RSS

Hari Ke 14 : Paris (Chateau de Versailles, Jardin des Plantes, Mosquee de Paris & Walking Tour Gare de East)

04 Jun

Oleh : Vicky Kurniawan

Hari ke dua di Paris. Semalam cukup nyenyak juga tidurnya walaupun ada beberapa orang mabuk yang berteriak teriak di jalan sampai malam. Di hari kedua ini saya berencana melihat salah satu istana terindah dan terluas di dunia yaitu Istana Versailles. Pertama kali kepingin melihat istana ini ketika seorang teman sesama traveler memasang foto Hall of Mirror yang menjadi bagian dari istana Versailles di timelinenya. Sejak itu istana Versailles seolah menjadi destinasi wajib bagi saya bila berkunjung ke Paris. Terletak kurang lebih 20 km sebelah barat Paris, Versailles dapat dijangkau dengan menggunakan kereta yang sebenarnya termasuk juga dalam rute Eurail Pass.

Istana Versailles dilihat dari udara (Photo by : wikimedia.org)

Istana Versailles dilihat dari udara (Photo by : wikimedia.org)

Menurut teori istana ini dapat dicapai dalam waktu 20 menit menggunakan kereta lokal RER C line. Kereta RER sama dengan kereta metro, hanya saja jangkauannya lebih luas sampai di luar batas kota Paris. Salah satu pemberhentian terdekat bila menggunakan kereta RER C adalah stasiun Versailles-Rive Gauche. Pemberhentian ini merupakan pemberhentian terakhir jadi jangan risau karena tidak mungkin terlewat. Keluar dari stasiun ini ada beberapa penunjuk jalan menuju istana yang kurang lebih dapat ditempuh dengan lima belas menit jalan kaki. Transportasi dari hotel menuju istana dapat dilihat pada gambar berikut.

rute-versailles

Sayangnya walaupun rute diatas masuk dalam Eurail Pass Timetable, passnya sendiri malah tidak berlaku di seluruh kereta RER C. Rute di kereta ini hanya berlaku untuk pemegang France Rail Pass dan tidak berlaku bagi pemegang Eurail Pass yang lain. Beberapa website yang saya baca sebenarnya sudah memperingatkan kalau tiket karnet tidak berlaku sampai ke Versailles. Jadi kita harus membeli tiket kereta yang bisa menjangkau zona 4 dimana istana itu berada Tapi saat perpindahan antar kereta dari metro ke RER tiket karnet saya masih bisa digunakan. Akhirnya saya nekat mencoba menjajal kemampuan tiket ini sampai Versailles. Pikirnya toh nanti kalau nggak bisa keluar saya akan ke kounter untuk nambah biaya atau beli tiket baru. Ternyata benar, sampai di stasiun Gare de Versailles Rive Gauche saya tidak bisa keluar (dasar keras kepala). Cari semacam mesin upgrade tiket seperti di Jepang juga tidak ada. Akhirnya dengan sangat terpaksa menghubungi petugas customer service yang berada di sekitar tempat itu. Untung petugasnya baik banget. Dia cuman bilang, “Kali ini saya bukakan pintu, tapi lain kali jangan diulangi ya”. He he he. Siap bos. Makanya jangan sok nekat ya, untung masih dibukain pintu. Lha kalau disuruh kembali ke Paris kan gawat.

Chateau de Versailles

Keluar dari area stasiun kami langsung disambut dengan baliho besar bertuliskan Bienvenue A Versailles dan Discover The City of Versailles. Agak lega juga membaca tulisan ini karena setidak tidaknya kita berada di kota yang benar. Jalan-jalan di kota ini cukup lebar juga walaupun seperti umumnya kota-kota di Eropa mereka tetap mengutamakan pejalan kaki. Menyusuri jalan-jalannya,  seolah kita kembali ke masa lalu ketika kota ini masih menjadi pusat pemerintahan. Yah, kota ini memang pernah menjadi pusat pemerintahan selama lebih dari satu abad sebelum akhirnya revolusi Perancis mengakhirinya dengan menyeret raja Louis XVI dan ratu Marie Antoinette kembali ke Paris untuk di eksekusi dengan guillotine. Di sepanjang jalan menuju istana berjajar toko toko kecil yang berjualan roti dan buah. Sungguh membuat perut menjadi keroncongan ketika bau roti yang baru keluar dari pemanggangan berhembus sampai ke jalan. Begitu juga ketika melewati jajaran toko buah, tampilan buahnya serasa menarik hati hingga akhirnya kami memutuskan membeli sekantong buah plum untuk dimakan. Ternyata sesuai dengan penampilannya buah ini sangat manis dan jadi selingan yang segar ketika kami memakannya sambil duduk duduk di tepi jalan seraya menikmati pemandangan kota.

Baliho di depan stasiun

Baliho di depan stasiun

Sesampai di kompleks Istana Versailles kami langsung menuju kantor penjualan tiket yang berada di Ministers’ South Wing (gedung di bagian kiri lapangan the Cour d’Honneur). Di tempat itu tiket bisa dibeli langsung di loket atau melalui vending machine. Jenis tiketnya pun bermacam macam yang dapat di cek harganya disini. Usai membeli tiket, kami berjalan menuju Mesdames’ Apartments untuk mengambil audio guide yang diberikan gratis dengan menunjukkan tiket yang sudah di beli. Dari sini, kami langsung mengantri bersama pengunjung lain untuk masuk ke dalam istana. Jangan dibayangkan antrian yang sedikit. Sebagai salah satu destinasi wajib kunjung di Paris, tempat ini selalu penuh. Di musim shoulder season ini saja antriannya sudah mengular apalagi kalau pas high season.Berikut peta tempat pembelian tiket, tempat pengambilan audio guide dan tempat masuk istana ini.

Peta Pintu Masuk Istana Versailles

Beberapa tips dari buku Lonely Planet saat berkunjung kesini antara lain : Pertama, jangan pergi di hari Senin karena istana ini tutup pada hari itu. Kedua, datang pagi pagi sekali atau sekalian sore hari sekitar jam 4 untuk menghindari antrian. Ketiga, hari yang paling padat pengunjung adalah hari Selasa dimana banyak museum di Paris tutup dan hari Minggu ketika banyak orang libur.

Antrian masuk ke istana

Dibangun pada masa pemerintahan Louis XIV, pembangunan besar besaran telah menyulap sebuah pondok perburuan biasa menjadi istana megah nan luas. Diawasi oleh tiga arsitek berbeda yang khusus menangani eksterior, interior dan taman serta 30.000 pekerja, pembangunan istana ini benar benar menguras kas negara. Tidak heran karena setiap jengkalnya dihiasi dengan karya seni terbaik dan dari bahan terbaik yang pernah ada saat itu. Walaupun kelihatannya membingungkan, pada dasarnya kompleks istana ini terbagi menjadi 4 yaitu : bangunan istana itu sendiri yang disebut Palais, kemudian Grand Trianon dan Petit Trianon sebuah istana yang lebih kecil dan yang terakhir adalah Hameau de la Reine atau pondok ratu. Tiket masuk dasar seperti yang saya beli memberikan akses ke istana saja yang meliputi : kunjungan ke King’s dan Queen State Apartment, Royal Chapel, Dauphin’s dan Dauphine’s Apartment dan beberapa galeri. Bila ingin mengeskplore tamannya, kita harus membeli tiket lagi khusus untuk taman.

A. The Main Courtyard and Royal Courtyard

Pada saat mengambil audio guide kita akan melewati apa yang disebut The Cour de Marbre (Marble Courtyard). Disebut demikian karena keseluruhan lantainya terbuat dari marmer berwarna hitam dan putih. Lapangan ini dikelilingi oleh bangunan berwarna emas dengan jam raksasa tepat ditengahnya. Jamnya memang sengaja dihentikan tepat saat jam kematian Louis ke XIV.

Marble Courtyard

Sebenarnya tepat di belakang bangunan ini terdapat King’s Chamber yang merupakan ruangan termewah dan termegah. Kamar raja ini dibangun sejajar dengan arah terbit matahari karena raja memiliki kegemaran melihat matahari terbit di waktu pagi.

B. The Apartments of Mesdames

Dari Marble Courtyard kita bisa menyeberangi halaman menuju kompleks Apartments of Mesdames. Tempat ini dikhususkan sebagai tempat tinggal putri-putri raja. Yang dibuka saat ini adalah apartemen putri Adelaide dan putri Victoir, keduanya adalah putri raja Louis ke XV. Madame Adélaïde sebenarnya dibesarkan di istana Versailles bersama ketiga saudara perempuan dan satu saudara laki-laki. Saat itu, karena biaya membesarkan mereka di istana Versailles sangatlah mahal maka diputuskan untuk memisahkan dan membesarkan putri-putri tersebut di luar istana. Sebenarnya Adélaïde diminta untuk keluar dari Versailles, tapi akhirnya dia diijinkan tinggal bersama tiga saudaranya atas permintaan ayahnya.

Salah satu ruangan di Mesdames’ apartment

Di dalam kompleks apartemen ini akan kita jumpai beberapa ruangan antara lain : Large Chamber. Berfungsi sebagai Music Room, ruangan ini berisi organ (yang dulunya dimainkan oleh Madame Adelaide) dan harpa (yang menjadi keahlian Madame Victoir). Mozart sendiri bahkan pernah membuat beberapa sonata untuk dimainkan oleh Madame Victoir pada harpanya. Selain Large Chamber ada pula Interior Chamber. Ruangan ini bersifat lebih privasi karena hanya orang orang yang diundang oleh tuan putri lah yang dapat masuk kesini.

Bed Chamber Madame Victoire

Beralih dari Interior Chamber kita akan masuk ke Bed Chamber atau ruang tidur yang didekorasi berdasarkan dua musim, musim panas atau musim dingin dan biasanya menjadi ruang termewah di dalam kompleks tersebut Selain ruangan-ruangan tersebut, tempat hunian ini juga dilengkapi dengan Library (perpustakaan) tempat para putri itu membaca. Masing-masing dari mereka memiliki ruang perpustakaan sendiri yang didekorasi sesuai warna kesukaan masing-masing. Hijau untuk Madame Victoire, dan merah untuk Madame Adélaïde.

Ruang Perpustakaan Madame Victoire

Konon dulunya semasa raja Louis ke XV masih hidup, dia hanya punya waktu sedikit untuk menemui putri-putrinya. Jadi setiap pagi, dia pergi ke Apartemen Madame Adélaïde yang selanjutnya membunyikan bel untuk memanggil Madame Victoire. Dalam perjalanan, Madame Victoire akan membunyikan bel memanggil Madame Sophie, yang pada gilirannya akan membunyikan bel juga untuk memanggil Madame Louise. The apartments of Mesdames ini sangatlah luas sehingga Madame Louise yang menempati ruangan paling ujung harus berlari lari setiap pagi untuk menemui ayahnya. Melihat banyaknya ruangan yang harus dilintasi dia hanya punya waktu sedikit sekedar mencium ayahnya sebelum raja meninggalkan tempat itu. Poor Madame Louise 😦 . Sayangnya lagi, putri-putri raja Louis ke XV ini tidak pernah menikah, karena pada saat mereka mencapai umur yang matang untuk menikah tidak ada seorang pangeranpun yang dirasa cocok secara status dan kekayaan yang dinilai layak untuk menikahi mereka.

C. The Dauphin and The Dauphine’s Apartment

Bila The Apartment of Mesdames dihuni oleh para putri raja, maka The Dauphin and The Dauphine’s Apartment dihuni oleh putra raja dan istrinya yang akan menjadi calon raja. Sama seperti hunian para putri, ruangan-ruangan dalam kompleks apartemen ini juga tidak kalah mewahnya. Semua interiornya didekorasi dengan warna emas dan coklat dengan berbagai furniture yang tergolong kelas satu di jamannya.

The Dauphin’s Great Chamber

Seperti juga hunian para putri, kompleks ini juga terbagi menjadi Antechamber, Chamber dan Library walaupun ada juga pemisahan antara Dauphin (pangeran atau calon raja) dan Dauphine’s (istri pangeran atau calon ratu). Mungkin yang paling menarik disini adalah The Dauphine’s Chamber, kamar dimana Maria Josepha of Saxony, istri dari putra raja ke Louis XV, melahirkan ketiga putranya yang kelak akan menjadi raja Perancis. Ketiga putra itu adalah Louis XVI, Louis XVIII dan Charles X.

The Dauphine’s Chamber

Perlu diingat bahwa barang-barang disini sebagian bukan merupakan barang asli milik Istana Versailles. Hal ini disebabkan karena selama Revolusi Perancis keluarga kerajaan diminta meninggalkan istana sehingga banyak barang-barang di istana ini yang rusak atau di jual. Pekerjaan restorasi pertama untuk mengembalikan kemegahan istana ini sudah dimulai sejak jaman Napoleon hingga sekarang.

D. Versailles Gallery

Setelah melewati ruangan-ruangan diatas sampailah kita di Gallery of History, sebuah ruangan yang disulap oleh raja Louis Phillipe menjadi galeri. Galeri ini berisi lukisan yang menceritakan sejarah singkat Perancis. Di ujung Gallery of History ini terdapat tangga yang menuju lantai 1 dimana kunjungan kita akan berlanjut melewati Galerie de Pierre Haute atau the Louis XIV rooms. Disini kita akan melewati sederetan ruangan yang berisi lukisan-lukisan dengan tema yang berbeda di tiap ruangnya. Sebagai contoh ruangan yang bernama King’s Childhood, berisi lukisan masa kanak-kanak raja Louis ke IV sampai masa pengangkatannya sebagai raja. Ruangan The Royal Princesses berisi lukisan putri-putri yang pernah tinggal disini dengan lukisan pernikahan raja Louis ke IV sebagai centre piecenya.

The Royal Princesses Room

Sejajar dengan Galerie de Pierre Haute kita akan melewati Upper Stone Gallery, kali ini yang menjadi pajangan bukan lagi lukisan tapi patung-patung hasil pahatan para seniman di jaman itu. Galeri ini sekaligus menjadi penghubung untuk menuju ruangan berikutnya yaitu The King’s State Apartment.

E. The King’s State Apartment

Berisi rangkaian tujuh ruangan yang digunakan oleh tuan rumah untuk menjamu tamu-tamunya dalam acara-acara resmi. Selain sebagai tempat perjamuan, ruangan ini sekaligus menjadi tempat “pamer” raja-raja Perancis kepada tamu-tamunya. Sehingga tidak mengherankan kalau ruangan-ruangan disini dihias dengan mewah mengikuti gaya Italia yang saat itu banyak dikagumi para raja. Hampir semua dindingnya dihiasi dengan panel marmer belum lagi langit-langitnya yang dihiasi dengan lukisan. Pada siang hari, apartemen ini dibuka untuk umum sehingga siapa saja bisa melihat raja dan anggota keluarganya dalam perjalanan mereka menuju kapel. Pada masa pemerintahan raja Louis ke IV pertemuan rutin diadakan disini beberapa kali dalam seminggu.

Mercury Room

Beberapa ruangan disini dinamai dengan nama planet seperti Venus, Mars, Merkurius dan nama-nama pahlawan dalam cerita mitologi Yunani seperti Hercules, Apollo, Diana. Kesemua ruangan dihias dengan lukisan langit-langit yang bertemakan nama ruangannya. Semisal Hercules Room, lukisan di langit-langitnya berjudul The Aphotheosis of Hercules yang menceritakan kedatangan Hercules di Olympus setelah berhasil menunaikan tugasnya yang terkenal dengan nama The Twelve Labour of Hercules. Lukisan ini merupakan lukisan langit-langit pertama yang menggunakan teknik marouflage dimana lukisan di gambar dulu di kanvas yang kemudian setelah jadi ditempel di langit-langit. Sayangnya si pelukis yang bernama Lemoyne bunuh diri setelah menyelesaikan proyek ini karena besarnya tanggung jawab yang dia emban selama empat tahun proyek ini berlangsung.

Hercules Room

F. The King’s Apartment

Berdekatan dengan The King’s State Apartment adalah The King’s Apartment atau tempat tinggal raja. Ruangan-ruangan disini hampir sama dengan apartemen para putri dan pangeran dilengkapi dengan Chamber dan Antechamber. Bedanya disini ditambah dengan Guard Room atau ruang penjaga.

The Bull’s Eye Antechamber

Dulunya terdapat hierarki dan aturan etika yang ketat untuk dapat masuk ke area ini. Apartemen ini juga memiliki akses ke The King’s Private Apartment dan Maria Antoinette’s Private Chambers yang hanya bisa dikunjungi dengan mengikuti guide tour.

G. The Hall of Mirrors

Melewati The Bull’s Eye Antechamber di King’s Apartment, sampailah kita di salah satu highlight dalam istana ini yaitu The Hall of Mirrors. Dinamai demikian karena di tiap sisinya dihiasi dengan kaca-kaca yang saat itu menjadi barang mewah dan langka. Pada abad ke 17 saat istana ini dibangun, teknologi pembuatan kaca dimonopoli oleh Venesia. Sesuai dengan perintah raja bahwa semua bahan pembangunan istana Versailles harus dibuat di Perancis, maka Jean Baptiste Colbert mentri keuangan saat itu menarik sejumlah pekerja dari Venesia untuk membuat kaca di Perancis. Konon kabarnya pemerintah Venesia sampai mengirimkan pembunuh untuk meracuni para pekerja tersebut supaya teknik pembuatan kaca tidak sampai bocor dan tetap dimonopoli oleh Venesia.

The Hall of Mirrors (Photo by : Jose Ignacio Soto Shutterstock)

Saat istana ini masih aktif digunakan, The Hall of Mirrors berfungsi sebagai tempat berbagai perayaan seperti kelahiran, perkawinan dan penyambutan tamu negara. Berdampingan dengan The Hall of Mirrors terdapat dua ruangan lagi yaitu The War Room dan The Peace Room. Bila diperlukan partisi yang memisahkan kedua ruangan ini dapat diambil sehingga terciptalah satu ruangan luas yang tersambung dengan The Hall of Mirrors. Salah satu peristiwa paling bersejarah di ruangan ini adalah saat ditanda tangani The Treaty of Versailles, suatu perjanjian yang mengakhiri Perang Dunia I.

H. The Queen’s Apartment

Salah satu ruangan terakhir yang bisa dilihat dengan menggunakan tiket Palace adalah The Queen’s Apartment. Bila sayap utara dikuasai oleh Raja maka sayap selatan dikuasai oleh Ratu. Hampir sama dengan King’s Apartment, tempat tinggal ratu ini juga dilengkapi dengan Bed Chamber, Antechamber dan Guard Room.

The Queen’s Bed Chamber

Salah satu ruangan terpenting disini adalah The Queen’s Bed Chamber, tempat dimana ratu banyak menghabiskan waktunya. Disinilah dia tidur baik sendirian atau dengan raja dan disini pulalah dia melahirkan putra putrinya dengan disaksikan oleh masyarakat umum. Sebenarnya kata masyarakat umum terlalu berlebihan karena saat melahirkan hanya dokter, pelayan pribadi, calon pengasuh anak, putri kerajaan dan beberapa anggota Gereja yang diperbolehkan masuk. Yang lain menunggu di luar ruangan yang pintunya dibiarkan terbuka dan mereka baru boleh masuk setelah ratu siap menerima ucapan selamat dan pemberian hadiah setelah melahirkan putranya.

I. The Gardens

Setelah menjelajahi istana Versailles, kami sedikit mencicipi tamannya sejauh tiket Palace mengijinkan, karena untuk mengekplore taman lebih dalam ada tiket masuknya tersendiri. Bila memandang dari jendela tengah di Hall of Mirrors, kita bisa melihat sekilas taman istana Versailles yang sangat terkenal akan kesimetrisannya. Pembangunan taman seluas 800 hektare dilakukan bersamaan dengan pembangunan istana dan memakan waktu kurang lebih 40 tahun.Ribuan orang terlibat dalam pembangunan taman ini karena banyak tanaman dan pohon-pohon yang didatangkan dari segala penjuru Perancis. Kurang lebih terdapat 200 pohon dan 210.000 jenis bunga harus ditanam disiini. Untuk mempertahankan keindahannya, bunga bunga tersebut harus ditanam lagi setiap tahunnya dan per 100 tahun sekali pohon-pohon juga harus ditanam kembali.

Taman Istana Versailles (Photo By : ToucanWings)

Selain tanaman, yang paling spektakuler dari taman ini adalah banyaknya fountain (air mancur) dan water jet. Terdapat kurang lebih 50 Fountain dan 620 Water Jet yang kesemuanya memerlukan air supaya dapat berfungsi dengan baik. Untuk memenuhi kebutuhan air di taman ini maka dibangunlah Grand Canal sepanjang 5,7 km. Walaupun demikian demi penghematan terkadang air hanya dinyalakan saat Raja akan melewati taman ini.

Restoran Halal di Versailles

Setelah puas menjelajahi istana Versailles, kami kembali lagi ke Paris. Dalam perjalanan menuju stasiun Versailles Chateau Rive Gauche kami melewari sebuah restoran halal. Kebetulan perut sudah kelaparan sejak tadi jadi kami mampir untuk makan siang di tempat itu. Menunya standar makanan barat yang terdiri dari Burger, Pizza dan Salad dengan harga berkisar 3 sampai 8 euro.

Salah Satu Restoran Halal di kota Versailles

Di kota ini memang lumayan banyak restoran halal. Selain restoran yang saya temui ini ada beberapa restoran halal dengan menu timur tengah, menu ala india, jepang dan Italia. Nama-nama restoran halal di kota Versailles dapat dilihat disini dan disini .

Jardin Des Plantes

Rencana awal setelah kembali dari Istana Versailles saya ingin menjelajahi kota kuburan bawah tanah Paris yang terkenal dengan sebutan Les Catacombes. Terbentang sejauh 1.5 km tempat ini menjadi Ossuary (tempat penyimpanan tulang belulang) dari kuburan Saint Innocents yang dibongkar demi tersedianya lahan perumahan bagi penduduk. Kurang lebih 6 juta orang dikuburkan tulang belulangnya disini dan disusun rapi di sepanjang lorong jalannya. Sayangnya rencana ini gagal karena ibu menolak untuk jalan di kuburan sepanjang 1.5 km 😦 .

Jajaran tulang di Les Catacombes Paris (Photo by : travel.usnews.com)

Keputusan ibu didukung oleh suami saya yang ingin melihat masjid di Paris. Tiga belas hari tidak bertemu masjid membuat dia kangen akan suasananya. Maklum kalau di rumah dia paling rajin sholat 5 waktu di masjid. Akhirnya setelah berunding dan googling sedikit, saya memutuskan untuk pergi ke Mosquee de Paris sekaligus mampir ke Jardin Des Plantes yang berada dekat dengan masjidnya. Transportasi dari Istana Versailles menuju Jardin Des Plantes dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Sedangkan peta jalan kaki dari stasiun Gare d’Austerlitz ke Jardin Des Plantes dapat dilihat pada gambar dibawah ini :

Jardin des Plantes ini sebenarnya adalah kebun raya utama di Paris. Uniknya,  kebun raya ini masuk dalam jajaran departemen yang dikelola oleh the Museum National d’histoire Naturelle karena didalam areanya terdapat 4 museum yaitu The Grande Galerie de l’ Evolution, the Mineralogy Museum, the Paleontology Museum dan the Entomology Museum. Didalamnya juga ada kebun binatang kecil yang berisi binatang-binatang dari Istana Versailles yang dipindahkan kesini setelah istana tersebut tidak dihuni lagi.

Jardin des Plantes

Awalnya, tempat ini hanyalah taman biasa yang dibeli oleh raja Louis ke XIII yang memberikan ijin kepada dua dokter pribadinya untuk menanam bebragai tanaman obat di sini. Akhirnya lama kelamaan dibangunlah sebuah sekolah botani di taman ini. Saat itu, botanis adalah sebuah profesi yang berprestise tinggi dan mereka sering dikirim ke negara-negara lain untuk memperluas pengetahuan mereka tentang botani. Salah satu botanis yang telah kembali, Comte de Buffon melihat potensi yang ada di dalam taman ini. Akhirnya dia memperluas taman ini, menambahnya dengan berbagai pernik-pernik taman bergaya Itali seperti patung, grotto, labirin dan mendirikan pusat riset botani disini. Jadi tidaklah mengherankan kalau kebun ini menjadi salah satu tempat yang penting dalam sejarah botani Perancis.

Peta Bagian Dalam Jardin des Plantes

Tiket masuk ke dalam taman ini gratis termasuk juga kunjungan ke botanical school, rose garden, rock garden, peony garden,  iris and perennial plant garden. Untuk masuk ke Alpine garden yang berisi berbagai macam tumbuhan dari Pakistan, Nepal, Korsica, Himalaya, Balkan, Afghanistan, Meksiko, Maroko dan Argentina, orang harus membayar lagi sebesar 2 Euro. Dari beberapa review yang saya baca, dari keempat museum dalam kebun ini ada dua yang bagus dan patut dikunjungi yaitu The Grande Galerie de l’ Evolution dan the Mineralogy Museum.

Grande Mosquee de Paris

Melewati Jardin des Plantes dan keluar dari gerbang di belakang gedung Grande Gallery de l’Evolution sampailah kami di masjid Grande Mosquee de Paris. Peta jalan kaki dari Jardin des Plantes menuju masjid dapat dilihat pada gambar di bawah ini :

Sebagai negara dengan jumlah musim terbesar di Eropa Barat. Perancis memiliki 2300 masjid yang sayangnya sejak kejadian Paris Attack tahun 2015 banyak masjid dan praying hall yang ditutup oleh pemerintah Perancis. Di Paris sendiri Islam merupakan agama dengan penganut terbesar kedua setelah Katolik dan mayoritas adalah penganut Islam Sunni. Jadi tidak mengherankan kalau Paris memiliki jumlah masjid terbanyak dibanding area area lain di Perancis. Salah satu masjid pertama, terbesar dan tertua di Paris adalah Grand Mosque of Paris.

Bagian Depan Mosque de Paris

Dibangun di daerah Latin Quarter, masjid ini dibangun sebagai lambang terima kasih dari pemerintah kolonial kerajaan Perancis kepada umat muslim atas jasa besarnya dalam Perang Dunia I. Saat itu kurang lebih  100,000 tentara muslim meninggal dunia dalam perang melawan Jerman. Selama Perang Dunia II pun (saat Perancis dikuasai oleh Nazi, masjid ini juga berperan besar dalam memberikan perlindungan bagi warga Yahudi. Saat itu, imam besar masjid ini bahkan berani menerbitkan sertifikat kelahiran palsu yang menyatakan bahwa para pengungsi yahudi ini lahir sebagai orang Islam untuk mencegah terjadinya pembantaian.

Ibu di bagian dalam masjid

Saat memasuki masjid seluas satu hektar ini, kita seolah olah berpindah dari kota Paris ke kota Maroko. Bagian dalam masjid ini memang didesain seperti El-Qaraouiyyîn Mosque, salah satu masjid tertua dan terbesar di Maroko. Sementara menara masjid setinggi 33 meter didesain persis seperti Zitouna Maosque di Tunisia. Semua pengerjaan bagian dalamnya dilakukan oleh para pengrajin dari Afrika Utara sehingga suasana Afrika nya sangat terasa. Dinding-dindingnya dihiasi dengan keramik bunga bermotif sedangkan tamannya dilengkapi dengan kolam dan air mancur.

Berbagai sudut masjid

Selain masjid, di areal ini juga terdapat perpustakaan, madrasah dan conference rooms. Untuk bersantai disediakan juga hammam, restoran dan tearoom. Bagi pengunjung muslim yang ingin sholat tidak ada biaya masuk. Tapi bagi pengunjung non muslim yang ingin datang dan melihat-lihat ditarik tiket masuk sebesar 3 Euro. Usai sholat dan melihat-lihat kompleks masjid ini, kami sepakat kembali ke hotel karena ibu sudah kelelahan dan ingin istirahat. Rute transportasi dari masjid ke hotel dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

Peta jalan kaki dari masjid ke stasiun dapat dilihat disini :

Walking Tour Gare de l’East

Setelah meninggalkan ibu di hotel untuk beristirahat, saya dan suami memutuskan untuk menjelajah daerah seputaran hotel karena hari masih sangat terang walaupun jam sudah menunjukkan pukul 7 malam. Rute walking tour kami dapat dilihat pada peta di bawah ini :

Ada dua tempat yang sempat kami eksplore yaitu pasar basah Saint Quentin Covered Market dan daerah Little India di sepanjang Rue du Fauborg Saint Dennis. Bila ingin melihat sisi lain dari kota Paris yang gemerlap, kita bisa menjelajah daerah daerah seputaran stasiun besar semacam ini. Disini kita akan menjumpai berbagai segi kehidupan yang tidak pernah terpikir ada di Paris. Seperti dalam perjalanan menuju Saint Quentin Market, saat itu kebetulan kami jalan berbarengan dengan Parisian yang sedang berjalan-jalan dengan anjingnya. Di tengah jalan tak disangka anjingnya berhenti untuk buang air besar. Saya yang tidak ingin jalan dekat anjing yang sedang BAB otomatis menghentikan langkah, menunggu sebentar sampai dia selesai. Tidak diduga ternyata setelah anjingnya selesai BAB, pemiliknya dengan santai meneruskan perjalanan seolah olah tidak terjadi apa-apa. Olala…di kota lain yang pernah saya kunjungi seperti Melbourne, Sydney dan kota kota Eropa lain, biasanya si pemilik akan mengambil kantong plastik dari sakunya, mengambil kotoran anjing yang ada di jalan dan membuangnya di tempat sampah. Tapi yang ini oh Tuhanku malah dibiarkan kececeran di jalan, pantesan dari tadi bau tidak enak selalu menyengat. Kalau tidak pesing yah bau tidak sedap seperti ini. Untunglah tidak lama kemudian kami sampai di Saint Quentin Market jadi mata dan hidung langsung teralihkan dari pemandangan yang mengerikan tadi.

Saint-Quentin Covered Food Market

Disebut juga Le Marché Couvert Saint-Quentin, pasar ini merupakan salah satu pasar tertua dan masuk dalam jajaran 7 besar Best Covered Food Markets di Paris. Disebut covered market karena desain ruangannya yang tertutup dan beratap untuk melindungi konsumen dari hujan dan panas. Memasuki pasar ini seolah kita terbebas dari kebisingan dan suasana sumpek di luar. Padahal di dalam pasar ini juga ramai pengunjung. Tapi kesumpekannya menjadi berkurang karena interior dalamnya yang luas dengan kaca-kaca yang lebar dan terang.

Bagian Depan Saint Quentin Market

Bangunan abad ke 19 ini didesain sesuai dengan Baltard style dengan berbagai kombinasi dari batu bata, kayu, kaca dan besi. Dengan langit-langit yang tinggi dan kaca-kaca yang lebar tidaklah mengherankan kalau belanja disini begitu menyenangkan.

Bagian dalam Saint Quentin Market

Diantara keruwetan lorongnya, kita bisa menjumpai berbagai macam barang yang kebanyakan berupa bahan segar seperti daging, ikan, sayur. Selain itu ada juga yang berjualan keju, roti dan berbagai macam pastri. Bagi penggemar makanan organik bisa langsung menuju stand bertanda AB. Beberapa stand makanan bahkan menyediakan makanan jadi untuk dibawa pulang. Bila ingin mencicipi berbagai makanan khas dari negara lain, disini juga tersedia stand makanan dari Portugis, Brasil, Italia, Afrika dan Libanon. Selain makanan di pasar ini juga terdapat stand-stand lain seperti stand peralatan dapur dan perbaikan sepatu.

Paris’ Little India

Dari Saint Quentin Market kami melanjutkan perjalanan menyusuri boulevard de magenta hingga tanpa terasa sampai di stasiun Gare du Nord yang memang berdekatan dengan stasiun Gare de l’East. Maunya saya ingin berjalan sampai Montmatre tapi saya perkirakan waktunya tidak akan cukup. Jadi kami berjalan di samping stasiun kemudian berbelok memotong masuk ke Boulevard de la Chapelle. Seperti umumnya di daerah stasiun ada area-area gelap yang terpencil dan agak masuk sedikit dari jalan. Disitu saya banyak melihat orang mabuk atau teler di sudut- sudutnya entah karena minuman keras atau obat-obatan. Kami pun segera mempercepat langkah dan begitu memasuki jalan Rue du Faubourg Saint Martin pemandangan langsung berubah. Seolah kami terlempar dari Paris ke India!.

Little India di Paris (Photo by : lifefoodandtravel.com)

Memang benar bangunan-bangunan disana masih bergaya Eropa tapi suasananya sudah mirip India banget. Di kiri kanan jalan banyak toko sari, beberapa penjual DVD film India dan tidak ketinggalan restoran yang banyak menjual masakan India. Sebenarnya mengapa Little India of Paris berada dekat stasiun Gare du Nord?. Konon kabarnya karena di stasiun ini lah kereta menuju Inggris akan berangkat. Bagi imigran Asia Selatan, Inggris itu bagaikan negara impian dan Perancis merupakan negara pilihan kedua bila mereka tidak berhasil mencapai Inggris. Jadi yang tidak kesampaian ke Inggris akhirnya membentuk Little India di Paris.

Toko-toko di Little India Paris

Sebenarnya yang tinggal disini tidak semua orang India. Sebagian dari mereka berasal dari Pakistan, Banglades dan Sri Lanka, tiga negara yang sama-sama menggunakan India sebagai bahasa mereka. Urdu dan Punjabi di Pakistan, Bengali di Banglades dan Tamil di Sri Lanka. Berjalan menyusuri Little India dan menyerap suasananya disana tanpa terasa sampailah kami di stasiun Gare de l’East. Sebelum pulang mampir dulu di supermarket Monop dekat hotel untuk belanja berbagai cemilan untuk ibu. Sampai di kamar udah kena semprot sayang aja dari ibu, “Katanya cuman jalan-jalan seputaran hotel, kok sampai 3 jam nggak pulang-pulang. Ibu kan jadi kuatir”. He he he ternyata setua apapun dirimu engkau tetaplah putra dan putri kecilnya yang harus selalu disayang dan dikuatikan. Betapa bahagianya punya seorang ibu 🙂 .

Biaya Hari Ke 14

 

 

 

 

 

  • catatan : biaya diatas merupakan rincian untuk satu orang

Kronologi Waktu

Advertisements
 
7 Comments

Posted by on June 4, 2017 in Paris, Perancis, Versailles

 

Tags: , , , ,

7 responses to “Hari Ke 14 : Paris (Chateau de Versailles, Jardin des Plantes, Mosquee de Paris & Walking Tour Gare de East)

  1. winnymarlina

    June 4, 2017 at 3:28 pm

    ah kakak selalu suka tulisan kakak, detaillll. itu aku waktu di paris pengen ke Jardin Des Plantes tapi tiket masuknya itu bikin nyesek hihiih

     
    • Vicky Kurniawan

      June 5, 2017 at 8:16 pm

      Halo Winny, terima kasih udah mampir kesini ya. Tiket masuk ke museumnya yah yang bayar. Btw aku udah baca petualangan ke Eropa mu selama satu bulan, dengan uang 15 juta lagi. He he he Hebat. Yah gitu dong, anak muda harus jempol ya. Keep on traveling my little sister..

       
      • winnymarlina

        June 6, 2017 at 10:54 am

        sayang aku gak kesana padahal penasaran juga kmren lebih memilih louvre hihi, ini berkat kakak jd ke semangat ke eropa

         
  2. lind4st1

    June 9, 2017 at 12:05 am

    Mbak Vicky,
    Kalo naik kereta dari Stasiun Gare Austerlitz ke Istana Versailles pp kemudian diteruskan jalan-jalan keliling kota Paris mengunjungi Museum Louvre, Menara Eiffel dan Gereja Notre Dame dalam 1 hari, beli tiket transportasi apa dan harganya berapa ya, Mbak? Terima kasih.

     
  3. Duwie

    June 15, 2017 at 10:56 am

    Mbak Vicky, Mau nyontek Iten-nya…terimakasih ya atas ulasannya sangat informatif. Btw terusannya kok gak ada ya ?

     
    • Vicky Kurniawan

      June 15, 2017 at 8:56 pm

      He he he terusannya masih mau mulai nulis ini..

       

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: