RSS

Hari Ke 3 : Kyoto (Kinkakuji, Ginkakuji, Kyoto Museum Traditional Craft, Nishiki Market & Gion)

13 Aug

Oleh : Vicky Kurniawan

Bis malam yang kami tumpangi berhenti sejenak di Tsuchiyama, sekitar 2 jam perjalanan dari Kyoto, untuk memberi kesempatan penumpang ke toilet atau sekedar jalan-jalan meluruskan kaki. Udara di luar begitu dingin sampai bicarapun mengeluarkan uap. Di tempat pemberhentian yang luas ini selain toilet ada juga toko 7 eleven dan seperti kebanyakan toilet yang saya jumpai di Jepang, toilet di tempat transit ini begitu bersih tanpa bau pesing ataupun tissue yang berceceran. Karena berhentinya sangat sebentar, kami hanya mampir saja ke toilet dan selanjutnya naik kedalam bis karena takut ketinggalan. Maklum pak sopir panggil-panggilnya pakai bahasa Jepang, kalau kita jalan jauh-jauh takut nggak ketahuan, wong dekat saja nggak ngerti apalagi jauh :).

Kuil Ginkakuji Saat Musim Gugur (Photo By : Wikipedia)

Kuil Ginkakuji Saat Musim Gugur (Photo By : Wikipedia)

Kyoto Hana Hostel

Sesampai di Kyoto sekitar jam 07.30, kami diturunkan persis di depan Avanti Hotel Keihan dekat Kyoto Station. Mulanya sempat bingung juga ini ada di daerah mana, soalnya bayangan saya kami akan diturunkan didalam Kyoto Station dan bukan diluarnya. Tapi untunglah hotel ini berada dalam peta yang saya cetak dari website hostel. Rute jalan kaki dari Avanti Hotel Keihan ke Kyoto Hana Hostel ada pada gambar berikut ini.

Rute Jalan

accessmap

Kyoto Hana Hostel ini saya pesan lewat situs Hostelworld yang mengharuskan pembayaran uang muka 10% dari total transaksi dan service charge USD 2 perpesanan. Kyoto Hana Hostel masuk dalam satu grup jaringan hostel J-Hoppers. Hotel ini saya pilih karena lokasinya yang dekat dengan Kyoto Station dan harganya yang tidak terlalu mahal untuk ukuran Jepang :). Terbukti pilihan saya tidak salah, karena it’s the best hostel yang pernah saya tinggali setelah Sydney Central YHA. Kalau Sydney Central YHA nomor 1 maka Kyoto Hana mungkin nomor duanya :). Tidak heran kalau Hostel ini pernah menerima Certificate Of Excellent 2012 dari Trip Advisor. Banyak hal yang saya sukai dari hostel ini antara lain ukuran kamar yang cukup luas, fasilitas dapur lumayan lengkap, WiFi-nya kenceng, kebersihan top habis dan staffnya yang ramah dan helpfull. Satu lagi, tingkatnya tidak terlalu banyak (hanya 3 tingkat) jadi naik tangganya tidak terlalu capek maklum kamar private biasanya ditaruh di lantai paling atas. Kebanyakan hostel di Jepang menerapkan harga perkepala baik untuk kamar dormitory maupun private. Karena selisih harga antara kamar dorm dan private tidak terlalu banyak maka kami putuskan mengambil kamar private Twin Japanese yang harganya paling murah (Y3000 perkepala perorang) dengan kamar mandi didalam.

Kasur Yang Numpuk Itu Adalah Calon Temat Tidur Kita (Kanan Bawah)

Kasur Yang Numpuk Itu Adalah Calon Tempat Tidur Kita (Kanan Bawah) dan Kamar Mandinya Yang Spotless (Kiri)

Saat kami sampai kesana, resepsionisnya belum buka (jam buka resepsionisnya jam 08.00 – 14.00 dan jam 15.00 – 22.00). Tapi mereka mengijinkan kami masuk, menitipkan tas di luggage storage dan menggunakan dapur, kamar mandi, serta ruang santainya. Baru kali ini saya menemukan hostel model begini. Biasanya untuk alasan keamanan, diluar jam resepsionis pintu depan akan terkunci dan tamu yang tidak memiliki kunci tidak bisa masuk apalagi memakai dapur dan ruang santai. Jadi sambil menunggu resepsionis buka, kami bisa sarapan dan melihat TV terlindung dari hawa dingin di luar. Satu lagi yang unik, sebelum masuk kami diminta melepas sepatu, menaruhnya di rak dan masuk menggunakan sandal hostel. Jadi selama hidup di hostel kita akan wira wiri menggunakan sandal hostel dengan sepatu tersimpan rapi di rak dan hanya dipakai bila keluar saja. Satu kebiasaan yang patut ditiru mengingat betapa banyak kuman yang menempel di sepatu atau sandal yang dipakai jalan diluar.

Dapur (Kiri Atas), Tempat Makan (Kanan Atas), Tempat Santai (Kiri Bawah), Pintu Utama (Kanan Bawah)

Dapur (Kiri Atas), Tempat Makan (Kanan Atas), Tempat Santai (Kiri Bawah), Pintu Utama (Kanan Bawah)

Untunglah ketika resepsionis buka kami bisa langsung check inn dan masuk kamar. 2 hari 2 malam belum ketemu kasur rasanya capek juga. Tapi begitu sampai di kamar wk wk wk wk, kasurnya masih tertumpuk rapi,   lupa banget kalau pesan kamar Japanese Style. Jadilah sambil setengah merem melek belajar dulu gimana caranya menyulap kasur-kasur itu menjadi Futon (tempat tidur tradisional Jepang). Sehabis mandi pagi (akhirnya bisa mandi juga), kami tidur-tiduran di Futon sambil memperhatikan sekeliling kamar. Dipojokan ada lemari besi yang semula saya kira safety box, ternyata setelah diamati kotak itu adalah tangga darurat yang dipakai dalam keadaan emergency (gempa atau kebakaran) karena kamar kami berada di lantai 3 yang merupakan lantai teratas. Tapi melihat keruwetan instruksinya, meloncat rasanya bakalan lebih cepat daripada pakai tangga itu :).

Tangga Darurat Kami

Tangga Darurat Kami

Setelah beristirahat hampir satu setengah jam, tepat jam 09.30 mulailah jalan-jalan kami mengeskplore kota Kyoto. Disini saya juga menerapkan rute melingkar dari Kyoto Station – Kinkakuji – Ginkakuji – Kyoto Museum Traditional Craft – Nishiki Market – Gion – Kyoto Station. Jadi tempat yang akan kami sasar pertama kali adalah Kinkakuji sebagai destinasi terjauh.

Kyoto Station

Tidak sebesar Shinjuku yang punya 200 exit dan pernah nangkring sebagai stasiun tersibuk di dunia menurut Guinness World Records, Kyoto Station menurut saya tetap sesibuk dan seruwet Shinjuku :). Terlepas dari image Kyoto sebagai kota tradisional Jepang, stasiunnya justru bernuansa sangat modern dengan desain futuristik dan warna metal dimana-mana. Berfungsi sebagai pusat JR Railways, Kintetsu Line dan Subway, stasiun ini juga menjadi tempat berkumpulnya Kyoto City Bus dan bis-bis jarak jauh (long distance dan overnight bus). Selain itu didalamnya juga terdapat beberapa mall terkemuka seperti Isetan yang menguasai 10 lantai di sayap barat dan Porta Underground Shopping Mall yang berada di basementnya. Kalau tidak ingin shopping, orang masih bisa berkunjung ke Kyoto Theatre (dekat Hotel Granvia) dan Art Museum Isetan yang berada di lantai 7.

Bagian Dalam Kyoto Station

Bagian Dalam Kyoto Station

Salah satu tempat wajib kunjung di Kyoto Station ini adalah Skyway Tunnel yang terbentang 45 meter diatas stasiun. Dari terowongan kaca ini kita bisa melihat pemandangan didalam dan diluar stasiun. Untuk menuju tempat ini, dari pintu utama jalan saja ke arah kanan dimana terdapat eskalator panjang menuju ke tingkat paling atas yang bernama Daikaidan atau Great Staircase. Di ujung eskalator ini orang dapat bersantai sejenak di Happy Terrace, sebuah taman kecil yang banyak ditanami pohon bambu. Nah disebelahnya terdapat pintu masuk Skyway yang akan berakhir di jajaran restoran di lantai 11.

Pintu Masuk Utama (Kiri Atas), Giant Staircase (Tengah Atas), Skyway (Kanan Atas), Happy Terrace (Bawah) Photo By : www.silentskylark.com

Pintu Masuk Utama (Kiri Atas), Giant Staircase (Tengah Atas), Skyway (Kanan Atas), Happy Terrace (Bawah) Photo By : http://www.silentskylark.com

Dari berbagai moda transportasi yang ada di Kyoto, kami memilih bis karena walaupun lebih lama tapi harganya lebih murah. Untuk menuju City Bus Terminal, dari hostel tidak usah kembali lewat underground karena jalannya akan lebih rumit. Jalan kaki saja lurus menuju Kyoto Station, terminalnya berada tepat didepan Hotel New Hankyu (lihat peta hostel diatas). Untuk berkeliling Kyoto hari ini kami membeli tiket City Buss All Day Pass yang bisa dibeli di resepsionis hostel. Pass ini memberikan akses tanpa batas penggunaan bis dalam sehari. Hampir semua hostel di Kyoto menyediakan berbagai macam pass transportasi seperti ini. Jadi daripada repot beli di stasiun mending beli saja di resepsionis hostel toh harganya juga sama. Kelemahannya, hostel biasanya tidak memberi peta rute bisnya sedangkan kalau beli di stasiun peta rute bis secara otomatis akan diberikan. Bila tidak diberi, peta rute bis Kyoto dapat juga didownload disini. Berbeda dengan naik bis di negara-negara lain yang umumnya naik dari depan dan turun dari belakang, di Kyoto ini kita harus naik dari belakang dan turun di depan. Kalau mau naik dan turun jangan lupa menempelkan pass pada alat sensor.

Kyoto City Bus (Kiri) dan Kyoto City Bus One Day Pass (Kanan)

Kyoto City Bus (Kiri) dan Kyoto City Bus One Day Pass (Kanan)

Kinkakuji Temple

Tempat pertama yang kami eksplore hari ini adalah Kinkakuji Temple, dari stasiun Kyoto kuil ini bisa dicapai dengan bis nomor 105 atau 205. Di City Bus terminal cari saja platform bertuliskan Kinkakuji selanjutnya selama perjalanan setiap pemberhentian akan diumumkan melalui pengeras suara dan dituliskan juga di panel display dalam bis dengan dua bahasa, bahasa Jepang dan Inggris.  Dalam peta rute bis, perjalanan menuju Kinkakuji Temple akan diawali dari Kyotoeki-mae dan berakhir di Kinkakuji-michi sebagai halte terdekat menuju Kinkakuji. Total perjalanan dari hostel menuju Kinkakuji kurang lebih 2 jam. Rute bis dapat dilihat pada peta dibawah ini.

stationkinkakuji2

Halte

Halte Bis Kinkakuji-Michi

Kinkakuji adalah sebuah kuil Zen yang berada di sebelah utara Kyoto. Dijuluki Golden Temple karena dua tingkat bangunannya dicat dengan warna emas. Sebenarnya tempat ini dulunya adalah tempat peristirahatan Shogun Ashigaka Yoshimitsu sebelum berubah menjadi kuil Zen sesuai dengan wasiat sang shogun. Sayangnya akibat perang, keseluruhan kompleks peristirahatan tersebut habis terbakar dan hanya bersisa kuil ini saja. Kuil yang dibangun pada tahun 1397 ini direstorasi kembali tahun 1955 setelah seorang pendeta yang belakangan diketahui gila membakar habis kuil ini hingga hanya tersisa puing-puingnya saja. Bangunan Kinkakuji ini boleh dibilang unik karena ketiga tingkatnya dibangun dengan gaya arstektur yang berbeda. Lantai pertama dibangun dengan gaya Shinden Style yang banyak terdapat pada bangunan masa Heian. Dengan pilar kayu dan dinding bercat putih tampak kontras dengan dua bangunan bercat emas diatasnya. Lantai kedua dibangun dengan gaya Bukke Style yang diadopsi dari rumah-rumah samurai dan lantai ketiga dibangun dengan gaya Chinesse Zen yang disepuh warna emas dibagian luar dan dalam. Didepan kuil terdapat kolam dengan 10 pulau kecil yang merupakan penggambaran tempat-tempat yang paling terkenal dalam literatur Cina dan Jepang.

Kinkakuji Temple

Kinkakuji Temple

Melewati kuilnya kita akan sampai di bekas rumah kepala kuil (Hojo) yang sangat kental nuansa Zen-nya, sayangnya seperti juga kuilnya, bangunan ini tertutup untuk umum. Uniknya di taman Kinkakuji ini ada sekumpulan patung dengan wadah kaleng kecil didepannya. Konon siapa saja yang bisa memasukkan koin kedalam kaleng akan dikaruniai keberuntungan. Menarik juga melihat para pengunjung rame-rame menjajal keberuntungan dengan berlomba-lomba melempar koin ke patung-patung itu. Bagi penggemar teh Jepang, di taman ini juga tersedia Tea Garden. Dengan membayar 500 yen pengunjung akan mendapat semangkuk teh Matcha dan biskuit. Di dekat Tea Garden dan pintu keluar berjajar para penjual souvenir dan makanan oleh-oleh khas Jepang, Enaknya setiap penjual menyediakan berbagai macam sample yang bebas untuk diicipi. Jadi walaupun tidak beli dijamin kenyang icip-icip disini. Sekali lagi di lingkungan kuil ini tidak diperbolehkan berfoto menggunakan tripod.

Hojo (Kiri Atas), Coin Toss (Kanan Atas), Tea Garden (Kiri Bawah), Makanan Yang Dijual Di Kuil (Kanan Bawah)

Hojo (Kiri Atas), Coin Toss (Kanan Atas), Tea Garden (Kiri Bawah), Makanan Yang Dijual Di Kuil (Kanan Bawah)

Setelah hampir 1 jam berkeliling Kinkakuji, kami kembali ke Halte bis Kinkakuji-michi untuk menunggu bis menuju Ginkakuji. Kinkakuji buka dari jam 09.00 – 17.00 dengan tiket masuk 400 Yen.

Ginkakuji

Dari pemberhentian Kinkakuji-Michi kita bisa naik bis no. 102 atau 204 menuju Ginkakuji-Michi salah satu halte terdekat dari kuil ini. Dari pemberhentian Ginkakuji-Michi masih harus berjalan kaki kurang lebih 10 menit untuk sampai ke kuil. Kuil ini terletak di puncak bukit yang lumayan juga jalan naiknya. Untunglah di kanan kiri jalan banyak toko-toko penjual makanan dan souvenir jadi sambil melihat-lihat toko-toko itu tidak terasa perjalanan sudah sampai ke puncak. Diperlukan waktu kurang lebih 1 jam perjalanan dari Kinkakuji menuju Ginkakuji dengan rute bis sebagai berikut.

Peta Bis Dari Kinkakuji Menuju Ginkakuji. Garis Kuning Rute Bis No102, Garis Biru Bis No.204

Peta Bis Dari Kinkakuji Menuju Ginkakuji. Garis Kuning Rute Bis No102, Garis Biru Tosca Bis No.204

Ginkakuji sama dengan Kinkakuji juga merupakan salah satu kuil Zen. Keduanya memiliki pertalian yang erat karena sama-sama dibangun oleh keluarga Shogun Ashikaga. Ginkakuji dibangun oleh Ashikaga Yoshimasa yang terinspirasi oleh kakeknya yang telah membangun Kinkakuji. Bila Kinkakuji dijuluki Golden Pavilion maka Ginkakuji dinamai Silver Pavilion walaupun pavilionnya sendiri tidak dicat warna perak. Yoshimasa memang berkeinginan menutupi bangunan ini dengan warna perak namun sayang sampai akhir hayatnya hal tersebut tidak perrnah terwujud. Nama ini juga muncul konon karena sinar bulan yang memancar ke pavilionnya berwarna keperakan akibat pernis hitam yang dahulu menjadi warna dominan bangunan ini. Saya pribadi lebih menyukai Ginkakuji daripada Kinkakuji terutama karena taman-tamannya yang indah. Pertama kali masuk saya sudah dibuat terpesona oleh taman pasirnya yang terkenal dengan nama “Sea of Silver Sand”. Pasirnya digaruk dengan presisi yang sempurna sehingga rasanya sayang kalau kena hujan dan angin. Konon menggaruk pasir dan kerikil ini memang dipraktekkan secara terus menerus oleh para biksu Zen untuk meningkatkan daya konsentrasi mereka. Yang menjadi highlight dari taman pasir ini adalah gundukan berbentuk kerucut yang dipadatkan dengan sangat ahli untuk melambangkan Gunung Fuji.

Sea Of Silver Sand Ginkakuji

Sea Of Silver Sand Ginkakuji

Saat duduk-duduk menikmati pemandangan taman pasir ada seorang ibu Jepang yang mengajak kami berbincang-bincang. Kebetulan beliau sangat fasih berbahasa Inggris sehingga saya bebas bertanya ini itu kepadanya. Dengan ramah dia menerangkan kepada kita seluk beluk taman ini. Lumayan juga dapat guide gratis :). Setelah melewati Sea of Silver Sand kami menelusuri taman lumut (moss garden). Lumut seperti juga batu, kerikil dan pasir merupakan unsur utama dalam taman Zen yang menggambarkan daratan tertutup oleh hutan. Yang mengagumkan disini, lumut yang seolah-olah tumbuh sendiri sebenarnya ditanam dengan sangat ahli dan hati-hati. Kebetulan saat itu ada tukang kebun Ginkakuji yang menanam lumut jadi saya berkesempatan mengamati sejenak kegiatannya. Menelusuri walking path di taman ini sampailah kami ke puncak bukit dimana pemandangan keseluruhan kompleks Ginkakuji yang dilatarbelakangi kota Kyoto terlihat dengan jelas.

Moss Garden dan Pemandangan Dari Atas Bukit Ginkakuji

Moss Garden dan Pemandangan Dari Atas Bukit Ginkakuji

Salah satu hal yang membuat saya mengagumi taman ini karena keseluruhan aspeknya dibuat menyatu dengan alam. Tidak ada unsur besi sama sekali, semua pagar dibuat dari bambu. Sambungan antar pagar yang seharusnya ada pakunya ditutup dengan bambu. Saluran pembuangan air yang ada anyaman kawatnya juga ditutup dengan papan bambu sehingga semuanya terlihat natural. Berjalan-jalan disini rasanya begitu sejuk dan menentramkan. Di ujung taman sebelum keluar dari area kompleks kita diberi kesempatan sekali lagi untuk mengamati dari dekat pavillion Ginkakuji.

Ginkakuji Temple (Atas), Suasana Tamannya (Bawah)

Ginkakuji Temple (Atas), Suasana Tamannya (Bawah)

Tidak terasa hampir 1,5 jam kami mengubek-ubek tempat ini. Ginkakuji buka dari jam 8.30 – 17.00 dengan tiket masuk 500 Yen. Sepanjang perjalanan pulang menuju pemberhentian Ginkakuji-Michi perut rasanya sudah keroncongan apalagi ditambah hawa yang begitu dingin rasanya pengen mampir saja untuk makan makanan hangat di salah satu restoran. Tapi lagi-lagi karena meragukan kehalalan dan kemampuan kantong untuk membeli, kami mengurungkan niat untuk masuk ke salah satu restoran itu. Sebagai penggantinya kami mampir ke sebuah supermarket, maksud hati pengen beli yang ringan-ringan dulu sebelum makan beneran di restoran. Seperti biasa saya minta petugas supermarket untuk menerjemahkan kandungan isinya. Petugasnya seorang anak muda yang begitu serius memilihkan makanan untuk saya. Setelah dapat sandwhich yang saya inginkan, kami lanjut keliling-keliling supermarket untuk mencari tambahan makanan lain. Sudah hampir 15 menit keliling-kelilingnya ketika tiba-tiba anak muda tadi menghampiri saya dan meminta sandwhichnya kembali sambil membungkuk bungkukkan badan meminta maaf karena sandwhichnya ternyata mengandung babi. Rupanya dia salah baca kandungan isinya, satu perilaku yang membuat saya terpesona. Mungkin sedari tadi dia mencoba mencari kami diantara banyaknya pengunjung di supemarket yang cukup besar. Salut banget sama kejujuran dan etika kerjanya.

Kyoto Museum Traditional Craft (Fureaikan)

Saya tertarik mengunjungi museum ini karena Kyoto merupakan salah satu pusat terpenting kerajinan tradisional Jepang. Pernah menjadi ibukota Jepang selama kurang lebih 1000 tahun, Kyoto menjadi patokan standar kualitas bagi seni dan kerajinan Jepang hingga saat ini. Nah berbagai contoh kerajinan itu bisa kita ketahui dengan mengunjungi museum ini. Dari halte bis Ginkakuji-Michi, kita bisa naik bis nomor 32 turun di halte bis Kyoto Kaikan Bijutsukan (Heian-Jingu) Mae atau nomor 100 turun di halte Kyoto Kaikan Bijutsukan Mae dilanjutkan dengan jalan kaki sekitar 300 meter menuju museum. Peta rute bis dapat dlihat pada gambar dibawah ini.

Garis Merah Muda Menunjukkan Rute Bis No. 100, Garis Hijau Muda Menunjukkan Rute Bis No. 32

Garis Merah Muda Menunjukkan Rute Bis No. 100, Garis Kuning Menunjukkan Rute Bis No. 32

Fureaikan terletak di basement Kyoto International Exhibition Hall “Miyako Messe”. Tiket masuknya gratis dan buka dari jam 9 sampai jam 17.00. Begitu masuk kita akan disambut 3 permanent exhibition hall yang menampilkan sekitar 77 macam kerajinan tradisional berikut cara pembuatannya. Melalui video mereka menerangkan tehnik-tehnik yang digunakan sehingga kita bisa tahu kerumitan pembuatan Yuzen Kimono dan kain tenun Nishijin Ori ataupun pembuatan tembikar Kiyomizu yang terkenal itu  (pantas harganya selangit). Selain ruang pamer tetap, ada juga yang namanya Event Room dimana pameran kerajinan, demonstrasi dan lokakarya sering diadakan. Event-event yang diadakan pun tidak membosankan karena berganti-ganti terus setiap bulan dan kebanyakan gratis. Salah satu contoh event yang menarik adalah Maiko’s Traditional Dance yang diadakan setiap hari Minggu. Biasanya untuk melihat seorang Maiko (calon Geisha) menari kita harus merogoh kocek cukup dalam minimal 3150 Yen (sekitar Rp. 375.000) di Gion Corner. Tapi disini pertunjukkannya gratis itupun selain melihat si dia-nya menari, kita juga akan diberi tambahan ilmu tentang seluk beluk kimono dan aksesorisnya. Asyik kan.

Ruang Pamer Kyoto Museum Traditional Craft (Kiri), Contoh (Kanan Atas), Maiko Dance

Ruang Pamer Kyoto Museum Traditional Craft (Kiri), Contoh Surigata Yuzein (Kanan Atas), Maiko’s Traditional Dance (Kanan Bawah)

Museum ini juga membuka kelas kerajinan Surigata Yuzein, yaitu teknik pencelupan kain Kyoto. Kelas yang berlangsung selama kurang lebih 45 menit ini akan memberikan pelajaran tentang teknik-teknik Surigata Yuzein yang langsung dapat dipraktekkan oleh peserta dan yang menyenangkan hasil prakteknya dapat dibawa pulang. Peserta dapat memilih mau melukis di saputangan kecil (600 yen) atau tas (1500 yen). Kunjungan ke museum ini sangat saya rekomendasikan terutama bagi mereka yang suka handicraft dan sebelum kesini cek dulu event-event apa yang sedang berlangsung. Seluk beluk dan event Kyoto Museum Traditional Craft dapat dilihat disini.

Nishiki Market

Dari Kyoto Museum Traditional Craft, saya berencana menjelajahi Nishiki Market lebih dulu daripada Gion dengan pertimbangan bahwa kebanyakan stall di sana tutup jam 5 sore. Pasar ini dapat dijangkau dengan menggunakan bis no. 32 dan 46 dari halte Kyoto Kaikan Bijutsukan (Heian-Jingu) Mae atau bis no. 5 dari halte Kyoto Kaikan Bijutsukan Mae yang kesemuanya melewati halte Shijo Takakura yang merupakan halte terdekat menuju Nishiki Market. Shijo Takakura ini terletak persis di depan Daimaru Dept. Store yang dibagian sampingnya ada jalan Takakura Dori yang mengarah ke Nishiki Market. Peta rute bis dari Kyoto Museum Traditional Craft menuju Nishiki Market dapat dilihat pada gambar berikut.

Garis Hijau Rute Bis No. 46, Garis Kuning Rute Bis No. 32 dan Garis Coklat Rute Bis No. 5

Garis Hijau Rute Bis No. 46, Garis Kuning Rute Bis No. 32 dan Garis Coklat Rute Bis No. 5

Sedangkan peta jalan kaki dari Halte Shijo Takakura menuju Nishiki Market ada dibawah ini :

english_map_detail

Nishiki Market boleh dibilang sebagai “The Most Iconic Market” di Kyoto dimana bahan-bahan makanan segar dipajang seolah permata di sebuah toko perhiasan. Pasar yang membentang kurang lebih 400 meter dari jalan Takakura Dori menuju Teramachi Dori ini memiliki sejarah panjang sebagai pasar tertua di Kyoto. Pada jaman Edo (sekitar abad ke 16) pasar ini menjadi pasar ikan sebelum beralih menjadi pasar bahan makanan seperti sekarang ini. Pada saat masuk ke pasar ini jangan membayangkan pasar yang becek dan bau amis, sebaliknya semua tertata rapi dengan bau-bauan dan pemandangan yang menggoda selera. Beberapa toko menyediakan sample makanan untuk diicipi tapi seperti peringatan yang ditulis di websitenya jangan mencicipi makanan secara berlebihan dan yang paling penting jangan berdiri di tengah jalan karena jalannya memang sempit.

Jalan Menuju Nishiki Market Dekat Daimaru (Kiri), Suasana Dalam Pasar (Kanan)

Jalan Menuju Nishiki Market Dekat Daimaru (Kiri), Suasana Dalam Pasar (Kanan)

Beberapa stall yang mencuri perhatian saya antara lain : Konnamonja (stall no. 50) yang menjual Donat Tofu yang digoreng kering kecoklatan dan enak sekali dimakan panas-panas. Kimura (stall no. 43) konon merupakan stand tertua di Nishiki (stand ini didirikan tahun 1620) yang menjual sate seafood berupa ikan, cumi, sotong sampai scallop. Stand ini mungkin satu-satunya di Nishiki yang memberi label berbahasa Inggris pada barang-barangnya. Salah satu stand favorit saya adalah Uchida (stall no. 109) yang menjual bermacam-macam acar bukan hanya acar mentimun tapi juga lobak, terong, akar bunga teratai pokoknya segala macam sayur yang bisa diacar pasti dijual disini. Bagi penggemar kue Mochi disini ada Mochitsukiya (stall no.99) yang khusus menjual kue Mochi dengan berbagai bentuk dan rasa. Yang terakhir ada Miki Keiran (stall no. 31) spesialis penjual Japanese Omelet, sungguh mengasyikkan melihat penjualnya beraksi mengaduk, mengisi dan menggulung telurnya. Chef yang ahli bisa membuat 4 omelet sekaligus sedangkan saya, satu saja mungkin gosong :).

3931_02-tile

Penjual Acar Uchida (Kiri Atas), Goreng-Gorengan (Kanan Atas), Pintu Masuk Nishiki Shrine (Kiri Bawah), Japanese Omelet (Kanan Bawah)

Pasar yang mengasyikkan ini berakhir di kuil Nishiki Tenmangu Shrine, sebuah kuil kecil yang sengaja dibangun di area ini untuk memberikan keberuntungan bagi para pedagang dan pembeli Nishiki. Untuk mengecek apa saja yang dijual di Nishiki dapat dilihat di website resminya disini. Tidak terasa hari sudah menjelang Maghrib ketika kami keluar dari pasar ini. Walaupun sudah mencicipi Donat Tofu di Nishiki dan icip-icip berbagai sample makanan, tetap saja perut mulai keroncongan. Kebetulan di area ini terdapat department store Takashimaya (lihat peta lokasi Nishiki Market diatas) sehingga kami bisa makan siang yang sangat terlambat di Depachika-nya.

Gion

Selepas makan dan keluar dari Takashimaya tidak terasa jam sudah menunjukkan pukul 18.00. Jadi kami hanya punya waktu 3 jam untuk mengeksplore Gion sebelum kembali ke hostel. Gion merupakan salah satu Geisha District di Kyoto. Selain Gion, Kyoto sebenarnya memiliki 3 Geisha District yang lazim disebut Hanamachi (Flower Street) yaitu Miyagawa-Cho, Kamishichiken dan Ponto Cho. Jadi total ada 5 Hanamachi karena Gion sendiri dibagi menjadi 2 yaitu Gion Kobu dan Gion Higashi. Hanamachi biasanya berisi sejumlah Okiya (Geisha House), Ochaya (Tea House dimana Geisha biasanya menghibur pelanggannya) dan Kaburenjo, semacam tempat pertemuan bagi Geisha yang biasanya dilengkapi dengan theater dan  ruangan-ruangan yang memungkinkan mereka untuk berlatih. Selain itu di Hanamachi biasanya juga terdapat Kenban Offices yang bertugas mengatur upah dan regulasi para Geisha termasuk pengaturan jadwal untuk berlatih dan meng-entertain tamu. Setiap Hanamachi juga memiliki simbol (Kamon) tersendiri yang biasanya nampak pada kimono yang dikenakan para Geisha dan lentera yang dipasang di Ochaya. Diantara kelima Hanamachi di Kyoto, Gion Kobu, Ponto Cho dan Kamishichiken merupakan Hanamachi dengan ranking tertinggi. Para Geisha di daerah itu bertarif mahal dan biasanya banyak dikunjungi oleh para pengusaha dan politikus sedangkan Geiko di Gion Higashi dan Miyagawa-Cho terkenal berprestise tinggi walaupun rankingnya lebih rendah.

Simbol Gion Higashi (Kiri Atas), Simbo Gion Kobu (Kanan Bawah), Dua Foto Maiko Yabg Ditangkap Dengan Sempurna Oleh Traveling-Foodies.com

Simbol Gion Higashi (Kiri Atas), Simbo Gion Kobu (Kanan Bawah), Dua Foto Maiko Yang Ditangkap Dengan Sempurna Oleh Traveling-Foodies.com

Tempat pertama yang kita eksplore di Gion adalah Shirakawa Minami Dori yang berjarak kurang lebih 650 meter dari Takashimaya Dept. Store. Saya tertarik menjelajahinya setelah membaca review Lonely Planet yang menyebutnya sebagai “one of Kyoto’s most beautiful streets and among most beautiful street in all of Asia”. Terletak di tepi kanal yang bagian tepinya banyak terdapat pohon-pohon Willow, jalan ini memang terlihat indah. Jalannya sendiri bukan terbuat dari aspal tapi dari batu-batuan yang tertata rapi dan tampak alami. Di kanan kirinya berjajar restoran-restoran mahal dan Ochaya yang kebanyakan terbuat dari kayu sehingga terlihat alami. Berbeda dengan Hanami-Koji, area ini boleh dibilang lebih tenang dan asri. Tidak ada kabel-kabel yang belepotan diatas tiang dan pohon-pohon willow yang dibiarkan tumbuh menjuntai memang berbeda dengan gaya-gaya taman di Jepang yang selalu memangkas rapi pohon-pohonnya.

Shirakawa Minami Dori

Shirakawa Minami Dori

Dari Shirakawa Minami Dori, kami berjalan menuju Hanami-Koji Dori, area paling populer di Gion. Seperti juga area Shirakawa di kanan kirinya dipenuhi dengan restoran dan Ochaya yang juga terbuat dari kayu. Dari depan, Ochaya dan restorannya tampak kecil-kecil sekitar 5 sampai 6 meter tapi konon panjang ke belakangnya mencapai 20 meter. Hal ini dikarenakan kebijaksanaan pajak property di Kyoto yang mendasarkan perhitungannya pada lebar bagian depan bangunan. Walaupun didalamnya penuh dengan orang yang sedang makan atau minum-minum sambil dihibur Geiko (Kyoto dialek untuk Geisha) tapi dari depan terlihat sepi seperti tidak ada kegiatan. Kalau bar atau pub seperti ini, tetangganya pasti senang karena tidak bising dan terganggu.

Hanami Koji Dori

Hanami Koji Dori (Photo By : David Patevin)

Jalan terus sepanjang Hanami-Koji, kami mampir di Gion Corner. Terletak di Yasaka Hall yang berdekatan dengan Gion Kobu Kabunrejo Theatre, tempat ini menawarkan 7 macam kesenian tradisional Jepang yang akan dipentaskan dalam waktu 1 jam. Kesenian yang dipertontokan disitu antara lain : Kyo-Mai Dance (tarian asli Kyoto oleh para Maiko), Bunraku Puppet Theatre (teater boneka tradisional Jepang yang masuk dalam daftar UNESCO sebagai Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity tahun 2003). Selain tarian dan musik, dipertontonkan pula upacara minum teh dan merangkai bunga ala Jepang. Jam pertunjukkannya hanya dua kali jam 7 dan 8 malam dengan tiket masuk 3150 Yen. Pada saat saya sampai kesana pertunjukkan jam pertama sedang berlangsung, kepengennya liat pertunjukkan yang kedua, tapi saat melihat harga tiketnya langsung mundur teratur :). Akhirnya, kita hanya melihat-lihat Maiko Gallery yang berisi video tentang Geisha dan Maiko serta pameran perlengkapan yang mereka pakai seperti ornamen rambut, kipas dan tas. Ternyata gaya rambut, warna kimono dan hiasan di kepala menunjukkan tingkatan senioritas. Maiko biasanya mengenakan kimono warna cerah dengan hiasan rambut yang berganti-ganti sesuai musim. Gaya rambut mereka juga berubah disesuaikan dengan tahun-tahun yang telah mereka tempuh dalam latihan. Setiap detail menunjukkan perbedaan sampai panjang pendek alispun juga menunjukkan tingkatan. Alis yang panjang menunjukkan kematangan sedangkan yang pendek diperuntukkan bagi yang muda.

Maiko Gallery di Gion Corner

Maiko Gallery di Gion Corner

Dari Gion Corner, kami berjalan kembali menyusuri Hanami-Koji Dori menuju halte bis Gion yang berada di depan kuil Yasaka Shrine. Dari halte tersebut kita dapat naik bis no. 100 atau 206 menuju Kyoto Station kemudian dilanjutkan dengan jalan kaki ke hostel. Rute walking tour Gion dari Takashimaya Dep. Store bisa dilihat pada gambar di bawah ini. Keterangan Peta (A). Takashimaya Dep. Store. (B). Shirakawa Minami Dori. (C). Hanami-Koji Dori. (D). Gion Corner. (E). Halte bis Menuju Kyoto Station

 

Sedangkan peta rute bis dari Gion ke Kyoto Station dapat dilihat pada gambar berikut :

Garis Merah Muda Menunjukkan Rute Bis No. 100, Garis Coklat Menunjukkan Rute Bis No.206

Garis Merah Muda Menunjukkan Rute Bis No. 100, Garis Coklat Menunjukkan Rute Bis No.206

Perjalanan dari Gion ke Kyoto Station memakan waktu kurang lebih 15 menit. Sebelum sampai di hostel kami belanja dulu disebuah minimart untuk makan malam dan sarapan besok pagi. Harga bahan mentahnya lumayan juga, satu kilogram beras harganya 575 yen (kalau di Indonesia sudah dapat berkilo-kilo tuh), telur isi 12 biji harganya 195 yen. Tapi lumayanlah bisa untuk beberapa kali makan. Akhirnya tepat jam 09.30 malam kami masuk hotel, langsung menuju dapur untuk masak makan malam. Pengennya sih makan nasi hangat-hangat plus goreng telur tapi waktu mau menanak nasi weekk ternyata rice cookernya tulisan Jepang semua. Jadilah pencet sana-sini mencoba mengira-ngira tombol yang benar sambil berdoa semoga nasinya bisa matang :).

Biaya Hari Ke 3

untitled2

Advertisements
 
54 Comments

Posted by on August 13, 2013 in Jepang, Kyoto

 

Tags: , , , , , ,

54 responses to “Hari Ke 3 : Kyoto (Kinkakuji, Ginkakuji, Kyoto Museum Traditional Craft, Nishiki Market & Gion)

  1. Felicity

    August 15, 2013 at 3:23 am

    Wah lengkap sekali laporan perjalanannya. Terimakasih ya, Jepang dan khususnya Kyoto adalah salah satu lokasi yang ingin saya dan suami datangi. Kalau kami jadi ke sana informasi dari blog ini akan jadi panduan. BTW, apakah akan sulit di tempat2x umum jika kita tidak bisa berbahasa Jepang?

     
    • aremaronny

      August 15, 2013 at 7:24 pm

      Tidak sulit kok mbak walaupun tidak bisa berbahasa Jepang. Orang Jepang sopan-sopan, baik dan sangat mau membantu.

       
    • Tony

      August 19, 2013 at 9:57 am

      Orang Jepang (menurut saya 😀 ) jauh lebih sopan, senantiasa berbaik sangka & menjunjung tinggi tata krama (unggah ungguh) daripada orang Jawa sekalipun (btw saya orang Jawa 🙂 ) terutama pada orang asing (‘gaijin’) seperti kita.
      Saya yang tidak sengaja menabrak mereka pun (karena mata sedang tertuju ke peta), malah mereka yang duluan ‘sumimasen’ (permisi/minta maaf) sebelum saya sempat minta maaf.
      Dan baru di Jepang saya lihat mobil pemadam kebakaran saat emergency di setiap perempatan jalan besar yang dilewati, lewat pengeras suaranya ‘sumimasen! gomennasai!’ (permisi, maaf tolong beri jalan) walaupun semua mobil sudah berhenti dan sirenenya sudah terdengar dari jauh.

      Jadi, jangan kuatir tersesat di Jepang atau tidak bisa berbahasa Jepang! Happy traveling!

       
      • aremaronny

        August 19, 2013 at 6:57 pm

        wk..wk..wk beneran mas Tonny. Makanya dari beberapa negara yang sudah saya kunjungi terus terang Jepang memberikan kesan tersendiri bahkan melebihi kesan yang saya dapat saat traveling ke Sydney dan Melbourne.

         
  2. rucksack-traveler

    August 15, 2013 at 1:04 pm

    as always…detail dan sempurna penjabaran rute perjalanannya. Sayangnya saya waktu di Kyoto kemaren smua serba cepat di tambah cuaca hujan serta ada long march marathon di jalan-jalan utama sluruh Kyoto…tak sempat explore kyoto station, kehujanan di Ginkakuji, Menggigil di Kiyomuzidera dan kisut di Fushimi Inari Shrine…btw yang dapat pertunjukkan tari traditional gratis dari Geisha nya mana?

     
    • aremaronny

      August 15, 2013 at 7:26 pm

      Wah aku malah nggak sempat ke Fushimi Inari dan untung aku nggak kebagian hujan :). Nggak hujan aja sudah dingin apalagi hujan yah. Tari Geishanya dapat di Chionin Temple pas festival Hana Toro

       
  3. monda

    August 19, 2013 at 9:34 pm

    mak Vicky…,cerita perjalanannya seru …, lengkap pula
    salam kenal ya

     
    • aremaronny

      August 20, 2013 at 6:42 am

      Salam kenal juga mbak Monda 🙂

       
  4. mila said

    August 28, 2013 at 11:01 am

    kasur nya kayak bedcover gitu, emang enak mba tidur disitu ? hahahaa

     
    • aremaronny

      August 28, 2013 at 1:20 pm

      Enak dong mil..apalagi ditemani suami..wk wk wk..hus..:)

       
    • tony

      September 14, 2013 at 11:01 am

      Tidur di futon sih emang sehat. Tapi kalo tinggal di jepang & tiap hari harus bongkar pasang futon (yang berlapis2 itu) dan cara bongkar pasangnya asal-asalan bisa sakit pinggang (boyok’e loro kabeh), bukannya sehat. 😀
      Untungnya sebagian besar penginapan tidak mewajibkan tamunya untuk merapikan futonnya kembali persis seperti awalnya pada wkt kita cek-out. 😀

       
      • aremaronny

        September 15, 2013 at 12:29 pm

        He he iya mas Tonny, saya ngaku aja kalau hanya sekali masang futonnya. Selanjutnya saya bereskan saja asal-asalan :). Tapi kalau futonnya nggak dilipat memang tidak ada tempat kosong dalam kamar.

         
  5. Devyn

    October 3, 2013 at 7:19 am

    mbak vicky salam kenal..
    saya insya Allah April thn depan ke jepang, kalo bulan april kira kira masih dingin banget gak ya? masih perlu coat atau cukup pake jaket biasa aja?
    saya ijin nyontek itin nya mbak vicky yaaa….:)

     
    • aremaronny

      October 3, 2013 at 12:18 pm

      Masih dingin mbak Devi tapi tidak usah pakai coat, jaket wind breaker saja sudah cukup.

       
  6. Lukman Fitrianto

    October 29, 2013 at 4:42 pm

    ditunggu perjaLananmu ke KuiL Saihoji

     
    • aremaronny

      October 30, 2013 at 11:26 am

      He he he sayang saya tidak mampir ke Saiho-ji..itu yang namanya Kokodera Temple yah

       
  7. Arin

    November 28, 2013 at 11:57 am

    Mbak lengkap dan menarik banget catatan perjalannya
    Sangat membantu yg ingin liburan ke jepang ya
    Saya stay di jpg tp daerah aichiiken nagoya

     
    • aremaronny

      November 29, 2013 at 8:37 am

      Terima kasih mbak Arin. Mohon koreksinya kalau ada kesalahan.

       
  8. Intan

    March 5, 2014 at 9:05 am

    Mbak, aku suka banget travel diary nya, kebetulan mau ke Jepang juga Oktober nanti dan udah mulai booking2 hotel. Itinerary Kyotonya berguna bangetttt! Pengen lebih lama di Kyoto tapi gak mgkn karena cuma 7 malam, dan 2 hari full pasti dihabiskan di Dineyland Tokyo dan Universal Studio Osaka karena aku bawa anakku 3 thn 🙂 Kalau bikin itinerary buat Tokyo dan Osaka relatif gampang, tapi Kyoto agak mepet2 ya karena jarak satu temple dengan yg lain agak jauh sehingga mesti pilih beberapa prioritas.

     
    • aremaronny

      March 14, 2014 at 7:02 am

      Betul mbak Intan, mana perjalanan menggunakan bisnya lama banget karena mereka tidak ngebut dan ngawur dan berhenti-berhenti di halte yang sudah ditentukan.

       
  9. dita

    March 21, 2014 at 8:54 am

    salam kenal mba,
    saya rencana ke jepang dr jkt-osaka, 9 hari juga seperti mba nanti balik jg dr osaka kebetulan ada sdr tinggal d kyoto
    rencana nya ingin sekali jalan2 di kyoto-osaka-tokyo
    sebaiknya bgmn ya mba?di tiap daerah itu bisa satu hari aja ga muter2 nya?
    rencana pergi mei akhir
    *saya blm urus visa mba
    maaf ya mb bnyk nanya baru pertama
    terimakasih mba

     
    • aremaronny

      March 21, 2014 at 7:13 pm

      Salam kenal juga mbak Dita. Bisa kok mbak tiap kota cuma diputari sehari, tapi yah memang nggak semua dapat.

       
  10. dewi lina

    March 28, 2014 at 4:28 pm

    wah lengkap, terima kasih, bisa buat panduan. asik bgt bacanya. aku May ke daerah Wakayama (Kumano Kodo) dan Kyoto.

     
    • aremaronny

      March 28, 2014 at 6:15 pm

      Semoga perjalanannya sukses ya mbak Dewi…terima kasih sudah mampir kesini.

       
    • aremaronny

      March 28, 2014 at 6:15 pm

      Semoga perjalanannya sukses ya mbak Dewi…terima kasih sudah mampir kesini.

       
  11. Vi nayra

    April 9, 2014 at 12:23 am

    Jika ke jepang, kayaknya gak perlu beli buku panduan lagi nih…karna lengkap banget. Main keblog saya ya mbak, http://diarysivika.blogspot.com/ sesama penyuka traveling hihihi

     
    • aremaronny

      April 10, 2014 at 9:20 am

      He he terima kasih mbak Vika…BTW ternyata saya sudah pernah mampir ke blognya waktu cari info tentang wisata Kaliandra. Keren juga kok isinya.

       
  12. okamura silitonga

    September 15, 2014 at 6:42 pm

    huahhhhhhhh, mahal di hotelnya yah mbak

     
    • aremaronny

      September 16, 2014 at 1:21 pm

      Kamu nginap dimana?

       
  13. iLa

    January 25, 2015 at 8:22 pm

    mbak vicky aku nanya lagi dong.. karena mau kesana juga, blog mba ini jadi pedoman hidupku yg ketiga loh setelah Al Quran dan Hadist. ehehe.. jadi ntar kalo di postingan lain aku nanya2 lagi, I warn you already ya 😁😁

    jujur aku payah banget soal navigasi mba. di jkt aja bolak balik nyasar 😂 nah ini aku mumet dulu liat rute bus ama peta. nah aku pernah baca info kl di kyoto beli aja tiket terusan raku bus. jalurnya biasanya jalur buat wisatawan. daripada ribet aku rencananya mau beli itu..

    nah aku nanya nih mba.. objek2 yg mba datengin di atas itu dilewati rute raku bus ngga ya? makasih lho sebelumnya 🙂

     
    • Vicky Kurniawan

      January 26, 2015 at 10:06 am

      He he he terima kasih banget atas penghargaannya. Raku Bus itu ada 3 jalur mbak. Masing-masig jalur mampir ke beberapa tempat wisata yang berbeda. Tempat-tempat yang di datangi Raku Bus dapat dilihat disini http://www.japanvisitor.com/kyoto/raku-bus

       
  14. ryan

    May 7, 2015 at 12:57 pm

    mantap….

     
  15. vennywijaya

    June 15, 2015 at 4:49 pm

    mba klo dari kiyomizudera mo ke nishiki naek bus no brp ya mba or lgs ke gion aja ya? gion ama nishiki deket ya mba? thanks sebelumnya neh.. blognya asliiiii lengkap banget mba…love it ^^ thanks

     
    • Vicky Kurniawan

      June 23, 2015 at 10:21 am

      Dari Kiyomizudera ke Nihiki bisa naik bis no. 207

       
  16. vennywijaya

    June 15, 2015 at 4:53 pm

    hi mba salam kenal… suka banget blog nya super lengkap ^^ btw pengen nanya klo dr kinkakuji mo langsung balik ke kyoto station naek bus 105 dan 205 jg kah mba? trus klo gion ama nishiki tuh deket ya mba.. walking distance kah? krn dr kiyomizudera rencana mo langsung ke gion ada bus nya .. thanks in advance ya mba ^^

     
    • Vicky Kurniawan

      June 23, 2015 at 10:24 am

      Dari Kinkakuji ke Kyoto Station bisa naik bis no. 205. Gion sama Nishiki Market dekat kurang lebih 1.2 km

       
  17. agus

    July 9, 2015 at 1:12 pm

    Mba, nanti bulan Mei 2016 saya plan ke jepang,kalau dari narita ke kota tokyo apakah ada bus yang murah ya?

     
  18. mchaerulumam

    October 4, 2015 at 11:27 am

    Mbak Vicky, mau tanya soal booking penginapan di hostelworld, kalo yg tidak punya kartu kredit apakah bisa bookingnya dg menggunakan kartu kredit orang lain? Dan bayar sisanya itu pake uang tunai apa kartu kredit juga? Terima Kasih mbaak.. Blog nya bagus dg detail isi critanya yg sangat rincii heheh 🙂

     
    • Vicky Kurniawan

      October 6, 2015 at 1:03 pm

      Halo mas Chaerul, bisa booking dengan kartu kredit orang lain. Nanti pembayaran hotelnya tergantung persyaratan di masing-masing hotel. Ada yang hanya mau menerima cash tapi ada juga yang mau full pakai kartu kredit. Jadi sebelum memesan dibaca sebaik-baiknya klausa masing-masing hotel.

       
  19. imariawan

    December 12, 2015 at 9:13 pm

    Hallo salam kenal… blog Mb Vicky sangat komplit.
    saya rencana januari 2016 ini mau ke Kyoto pertanyaan saya kalau naik kereta biar cepat ke ginkakuji ini naik kereta apa dan dari mana … aoakah ratenya beda jauh dengan bus?? tks

     
    • Vicky Kurniawan

      December 16, 2015 at 1:43 pm

      Sayangnya kalau naik kereta harus jalan agak jauh mas. Kereta lebih mahal daripada bis.

       
  20. Adiz

    February 18, 2016 at 6:06 pm

    Mba vicky salam kenal.. seneng sekali baca blognya yg super lengkap..mau nanya mba..aku rencana ke jepang nginep dekat univ.studio, klo mau ke kyoto enaknya naik apa ya mba? Rencana di kyoto ga nginep nanti balik lagi ke hotel di USJ. Kira2 dlm sehari itu yg bisa aku kunjungin dimana aja ya mba?pengennya sih ke fushimi inari juga.mksihh banyak sebelumnya ya mba

     
    • Vicky Kurniawan

      February 18, 2016 at 8:35 pm

      Halo mbak Adiz, kalau waktunya cuman sehari mending naik Shinkansen aja mbak soalnya kalau naik bis perlu waktu 3 jam sekali berangkat dari Osaka – Kyoto. Kalau naik Shinkansen hanya perlu waktu 15 menit. Kalau berangkat pagi-pagi, bisa tuh ke Fushimi Inari dulu

       
  21. Yoan

    February 24, 2016 at 11:40 pm

    Mbak vicky salam kenal.. Aku rencana sept-okt ini jalan ke jepang berdua sama temanku. Aku mau ikutin jejak mbak yg di kyoto ampe aku print hehehe biar jadi pedoman jalan nnti dsana. Aku mau tanya donk mbak jalan dsana kira2 kalo sudah malam sperti jalan d gion apakah aman bila kami (2 perempuan) jalan kesana? Soalnya seperti di tokyo ad daerah kabuchiko yg red district, kami tdk brani ksana 😦

     
    • Vicky Kurniawan

      February 25, 2016 at 4:07 pm

      Halo mbak Yoan udah kujawab di Email ya

       
  22. damayanti

    February 26, 2016 at 11:31 am

    Mba Vicky, salam kenal, mba rencananya saya mau ke jepang bulan mei 2016 ini selama 8 hari, mau tanya dong mba, kalau saya mau ke osaka dan kyoto terus balik lagi ke tokyo enaknya beli JR pass atau naik bus saja PP.

     
    • Vicky Kurniawan

      February 27, 2016 at 9:57 am

      Salam kena juga mbak Damayanti Dihitung dulu aja mbak, lebih murah yang mana.

       
  23. Devina Ayu

    March 8, 2016 at 9:51 pm

    Hai Mbak Vicky boleh minta emailnya ga? 🙂 makasihhhh mau nanya2 niii

     
  24. RINI RUSTIANTY

    October 13, 2016 at 11:11 am

    Mba…aku punyanya JR pass..kalo di Kyoto itu bisa kepake gak ya ke semua objek wisatanya…kayaknya ada yg rus pakai bus ya? makasih

     
  25. muliani

    November 12, 2016 at 7:42 pm

    Mbak Vicky..
    Saya menyukai blog nya yg sangat terperinci.
    Mau tanya untuk petunjuk jalan, map yg dipakai apa ya ? Soalnya lihat di google map tidak ada nama2 jalannya.
    Satu lg mbak… kalau kita ingin ke suatu tempat, bagaimana cara kita mengetahui harus keluar melalui exit yg mana di station keretanya ?
    Terimakasih mbak

     
    • Vicky Kurniawan

      November 12, 2016 at 10:49 pm

      Halo mbak..saya pakai google map biasa waktu merencanakan rute. Mengenai gambar peta dibawah sudah saya perbaiki semoga kelihatan nama jalannya ya.

       

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: