburu-buru sungguh ogah saya membayar biaya sebesar itu. Tapi demi waktu tercepat menuju ke Paris jadilah hari ini kami naik kereta cepat TGV yang identik dengan film Jason Bourne karena beberapa kali kereta ini muncul di filmnya.

Read the rest of this entry »

 
26 Comments

Posted by on November 21, 2016 in Paris, Perancis

 

Tags: , , , , , ,

Hari Ke 12 : Interlaken – Jenewa (The Palais des Nations, Jardin des Anglais, Plaine de Planpalais, Parc des Bastions, Jardin Botanique)

Oleh : Vicky Kurniawan

Jam sudah menunjukkan pukul 6 pagi ketika kami chek out dan keluar dari hotel. Tujuan kami selanjutnya adalah ibukota Swiss yaitu Jenewa. Sebenarnya saya kurang suka dengan kota besar dan tidak pernah berniat memasukkannya dalam rencana perjalanan. Tapi setelah mengotak atik rute, untuk menuju kota berikutnya yaitu Paris memang lebih efisien bila saya mampir di Jenewa. Maka jadilah Jenewa menjadi tujuan berikutnya setelah Interlaken. Sebagai kota dengan jumlah organisasi internasional terbanyak di dunia, Jenewa menjadi pusat diplomasi dunia. Walaupun PBB sekarang bermarkas besar di New York, Jenewa boleh dibilang berperan sebagai markas besar PBB di Eropa karena masih banyak kegiatan-kegiatannya yang dilaksanakan di Palais des Nations, Jenewa. Selain itu masih banyak anak-anak organisasi PBB seperti WHO dan ILO dan kurang lebih 20 organisasi internasional diantaranya Palang Merah dunia yang bermarkas di sana.

Salah Satu Sudut Kota Jenewa

Salah Satu Sudut Kota Jenewa

Disamping menjadi pusat diplomasi, Jenewa juga menjadi pusat keuangan dunia karena banyak perusahaan-perusahaan keuangan yang berperan penting dalam perekonomian dunia bermarkas di sana. Hal itu termasuk bank-bank, jasa pengelolaan keuangan, dan beberapa organisasi keuangan dunia seperti IFC (International Finance Corporation).

Transportasi Interlaken – Jenewa

Perjalanan menggunakan kereta Interlaken – Jenewa memakan waktu rata-rata 3 jam dengan minimal satu kali ganti kereta di Bern. Stasiun utama di tengah kota bernama Genève-Cornavin atau disebut juga Gare de Cornavin (GFF).  Walaupun berperan sebagai stasiun utama, banyak kereta api jarak jauh yang mengakhiri jalurnya bukan disini tetapi di Geneva Airport Railway Station (Geneve Aeroport/GVA) yang berjarak 6 menit berkereta. Jadi hati-hati kalau mau turun disini jangan sampai kelewatan. Transportasi dari Hostel Happy Inn (Interlaken) menuju Jenewa dapat dilihat ada gambar dibawah ini :

Untitled Read the rest of this entry »

 
11 Comments

Posted by on November 5, 2016 in Jenewa, Swiss

 

Tags: , , , , , , ,

Hari Ke 11 : Interlaken (Lake Brienz, Lake Thun & St. Beatus Caves)

Oleh : Vicky Kurniawan

Percayakah dirimu pada pepatah “Manusia merencanakan tetapi Tuhanlah yang menentukan?”. Dulunya saya menganggap itu adalah pepatah biasa tanpa arti, tetapi kemudian saya justru benar-benar meyakininya ketika mulai aktif jalan-jalan. Kenapa bisa ?. Waktu cuti yang terbatas, membuat saya harus merencanakan suatu perjalanan dengan sebaik-baiknya. Jadi sebelum pergi, saya selalu membuat itinerary atau rencana perjalanan sedetail mungkin mulai dari jam, jalur transportasi sampai harga semuanya harus ada dalam rencana saya. Apalagi didukung kecanggihan informasi saat ini, semua informasi seperti itu sangat mudah untuk didapat. Tapi percayalah teman, tidak ada satupun rencana perjalanan yang pernah saya buat dapat terwujud 100%, terwujud 75% nya saja sudah bagus. Selalu saja ada hal-hal di luar kendali yang membuatnya tidak kesampaian. Maka jadilah di setiap perjalanan saya selalu harus belajar tentang keikhlasan, kesabaran,  lebih-lebih ketakwaan dan meyakini bahwa semua memang terjadi atas kehendakNya. Diatas segala galanya saya juga harus selalu belajar dan meyakini bahwa kehendakNya lah yang terbaik. Terkadang memang kecewa tapi sekali lagi percayalah bahwa Tiada sehelai daun pun gugur, melainkan Dia mengetahuinya.

Dari kiri ke kanan, Puncak Eiger, Monch dan Jungfrau (Photo by : Steinmann)

Dari kiri ke kanan, Puncak Eiger, Monch dan Jungfrau (Photo by : Steinmann)

Begitu juga dengan perjalanan kali ini. Sudah sejak lama saya bermimpi untuk pergi ke Jungfraujoch, salah satu tempat yang dijuluki Top of Europe karena memiliki stasiun kereta tertinggi di Eropa dan tampaknya memiliki salju abadi disana. Saat riset, melihat foto- fotonya saja sudah membuat saya ngiler. Bukan hanya saljunya tapi pemandangan desa- desa kecil di jajaran gunungnya serasa menyejukkan mata. Akhirnya setelah merayu pak bendahara saya memasukkannya dalam rencana perjalanan walaupun harga tiketnya selangit dan membayangkannya menjadi puncak destinasi dari perjalanan kali ini. Bayangkan dengan menggunakan Eurail Pass saja, kami masih harus mengeluarkan biaya kurang lebih CHF 197.60 atau sekitar Rp. 1.9 juta perorang untuk tiket kereta kelas 2 pulang pergi dari Interlaken menuju puncak. Rencananya selain mencapai puncak, kita juga akan berhenti di sebuah desa kecil bernama Lauterbrunnen dan Grindewald.

Read the rest of this entry »

 
33 Comments

Posted by on June 1, 2016 in Interlaken, Swiss

 

Tags: , , , ,