RSS

Category Archives: Belanda

Hari Ke 5 : Amsterdam – Munich (Edam, Volendam & Marken)

Oleh : Vicky Kurniawan

Udara pagi terasa dingin ketika saya menapakkan kaki keluar dari hostel. Termometer di hand phone sebenarnya masih menunjuk ke angka 12 derajat tapi dinginnya sudah ampun ampunan. Sambil menunggu suami dan ibu mertua check out saya mengamati tukang ledeng yang sedang bekerja memperbaiki pipa di sepanjang jalan Warmoesstraat. Ternyata susah juga memperbaiki pipa di sini mengingat jalanan yang sempit dan berbatu. Seperti layaknya kota-kota kuno di Eropa, jalan kebanyakan ditutupi dengan ubin atau batu dan bukan aspal. Tapi dengan mengerahkan sedikit tenaga bisa juga mas tukang mengangkat batu tersebut dan memeriksa pipa di dalamnya. Kalau diamati tukang pipanya ganteng juga. Kelihatan maskulin dengan celana jeans, kaos putih dan sabuk peralatan di pinggang. Coba kalau dibawa ke Indonesia bisa jadi artis dia. Sambil mengamatinya bekerja saya berpikir, “Duh, kalau pipanya diperbaiki pasti jalanan bakal tambah macet, soalnya jalan ini kan sempit,”. Tapi pemikiran saya ternyata salah karena petang harinya saat saya kembali ke hotel jalannya sudah rapi seperti sedia kala seolah-olah tidak pernah didongkel sama sekali. Bah, coba tukang-tukang PDAM di Indonesia seperti ini nggak bakalan ada tuh orang jatuh ke lubang galian sampai masuk rumah sakit.

Jalan Warmoesstraat depan Hostel Meeting Point

Jalan Warmoesstraat depan Hostel Meeting Point

Perhatian saya sedikit teralihkan ketika terdengar suara gedebuk keras barang-barang dijatuhkan dari tingkat atas rumah sebelah. Rupanya si penghuni sedang mengadakan pembersihan besar-besaran. Cara membersihkannya juga unik. Cukup menaruh gerobak sampah besar di bawah jendela dan mereka tinggal membuang barang-barang yang tidak dikehendaki melaluinya. Dengan begitu mereka tidak perlu naik turun tangga yang sempit untuk membuang sampah-sampah itu. Praktis juga. Saat akan memasukkan barang-barang berat ke dalam rumah, mereka mengikatnya dengan tali dan mengereknya masuk lewat jendela. Tidak heran banyak rumah-rumah kuno di Amsterdam yang memiliki kerekan di atapnya. Jadi kerekan disini memang ada fungsinya dan bukan sekedar hiasan saja.

Kerekan di atap rumah (atas) dan cara mereka memasukkan barang (bawah) Photo by : gypsynester.com

Kerekan di atap rumah (atas) dan cara mereka memasukkan barang (bawah) Photo by : gypsynester.com

Setelah selesai urusan check out dan menitipkan backpack, mulailah kami berjalan menuju stasiun Amsterdam Centraal untuk naik bis menjelajah dua kota dalam itinerary saya yaitu Volendam dan Marken.

Sepeda di Amsterdam

Dalam perjalanan menuju halte bis di Amsterdam Centraal, saya dibuat kagum melihat tempat parkir sepeda yang bertingkat-tingkat. Bukan sepeda motor tapi sepeda pancal. Yah, dengan jumlah sepeda lebih banyak dari jumlah penduduk seharusnya saya tidak perlu terlalu heran dengan hal tersebut. Bagi Amsterdammers, sepeda sudah menjadi bagian dari hidup. Hampir 58% warganya menggunakan sepeda untuk pergi kemana saja. Dari orang tua, anak-anak, remaja bahkan mbak-mbak kantoran dengan sepatu hak tinggi semuanya menggunakan sepeda. Jenis sepeda yang digunakan pun bermacam-macam dari city bikes, road bikes sampai mountain bikes. Tapi kebanyakan mereka menggunakan city bikes berjenis omafiets atau opafiets yang modelnya tidak banyak berubah sejak abad ke 18.

Read the rest of this entry »

Advertisements
 
15 Comments

Posted by on January 16, 2016 in Belanda, Edam, Marken, Volendam

 

Tags: , , , , , , ,

Hari Ke 4 : Amsterdam (Zaanse Schans, Keukenhoff & Red Light District)

Oleh  Vicky Kurniawan

Apa yang paling ingin kamu lihat bila pergi ke Belanda ? kalau saya tentu saja ingin melihat kincir angin dan bunga tulipnya. Walaupun bunga tulip Belanda aslinya berasal dari Turki, tapi hanya negara inilah yang dikenal sebagai produsen tulip terbesar di dunia. Tidak heran kalau Belanda selalu mengindetikkan dirinya dengan bunga tulip. Jadilah hari ini, kami mengunjungi dua tempat yang menjadi trade mark Belanda yaitu kincir angin dan bunga tulip. Untuk melihat kincir angin, ada beberapa tempat yang disarankan yaitu di Kinderdijk, Zaanse Schans dan Schiedam. Yah, dengan ribuan kincir angin di seluruh Belanda tidak menutup kemungkinan diluar tempat-tempat itu kita dapat menjumpainya baik masih digunakan ataupun tidak.

Salah satu Sudut Keukenhoff

Ibu di Salah satu Sudut Keukenhoff

Untuk melihat bunga tulip, tentu saja tempat yang paling direkomendasikan adalah Keukenhoff. Walaupun sebenarnya banyak tempat-tempat lain di Belanda yang juga menyajikan keindahan tulip. Bila punya waktu lebih, beberapa website bahkan menyarankan untuk tidak mengunjungi Keukenhoff. Mereka menyarankan untuk menjelajahi ladang tulip di seputaran Lisse, Hillegom Noordwijkerhout dan De Zilk. Selain lebih alami alasan lain adalah untuk menghemat biaya tiket masuk Keukenhoff yang harganya cukup lumayan. Tapi sayangnya, bunga tulip tidak mekar dalam waktu yang sama persis setiap tahun karena semua tergantung pada suhu. Pada umumnya mereka baru mekar pertengahan Maret dan mencapai puncaknya pada pertengahan April sebelum akhirnya luruh pada akhir Mei. Jadi hanya 3 bulan dalam waktu sepanjang tahun. Diluar waktu itu, bila ingin melihat tulip datang saja ke Bloemenmarkt atau Albert Cuypmarkt yang buka sepanjang tahun 🙂 .

Zaanse Schans

Zaanse Schans pada dasarnya adalah sebuah museum dengan konsep indoor dan outdoor. Tapi jangan dibayangkan tempat ini seperti sebuah museum yang membosankan sebaliknya di dalamnya akan dijumpai pemandangan indah khas Belanda yang membuat kita betah mengunjunginya. Zaanse Schans ini saya pilih karena letaknya yang dekat dengan Amsterdam sedangkan dua tempat yang lain seperti Kinderdijk dan Schiedam lebih dekat ke Rotterdam. Dengan jarak kurang lebih 20 km dari Amsterdam, tempat ini bisa dikunjungi dengan bis atau kereta. Bila naik bis, dari Amsterdam Central Station platform E bisa naik Connexxion bus no. 391 yang akan turun tepat di halte depan Zaanse Schans. Bila punya Eurail Pass seperti kami bisa naik kereta ke stasiun Koog-Zaandijk dilanjutkan jalan kaki kurang lebih 1 km ke Zaanse Schans. Transportasi dari Hostel Meeting Point ke Zaanse Schans dapat dilihat pada gambar di bawah ini :

Read the rest of this entry »

 
17 Comments

Posted by on December 9, 2015 in Amsterdam, Belanda, Lisse, Zaanse Schans

 

Tags: , , ,

Hari Ke 3 : Abu Dhabi – Amsterdam (Bloemenmarkt, Albert Cuypmarkt, Vondel Park, Anne Frank House Museum)

Oleh : Vicky Kurniawan

Bila dirimu terbiasa dengan kesederhanaan, sedikit kemewahan akan terasa sekali nikmatnya. Mungkin hal itulah yang terjadi pada diri saya. Terbiasa naik maskapai low budget yang tambahan fasilitasnya harus bayar, sekarang naik maskapai full board yang full fasilitas (iyalah harga tiketnya berkali-kali lipat) . Meskipun naiknya hanya kelas ekonomi tapi nikmatnya serasa naik business class aja (aha lebay). Kenikmatan pertama, bisa drop bagasi 🙂 . Kedua, tersedia paket kenyamanan (Amenity Kit), paket hiburan yang lengkap dan yang paling penting makanan dan minuman. Anehnya, justru di pesawat full board ini saya tidak bisa tidur. Biasanya kalau naik pesawat low cost, begitu baterei PSP habis kegiatan selanjutnya membaca inflight magazine. Kalau sudah khatam baca majalah, baru nyubitin suami yang hobi ngorok. Setelah itu karena nggak ada kerjaan lain, baru deh gantian saya yang ngorok. Biasanya saya tidur nyenyak banget terkadang sampai dibangunin pramugari karena pesawat mau mendarat 🙂 .

Bagian Dalam Etihad Airways

Bagian Dalam Etihad Airways

Nah, kalau disini rasa-rasanya sayang banget kalau mau merem. Sebagai movie freaks, film-film yang bisa diputar serasa tiada habisnya. Belum lagi pramugari yang mondar-mandir melayani penumpang yang belum tidur. Mendongakkan kepala sedikit aja, langsung disamperin dan ditawari minuman. Gratis lagi. Saking seringnya minum, sampai bolak balik ke kamar mandi untuk buang air kecil.

Review Etihad Coral Economy Class

Pertama kali yang membuat saya terkesan adalah desain kursinya yang terkesan mewah dengan pengaturan baris 3-4-3. Soal jarak antar kursi, antara Etihad dan Air Asia X tidak beda jauh. Malah Air Asia X lebih lebar 1 inch. Yang berbeda adalah lebar kursinya, Etihad memiliki ukuran kursi lebih lebar daripada Air Asia X walaupun bedanya juga tidak banyak. Begitu naik, paket kenyamanan tersedia lengkap di kursi yang berisi bantal, selimut, kaos kaki, head set, pasta gigi, sikat gigi, penutup mata dan penutup telinga. Kurang lebih 2 jam setelah lepas landas, makan malam mulai dibagikan. Pilihan menunya ada 3 macam dengan semua masakan ditanggung halal. Jadi tidak ragu untuk memilih menu daging disini. Yang mengagumkan, walaupun kelas Ekonomi, peralatan makannya terbuat dari logam dan bukan plastik. Read the rest of this entry »

 
26 Comments

Posted by on November 14, 2015 in Amsterdam, Belanda

 

Tags: , , , , , , , , , , , ,

Hari Ke 1 Surabaya – Singapura (Menginap di Changi Airport)

Oleh : Vicky Kurniawan

Penerbangan kami dari Surabaya ke Singapura menggunakan Jetstar dijadwalkan akan berangkat jam 20.45 dan diperkirakan mendarat jam 00.10. Waduh, mesti nginap di bandara nih. Buat saya dan suami, menginap di bandara merupakan hal yang biasa. Maklum sebagai traveler dengan anggaran terbatas kami harus irit soal pengeluaran. Tapi kali ini karena membawa ibu, saya dan suami merasa kasihan kalau harus mengajaknya menginap di bandara. Kendala utama untuk menginap di luar bandara terletak pada transportasinya. Kereta menuju kota paling akhir berangkat jam 11.18 malam, sedangkan bis terakhir akan berangkat dari bandara jam 11 malam. Jadi satu-satunya pilihan adalah taksi. Biaya taksi ke kota berkisar antara 30 – 35 SGD itupun masih ditambah 5 SGD Midnight Airport Surcharge dan  Midnight surcharge yang besarnya 50% dari biaya akhir.

Salah Satu Sudut Tidur di dalam Transit Mall Changi Airport (Photo Credit : Changi Airport Group)

Salah Satu Sudut Tidur di dalam Transit Mall Changi Airport (Photo Credit : Changi Airport Group)

Jadi kalau mendarat jam segitu, pilihan yang tersisa hanya menginap di bandara. Hotel di dalam bandara Changi terbagi menjadi dua jenis. Untuk penumpang transit, ada Ambassador Transit Hotel yang terletak di Terminal 2 dan Terminal 3. Sedangkan untuk penumpang non transit ada Crowne Plaza Changi Airport yang walaupun letaknya diluar tapi masih tersambung dengan terminal 3. Setelah melihat harga-harganya kami udah jiper duluan, untuk transit hotel harganya berkisar SGD 105.93 per 6 jam, sedangkan untuk Crowne Plaza berkisar pada harga 3 jutaan permalam. Bahkan untuk harga lounge dan nap room seperti The Haven saja harganya masih mahal (berkisar antara SGD 88.28 per 4 jam per orang). Sempat kepikiran untuk menginapkan ibu di The Haven dan biar kami saja yang ngemper di ruang tunggu. Tapi dengan tegas ibu menolak. Jadi dengan hati-hati kami sampaikan pada ibu kalau kemungkinan besar kita akan menginap di bandara, bukan di hotelnya tapi di ruang tunggunya. Di luar dugaan, ibu menyatakan kesiapannya walaupun mungkin dalam hati “mbrebes mili” melihat kekurang ajaran kami 🙂 .

Bolehkah Menginap di Transit Mall Changi Airport ?

Begitu tahu kalau mau menginap di airport, saya langsung menyasar website The Guide to Sleeping in Airport untuk mencari panduan tempat-tempat mana yang paling direkomendasikan untuk menginap di Changi Airport. Sayangnya tempat-tempat tersebut kebanyakan berada di dalam Transit Mall sedangkan kami bukan penumpang transit karena tiket kami tidak fly through tapi sendiri-sendiri. Yang menjadi pertanyaan “bolehkan non penumpang transit seperti kami menginap di transit mall?”.  Transit Mall adalah tempat sebelum keluar dari proses imigrasi yang fungsi utamanya ditujukan untuk penumpang yang akan terbang atau transit. Sebenarnya ada tiga pendapat tentang hal tersebut (udah kayak fatwa ulama aja 🙂 ) membolehkan, membolehkan dengan syarat dan tidak membolehkan. Yang tidak memperbolehkan memiliki pendapat bahwa menginap di transit mall bagi penumpang non transit mengganggu kenyamanan tidur dan menurut aturan sebenarnya memang tidak diperbolehkan. Hal ini didasarkan pengalaman biasanya sekitar jam 3 dan 4 pagi ada pemeriksaan tiket, paspor dan boarding pass. Bagi penumpang transit mungkin tidak bermasalah tapi bagi penumpang non transit masih tanda tanya. Salah satu yang tidak membolehkan adalah teman blogger dan penulis buku traveling mas Indra Prasetya Nugraha yang pernah diusir keluar gara-gara menginap di transit mall. Pengalaman mas Indra bisa dibaca di blognya Travelholic . Saya pikir pengalaman mas Indra ini patut dipertimbangkan karena dia bisa dibilang rajanya traveling ke Singapura. Karena bekerja di Batam, dia sering menghabiskan akhir pekan di Singapura sampai dicurigai sama petugas imigrasi Changi saking seringnya bolak balik Singapura – Batam. Read the rest of this entry »

 
 

Tags: , , , ,

19 Hari Keliling Eropa Barat (Belanda, Jerman, Austria, Swiss, Perancis, Luxembourg dan Belgia)

Oleh : Vicky Kurniawan

Ketika ibu mertua saya menyatakan keinginan terpendamnya untuk pergi ke Eropa, saya dan suami sebagai anak berbakti (cieh..) hanya bisa menjanjikan saja. Eropa bagi kami berdua serasa destinasi yang tak terjangkau. Disamping tidak ada pesawat low budget yang terbang kesana (oh Air Asia kenapa kamu tutup rute ke Eropa  😦  ) , biaya hidup yang tinggi juga menjadi alasan utamanya. Memang sudah 30 tahun ibu mertua saya memendam impiannya untuk pergi ke Eropa. Semenjak dia sering melihat gambar-gambar di kalender tentang pemandangan Eropa yang indah terbersit keinginan untuk membuktikan benarkah ada pemandangan seindah itu. Sedihnya dia juga mengumpulkan iklan biro travel yang berisi daftar harga-harga tur ke Eropa. Siapa tahu uang hasil arisannya ada yang cocok untuk pergi kesana 🙂 .

Saya dan Ibu di Zaanse Schans

Saya dan Ibu di Zaanse Schans

Melihat hal itu akhirnya suami saya bertekad kalau ada rejeki dia akan memberangkatkan ibu ke Eropa dengan ikut tour.  Pertimbangan utamanya adalah kenyamanan mengingat kondisi fisik ibu yang kurang kuat berjalan jauh. Setelah uang terkumpul cukup untuk satu orang, suami saya mulai sibuk mencari biro travel yang cocok. Di luar dugaan ibu mertua saya menolak untuk pergi sendiri walaupun ikut tur. Alasannya mana enak pergi sendiri diantara orang orang yang tidak dia kenal. Rupanya Allah Maha Pengasih dan Penyayang mendengarkan doa ibu saya. Di bulan-bulan berikutnya suami saya kebanjiran job sehingga cukuplah uang untuk pergi berdua bahkan bertiga kalau perginya ala backpacker. Jadi siapa yang kebagian rejeki sebagai orang ketiga? Tentu saja saya dong, menantunya yang paling manis dan baik hati ini 🙂 . Disamping manis dan baik hati, suami saya tahu kalau dia bisa mengandalkan saya untuk riset tentang Eropa , suatu hal yang tidak akan sempat ia lakukan 🙂 . Jadilah akhirnya kami berangkat bertiga ke Eropa dengan itinerary yang sengaja saya buat lebih ringan daripada biasanya.

Persiapan Sebelum Berangkat

Terus terang persiapan sebelum traveling ke Eropa ini jauh lebih ribet dibanding perjalanan saya yang lain. Dalam perjalanan-perjalanan sebelumnya, saya sudah punya tiket ditangan paling tidak 6 bulan sampai 1 tahun sebelumnya. Jadi persiapannya tidak terlalu tergesa-gesa. Dalam perjalanan ke Eropa ini, saya baru bergerak efektif 2 bulan setelah visa dan tiket pesawat positif didapat. Beberapa persiapan yang saya lakukan sebelum berangkat antara lain :

a. Mengajukan Visa Schengen

Visa Schengen ini saya ajukan tepat 3 bulan sebelum keberangkatan. Sengaja dilakukan jauh-jauh hari supaya ada waktu bila harus melengkapi dokumen yang kurang atau bila diminta  melakukan pembetulan. Alasan yang kedua supaya ada waktu untuk berburu tiket pesawat murah ke Eropa. Cara mendapatkan visa Schengen sudah saya tulis dengan detail disini. Read the rest of this entry »

 
 

Tags: , , , , ,