RSS

Hari Ke 13 : Jenewa – Paris (Cathedrale Notre Dame de Paris & Paris Walking Tour 1)

21 Nov

Oleh : Vicky Kurniawan

Waktu menunjukkan jam 5 pagi ketika suara adzan terdengar di telinga. Dalam mimpi serasa tidur di rumah dimana masjid hanya beda satu blok dan setiap kali adzan selalu terdengar sampai ke rumah. “Hoeyyy…sholat..sholat”, terdengar suara fals menganggu suara adzan yang merdu. Duh, siapa sih ini yang punya suara begitu menganggu. Tidak berhenti hanya disitu, tiba-tiba ada yang menggelitiki kaki dan ada tangan yang membuka paksa kelopak mata saya yang masih tertutup. Aduuhh, tentu saja saya hapal siapa yang suka membangunkan dengan cara yang tidak elegan. Siapa lagi kalau bukan travel mate saya tercinta. Duhhh, untung dia bawa ibunya kalau tidak pasti ada perang bantal pagi ini. Setelah membuka mata lebar-lebar baru sadar kalau suara adzan yang saya dengar berasal dari hape suami yang diletakkan persis di dekat telinga.

Akhirnya, ketemu sama Eiffel juga

Akhirnya, ketemu Eiffel juga

Hmm, suara adzan itu begitu mengingatkan saya akan rumah. Sejenak rasa rindu akan rumah dan ketiga permata hati saya tiba-tiba menyeruak. Biasanya paling lama saya pergi hanya 9 hari, 13 hari merupakan rekor tersendiri. Pergi paling lama dan tanpa menangis karena kangen rumah. Biasanya saya sangat sentimentil, lihat anak-anak kecil sedang mainan aja serasa hati ini pinginnya langsung pulang. Tapi rasanya hari ini rekor itu akan terpecahkan karena tiba-tiba ada setetes air mata yang jatuh ke pipi. Suami saya yang sudah siap-siap mengambil bantal untuk mulai perang melihat perubahan wajah saya. Dia menurunkan bantalnya dan berkata, “Udah, ayo mandi nanti kita ketinggalan kereta. Katanya pengen naik TGV seperti Jason Bourne”. Teringat akan TGV, semangat saya naik lagi. Ah, dibalik kecuekannya ternyata dia sensitif juga.

Perjalanan Jenewa – Paris

Sebenarnya ada dua pilihan kereta untuk perjalanan dari Jenewa ke Paris. Satu, memakai High Speed Train yang memakan waktu kurang lebih 3 jam (wajib reservasi) dan yang kedua, memakai regional train dengan durasi waktu kurang lebih 8 jam (tidak memerlukan reservasi). Sebenarnya pertimbangan memilih kereta cepat semata mata bukan karena Jason Bourne (ha ha ha alasan) tapi karena waktu yang terbataslah yang mengharuskan kami tiba di Paris dengan cepat. Dengan biaya reservasi sebesar CHF 32 perorang (sekitar Rp. 434.000) untuk kelas 2, sebenarnya kalau tidak terburu-buru sungguh ogah saya membayar biaya sebesar itu. Tapi demi waktu tercepat menuju ke Paris jadilah hari ini kami naik kereta cepat TGV yang identik dengan film Jason Bourne karena beberapa kali kereta ini muncul di filmnya.

Bagian Luar TGV Lyria

Bagian Luar TGV Lyria

Di Jenewa kereta ini berangkat dari stasiun Gare Cornavin. Jadi dari hostel kami jalan kaki ke pemberhentian tram Mole dan naik tram no. 15 jurusan Palates turun di stasiun Gare Cornavin. Kereta TGV yang melayani rute Swiss – Perancis adalah TGV Lyria yang memiliki 8 kali keberangkatan dari Jenewa – Paris dan akan berhenti sejenak di dua stasiun yaitu Bellegarde dan Bourg-en-Bresse. Beda dengan naik kereta biasa, TGV Lyria memiliki ruang tunggu khusus dengan pemeriksaan yang cukup ketat juga. Dulu sebelum Swiss bergabung dalam Schengen tentu tempat ini dipergunakan untuk pemeriksaan imigrasi. Walaupun sekarang pemeriksaan tersebut tidak lagi diperlukan aura keformalannya tetap terasa. Apalagi sebelum masuk pintu lorong menuju platform TGV penumpang harus mengvalidasi barcode di tiket TGV nya

Lorong menuju platform TGV Lyria (Photo by : dolphinairline.blogspot.co.id)

Lorong menuju platform TGV Lyria (Photo by : dolphinairline.blogspot.co.id)

TGV merupakan kependekan dari Train à Grande Vitesse, atau high-speed train dalam bahasa Inggris. Sebenarnya TGV ini merupakan proyek “panas hati” Perancis setelah Jepang memulai pembangunan kereta cepat Shinkansen (bullet train) pada tahun 1960. Untuk mencapai kecepatan tersebut semua bodi luar dan dalam dibuat dari bahan khusus yang ringan dan kuat dengan desain yang aerodinamis. Bagian moncong dibuat runcing dan bagian tubuh dibuat ramping sehingga dapat menembus udara dengan mudah. Setelah naik, interior dalamnya cukup lumayan juga walaupun kursi-kursinya tidak seluas dan selebar kelas 1. Ketika akan mendekati perbatasan, kondektur mulai memeriksa karcis dan paspor. Lupa kalau ini adalah perjalanan lintas negara, saya hanya menyiapkan tiketnya saja. Baru teringat ketika pak kondektur bilang “Passport please”. Waduh, kebetulan paspor saya tersimpan di kantong kaos dalam. Sengaja disimpan disitu untuk berjaga-jaga kalau ketiduran dan tidak ada yang menjaga tas, paling tidak paspor aman karena nempel di badan. Jadi terpaksa di bawah pelototan tajam pak kondektur saya meraba-raba dibawah jaket, sweater, kaos dan resleting baju dalam. Pikirnya, “Mau ngapain nih orang, dimintai paspor aja sampai buka-buka baju segala”. Mana pakai acara restleting macet segala. Akhirnya dengan perjuangan panjang dapat juga paspornya dikeluarkan. Setelah mengecek paspor-paspor kami, pak kondektur yang masih muda itu menyerahkannya kembali sambil mengucapkan “Terima Kasih”. Wow, kami bertiga sungguh terkejut dibuatnya. Baru kali ini selama hampir 13 hari perjalanan ada orang Eropa dengan sopannya mengucapkan terima kasih. Melihat keterkejutan kami, dia tertawa, “I’ve stayed in Indonesia for a month”, katanya. Ooo pantesan dia bisa bilang terima kasih. Sayang kami tidak sempat mengobrol lama karena dia harus menyelesaikan tugasnya.

Bagian dalam TGV Lyria Second Class

Bagian dalam TGV Lyria Second Class

Setelah hampir satu setengah jam berjalan menjauhi kota Jenewa, tanpa dinyana dan tanpa diduga kereta berhenti di tengah hutan “in the middle of nowhere”. Mulanya saya pikir ada pergantian jalur atau menunggu kereta lain yang akan lewat, tapi ditunggu hingga hampir lebih dari 30 menit kereta belum jalan juga. Kemudian ketika penumpang lain mulai bingung terdengar pengumuman dari pengeras suara yang payahnya diumumkan dalam bahasa Perancis. Dari nadanya mungkin seputar pengumuman mengapa kereta terlambat. Berusaha mencari tahu, akhirnya kami bertanya kepada penumpang lain. Tapi sayangnya mereka selalu menjawab dalam bahasa Perancis. Begitu juga ketika petugas pembersih lewat, walaupun ditanya dalam bahasa Inggris mereka tetap menjawab cepat dengan bahasa Perancis. Akhirnya ya sudahlah pasrah saja, kemungkinan besar penyebabnya adalah kerusakan teknis. Selang beberapa menit kemudian, kompensasi karena keterlambatan berupa snack untuk makan siang mulai dibagikan. Sebenarnya snack ini hanya dikhususkan untuk kelas 1 saja tapi karena keadaan darurat dibagikan juga untuk penumpang kelas 2. Lumayan juga buat pengganjal perut.

Breakfast untuk penumpang kelas 1 yang dibagikan (Photo by : dolphinairline.blogspot.co.id)

Breakfast untuk penumpang kelas 1 yang dibagikan (Photo by : dolphinairline.blogspot.co.id)

Sebenarnya menurut jadwal, kereta sudah harus masuk ke stasiun Gare De Lyon Paris sekitar pukul 10.49. Tapi sampai tenggat waktu itu terlewati keretanya belum berangkat juga. Akhirnya 3 jam kemudian kami berangkat, aduhh udah bayar mahal biar nyampainya cepet ternyata tertunda juga. Kami baru masuk stasiun sekitar pukul 2 siang. Benar-benar molor dari jadwal dan kalau dihitung-hitung waktunya sama seperti naik kereta biasa. Sebagai kompensasi keterlambatan itu TGV mengembalikan 50% dari biaya tiket, karena kami naiknya menggunakan Eurail Pass maka pengembalian biaya tersebut di serahkan dalam bentuk voucher SNCF yang tentu saja memiliki tanggal kedaluwarsa. Tidak enaknya lagi vouchernya tidak diberikan langsung tapi dikirim ke alamat rumah. Sebenarnya bagi kami tetap rugi juga karena toh tidak ada rencana untuk naik kereta SCNF lagi dalam waktu dekat. Terlepas dari pengalaman mogok tadi, naik kereta ini menjadi salah satu pengalaman yang menyenangkan karena banyaknya pemandangan indah sepanjang perjalanan Jenewa – Paris. Pemandangannya bervariasi antara gunung, danau dan hutan. Mungkin yang paling mengesankan adalah saat kereta melewati the Cize – Bolozon viaduct diatas Ain river. Bagian atas Viaduct ini memang dibuka khusus bagi kereta TGV yang melayani rute Jenewa – Paris.

Pemandangan Viaduct ketika kereta TGV melintas diatasnya (Photo by : David Gubler)

Pemandangan Viaduct ketika kereta TGV melintas diatasnya (Photo by : David Gubler)

Setelah pulih dari kerusakan teknis, kereta ini melaju kembali dengan kecepatan 300 km perjam melewati jalan-jalan dan pemandangan yang cukup indah sebelum melambat kembali ketika mendekati Île-de-France (Greater Paris). Saya pikir keretanya akan mogok lagi, tapi ternyata dia melambat karena harus berbagi jalur dengan kereta intercity dan kereta komuter RER.

Paris Gare de Lyon

Kalau pernah nonton film The Tourist atau Mr. Bean’s Holiday pasti teringat sekilas penampakan stasiun Gare de Lyon. Stasiun yang mulanya dibangun untuk World Expo tahun 1900 ini ternyata bertahan lama dan terus berfungsi sampai sekarang. Tanda yang paling menonjol dari stasiun ini adalah menara jam yang dibangun menyerupai ikon London yang paling terkenal yaitu Big Ben. Sebagai salah satu dari 6 stasiun kereta terbesar di Paris, stasiun ini menangani puluhan juta penumpang tiap harinya hingga menjadi stasiun kereta ketiga tersibuk di seluruh Perancis dan salah satu yang tersibuk di Eropa. Dinamakan de Lyon sesuai nama kota yang menjadi lokasi stasiun tersebut.

Bagian luar dan dalam Gare de Lyon

Bagian luar dan dalam Gare de Lyon

Salah satu sebab yang menjadikan tempat ini menjadi stasiun tersibuk adalah kereta TGV dari Swiss, Jerman, Italia dan Spanyol yang seringnya berakhir disini. Belum lagi kereta regional, RER dan metro yang stasiunnya juga berlokasi disini. Jadi tidaklah mengherankan ketika tiba, saya sempat kebingungan mencari kantor pemesanan tiket karena suasananya yang begitu sibuk dan padat. Kami ingin melakukan reservasi tiket Paris – Luxembourg yang rencananya akan berangkat dua hari kemudian. Ternyata Ticketing offices nya berada di Hall 3 dan satu lagi di “galerie des fresques” yang terletak diantara Hall 1 dan Hall 2. Berikut lay out peta stasiun Gare de Lyon.

plan-gare-de-lyon

Sayangnya saat reservasi, kami kehabisan tiket kereta langsung Paris – Luxembourg. Jadi harus berhenti dulu di Nancy dan ganti kereta ke Luxembourg. Biaya reservasi tiket kereta kelas 1 dari Paris – Luxembourg sebesar 9 Euro per orang yang akan berangkat dari stasiun Paris Gare de l’est. Setelah urusan tiket beres, kami berjalan menuju stasiun Metro Gare de Lyon dengan mengikuti terus penunjuk jalan bertuliskan M atau RER.

Transportasi di Paris

Pertama kali mengamati peta metro di Paris, mata rasanya langsung buram. Sebagai salah satu sistim metro tertua (jalur metro ini mulai beroperasi pada tahun 1900) jalurnya sudah sangat berkembang meliputi 300 stasiun yang menghubungkan 300 km jalur kereta di Central Paris dan Ile de France. Ada dua jenis kereta yang melayani kota ini yaitu Metro dan RER. Paris Metropolitan Tramway (Metro) memiliki 16 jalur yang biasanya ditunjukkan dengan angka dan hanya melayani area Central Paris saja. Saudaranya Regional Express Network (RER) memiliki 5 jalur yang diidentifikasikan dengan huruf dan melayani beberapa bagian Central Paris dan daerah Ile de France. Tapi kebanyakan Metro dan RER menempati stasiun yang sama jadi kalau pindah jalur tidak perlu keluar dari stasiun.

Peta Metro dan RER di Paris

Peta Metro dan RER di Paris

Tergantung pada lama kunjungan dan area yang akan didatangi ada berbagai macam pass dan tiket yang bisa digunakan.

  • Bila waktu kunjungannya hanya sehari, jaraknya hanya di Central Paris dan frekuensi naik kereta hanya 1-3 kali sehari maka pilih Mobilis atau Ticket t+.
  • Bila waktu kunjungannya berkisar 2-3 hari, tiba di Paris pada akhir minggu (Jumat sampai Minggu), frekuensi naik kereta lebih dari 4 kali dalam sehari dan meliputi area di luar Central Paris maka bisa memakai Paris Visite pass
  • Bila waktu kunjungannya lebih dari 3 hari, tiba pada hari Senin sampai Kamis frekuensi naik kereta lebih dari 4 kali dalam sehari dan meliputi area di luar Central Paris maka bisa memakai Naviqo decouverte pass

Terlepas dari beberapa pass tersebut diatas, saya memutuskan untuk memilih Ticket t+ dengan pertimbangan kebanyakan tujuan wisata di Paris yang akan saya datangi dapat dijangkau dengan jalan kaki dan tidak banyak naik kereta. Ticket t- ini berlaku untuk :

  • Paris Metro (subway)
  • Paris RER Train (dalam Zone 1-2)
  • Tramways
  • RATP Paris city bus
  • Noctilien buses (night bus)
  • Optile buses (Paris suburban bus)
  • Montmartre Cable car (Funiculaire de Montmartre)

Lebih jauh tentang kereta di Paris dan peta metro terbaru dapat didownload di website parisbytrain.com. Sesampai di stasiun Metro Gare de Lyon, saya segera menuju Vending Machine untuk membeli Ticket t+ sebanyak 2 pack. Tiap pack berisi 10 tiket yang disebut Carnet dan langsung dibagi untuk kita bertiga. Harga satu carnet per Mei 2014 sebesar 13.7 Euro (per 1 Agustus 2016 menjadi 14.5 Euro). Tiap 1 Ticket t+ dapat digunakan berpindah pindah (dari Metro ke RER, atau antar 2 bus RATP) asal perjalanannya tidak melampau 1.5 jam dari pertama kali pemakaian. Kalau pindah dari jalur Metro yang satu ke jalur Metro yang lain asal tidak keluar dari stasiun pun tiket ini masih bisa terus digunakan.

Ticket t+(atas) dan Vending Machinenya (bawah)

Ticket t+(atas) dan Vending Machinenya (bawah)

Dengan tiket sudah ditangan, mulailah kami berkenalan dengan metro di Paris. Pertama kali masuk ke gerbang tiketnya, sudah kaget aja karena ada beberapa penumpang yang melompati pagar karena kemungkinan besar mereka tidak punya tiket. Ada juga yang merosot lewat bawah palang karena palangnya terlalu tinggi. Wow, baru kali ini saya melihat di luar negeri ada orang menyerobot masuk gerbang subway. Saat masuk ke lorong-lorongnya langsung sreeengg tercium bau pesing. Perasaan di dekat dekat situ tidak ada kamar mandi tapi kok baunya pesing banget. Ternyata teka tekinya terjawab ketika di belokan berikutnya saya melihat salah satu penumpang yang menyerobot tadi berdiri dan kencing di pojokan. Ihhh makanya lorongnya berbau pesing.

Lorong-lorong dan tangga-tangga dalam stasiun Metro Paris

Lorong-lorong dan tangga-tangga dalam stasiun Metro Paris

Selain bau pesing, salah satu yang tidak tertahankan dari lorong Metro di Paris adalah jalannya yang naik turun dan berkelok kelok diluar nalar. Sungguh sulit bagi orang tua dengan keadaan kaki yang tidak prima seperti ibu saya. Sulit juga bagi penumpang yang membawa koper besar dan berat karena dijamin ambeien pasti kumat angkat-angkat koper naik turun melewati lorong-lorong itu.

Akomodasi Di Paris

Kereta dari Paris ke Luxembourg yang akan menjadi destinasi kami berikutnya akan berangkat dari stasiun kereta Gare de l’east yang terletak di sebelah timur Paris. Jadi saya memilih menginap di seputaran Gare de l’east untuk memudahkan naik kereta ke Luxembourg. Pilihan saya jatuh pada Hotel Lorraine yang jaraknya hanya selemparan batu dari stasiun Gare de l’east. Dari jendela saja udah kelihatan pintu gerbang stasiun itu. Hotel ini saya pesan lewat website Hostelworld dengan rate 23 Euro (Rp. 378.500) per orang per malam untuk 3 bed private shared bathroom.

Pemandangan dari jendela hotel. Bangunan di pojok kiri atas adalah stasiun Gare de l'east. Sedangkan yang bawah halte bis dan metro di depan hotel

Pemandangan dari jendela hotel. Bangunan di pojok kiri atas adalah stasiun Gare de l’east. Sedangkan yang bawah halte bis dan metro di depan hotel

Keuntungan hotel ini antara lain : dekat dengan stasiun kereta Gare de l’east, dekat dengan supermarket dan restoran halal, dekat dengan stasiun metro dan halte bis, tersedia lift, handuk dan toiletries. Kelemahannya : kamar dan kamar mandinya sangat kecil bahkan saking kecilnya sampai saya kira lemari pakaian :). Pas dibuka loh ternyata kamar mandi. Untuk fasilitas BAB ada WC bersama di ujung ruangan. Selain kamar dan kamar mandinya yang kecil, liftnya juga kecil dengan model kuno. Ada kejadian lucu saat naik lift, kebetulan saya dan ibu yang pertama naik lift dengan dua backpack dan dua koper. Begitu masuk, kita berdiri berjajar udah gak cukup. Akhirnya diakal berdiri saling berhadapan, eh masih nggak cukup juga. Dicoba berdiri saling membelakangi dengan dua koper dan dua backpack diantara kita ternyata cukup. Tapi masalahya, tangannya tidak ada yang cukup panjang untuk memencet tombol lift :). Jadi akhirnya saya harus mengecilkan dan memepetkan badan supaya tangan ibu bisa memencet lift. Benar-benar memorable moment deh. Salah satu hal yang mengherankan dari hotel ini adalah tidak adanya colokan di kamar. Jadi kalau mau ngecharge gadget mesti keluar ke koridor atau sekalian duduk-duduk di WC karena di dekat situ ada colokan. Doh, betul-betul menyiksa 🙂 .

Kamar hotel kami (atas), Pintu sebelah kiri adalah pintu menuju kamar mandi (bawah)

Kamar hotel kami (atas), Pintu sebelah kiri adalah pintu menuju kamar mandi (bawah)

rute-lorraine

lorraine-2

Peta Rute Metro dari Gare de Lyon ke Hotel

Perjalanan dari stasiun Gare de Lyon menuju hotel menghabiskan 1 tiket carnet per orang. Setelah check in dan istirahat sejenak, kami mulai berencana mengeskplore kota Paris. Sebenarnya kalau kereta TGV tidak terlambat rencana awal adalah menjelajah Basilique Du Sacre Coeur atau Montmartre. Terlambat hampir 3 jam dari rencana semula akhirnya kami sepakat melanjutkan destinasi berikutnya yaitu mengunjungi gereja paling terkenal di Paris, Cathedrale Notre Dame.

Cathedrale Notre Dame de Paris

Berapa banyak gereja Notre Dame di dunia ini?. Ternyata banyak, selain di Paris ada juga gereja Notre Dame di Luxembourg, di Belgia dan satu lagi di Kanada. Tapi bila merujuk pada Notre Dame, orang akan langsung mengasosiasikan pada Gereja Notre Dame di Paris. Bagi saya nama gereja ini begitu akrab karena waktu kecil saya suka membaca novel Victor Hugo yang berjudul “The Hunchback Of Notre Dame”. Settingnya memang berlatar belakang gereja Notre Dame Paris pada masa pemerintahan Louis ke XI. Dari hotel transportasi menuju gereja dapat dilihat pada gambar berikut :

notre-dame

Cathedrale Notre Dame de Paris terletak di Ile De La Cite, salah satu dari dua pulau kecil yang terletak di tengah sungai Seine. Bisa dibilang gereja ini terletak tepat di jantung kota Paris karena semua jarak di Paris diukur dari depan Place Du Parvis Notre Dame, sebuah alun-alun di depan gereja Notre Dame. Persis di tengah lantainya terdapat sebuah bintang perak yang menandai Paris 0 km yang disebut point zero des routes de France (Paris Point Zero). Jadi yang suka berfoto di kilometer 0 sebuah kota bisa menambah koleksi fotonya di sini.

Paris Point of Zero (kanan) dan Letaknya di depan pintu gereja Notre Dame (Kiri)

Paris Point of Zero (kanan) dan Letaknya di depan pintu gereja Notre Dame (Kiri)

Kebetulan di alun-alun depan gereja sedang berlangsung even Paris Bread Festivals (Fete Du Pain) yang diadakan setiap tanggal 16 Mei. Even ini biasanya berlangsung selama seminggu untuk menghormati Saint Honoré’s – patron saint untuk para bakers. Festivalnya sendiri diadakan di sebuah tenda raksasa yang dipenuhi dengan para bakers yang sibuk membuat roti dan langsung menjualnya. Jadi roti yang dibuat benar-benar segar dan fresh from the oven. Dapat dibayangkan betapa harumnya tenda itu karena dipenuhi aroma beraneka macam roti yang baru dipanggang. Kebanyakan yang dijual disitu adalah roti-roti tradisional Perancis seperti Baquette, Brioches dan Croissant. Selain kue juga diadakan Cheese Contest yang menyajikan beraneka ragam jenis keju sebagai teman pendamping makan roti. Menariknya lagi kita bisa melihat para bakers tersebut beraksi membuat roti-roti yang lezat tersebut.  Akhirnya tidak tahan dengan aroma yang menggugah selera saya membeli satu batang roti keras atau Baquette. Berbeda dengan baquette yang sudah dingin, baquette hangat yang baru keluar dari oven ternyata tidak terlalu keras tetapi renyah, hangat dan empuk. Hmm, padahal yang kita beli hanya Baquette tawar tapi rasa dan baunya begitu tak tertahankan 🙂 .

Suasana Paris Bread Festival

Suasana Paris Bread Festival

Setelah perut kenyang dan kaki sudah beristirahat, mulailah kami berdiri di antrian yang panjang untuk masuk ke dalam gereja. Gereja Notre Dame memiliki tiga pintu di bagian depan. Biasanya pengunjung akan masuk melalui pintu paling kanan yaitu Saint Anne Portal dan keluar lewat pintu paling kiri, Portal of the Virgin. Sebelum masuk kita sudah dimanjakan dengan pahatan berbagai patung yang memenuhi bagian atas dan bagian samping pintunya. Begitu masuk kita akan dibuat lebih kagum lagi dengan keadaan dalamnya. Jelas terlihat bahwa gereja ini bukan gereja biasa. Keindahan ornamen dan hiasannya benar-benar memukau. Tidak mengherankan kalau katedral ini disebut sebut sebagai contoh gereja dengan desain French – Gothic terbaik dan masuk juga dalam jajaran gereja termegah dan terindah di dunia.

Bagian depan gereja Notre Dame dan ketiga pintunya

Bagian depan gereja Notre Dame dan ketiga pintunya

Beberapa ornamen yang sangat terkemuka di gereja ini antara lain jendela kaca yang disebut Rose Window. Jendela kaca yang didominasi warna ungu ini berbentuk bunga mawar besar yang di dalam kelopaknya menggambarkan cerita-cerita dalam Injil. Ada 3 buah Rose Window dan salah satunya terletak diatas satu dari beberapa organ terbesar di dunia yaitu the Notre-Dame organ. Selain Rose Window beberapa ikon Notre Dame yang sangat terkenal adalah Emmanuel Bell, patung  gargoyles dan chimera-nya. Sayangnya untuk melihat ketiga benda itu kita harus naik ke menaranya yang memiliki 387 anak tangga dan tanpa elevator. Pintu masuk ke menara ini terletak di bagian kiri luar bangunan yang menghadap ke jalan Rue du Cloitre Notre Dame.

dscn2119-crop-horz

Interior Dalam Gereja Notre Dame (atas), Rose Window (Kiri Bawah)

Dipenuhi dengan berbagai harta dan karya seni, Notre Dame tidak terlepas dari penjarahan dan perusakan. Aksi perusakan yang paling parah terjadi pada masa revolusi Perancis dimana fungsinya beralih menjadi pusat ibadah dari berbagai aliran kepercayaan. Saat itu banyak harta dan pusaka gereja dihancurkan. Beberapa patung tokoh Injil yang mungkin salah dikira sebagai patung raja Perancis dipenggal kepalanya Selain itu banyak patung-patung Bunda Maria diganti dengan patung Lady Liberty. Bukan itu saja, beberapa tahun kemudian gereja ini bahkan beralih fungsi menjadi gudang tempat penyimpanan makanan.

Salah satu patung Gargoyles di menara Notre Dame (atas), Organ Notre Dame (bawah). Photo by : pinterest.com

Salah satu patung Gargoyles di menara Notre Dame (atas), Organ Notre Dame (bawah). Photo by : pinterest.com

Selain Revolusi Perancis, Perang Dunia II juga membawa berbagai kerusakan. Beberapa jendela berkaca hancur tertembus peluru sehingga dengan renovasipun pola kunonya tidak dapat diganti. Untung saja mulai tahun 1991 berbagai program maintenance dan restorasi mulai dicanangkan secara besar besaran sehingga sedikit demi sedikit kejayaan dan kemegahan Gereja Notre Dame mulai terlihat kembali. Bila ingin mengetahui lebih detail tentang sejarah gereja bisa mengikuti tur berbahasa Inggris gratis yang diadakan tiap Rabu, Kamis dan Sabtu mulai jam 2 siang. Biaya masuknya gratis kecuali bila ingin memanjat ke menaranya atau melihat lihat koleksi yang berada di ruang Treasury. Berbagai informasi seputar gereja ini dapat dilihat di website resminya Notredame Paris.

Paris Walking Tour 1

Meninggalkan gereja Notre Dame, mulailah perjalanan kami menjelajah kota Paris dengan berjalan kaki. Rute walking tour saya kali ini cukup jauh juga. Berjarak sekitar 8,6 km dan memakan waktu kurang lebih 5 jam karena kita banyak berhenti mengingat kondisi ibu yang lelah. Rute ini berawal di Gereja Notre Dame dan berakhir di ikon kota Paris Menara Eiffel. Berikut peta Walking Tour saya :

Beberapa titik yang bisa dijadikan sebagai tempat istirahat dan panduan dasar dalam walking tour ini antara lain :

1. Bouquinistes di Quai du Louvre dan Quai de la Megisserie

Dari gereja Notre Dame kami berjalan menyeberangi jembatan Pont au Change dan menyusuri Quai de la Megisserie dan Quai du Lovre. Menariknya di sepanjang jalan ini terdapat kios-kios kecil berwarna hijau yang kebanyakan menjual barang-barang vintage seperti komik, buku-buku, poster, koin dan koleksi perangko lama. Melihat benda-benda yang dijual dalam kios-kios ini serasa menyusuri kota Paris jaman dahulu kala karena baik kios dan dagangannya sangat mendukung suasana. Bouquinistes, begitu mereka biasa disebut sudah mulai berjualan disitu mulai abad pertengahan. Bermula dari sebuah kapal penuh muatan buku yang tenggelam di sungai Seine. Semua awaknya berlomba-lomba menyelamatkan buku-buku tersebut dan menjual yang bisa terselamatkan di pinggir sungai Seine.

Jajaran kios Bouquinistas di sepanjang sungai Seine

Jajaran kios Bouquinistas di sepanjang sungai Seine

Selain menjual buku-buku murah, jaman dulu para bouquinistes ini juga berperan besar dalam revolusi Perancis karena mereka juga menjual pamflet dan poster antri pemerintah. Mereka juga berperan besar dalam perang Dunia II dimana mereka membantu agen rahasia Perancis menyusupkan kode-kode rahasia dalam buku-buku mereka. Sampai sekarang kurang lebih terdapat 200  bouquinistes yang berjualan di sepanjang Sungai Seine. Mereka tidak perlu membayar pajak kepada pemerintah walaupun untuk berjualan disitu tetap harus memiliki ijin. Namun demikian ada beberapa kewajiban yang harus dipenuhi antara lain : tempat berjualannya harus seragam yaitu menggunakan kotak besi berwarna hijau yang bila dibuka berubah menjadi kios kecil, lokasi terbaik diberikan kepada penjual senior, membayar sewa kurang dari €100 per tahun untuk batu yang dijadikan sandaran kotaknya dan harus buka paling tidak 4 hari dalam seminggu. Jadi kalau berhenti disini ingatlah bahwa mereka bukan penjual buku biasa, mereka adalah bagian dari sejarah yang berusaha terus dilestarikan oleh Paris.

2. Musee du Louvre

Dari Quai de Louvre kami berbelok menuju Rue de Louvre dan masuk melalui pintu gerbang Colonnade de Perrault menuju bagian dalam halaman Louvre Palace yang disebut Cour Caree. Bangunan yang mengitari halaman dalam ini juga merupakan bagian dari museum yang disebut Sully Wing. Disini tersimpan patung dewi Yunani yang paling terkenal Venus de Milo.

Bagian Depan Colonnade Perrault

Bagian Depan Colonnade Perrault

Saat melintasi halaman ini kami didatangi oleh pedagang asongan yang menawarkan souvenir. Mula-mula dia menawarkan dalam bahasa Inggris “One Euro for 5” , katanya sambil menunjukkan miniatur menara Eiffel. Kemudian ketika dia tahu kalau ibu saya berkerudung dia langsung bilang, “Satu Euro Lima”. Ha ha ha kemungkinan besar dia sering ketemu turis Indonesia atau Malaysia di kawasan ini. Sebenarnya kaget juga waktu didatangi pedagang asongan gini, selama 13 hari menjelajah Eropa baru kali ini saya menjumpai pedagang asongan. Melihat kami agak tertarik, diapun menggelar dagangannya di tanah. Tapi baru hendak menawar, tiba-tiba dia mengangkat buntalannya dan lari secepat kilat melintasi halaman. Saya bingung juga baru mau dilihat kok udah lari padahal perasaan tidak ada apa-apa disitu. Beberapa detik kemudian barulah terjawab kenapa tiba-tiba dia kabur. Ternyata dari kejauhan terlihat polisi sedang patroli di sekitar tempat itu. Wah ternyata mata pedagang asongan itu tajam juga. Polisi belum kelihatan dia udah tau duluan 🙂 .

Penjual Souvenir di seputaran Eiffel dan museum Louvre

Penjual Souvenir di seputaran Eiffel dan museum Louvre

Dari Cour Carree, kami berjalan terus melewati gerbang berikutnya yang mengarah pada Cour Napoleon. Di halaman ini terdapat Piramida dari kaca yang menjadi pintu masuk utama museum  Louvre. Kami berhenti sejenak disini untuk beristirahat dan mengambil beberapa foto. Yah, kali ini saya memang hanya dapat mengagumi keindahan luarnya saja. Saya sengaja tidak masuk kedalam karena menurut pendapat saya percuma beli tiket masuknya yang mahal kalau hanya menghabiskan waktu satu atau dua jam disitu. Louvre bukan hanya museum, tempat itu adalah gudang harta dari berbagai karya seni yang dikumpulkan oleh pemerintah Perancis sejak 4 abad yang lalu. Sejak dibuka pada abad ke 17 koleksinya sudah berkembang pesat menjadi puluhan ribu obyek. Kabarnya dibutuhkan waktu 9 bulan penuh bila ingin memandangi satu persatu koleksi disana.

Pintu Masuk Museum Louvre (Photo by : Kaizokubg)

Pintu Masuk Museum Louvre (Photo by : Kaizokubg)

Museum Louvre ini terbagi menjadi 4 bagian : Sully, Denon, Richelieu Wings dan The Hall Napoleon. Saking luasnya dan banyaknya koleksi museum ini, buku panduan perjalanan Lonely Planet sampai memberikan saran berikut. Bila waktumu hanya sedikit dan ingin tetap masuk ke museum ini, pilihlah beberapa masterpiece dari masing-masing bagian-bagian seperti lukisan Mona Lisa dan Virgin & Child yang berada di Denon Wings atau patung Venus de Milo yang berada di Sully Wing and pretend that the rest is in another museum somewhere across the town 🙂 .

3. Jardin des Tuileries

Meninggalkan piramida kaca museum Louvre kami berjalan terus melewati gerbang Place du Carrousel dan memasuki kompleks taman Jardin des Tuileries. Taman seluas 23 hektar yang terletak antara Museum Louvre dan Place de la Concorde ini masuk dalam UNESCO World Heritage List sejak 1991. Tidak mengherankan karena selain berfungsi sebagai taman tempat ini juga menjadi museum terbuka karena berisi 200 koleksi patung dan vas dari abad ke 17 sampai 21 yang dipamerkan diantara tanaman-tanamannya.

Salah satu sudut Jardin des Tuileries

Salah satu sudut Jardin des Tuileries

Nama Tuileries sendiri diambil dari nama Tile yang berarti keramik karena dulu lokasinya berada ditengah-tengah pusat pengrajin keramik. Taman ini dibangun oleh Ratu Catherine yang menginginkan taman bergaya Itali didekat istananya. Walaupun seiring dengan perkembangan pembangunannya, taman ini akhirnya bergaya Perancis juga. Fungsinya sebagai taman pribadi akhirnya berubah ketika pada abd ke 17 taman ini mulai dibuka untuk umum hingga sekarang.

4. Place de la Concorde

Berjalan lurus melewati Jardin des Tuileries sampailah kita ke pintu gerbang yang menghadap sebuah bundaran dengan tugu batu di tengahnya. Bundaran ini bernama Place de la Concorde dan tugu batu itu disebut The Obelisk of Luxor. Obelisk berusia 3300 tahun ini dulunya berada di Temple of Ramses di Thebes (sekarang bernama Luxor) sebelum dihadiahkan kepada Perancis pada abad ke 18 oleh penguasa Mesir saat itu. Sebenarnya ada dua obelisk yang dihadiahkan tapi yang satu masih tertinggal di Luxor karena susahnya tehnologi untuk memindahkannya pada masa itu. Akhirnya pada tahun 1990 President Perancis Francois Mitterand mengembalikan lagi Obelisk kedua yang belum sempat dipindahkan itu kepada Mesir. Bila ingin tahu bagaimana cara mereka memindahkan Obelisk ini dari Luxor, dibagian bawah pedestal atau tumpuannya tergambar diagram mesin yang digunakan. Membayangkan susahnya memindahkan batu granit utuh seberat 280 ton dari Mesir ke Perancis pada abad ke 18 jadi “ngeh” juga kenapa obelisk satunya tidak jadi dikirim juga.

Diagram mesin pemindah Obelisk (atas), Place de la Concorde (bawah)

Diagram mesin pemindah Obelisk (atas), Place de la Concorde (bawah)

Di tempat ini pula pada masa revolusi Perancis diletakkan Guilotine untuk memenggal kepala raja Louis XVI. Dua tahun kemudian tepat di dekat gerbang Jardin des Tuileries dibangun juga Guilotine untuk memenggal 1343 orang termasuk ratu Perancis Marie-Antoinette. Untuk menghilangkan kengerian lapangan ini maka pada abad ke 18, pemerintah Perancis mengganti nama alun-alun ini dari Place de la Revolution menjadi Place de la Concorde. Bukan itu saja, pemerintah juga menambahkan beberapa patung dan dua air mancur seperti yang kita lihat sekarang. Ada delapan patung yang ditambahkan di masing masing sisinya yang menggambarkan 8 kota terbesar di Perancis yaitu Lille, Strasbourg, Lyon, Marseille, Bordeaux, Nantes, Brest dan Rouen. Di dekat patung Brest inilah dulu pisau Guilotine diletakkan.

Skema Place de la Concorde (Photo by : frenchmoments.eu)

Skema Place de la Concorde (Photo by : frenchmoments.eu)

Sesampai di tempat ini saya melihat beberapa jajaran mobil mewah terparkir rapi di pinggir jalan. Mulanya saya kira ada event komunitas mobil mewah ketika tiba-tiba ada yang menawari untuk naik. Ternyata mobil-mobil mewah tersebut memang berada disitu untuk disewakan. Yang banyak ditawarkan adalah jenis Ferrari California atau Lamborghi Gallardo. Biaya sewanya 89 Euro untuk masa naik 20 menit. Kita bisa menyetir sendiri atau minta disupirkan. Tentu saja saat menyewa kita akan ditemani supir yang sekaligus bertindak sebagai pemandu untuk menunjukkan kepada kita jalan-jalan mana yang bisa dilewati mobil berkecepatan tinggi ini. Terus terang kalau punya uang lebih bisa dicoba nih pengalaman naik mobil mewah siapa tahu bisa ketularan dan punya sendiri 🙂 .

Salah satu mobil yang disewakan (Photo by : Andi1510)

Salah satu mobil yang disewakan (Photo by : Andi1510)

Saat menginjak jalan-jalan disini, saya jadi sangat tertarik melihat tekstur jalan berbatunya masih tetap dipertahankan. Padahal sebagai alun-alun utama kota tentu banyak sekali kendaraan-kendaraan yang melintasi tempat ini setiap hari. Dari Place de la Concorde kami berjalan terus menuju jalan paling terkenal di dunia Avenue des Champs-Elysees.

5. Avenue des Champs-Elysees

Jalan sepanjang 2 km yang membentang dari Place de la Concorde sampai Arc de Triomphe ini bisa digambarkan sebagai jalan terindah di dunia (mungkin ini versi shopaholic kali ya). Seperti juga menara Eiffel, jalan ini merupakan simbol kota Paris. Sebenarnya jalan ini terbagi menjadi dua. Bagian bawah yang dekat dengan Place de la Concorde berupa taman yang disebut Jardin des Champs-Elysees. Di dalam taman ini terdapat beberapa museum seperti Grand Palais, Petit Palais dan Theatre Marigny. Di kawasan ini juga terdapat Elysee Palace yang menjadi kediaman resmi presiden Perancis.

Salah satu sudut Jardin Champs-Elysees

Salah satu sudut Jardin Champs-Elysees

Dipisahkan oleh semacam bundaran yang disebut Rond Point Champs-Élysées, bagian atas kawasan ini dipenuhi oleh berbagai restoran terkenal kelas dunia (l’Atelier Renault, Ledoyen), butik-butik mewah (Louis Vuitton, Mont-Blanc, Guerlain, Ferrari ), flagship stores (Banana Republic, Abercrombie, Sephora) dan nightclubs.  Selain berbagai macam toko tempat ini juga menjadi pusat berbagai event nasional seperti parade militer the Bastille Day atau sebagai tempat finish acara-acara olahraga terkenal seperti Tour de France. Jalan ini berakhir di tugu Arc de Triomphe yang dibangun untuk merayakan kemenangan Napoleon Bonaparte.

Avenue des Champs Elysees

Avenue des Champs Elysees

Bila melihat jajaran toko disini, orang mungkin tidak percaya bahwa komplek perdagangan ini sudah dimulai sejak abad ke 16. Mulai abad ke 18, para pedagang di sepanjang jalan Champs Elysees mendirikan sebuah asosiasi yang sekarang bernama Comité Champs-Élysées dan menjadi asosiasi tertua di dunia. Tujuan dari asosiasi ini adalah mengatur berbagai hal yang berhubungan dengan kegiatan perdagangan di kawasan ini. Termasuk melobi pemerintah untuk memperpanjang jam perdagangan atau pelaksanaan event khusus tertentu. Mereka juga berhak memberikan opini dan masukan kepada pemerintah boleh tidaknya mengijinkan penerimaan pedagang baru yang luas lantainya melebihi 1000 meter persegi. Kabarnya mereka pernah menolak pembukaan retail baju H&M dari Swedia walaupun dua tahun kemudian bisa juga H&M membuka tokonya disitu. Karena sewa bangunan yang sangat tinggi, sangat jarang orang tinggal di kawasan ini. Kebanyakan bangunannya disewakan untuk kantor. Selain itu harga sewa di bagian utara lebih tinggi karena sinar matahari jatuh lebih baik dibanding sisi selatan.

6. Arc de Triomphe de l’Etoile

Berjalan lurus melewati Avenue des Champ Elysees, sampailah kita ke salah satu bundaran tersibuk di dunia, Paris Triumphal Arch. Disebut tersibuk karena 12 avenue besar semua berakhir disini. Jadi untuk menuju kesini jangan coba-coba menyeberang dari salah satu avenuenya. Untuk menuju kesini ada terowongan bawah tanah yang terletak di Avenue de la Grande Armee dan Champs Elysees. Arc de Triomphe dibangun oleh Napoleon Bonaparte sebagai janji kepada prajuritnya yang saat itu pergi berperang bahwa mereka akan pulang ke rumah melalui “archs of triumph”. Tapi janji itu tidak terpenuhi karena pembangunannya terhenti ketika Napoleon mulai kalah dalam setiap pertempuran dan akhirnya menjadi pihak yang kalah dalam keseluruhan perang. Akhirnya pembangunan ini diselesaikan oleh King Louis-Philippe I dan dirampungkan setelah Napoleon Bonaparte meninggal dunia.

Arc de Triomphe

Arc de Triomphe

Dibawah monumen yang usianya bahkan lebih tua daripada menara Eiffel ini terdapat kuburan tentara Perancis tak dikenal yang meninggal selama perang Dunia I. Ide untuk menguburkan tentara tak dikenal disini justru datang setelah perang dunia I usai. Saat itu banyak sekali prajurit Perancis yang gugur tanpa dikenali identitasnya. Jadi untuk memberikan penghormatan kepada prajurit-prajurit tersebut maka dipilihlah 6 jenazah prajurit tak dikenal yang akan dikuburkan di bawah Arc de Triomphe. Di makam tersebut dinyalakan api tiap pukul 06.30 malam yang akhirnya memberikan ide kepada Jacqueline Kennedy untuk meletakkan api serupa di makam suaminya John F. Kennedy.

Tomb of The Unknown Soldier

Tomb of The Unknown Soldier

Bila ingin memanjat sampai bagian atasnya, kita bisa membeli tiket masuk sebesar Euro 8 dan menaiki tangga setinggi 50 meter dengan 284 anak tangga yang melingkar. Dari atas kita dapat melihat pemandangan ke 12 Avenue yang kebanyakan dinamai menurut nama jendral-jendral Napoleon yang banyak memberikan kemenangan dalam perangnya. Sepertinya naik kesini paling cocok dilakukan saat Bastille Day tanggal 14 Juli. Saat itu parade Bastille Day akan berbaris sepanjang jalan Champs Elysees sehingga menjadikannya obyek yang menarik untuk difoto.

Salah satu pemandangan dari atas Arc de Triomphe (Photo by : TravelingCanucks.com)

Salah satu pemandangan dari atas Arc de Triomphe (Photo by : TravelingCanucks.com)

Meninggalkan Arc de Triomphe, kami menyusuri Avenue d’lena dan menyeberang melalui jembatan Passerelle Debilly menuju destinasi terakhir kami menara Eiffel.

7. Eiffel Tower

Pertama kali melihat menara Eiffel dari jembatan Passerelle Debilly serasa tidak percaya kalau akhirnya sampai juga disini. Pada hari ke 13 akhirnya saya bertemu dengan salah satu landmark paling terkenal di Eropa, menara Eiffel. Menaranya ternyata tidak setinggi dan sebesar bayangan saya semula. Dengan tinggi sekitar 324 meter beserta antena TV yang berada di ujungnya, tinggi menara ini bisa berkurang atau bertambah sekitar 15 cm tergantung dari kondisi cuaca. Hal ini disebabkan konstruksinya yang berbahan dasar besi yang bisa melar saat cuaca panas dan mengkerut saat cuaca dingin.

Bersama ibu di kaki menara Eiffel. Senyum di wajahnya begitu tak ternilai.

Bersama ibu di kaki menara Eiffel. Senyum di wajahnya begitu tak ternilai.

Melihat kepopulerannya sekarang, orang mungkin tidak mengira bahwa pembangunan menara ini dulunya banyak menuai pro dan kontra bahkan beberapa kali terancam akan dibongkar dan diruntuhkan. Mulanya menara ini dibangun sebagai gerbang masuk event Exposition Universelle (World’s Fair) untuk menandai peringatan 100 tahun Revolusi Perancis. Setelah eventnya selesai menara ini akhirnya tetap dipertahankan walaupun beberapa golongan masyarakat menentangnya. Untuk menyelamatkannya dari keruntuhan, pemerintah kota Paris menjadikannya sebagai menara TV dan radio yang banyak menangkap siaran musuh. Saat Perang Dunia II datang pula ancaman dari Hittler untuk meruntuhkannya. Sampai-sampai beberapa pejuang Perancis memutuskan kabel liftnya supaya tentara Nazi harus mendaki tangga untuk sampai ke puncaknya. Selama 41 tahun menara Eiffel memegang rekor sebagai bangunan tertinggi yang dibikin manusia sebelum akhirnya dilampaui oleh Chrysler Building di New York City. Tidak mau kalah. akhirnya dipasang antena TV dan radio di puncaknya menjadikan menara ini lebih tinggi daripada Chrysler Building. Tapi rekor ini kemudian terpecahkan dengan dibangunnya menara WSB Tv Tower di Atlanta Georgia.

Antriannya dilihat dari atas (Photo by : pdxcyclst.files.wordpress.com)

Antrian untuk naik ke menaranya bila dilihat dari atas (Photo by : pdxcyclst.files.wordpress.com)

Ketika sampai di menara melihat antrian pengunjungnya yang mengular akhirnya kami memutuskan untuk tidak jadi naik keatas dan duduk-duduk di tamannya memandang keindahan menara ini dari kejauhan. Saat dudukpun kami sering sekali ditawari sesuatu oleh pedagang asongan yang banyak melintas mulai dari souvenir, anggur dan berbagai pernak pernik yang lain. Pedagang asongan ini memang menjadi masalah bagi pemerintah Perancis karena semakin lama jumlah mereka semakin banyak. Terkadang di area Eiffel saja sudah terjaring sekitar 300 pedagang yang jumlahnya bahkan lebih banyak daripada turis yang datang. Kebanyakan mereka adalah para imigran dan pengungsi dari Afrika dan beberapa daerah di India. Mereka juga menjadi sumber keluhan bagi para pedagang souvenir legal karena diperkirakan keuntungan mereka berkurang sekitar 300 persen dalam beberapa dekade terakhir. Bayangkan saja souvenir yang dijual di penjual resmi seharga 2 Euro perbiji dijual dengan 1 Euro per 5 biji.

Suasana taman di bawah menara Eiffel

Suasana taman di bawah menara Eiffel

Ketika matahari mulai terbenam dan langitpun mulai menggelap, mulailah menara ini bertaburan dengan cahaya lampu. Indahnya bagaikan pohon natal raksasa yang baru keluar dari kotak perhiasan. Setelah lampu-lampunya semua menyala akan ada pertunjukkan lampu selama 5 menit yang akan diulang setiap satu jam sekali mulai dari matahari tenggelam sampai tengah malam. Memandang keindahannya dari kejauhan menjadikannya momen yang indah untuk menutup hari. Ketika suhu udara semakin dingin dan jam semakin bergulir dengan berat hati kami memutuskan meninggalkan tempat ini. Seluk beluk tentang menara Eiffel dan tiket naik ke menaranya dapat dilihat disini.

Menara Eiffel di waktu malam

Menara Eiffel di waktu malam

  rute-eiffel

Biaya Hari Ke 13

biaya-13

 

 

 

 

 

 

Kronologi Waktu

waktu-13

 

 

 

Advertisements
 
22 Comments

Posted by on November 21, 2016 in Paris, Perancis

 

Tags: , , , , , ,

22 responses to “Hari Ke 13 : Jenewa – Paris (Cathedrale Notre Dame de Paris & Paris Walking Tour 1)

  1. Herry Tan

    November 22, 2016 at 11:18 am

    Wahhhh akhirnya sampai paris juga ya mbak…
    Aku yg blm k eropa baca blog mbak serasa lg jalan jalan d situ..hehehe..

    Abis trip eropa ini, trip mana yg akan ditulis mbak?? China kah? Pengen nyontek ni, krn taon dpn mau k cina…

     
    • Vicky Kurniawan

      November 23, 2016 at 7:42 pm

      Hmm…belum bisa memenuhi janji untuk menyelesaikan seri Eropa bulan ini 😦 . Kalau dokter perlu nanti itin Cinanya saya kirim via e mail saja. Soalnya kalau nunggu seri Cina ditulis di blog bakalan lama.

       
  2. antonius

    November 23, 2016 at 9:44 pm

    keren mba vicky… saya bulan juni 2017 mau eropa. setelah baca2 postingan mba vicki.. saya semakin mantap utk berangkat sendiri tanpa ikut tur.. salutt. mungkin nati klo sy ada yg kurang jelas boleh kan saya pm..

     
    • Vicky Kurniawan

      November 24, 2016 at 8:10 pm

      Boleh aja mas Antonius nanti kirim email atau inbox saya aja di FB. Terima kasih sudah mampir kesini ya

       
  3. Anton

    December 27, 2016 at 9:51 am

    Mba Vicky, thanks sudah sharing pengalaman trip ke Eropa, buat saya membulatkan tekad untuk bisa trip ke Eropa bersama keluarga, tapi trip mba Vivky lanjutan dari Swiss kok belum ada yah? kalau gak salah yang ke Luxembourg dan Belgia? saya cari tidak ketemu.

    Btw mba, saya dengar-dengar di Paris banyak copet dan penjahat yang mengincar turin-turin terutama turis asia, saya jadi apatis untuk memasukkan Paris dalam itinerary saya, betul apa gak mba?

     
    • Vicky Kurniawan

      December 27, 2016 at 10:37 pm

      He he memang belum sempat ditulis mas Anton. Iya di Paris memang terkenal dengan copetnya. Tapi jangan dijadikan parno. Sewajarnya aja seperti kalau kita waspada terhadap copet di Indonesia. Kalau pengen tahu cara-cara penipuan di Paris, coba simak di website ini semoga bisa menambah pengetahuan dan kewaspadaan http://travelscams.org/europe/common-tourist-scams-france/

       
      • Anton

        December 30, 2016 at 3:03 pm

        Oke Mba Vicky, ditunggu yah lanjutan ceritanya supaya gak bikin kami penasaran… hehehe…

         
      • Vicky Kurniawan

        December 30, 2016 at 9:03 pm

        Iya mas Anton. Terima kasih sudah setia menunggu

         
  4. nita

    January 13, 2017 at 12:36 pm

    mbak vicky saya nita dri surabaya #areksuroboyoasli mbak saya berencana ke eropa bulan juni nanti destinasi pertama di paris boleh saya tanya2 mbak yaa nanti japri gitu saya rencana menambahkan belanda, austria, jerman tapiiii seprtinya pas puasa,,,,ada saran takk

     
    • Vicky Kurniawan

      January 13, 2017 at 3:21 pm

      Boleh aja mbak Nita

       
  5. Villy Pelupessy

    January 27, 2017 at 12:23 pm

    Dear Mba Vicky… Thanks berat,,, saya gunakan itin hongkong anda dan sangat membantu sekali..
    Boleh ngga share itin sisa yg di Paris sampai kembali ke Amsterdam ?..

     
    • Vicky Kurniawan

      February 5, 2017 at 2:06 pm

      Terima kasiuh sudadm mampir kesini ya. Sayang itinnya masih dalam bentuk catatan di buku. Jadi mesti dipindah dalam bentuk soft copy di komputer dulu 😦

       
  6. fika

    February 5, 2017 at 5:01 pm

    mba lama nggak mampir di blog ini hehehe… ditunggu cerita selanjutnya di tahun 2017. Ada rencana liburan kemana nih tahun 2017?

     
    • Vicky Kurniawan

      February 6, 2017 at 8:14 pm

      Alhamdulillah rencana ke Turki mbak Fika

       
  7. Novita

    February 7, 2017 at 6:20 pm

    Mba…foto di jembatan deket menara eiffle…masuknya lewat mana ya…kmrn saya ke eiffle via trocadero ga nemu jembatan ini…th ini mau balik lagi kesana….makasih ya mba

     
  8. Adel

    March 5, 2017 at 11:10 am

    Hai Mba Vicky, mei ini sy rencana ke eropa. Senang banget nemu blog yg super detil. Rencana mau di-print dari blog, tapi banyak juga. Apa punya softcopy garis besar iten-nya mba? Thanks in advance

     
    • Vicky Kurniawan

      March 9, 2017 at 7:05 am

      He he..sayangnya kalau udah ditulis di blog soft copynya saya hapis mbak. Tinggal buku catatan aja dalam bentuk hard copy

       
  9. angel rumekso

    March 7, 2017 at 8:52 pm

    hai mba salam kenal,,,

    luar biasa yah perjalanann selama di paris…

    mba mau tanya boleh:

    itu dari noredame sampai dengan eiffle jalan kaki mba?

    aq rencana juni ini mau pergi kesana soalnya, kebetulan cuma punya waktu 2 hari.1 malam.

    Terima Kasih

    _Angel_

     
    • Vicky Kurniawan

      March 9, 2017 at 7:06 am

      Ha ha iya jalan kaki…soalnya banyak tempat tempat menarik sih..tapi banyak berhentinya juga soalnya jauhhhh….

       
  10. herry

    May 9, 2017 at 5:08 pm

    So no more post??

     
  11. herry

    May 23, 2017 at 3:13 pm

    Koq gk ada kelanjutan lg mbak

     
    • Vicky Kurniawan

      May 24, 2017 at 5:54 am

      Ha ha ha doakan ya mas. Ini masih berjuang

       

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: