RSS

Hari Ke 17 : Brussel – Amsterdam (Amsterdam Canal Tour)

02 Jun

Oleh : Vicky Kurniawan

Hari terakhir di Eropa. Menurut itinerary yang saya susun, sebenarnya hari ini kita masih punya waktu seharian yang bisa dipilih mau dihabiskan di Brussel ataupun Amsterdam. Apalagi mengingat perjalanan kereta Brussel – Amsterdam hanya memakan waktu 2,5 jam dan penerbangan kita dari Amsterdam menuju Indonesia baru akan berangkat sekitar jam 10 malam. Jadi akhirnya diputuskan untuk dihabiskan setengah hari di Brussel dan setengah hari lagi di Amsterdam sehingga resiko ketinggalan penerbangan juga kecil. Rencananya setengah hari di Brussel akan kita habiskan untuk mengunjungi Place Du Jeu de Balle. Tempat ini semacam Flea Market tapi dikhususkan untuk barang-barang bekas dan barang-barang antik. Pasar terbuka yang terletak didaerah Marroles ini menarik perhatian saya karena ingin tahu gimana sih rupa pasar barang bekas di Eropa πŸ™‚ .

Pemandangan pagi hari dari jendela hotel

Tapi ternyata rencana tinggal rencana, kita bangun kesiangan dan akhirnya diputuskan untuk langsung naik kereta ke Belanda saja dan menghabiskan hari yang tersisa di Amsterdam. Seusai makan pagi, kita packing ulang meninggalkan sisa-sisa persediaan makanan di dapur yang tidak mungkin kita bawa seperti telur, minyak dan bahan bahan basah lainnya. Semua kita masukkan dalam keranjang free goods yang tersedia di Guest Kitchen Hotel Meininger. Tapi dasar emak-emak, walaupun udah telat masih nyempatin juga masak untuk bekal makan siang demi mengirit biaya. Sebenarnya agak sedih juga karena liburan hampir berakhir, tapi rasa kangen rumah dan anak-anak rasanya lebih besar daripada rasa sedihnya. Jadi agak ringanlah di hati waktu akhirnya harus check out dan naik kereta ke stasiun Gare du Midi.

Perjalanan Kereta dari Brussel ke Amsterdam

Kereta yang membawa kami menuju Amsterdam akan berangkat dari stasiun Gare du Midi. Jadi dari hotel kita memutuskan naik tram saja karena malas kalau harus angkat-angkat koper ke stasiun Metro di bawah tanah. Tramnya agak sempit dan sebenarnya sulit juga kalau bawa koper berukuran besar. Namun demikian naik tram lebih menyenangkan daripada naik metro karena paling tidak kita bisa melihat-lihat suasana kota Brussel di pagi hari. Untung saja kartu Jump kita masih berlaku karena kemarin kita mengaktifkannya hampir tengah hari jadi hari ini masih bisa dipakai karena masa 24 jamnya belum berakhir. Rute transportasi dari Hotel Meininger menuju stasiun Gare du Midi dapat dilihat pada gambar di bawah ini :

Tram di Brussel merupakan salah satu jaringan trem terbesar di dunia dengan jalur trem yang melewati atas dan bawah tanah sampai wisatawan terkadang rancu dengan Brussel Metro terutama jalur 3 dan 4. Beberapa line bahkan berhenti di beberapa tempat wisata Brussel seperti jalur 92 dan 94 yang berhenti di Rotal Palace of Brussels, jalur 32 dan 33 yangΒ  berhenti di Grand Place atau jalur 51 yang berhenti di atomium dan Mini Europe. Jalur-jalur Tram, Metro dan bis di Brussel dapat dilihat pada website ini.

Tram di Brussel

Sesampainya di stasiun Gare du Midi, kita cepat cepat mencari kereta yang menuju Amsterdam Centraal sebagai tempat tujuan kita selanjutnya. Rata-rata perjalanan kereta dari Brussel menuju Amsterdam memakan waktu 2 jam 45 menit. Waktu tercepat adalah 1 jam 50 menit bila menggunakan kereta cepat Thalys. Kereta pertama akan meninggalkan Brussel sekitar jam 6 dan kereta terakhir akan berangkat sekitar jam 10 malam. Kurang lebih terdapat 36 kali pemberangkatan dalam sehari. Sayangnya kalau mau pakai Thalys harus keluar uang lagi untuk reservasi. Akhirnya kami memutuskan untuk naik kereta Inter City biasa yang gratis karena kita punya Eurail Pass. Tujuan utama adalah Amsterdam Centraal karena kami ingin titip bagasi dulu sebelum menjelajah kota Amsterdam. Sayangnya karena datangnya kesiangan, kita ketinggalan kereta yang langsung menuju Amsterdam Centraal jadi akhirnya ‘ngeteng’ pindah-pindah kereta sampai 3 kali. Pindah-pindah kereta ditambah salah naik jurusan kereta membuat waktu perjalanan yang dijadwalkan hanya 3 jam molor menjadi 6 jam.

Stasiun Antwerp (Atas), Kereta Intercity Brussel (Bawah)

Untungnya saat itu kita pakai Eurail Pass jadi nggak bingung walaupun salah jurusan. Begitu menyadari kalau salah kereta, langsung turun di pemberhentian berikutnya dan naik kereta balik ke tempat awal nyasar. Nggak kebayang kalau tidak punya Eurail Pass, entah habis berapa duit untuk beli tiket lagi karena kali ini kita nyasarnya cukup parah. Untungnya lagi kita berangkat dari Brussel di awal hari jadi nggak terlalu stress ketinggalan penerbangan yang baru akan berangkat jam 10 malam nanti. Sebenarnya banyak pilihan rute kereta antara Brussel dan Amsterdam Centraal, tapi yang saya naiki harus ganti di Antwerp dan Rossendal. Rute-rute lainnya dapat dilihat di Eurail Timetable dengan menyebutkan stasiun asal Bruxelles Midi dan stasiun akhir Amsterdam Centraal. Kalau dipikir-pikir lucu juga karena kita justru salah naik kereta di akhir perjalanan. Logikanya setelah hampir setengah bulan selalu naik kereta, harusnya di akhir trip malah lebih pinter dan bukannya malah zonk πŸ™‚ . Mungkin efek capek dan pengen cepet pulang menjadikan salah fokus dan kurang konsentrasi.

Luggage Storage di Amsterdam Centraal

Sesampai di stasiun Amsterdam Centraal sekitar jam 3 siang, kita cepat-cepat mencari tempat penyimpanan koper. Fasilitas luggage storage di stasiun ini terletak di sebelah timur pintu masuk utama yang menghadap kota. Cukup mengikuti papan penunjuk bergambar koper, kita akan sampai di tempat penyimpanan yang terletak di bawah tangga yang menuju platform 2.

Tempat Penyimpanan Koper di Amsterdam Centraal (Photo by : Amsterdam Tips)

Peta Letak Luggage Storage di Amsterdam Centraal

Ada dua macam ukuran yang disediakan, small lockers berukuran 90cm x 45cm x 40cm yang cukup umtuk ukuran koper standard kabin dan large lockers berukuran 90cm x 60cm x 40cm yang cocok untuk koper berukuran besar. Biayanya €7 untuk small locker dan €10 untuk large locker untuk penyimpanan per 24 jam. Terdapat biaya tambahan bila kopernya tidak diambil dalam jangka waktu 72 jam.
Tempat penyimpanan koper ini sifatnya otomatis dan sebenarnya gampang saja cara pengoperasiannya. Pertama, cari dulu locker yang kosong. Setelah tas dimasukkan, langsung ditutup aja pintunya sampai lampu menyala merah. Selanjutnya, ikuti arah panah di locker yang akan menunjukkan di terminal mana kita harus membayar. Terminal pembayaran ini terdapat di beberapa titik, jadi jangan sampai salah terminal. Disini kita hanya bisa membayar dengan menggunakan kartu kredit yang berlogo Master atau Visa. Jadi tidak menerima pembayaran dengan uang kas. Tiket yang kita dapat sebagai bukti jangan sampai hilang, karena ada denda pembayaran bila tiket hilang. Tiket ini harus dimasukkan pada terminal pembayaran bila ingin membuka locker.

Terminal Pembayaran Luggage Storage

Ada kejadian memalukan dan menjengkelkan saat kami menyimpan koper disini. Dasar kurang fokus dan bingung, jadi kita membayar di terminal yang salah. Waktu itu kita mengira bisa membayar di terminal manapun sehingga tidak mengindahkan arah panah yang menunjuk pada terminal tertentu. Setelah dibayar, kok lockernya tidak mau nutup. Apalagi saat itu kita udah bayar untuk locker yag besar karena tas kita lumayan banyak. Sempat bingung juga sebelum akhirnya ketemu dengan petugas yang menerangkan kalau kita sudah membayar di terminal yang salah. Sayangnya kita tidak boleh membatalkan transaksi yang sudah terjadi. Akhirnya ogah keluar uang lagi, kita pilih locker yang paling nyempil di pojokan dan kita simpan tas dan koper kita tanpa mengunci pintunya. Pokok asal ditutup aja πŸ™‚ . Udah pasrah aja kalau barang-barangnya ilang toh semua barang berharga (paspor, dompet, souvenir kecil-kecil) kita bawa dalam day pack. Kalau mau ilang yah ilang aja dah soalnya kebanyakan koper dan backpacknya isinya cuman baju kotor semua πŸ™‚ .

Peta Luggage Storage di seputaran stasiun Amsterdam Centraal

Luggage Storage Drop & Go

Bila tidak punya kartu kredit dan ingin membayar tunai, ada beberapa alternatif penyimpanan Luggage Storage di seputaran Amsterdam Centraal (lihat peta diatas). Dua yang terdekat adalah Djeepo Luggage Storage dengan harga sewa harian €5 untuk satu tas atau koper berapapun ukurannya. Selain Djeepo, ada Drop&Go yang mengenakan sewa harian €4 untuk tas kecil, €7 untuk koper sedang ukuran kabin, dan €10 untuk koper berukuran besar.

Amsterdam Canal Tour

Kurang lengkap rasanya bila berkunjung ke Amsterdam tapi tidak menjelajahi kanalnya. Kanal bagi Amsterdam adalah hal terpenting, seperti gunung dengan Swiss atau es dengan kutub. Dibangun pada abad ke 17, Amsterdam’s Canal terbentang sejauh 100 km yang menghubungkan 900 pulau buatan dengan 1500 jembatan yang dibangun sebagai penyambungnya. Pada saat itu Amsterdam sedang dalam masa puncak kejayaan sehingga terjadi lonjakan imigrasi ke kotanya. Untuk memecahkan masalah perumahan akhirnya pemerintah kota memutuskan untuk mereklamasi teluk Amsterdam dengan kanal-kanal tersebut sebagai penghubungnya.

Kanal-Kanal Amsterdam dilihat dari atas (Photo By : Peter Elenbaas)

Pembangunan kanal-kanal tersebut direncanakan dengan matang, 3 canal terbesar yaitu Herengracht, Keizersgracht dan Prinsengracht difungsikan sebagai daerah perumahan. Satu kanal luar yaitu Singelgracht digunakan untuk pertahanan dan water management. Selain itu juga dibangun kanal-kanal di area Jordaan yang berfungsi khusus untuk transportasi barang dan daerah komersial. Keunikan kanal-kanal ini membuat Unesco memasukkannya dalam World Heritage List bertepatan dengan ulang tahun Amsterdam’s Canals yang ke 400.

Nah kalau berbicara tentang Canal Tour, sebenarnya banyak sekali jenis-jenisnya. Ada Lampedusa Cruisse yang menelusuri jejak para pencari suaka di Amsterdam, kemudian ada Culinary Cruise yang menawarkan pemberhentian di tempat-tempat makan paling otentik di Amsterdam. Selain itu kalau mau kita juga bisa Do It Yourself Canal Tour dengan menyewa pedal boat dan mengemudikannya sendiri menjelajahi kanal-kanal di Amsterdam. Saya waktu itu memilih ikutan tour dari Rederij Lovers karena tertarik sama harganya yang murah dan tempat pemberhentiannya yang berada tepat di depan Amsterdam Centraal. Peta menuju tempat pemberhentian Rederij Lovers dapat dilihat pada gambar di bawah ini :
Kapalnya sendiri cukup bersih dengan atap transparan yang memudahkan orang melihat pemandangan sekitar. Guide sekaligus kapten kapal juga jelas bahasa Inggrisnya. Rute yang dilalui tour ini hampir sama dengan jalur hijau dengan sedikit modifikasi jalur merah dari rute open bus canal Amsterdam. Petanya dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Bagian luar dan dalam kapal

Tournya berdurasi kurang lebih 1.5 jam dengan biaya E 15.5 per orang. Disitu kita diajak melihat-lihat kehidupan penduduk seputar kanal dan melewati berbagai landmark terkenal di Amsterdam seperti Anne Frank House, Hermitage Amsterdam, Rembrandt House, City Hall dan Nemo Science Museum Amsterdam. Kita juga diajak melewati Netherland Maritime Museum yang dibagian depannya terdapat replika kapal VOC, kapal dagang yang dulu sering kali digunakan untuk mengangkut hasil bumi Indonesia ke Belanda. Kapal ini mengingatkan saya betapa negara sekecil ini bisa menjajah Indonesia sampai ratusan tahun lamanya.

Replika Kapal Dagang VOC

Mengikuti tour ini kita bisa sedikit merasakan kehidupan Amsterdam di Abad ke 16, karena kebanyakan rumah-rumah di sepanjang kawasan sejarah Unesco ini masih terjaga keasliannya. Kita bahkan ditunjukkan bangunan rumah tertua di kanal Amsterdam yang dibangun pada abad ke 12. Banyak diantara rumah-rumah tua tersebut masih aktif difungsikan baik sebagai rumah, kantor maupun tempat usaha. Kita sempat lewat di depan kantor pusat website booking hotel online Booking.com yang berada di kawasan Rembrandplein. Selain bangunan-bangunan yang dibangun di atas kanal, di beberapa kawasan juga nampak beberapa houseboat yang dibangun menempel pada kanal. Kebanyakan difungsikan sebagai rumah walaupun juga ada beberapa yang dialih fungsi sebagai cafe.

Pemandangan saat Canal Tour

Usai mengikuti kanal tour, kita masih punya waktu sekitar 1 jam untuk berjalan-jalan di seputaran Amsterdam Centraal. Akhirnya diputuskan untuk beli oleh-oleh yang belum sempat dicari selama liburan. Maunya selama jalan-jalan di Eropa bisa beli paling tidak magnet kulkas satu biji di tiap kota untuk kenang-kenangan. Tapi apa daya harga souvenir di Eropa mahal-mahal terutama di Swiss sehingga target magnet di tiap kotapun tidak terbeli.

Amsterdam’s Souvenirs

Selama perjalanan ke Eropa memang tidak banyak souvenir yang kita beli. Disamping harganya yang mahal, mobilitas yang tinggi membuat kita ogah bawa souvenir banyak-banyak. Beberapa kita beli saat mengunjungi Albert Cuypstraat, beberapa kita beli di Edam. Pokoknya asal ada yang murah dan bagus kita beli aja tanpa mengalokasikan waktu khusus untuk belanja. Beberapa souvenir yang sempat kita beli antara lain : Tulip Bulb. Dikemas dalam berbagai macam bentuk, saya membeli kuncup tulip ini untuk mama saya di rumah yang gemar bertanam. Sayangnya karena tidak tahu cara menanam dan cuaca yang kurang mendukung, tulipnya malah nggak bisa mekar πŸ™‚ . Saran saya, kalau mau beli tulip sebagai souvenir pastikan dulu cara menanam yang benar supaya hasilnya tidak mengecewakan.

Penjual Tulip Bulb

Amsterdam Cheese, kurang lengkap rasanya kalau ke Belanda tapi tidak beli keju sebagai oleh-olehnya. Yang paling populer apalagi kalau bukan keju Edam dan Gouda. Untuk keju saya sarankan tidak beli di Cheese Tasting Shop yang banyak tersebar di seluruh penjuru kota karena harganya lebih mahal daripada beli di supermarket lokal seperti Albert Heijn, Lidl, Aldi atau pasar lokal seperti di Albert Cuypstraat. Beli saja potongan-potongan kecil yang terdiri dari berbagai macam jenis keju supaya tahu macam-macam rasanya.

Old Amsterdam Cheese

Souvenir ketiga yang banyak kita beli apalagi kalau bukan Magnet dan gantungan kunci. Tempelan kulkas di Belanda harganya masih lebih mufakat daripada di negara-negara Eropa yang lain. Kebanyakan kita pilih yang bentuknya khas seperti magnet jajaran old house, kincir angin atau mini klompen. Magnet dan gantungan kunci ini paling murah beli di Albert Cuypstraat dan beberapa toko souvenirs di Volendam.

Beberap Contoh Magnet (Kiri) dan Stroopwafels (Kanan)

Kalau ingin oleh-oleh makanan, mungkin Stroopwafels yang bisa mewakili makanan khas Belanda selain keju. Belinya juga mudah karena hampir di semua grocery store menjual makanan ini. Tapi pastikan ada tempat penyimpanannya supaya tidak hancur saat dibawa sampai ke Indonesia. Sebenarnya kalau punya jatah bagasi dan koper dengan tempat berlebih, gampang aja cari oleh-oleh. Ada berbagai macam keramik Delf biru khas Belanda yang bisa dibawa, beberapa bentuk mug dan tumbler Amsterdam yang lucu ataupun hiasan mini kincir dari keramik yang murah. Tapi sayangnya semua itu butuh tempat khusus yang kalau tidak dibungkus dengan baik juga beresiko pecah saat dibawa. Jadi saat beli souvenir bisanya cuman ngiler aja kalau ada souvenir lucu dan murah tapi susah dibawa.

Amsterdam Airport Schiphol

Waktu menunjukkan pukul 6 sore ketika kita harus beranjak menuju bandara Schiphol. It’s time to say goodbye pada perjalanan keliling Eropa selama kurang lebih 15 hari. Agak sedih memang, tapi sudah waktunya kembali ke dunia nyata. Kerja keras lagi mengisi tabungan πŸ™‚ . Setelah mengambil bagasi (untung saja semua tas dan koper aman-aman saja), kami segera naik kereta menuju bandara. Perjalanan dari Amsterdam Centraal menuju bandara Schiphol memakan waktu kurang lebih 15 menit sehingga kita masih punya cukup waktu untuk menjelajahi bandaranya. Terus terang saat mendarat pertama kali di Schiphol saya kurang menaruh perhatian pada bandara ini karena ingin cepat-cepat keluar dan menjelajah Amsterdam. Nah saat pulang dan punya banyak waktu, saya jadi punya kesempatan menjelajahinya. Bandara ini ternyata memiliki beberapa tempat menarik untuk di kunjungi. Tempat-tempat tersebut antara lain : Schiphol Plaza, beberapa toko di Schipol Plaza merupakan cabang dari toko yang ada di kota. Disini kita bisa menjumpai cabang dari Albert Heijn Supermarket dan HEMA. Selain itu juga ada beberapa branded store seperti Burberry, Bulgari yang letaknya masuk area security.

Bagian Depan Schiphol Plaza

Masuk di area setelah pemeriksaan diantara Lounge 2 dan 3 terdapat Holland Boulevard. Bisa dibilang area ini adalah tempat untuk bersantai menghibur diri. Disini terdapat Rijksmuseum Amsterdam Schiphol, yang sesuai dengan namanya merupakan museum hasil kerjasama antara Rijks Museum dan bandara Schiphol. Di dalam mini museum ini terpajang beberapa lukisan karya seniman Belanda yang merupakan koleksi Rijks Museum dengan tema yang dipamerkan berbeda-beda sepanjang tahun. Rijksmuseum menjadi museum pertama di dunia yang membuka cabang di bandara dan Schipol menjadi bandara pertama di dunia yang mempunyai museum dengan lukisan asli dari abad ke 17 di terminalnya. Enaknya lagi museum ini buka 24 jam dan tiket masuknya gratis. Kalau tidak sempat mampir ke Rijks Museum yang asli pastikan mampir dulu di mini Rijks Museum ini.

Rijksmuseum Schiphol

Selain Rijksmuseum, di Holland Boulevard juga ada NEMO Science Museum.Β Seperti Rijksmuseum, Nemo Science Schiphol merupakan cabang dari Nemo Science Museum yang terletak di Amsterdam. Untuk cabang Schiphol mereka memasang 8 perangkat interaktif dimana kita bisa mengadakan eksperimen sendiri yang berhubungan dengan teknologi dan science.

Nemo Science Museum Schiphol

Namun ada satu yang jadi idola saya di Holland Boulevard, apalagi kalau bukan Airport Library. Disini selain buku, juga ada iPads, monitor touch screen dan sofa -sofa empuk yang bisa dibikin santai bila tidak ingin membaca buku. Tapi sesuai dengan topik Holland Boulevard, kebanyakan koleksi buku disini adalah hasil karya penulis Belanda dengan berbagai topik tentang Belanda. Topiknya bisa mengenai budaya, sejarah, seni dan arsitektur Belanda. Bahkan beberapa iPad yang tersedia disana hanya bisa digunakan untuk mengakses beberapa bacaan yang berhubungan dengan Belanda.

Airport Library Schiphol

Disitu juga tersedia beberapa Download Station dimana kita bisa mendownload segala materi baik buku maupun lagu yang berhubungan dengan Belanda. Hebatnya lagi buku-buku disini boleh dibawa keluar dari perpustakaan untuk dibaca dimana saja, asal dengan catatan tidak boleh dibawa pulang. Menurut statistik, selama kurun waktu 6 bulan mereka buka, hanya 12 buku yang hilang. Tanpa terasa, waktu untuk boarding sudah hampir tiba. Untung saja saat pulang pemeriksaan tidak seketat saat kita datang. Akhirnya tepat jam 22.00 pesawat kita terbang menuju Abu Dhabi. Selamat tinggal Eropa.

Biaya Hari Ke 17

Kronologi Waktu

 
6 Comments

Posted by on June 2, 2019 in Jawa Timur

 

6 responses to “Hari Ke 17 : Brussel – Amsterdam (Amsterdam Canal Tour)

  1. Dita

    June 8, 2019 at 1:46 pm

    duh baca ini jadi kangen Belanda, mudah-mudahan tahun depan bisa balik ke sana

     
    • Vicky Kurniawan

      July 26, 2019 at 7:30 pm

      Insha Allah bisa balik lagi πŸ™‚

       
  2. Agustini Handajani

    July 9, 2019 at 5:48 pm

    Hallo mbak Vicky, salam kenal… Sy dr sidoarjo, mau nanya2 yaah… Juni th depan sy dan keluarga mau ke eropa barat, itinetary nya pleg ngikut

     
    • Vicky Kurniawan

      July 26, 2019 at 7:53 pm

      He he he orang Sidoarjo?, saya domisili di Malang mbak. Boleh lah kalau mau nanya nanya

       
  3. Agustini Handajani

    July 9, 2019 at 5:53 pm

    Waduh, keputus… Itinerary sy nyaris nyontek punya mba vicky… Yg mau sy tanya… Mba vicky kan pakai global pass 15 hari yaa… Trus, di hari ke 17 kok masih bisa dipake mba? Mohon infonya… Yg kedua, sy booking hotel kan pake booking.com, hrs menjaminnya dgn kartu kredit… Nah, pas disana hrs tetap gesek pake kredit card atau bisa cash… Mohon infonya ya mbak….πŸ˜ƒ

     
    • Vicky Kurniawan

      July 26, 2019 at 7:58 pm

      Saya pakai Eurailnya mulai hari ke 3 mbak. Jadi yang hari ke 17 itu udah pas hari terakhir pemakaian. Mengenai booking.com, kalau pada saat bookingnya mbak pilih yang pay later, berarti nanti bayarnya bisa gesek lagi pakai kartu kredit atau cash. Nanti pada saat membayar biasanya ditanya lagi kok sama resepsionisnya, mau bayar pakai cara apa.

       

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: