RSS

Hari Ke 9 : Munich – Zurich (Rheinfall, Schloss Laufen & Walking Tour Zurich’s Bahnhofstrasse)

24 Mar

Oleh : Vicky Kurniawan

Enam hari di Eropa terhitung sudah 14 kali naik kereta dengan rata-rata naik 2-3 kali perhari. Jadi gimana sih rasanya naik kereta kelas 1 keliling Eropa?. Yang jelas sangat nyaman karena lebih sepi, tempat duduknya lebih luas, jarak antar kaki lebih lebar dan jendelanya luas sehingga kita bisa puas mengagumi pemandangan diluar. Di beberapa kereta kita bahkan dikasih minuman dan snack gratis, koran gratis, bahkan tersedia WiFi dan Power sockets. Tapi naik kereta kelas 1 itu terkadang ada nggak enaknya juga. Yang jelas kita sering dipandang “aneh” saat naik, dugaan saya kalau yang ini mungkin terkait soal penampilan. Di kebanyakan perjalanan saya seringnya mengenakan baju-baju kasual seperti jeans, kaos, sweater ditambah jaket pokoknya nggak modis banget deh. Jadi pas kita berombongan naik, kebanyakan para penumpang memandang kami dengan tatapan ” Eh yakin loe, tiketnya kelas 1?”. Nah, kalau sudah begitu saya jadi ingat banget nasehat teman saya, “Yah, kalau tiketmu kelas 1 berpakaianlah seperti kelas 1,”. He he he mungkin benar juga nasehatnya. Cuman satu yang dia tidak tahu kalau tiket kelas 1 saya ini tiket “terpaksa” karena Eurail Pass untuk adult hanya tersedia untuk kelas 1. Tiket kelas 2 hanya berlaku bagi pembeli yang berusia 12-25 tahun dan berlaku bagi jenis Eurail Pass tertentu (seperti Select Pass 2 Countries dan One Country Pass). Selain itu, yah terima aja kalau dimasukkan kelas 1.

Sekali sekali jadi penumpang kelas 1

Sekali sekali jadi penumpang kelas 1

Tapi ada satu hal yang menjadi hiburan saya di gerbong ini, yaitu kalau ada pemeriksaan tiket. Saat pemeriksaan, pak kondektur akan mengusir orang-orang yang tidak punya tiket kelas 1. Walaupun kebanyakan ngusirnya nggak pakai bahasa Inggris, tidak diperlukan dukun ampuh untuk tahu kalau mereka diusir. “You need 1st class ticket to sit here. Please proceed to 2nd class cars”. Kalau ada yang ngeyel biasanya dia tinggal bilang, “If you want to sit here, you have to pay extra”. Nah, paling puas tuh kalau liat wajah-wajah yang tadinya menghina kita terus akhirnya tahu kalau tiket kita juga kelas 1. Yeee, dikiranya tampang Asia seperti kita nggak bisa bayar tiket kelas 1 apa. Tapi akhirnya saya berusaha memahami jalan pikiran mereka. Dengan harga tiket tiga kali lebih mahal daripada second class, yang naik disini bisa dibilang kebanyakan orang berduit. Kalau tidak businessman yah orang biasa yang mau membayar ekstra demi kenyamanan. Jarang banget ada turis yang naik di kelas 1. Jadi sangat sulit memulai percakapan dengan mereka karena kebanyakan sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri. Pernah nih yang duduk dekat kami seorang businessman yang begitu naik langsung membuka laptop dan bekerja dengan giat selama 4 jam penuh sampai kereta sampai. Mengabaikan begitu saja pemandangan indah diluar dan tentu saja mengabaikan orang-orang disekitarnya.

Tempat duduk kelas 1 di TGV

Tempat duduk kelas 1 di TGV (Photo By : Sese Ingolstadt)

Nah akhirnya, kita jadi punya permainan baru kalau naik kereta, yaitu main tebak-tebakan mana diantara penumpang dalam gerbong itu yang bakalan diusir sama kondektur (ha ha ha jadi ikutan rasis). Terlepas dari itu, pernahkah kita diusir dari gerbong kelas 1?. Ternyata pernah 🙂 . Dalam perjalanan dari Salzburg HBF ke stasiun Attnang Pucheim dengan sok yakin kita naik ke gerbong kelas 1+ punya Westbahn. Nah kita tidak memperhatikan tanda plus nya itu dan langsung naik aja. Sebenarnya saat duduk kita udah langsung curiga kok tempat duduknya lain. Dari kulit, lebih nyuss saat diduduki dan jauh lebih lebar daripada tempat duduk kelas 1 pada umumnya. Eh benar juga saat pemeriksaan tiket gantian nih kami yang diusir karena gerbong itu khusus untuk Premium Class yang notabene diatas kelas 1. Pantesan penumpangnya hanya 4 orang (3 diantaranya adalah kita) 🙂 .

Tempat duduk di Westbahn Plus

Tempat duduk di Westbahn Plus

Tapi buat suami saya yang hobinya merakyat seperti pak Jokowi, duduk di kelas 1 itu tidak ada enaknya. Apalagi kalau tanpa sengaja kita naik kelas 1 yang tergolong Quiet Coaches (biasanya ada tanda Q besar di pintu atau dindingnya). Dia itu paling hobi tidur, dengan suasana gerbong yang sepi dan nyaman memang paling enak dibikin tidur. Payahnya lagi dia juga hobi ngorok. Jadi bayangin aja, di gerbong Quiet Zone dimana ngomong sama tetangganya aja kudu bisik-bisik tiba-tiba ada suara bising orang menggergaji kayu mahoni. Jadi pada hebohlah penumpang disitu karena semua pada meng-ssstttttt suami saya. Akhirnya dia pindah ke ujung gerbong yang sepi penumpang. Tapi dasar tukang ngorok, walaupun udah pindah ke ujung, suara ngoroknya tetap terdengar surround sampai ke depan. Malu banget sama kelakuannya, saya berjalan membangunkannya dan sambil ngomel akhirnya dia pindah ke kelas 2. Kalau disitu mah, walaupun ngorok sekencangnya nggak bakalan ada yang ngomel. Paling hanya diketawain karena dikira lagi konser 🙂 .

Tanda Quiet Zone

Tanda Quiet Zone

Perjalanan Munich – Zurich

Dari Munich ke Zurich perjalanan dengan kereta memakan waktu kurang lebih 4 sampai 5 jam. Oleh sebab itu kami memutuskan untuk berangkat pagi-pagi supaya banyak waktu untuk mengeksplore Zurich karena hanya menginap semalam disini sebelum melanjutkan perjalanan ke Lucerne. Dari Eurail Timetable satu-satunya kereta direct dari Munich (Muenchen HBF) ke Zurich (Zuerich HB) hanya ada satu kali dalam sehari yaitu kereta jam 7 pagi. Jadi kalau ketinggalan kereta yang ini harus rela berganti-ganti kereta paling tidak satu kali. Akhirnya harus rela pagi-pagi udah nongkrong di stasiun.

untitled1

Jadwal di Eurail Timetable

Bagian luar dan dalam stasiun Munich HBF

Bagian luar dan dalam stasiun Munich HBF

Kereta yang digunakan adalah Euro City (disingkat EC) merupakan jaringan kereta antar negara yang khusus menghubungkan 2 negara atau lebih. Karena bersifat internasional maka kondekturnya pun paling tidak harus menguasai sedikitnya 2 bahasa antara Inggris, Perancis atau Jerman. Enaknya lagi, kereta ini hanya berhenti di stasiun besar dengan waktu pemberhentian tidak boleh lebih dari 5 menit. Hanya pada kasus tertentu mereka boleh berhenti sampai 15 menit.

Bagian Dalam Kereta EC

Bagian Dalam Kereta EC

Nah, saat naik kereta ini, seperti biasa kami duduk sembarangan saja di kursi yang diambil secara acak. Lagi enak-enaknya duduk, datanglah seorang wanita muda menegur ibu saya sambil mengacung-ngacungkan tiketnya dan bicara cepat dalam bahasa Jerman. Ibu saya yang bahasa Inggris aja nggak ngerti apalagi bahasa Jerman hanya bisa mangut-mangut saja sambil tersenyum. Marah karena merasa diabaikan, ngomongnya kali ini makin keras ditambah nunjuk-nunjuk. Akhirnya, saya yang duduk berlainan gang dengan ibu mendekati dan mencoba mencari tahu duduk perkaranya. “What happened miss?. She is my mother. Sorry, She doesn’t understand German neither do I. Would you speak English?”. Duh, tatapannya seperti dewa Zeus mau menggoreng Hades dengan petirnya. Pelajaran pertama buat saya “jangan menyuruh orang Jerman bicara bahasa Inggris”. Tuh betul kan, karena dia terus nyerocos sambil marah dalam bahasa Jerman. Akhirnya saya bilang gini ke ibu, “Wis buk, sing waras ngalah. Pindah aja dari sini mungkin ini kursinya”. “Lha wong di gerbong ini masih banyak kursi kosong, kenapa dia tidak duduk di tempat lain aja”, kata ibu nggak kalah ngeyel. “Udah pindah aja”, kata saya. Akhirnya masalah terselesaikan saat ibu pindah kursi. Dengan berat hati saya meminta maaf walaupun sebenarnya nggak rela juga melihat kekasarannya menghadapi ibu saya. Toh sebenarnya dia bisa ngomong baik-baik dan tidak usah membentak-bentak seperti itu. Yah, mungkin si mbak lagi stress dan kurang piknik. Setelah drama usai, suami saya yang sedari tadi diam saja bilang, “Mungkin itu memang kursinya. Coba perhatikan tanda reservasi diatasnya”. Ternyata benar juga ada tulisan Express Reservierung. Bitte Fur Platzkarteninhaber freigeben. Rupanya kalau kereta open seat seperti ini kita harus duduk di kursi yang tidak ada tanda reservasinya.

Tanda Reservasi diatas kursi

Tanda Reservasi diatas kursi

Zurich HB

Zürich Hauptbahnhof (atau biasa disingkat Zürich HB) adalah stasiun kereta api terbesar di Swiss. Stasiun ini menghubungkan kereta domestik dan internasional, kereta lokal seperti S-Bahn dan beberapa public transportation seperti trem dan trolleybus. Jadi tidaklah mengherankan kalau stasiun ini menjadi salah satu stasiun kereta tersibuk di dunia.

a). Reservasi Tiket Kereta Jenewa – Paris

Sesampai di Zurich HB sekitar pukul 11.45, saya bergegas menuju kantor reservasi tiket Hauptbahnhof SBB Zürich. Kalau di peta tempat ini ditunjukkan sebagai International Ticket Office (lihat gambar dibawah).

Map Zurch HBF

Map Zurch HBF

Bila masih bingung dengan peta diatas ikuti saja petunjuk arah yang bertanda i (infomasi), gambar uang atau gambar tiket seperti foto dibawah ini.

498639

Kami memang perlu melakukan reservasi untuk kereta dari Jenewa ke Paris yang rencananya akan menggunakan kereta supercepat TGV Lyria. Maunya saya menghindari kereta ini karena biaya reservasinya yang mahal. Sudah berusaha diotak atik di Eurail Timetable tetap saja ketemunya kereta TGV ini. Jadi mau nggak mau yah harus mau 😦 . Walaupun perjalanan tersebut baru akan dilakukan 10 hari kemudian, saya memutuskan untuk memesan jauh-jauh hari supaya tidak kepikiran lagi. Untung saja di kantor reservasi petugasnya fasih berbahasa Inggris sehingga saya tinggal menyodorkan Eurail Global Pass berserta tanggal, tujuan dan jam yang dikehendaki. Biaya reservasinya sebesar CHF 32 perorang yang saya bayar menggunakan kartu kredit karena belum menukar Euro dengan CHF. Biaya reservasi besarnya berubah-ubah tergantung dari bulan (High atau Low Season). Biaya reservasi kereta TGV Lyria bisa dicek disini , jangan lupa saat mengisi tabel Find My TGV Lyria Tickets di sebelah kiri diisi juga jenis Rail Pass yang digunakan supaya biaya reservasinya bisa keluar.

b). Penukaran Euro Ke CHF

Mata uang resmi Swiss adalah Swiss Franc (CHF). Dikelilingi oleh negara-negara yang menggunakan Euro maka disini Euro sifatnya De Facto, diterima hanya di beberapa tempat terutama daerah turis dan perbatasan. Swiss Federal Railway menerima Euro baik di konter tiket ataupun di vending machines. Selain itu banyak toko yang menerima pembayaran berupa Euro walaupun hanya berupa uang kertas (bukan koin) dan biasanya mengembalikan dalam bentuk CHF. Tapi selama di Swiss, saya banyak menggunakan CHF karena rata-rata semua transaksi banyak meminta CHF daripada Euro.

Bagian Depan Zurich HBF

Bagian Depan Zurich HBF

Saat pertama tiba di Zurich, suami saya menukarkan Euronya melalui SBB Change Counter yang ada di stasiun tanpa membandingkan kursnya. Idealnya sebelum menukar sebaiknya dibandingkan dulu antara menggunakan ATM atau menukar di bank dan money changer. Apalagi sebagai negara perbankan, hampir di setiap sudut kota ini tersedia bank. Kurs penukaran di SBB Counters bisa dicek disini. Sedangkan letak bank dan fasilitas lain di Zurich HB bisa dilihat disini.

Akomodasi di Zurich

Usai urusan reservasi dan tukar uang, kami berjalan keluar menuju hostel. Terus terang mencari penginapan yang murah di Zurich ini susah, apalagi saya maunya yang dekat dengan Zurich HB karena saya bakalan sering wira-wiri dari stasiun ini. Di kota ini anggaran saya tidak mencukupi untuk menyewa kamar private bertiga. Akhirnya, jadilah kami menginap di  City Backpacker – Hostel Biber dengan rate 37 CHF (Rp. 509.675) per orang per malam untuk 6 bed mixed dorm.

Jalan menuju hostel dan bagian depannya

Jalan menuju hostel dan bagian depannya

Berjarak sekitar 800 meter dari stasiun Zurich HB, hostel ini relatif gampang dicari walaupun letaknya nun jauh disana diatas restoran Pizza. Kelebihannya : tersedia dapur dan meja makan, keadaan kamar dan kamar mandinya sangat bersih, dan resepsionisnya juga baik. Kekurangan yang paling utama adalah tidak ada lift dan tidak ada colokan di kamar jadi masak dilakukan di dapur. Sebenarnya ketiadaan lift disebuah hostel adalah hal yang lumrah. Tapi tidak enaknya disini hotelnya sendiri terletak di lantai 3-5 karena lantai 1 dan 2 adalah restoran Pizza. Tangga naiknya sempit dan berkelok-kelok tanpa jeda. Duh rasanya ambeien saya langsung kumat karena mengangkat koper melewati tangga-tangga itu.

Kamar dan Dapur (kiri), Tangga menuju Hostel (kanan)

Kamar dan Dapur (kiri), Tangga menuju Hostel (kanan)

Uniknya lagi, hostel ini tidak menyediakan seprei. Kalau mau tempat tidurnya dikasih seprei harus bayar biaya tambahan sebesar CHF 3. Sayang buang uang segitu akhirnya saya memilih tidak memakai seprei. Rencananya saya akan menggelar sarung Bali sebagai ganti seprei. Ternyata sore hari saat masuk ke kamar, saya lihat kasurnya sangat bersih walaupun tanpa seprei. Tidak ada noda setitikpun di kasur itu,  duh jadi ingat kasur saya di rumah yang penuh noda ompol si kecil 🙂 . Selain seprei, mereka juga tidak menyediakan handuk dan sabun (lah iyalah namanya juga hostel). Kekurangan lain dari hostel ini adalah jam buka resepsionisnya yang aneh yaitu antara jam 8.00 pagi sampai jam 12.00 siang dilanjutkan jam 3 sore sampai jam 10 malam (sebenarnya sama dengan jam resepsionis di Obertraun). Bisa dibayangkan saat saya kesana jam 12 lebih, lobinya sepi tidak ada seorangun yang kelihatan. Akhirnya sambil baca doa banyak-banyak kami tinggalkan saja backpack dan koper-koper di salah satu sudut lobi. Peta jalan kaki dari stasiun Zurich HB menuju hostel dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Balik lagi ke stasiun, kami naik kereta menuju tujuan kami selanjutnya yaitu air terjun Rheinfall.

Rheinfall

Rheinfall atau dalam bahasa Inggris disebut Rhine Falls adalah air terjun terbesar di Eropa. Dengan lebar seluas 150 meter dan tinggi sekitar 23 meter kalau dibandingkan dengan air terjun di Indonesia yang ini lebih mirip “grojokan besar” 🙂 . Debit airnya sangat tinggi membuat ikan tidak bisa berenang melompatinya. Sejak abad ke 11, air terjun ini sudah dikembangkan secara komersial mulai dari pembangunan pabrik kecil di hilirnya, pembangunan bendungan sampai penggunaannya sebagai pembangkit tenaga listrik. Pembangunan hotel disekitarnya menambah lagi satu fungsinya yaitu sebagai tempat wisata. Terletak kurang lebih 40 km sebelah utara kota Zurich, tempat ini paling mudah dicapai dengan menggunakan kereta karena stasiunnya persis berada di bawah kastil yang berdekatan dengan air terjun. Jenis kereta yang menuju kesini pun bermacam-macam mulai dari IC (Intercity), IR (Inter Regio), RE (Regio Express) dan S atau S-Bahn (Commuter Train). Tapi jangan bingung dengan banyaknya jenis kereta ini karena pada intinya cari kereta dari Zurich HB yang melewati Winterthur dan dari situ ganti kereta lagi menuju Rheinfall. Salah satu jalur yang saya gunakan waktu itu dapat dilihat pada gambar berikut ini :

untitled

Bisa dibilang perjalanan kereta dari Zurich ke Rheinfall merupakan salah satu perjalanan dengan pemandangan terindah melewati hutan, jurang, desa-desa kecil dan perkebunan anggur. Jadi usahakan jangan ketiduran kalau lewat sini. Begitu turun di stasiun Schloss Laufen am Rheinfall, kami mendaki naik menuju kastilnya.

Stasiun Schloss Laufen am Rheinfall

Stasiun Schloss Laufen am Rheinfall

Pintu Gerbang Rheinfall

Pintu Gerbang Rheinfall

Setelah membeli tiket seharga CHF 5 (bisa dibayar dengan Euro), kami turun menuju air terjunnya. Bisa dibilang air terjun ini memang luas, besar dan deras. Dari atas viewing deck, saya melihat banyak orang naik boat wira wiri dibawah air terjun. Bahkan ada yang naik menuju panggung batu yang khusus dibangun di tengah air terjun. Memang ada 4 jalur yang ditawarkan bila ingin berwisata dengan menggunakan boat disini. Pertama, perjalanan ke panggung batu ditengah air terjun (Rute no.1). Perjalanan ini memakan waktu 25 menit dengan biaya CHF 10 yang sayangnya dimulai dari pangkalan boat di Schloss Worth yang terletak diseberang Laufen. Jadi kalau kamu datang dari Schloss Laufen seperti saya, harus menyeberang dulu ke Schloss Worth. Kedua, perjalanan yang paling murah adalah menyeberang dengan boat dari Shloss Worth ke Schloss Laufen atau sebaliknya (Rute No. 2). Perjalanannya hanya 5 menit dengan biaya CHF 2. Ketiga,  perjalanan singkat mengelilingi sungai Rhine (Short Roundtrip) yang ditunjukkan oleh rute no. 4. Perjalanan ini memakan waktu 15 menit dengan biaya CHF 6. Yang terakhir adalah audio guide tour selama 30 menit dengan biaya CHF 10 (rute no. 5). Peta Rhine Falls berikut jalur boatnya bisa dilihat pada gambar dibawah ini.

Peta Rheinfalls

Peta Rheinfalls

Saya tidak mencoba perjalanan dengan boatnya karena lagi-lagi pak bendahara tidak mengijinkan. Alasannya saya lupa tidak memasukkan dalam anggaran (ah alasan, dasar pak bendahara memang pelit). Jadi saya hanya bisa puas berfoto-foto di Viewing Platformnya saja.

Viewing Platform Rhinefalls

Viewing Platform Rhinefalls

Pemandangan Rhine Falls dengan panggung batu di tengahnya

Pemandangan Rhine Falls dengan panggung batu di tengahnya

Dari Viewing Platform, kami berdua turun menuju pangkalan boat. Kebetulan di dekat pangkalan itu terdapat Viewing Platform yang lebih kecil dengan posisi menggantung dan lebih menjorok ke air terjun. Ibu yang sudah kecapekan memutuskan tidak ikut dan menunggu di Viewing Platform atas. Dalam perjalanan menuju pangkalan boat ini, kami menemukan sebuah ceruk kecil yang berada persis disamping air terjun. Disini saya bisa menyentuh airnya dan merasakan betapa deras dan kuatnya air terjun ini.

Pak Bendahara saya yang pelit

Pak Bendahara saya yang pelit

Jalan menuju platform terbawah ini memang lumayan capek karena mendaki dan menuruni banyak tangga, untung saja ibu tidak ikut. Walaupun demikian jalannya sudah terpaving dengan rapi sehingga mudah mengikuti jalurnya. Di Viewing Platform bawah yang biasa disebut Kanzeli ini, kita memang bisa lebih dekat dengan air terjun. Dengan aliran air berkisar antara 600.000 liter perdetik di musim panas dan 250.000 liter perdetik di musim dingin tidak heran kalau air terjun ini begitu dahsyat dan bertenaga. Jadi siap-siap basah-basah saja kalau berdiri di sini.

Kanzeli Viewing Platform

Kanzeli Viewing Platform

Dari pangkalan boat, kami naik kembali ke Viewing Platform atas untuk menjemput ibu dan dari situ, kami berjalan menyusuri Belvedere Trail menuju Panorama Lift. Belvedere Trail ini memiliki motto See, hear, be amazed dan sesuai dengan motonya maka jalur ini dibuat sedemikian rupa sehingga keindahan pemandangan Rheinfall dapat dinikmati dengan maksimal.

Belvedere Trail

Belvedere Trail

Di ujung Belvedere Trail terdapat Panoramic Lift yang sekelilingnya terbuat dari kaca. Dari lift ini kita dapat melihat keindahan panorama Rhine Falls, jalur kereta api dibawahnya dan Schloss Worth diseberang. Kalau mau kita juga bisa memesan lift ini khusus untuk makan malam tapi hanya untuk berdua dan hanya berlaku dari bulan Maret sampai Oktober saja. Paling pas juga kalau kesininya tanggal 31 Juli jam 9.45 malam karena ada pertunjukkan kembang api gratis di Rheinfall yang sudah menjadi tradisi sejak abad ke 18. Mulanya tradisi ini diadakan untuk memperingati pembukaan jalur kereta api baru yang menghubungkan Winterthur dan Schaffhausen. Suka dengan ide ini akhirnya pendiri Grandhotel Schweizerhof memutuskan untuk mengadakan kegiatan ini tiap tahun. 

Panorama Lift (kiri dan kanan atas), Kembang Api di Rhinefalls (kanan bawah). Photo by : http://timecaptures.com dan koleksi pribadi)

Panorama Lift (kiri dan kanan atas), Kembang Api di Rhinefalls (kanan bawah). Photo by : http://timecaptures.com dan koleksi pribadi)

Selain pertunjukkan kembang api di bulan Juli, tiap malam selama 947 jam dalam setahun Rhinefalls akan diterangi oleh efek khusus pencahayaan yang mereka sebut Memorable Illuminatios. Hasil karya Charles Kellen ini menerangi bangunan-bangunan utama disekitar Rheinfall seperti jembatan kereta api, Schloss Laufen and Schloss Worth. Selain itu ia juga menerangi aliran air Rheinfall sehingga memberikan pemandangan yang unik dan berbeda dengan siang hari. Tapi dengan alasan perlindungan terhadap alam dan warisan budaya, Memorable Illumination ini tidak diadakan selama bulan Juni, dua minggu saat awal musim dingin dan bulan April minggu pertama. Jadwal Memorable Illuminations dapat dicek disini.

Memorable Illumination (Photo by : www.rheinfall.ch)

Memorable Illumination (Photo by : http://www.rheinfall.ch)

Schloss Laufen

Keluar dari panorama lift sampailah kami di Schloss Laufen. Kastil ini dulunya milik pribadi sebelum akhirnya dibeli oleh pemerintah kota Zurich dan dialihkan fungsinya menjadi restoran dan hostel. Di sayap utara kastil terdapat Historama yang menceritakan sejarah kastil dan sejarah Rhinefalls yang dimulai dari abad ke 18. Terdiri dari 2 lantai dan 11 ruangan, museum ini berisi berbagai hal mengenai perkembangan Rheinfalls dari masa ke masa, orang penting mana saja yang pernah berkunjung kesini, bagaimana pengaruh Rheinfall terhadap turisme dan industri sampai hal-hal sederhana seperti pernikahan paling romantis di kastil ini. Selain mengamati pernak pernik berbau sejarah dari dalam kastil ini kita juga bisa menikmati pemandangan indah diluar melalui jendela-jendelanya yang lebar.

Bagian Dalam Historama Schloss Laufen

Bagian Dalam Historama Schloss Laufen

Setelah puas menjelajahi Historama, kami beristirahat dan sholat di salah satu pojokan kastil. Sebelum mengakhiri kunjungan kesini, kami mampir dulu di toko souvenirnya untuk melihat lihat. Rata-rata souvenirnya berkualitas bagus dan tidak pasaran bentuknya. Sayang harganya mahal-mahal jadi di toko souvenir ini hanya bisa ngiler dan nggak beli apa apa 😦 .

Souvenir di Rheinfall

Souvenir di Rheinfall

Jam sudah menunjukkan pukul 16.30 sore ketika kami mengakhiri kunjungan kesini. Rute kereta kembali ke Zurich HB persis seperti yang dilakukan tadi pagi hanya kebalikannya. Jalan kaki ke stasiun Neuhasen, Schloss Laufen Am Rheinfall naik kereta commuter S33 jurusan Winterthur . Turun di stasiun Winterthur tinggal cari kereta menuju Zurich HB. Perjalanan pulang lebih cepat daripada berangkatnya. Hanya dibutuhkan waktu 45 menit perjalanan kereta dari kastil ke Zurich HB. Website resmi Rhine Falls dapat dilihat disini .

SBB LOUNGE

Salah satu keuntungan memegang Eurail Pass di Swiss adalah bebas masuk ke SBB Lounge yang berada di Zurich dan Jenewa Main Station. Kalau yang di Zurich HB, loungenya terletak di lantai 2 dekat restoran “Au Premier”. Lounge ini buka dari jam 6 pagi sampai jam 9 malam. Jadi setelah tiba kembali di Zurich HB, kami memanfaatkan kesempatan ini untuk mampir ke Lounge ini.

SBB Lounge di Zurich HB

SBB Lounge di Zurich HB

Sore itu kami masih harus check in di hostel karena tadi siang resepsionisnya masih tutup. Rencananya setelah check in, kami akan kembali ke stasiun untuk jalan-jalan lagi ke seputaran kota Zurich. Jadi daripada capek, ibu kami minta duduk-duduk santai di SBB Lounge sementara kita menuju hostel. Pertama kali mencari Lounge ini saya pikir letaknya jadi satu dengan restoran “Au Premier” karena petunjuk arahnya menunjuk ke restoran ini. Akhirnya tanpa pikir panjang masuk aja ke restoran sambil menunjukkan Eurail Global Pass pada pelayannya. Kontan pelayannya bengong. “Nih orang apa maksudnya ya”, kira-kira begitu pikirannya. Sambil membolak balik tiket itu dia bilang dalam bahasa Jerman, “Nein nein”. Saya bilang, “Is SBB Lounge here?”. Dia menggeleng-nggelengkan kepalanya sambil mengembalikan tiket. “Do you know where is it”, tanya saya lagi. Dia tetap geleng-geleng. Tapi baiknya, dia bersiul memanggil temannya sesama pelayan kemudian mereka berdua berdiskusi dalam bahasa Jerman. Rupanya si teman bisa bahasa Inggris walaupun sedikit-sedikit dan dia bilang Lounge- nya ada dilantai atas dan kami harus naik lift yang terletak persis disebelah restoran.

Lift menuju SBB Lounge Zurich HB

Lift menuju SBB Lounge Zurich HB (Photo by : bahnreiseberichte.de)

Setelah menyerahkan Eurail Pass kepada petugas resepsionis, kamipun masuk kedalam. Suasananya memang nyaman (memang enak jadi orang kaya), kursinya lebar, tersedia beraneka minuman non alkohol, ada dua komputer berakses internet yang dilengkapi dengan printer dan yang paling penting tersedia Wifi. Uniknya lagi, lampu besar di langit-langit dihiasi gambar pegunungan Alpen yang bersalju sehingga menghasilkan tipuan seolah-olah kita sedang duduk-duduk dibawahnya.

Bagian Dalam SBB Lounge Zurich HB

Bagian Dalam SBB Lounge Zurich HB

Setelah ibu duduk dengan nyaman, kami cepat-cepat pergi untuk check inn. Tapi sebelumnya saya bertanya kepada resepsionis lounge apakah kami nanti boleh masuk lagi untuk menjemput ibu. Dia bilang harusnya pass ini hanya berlaku untuk sekali masuk tapi untuk kasus ini dia bisa membuat pengecualian (he he he Danke Fraulein).

Walking Tour Zurich’s Bahnhofstrasse

Balik ke hostel untuk check in, resepsionis yang ramah dan sangat fasih berbahasa Inggris memberikan saya dua lembar formulir yang harus diisi dan ditanda tangani. Baru setengah jalan mengisi formulir, datanglah seorang gadis muda sambil menggeret koper yang rupanya mau check inn juga. Dikasihlah dia dua lembar formulir seperti milik saya. Tidak sampai semenit dia menyerahkan kembali formulir itu ke resepsionis sambil bilang, “I’m done”. Saya yang dari tadi tidak kelar-kelar mengisi formulir hanya bisa melongo. Gila, cepet banget yah kerjanya. Duh, entah kenapa saya jadi kepikiran anak-anak saya di rumah. Kalau saingannya besok generasi-generasi muda seperti ini yang kerjanya gesit dan tidak lelet bakalan habis dah generasi muda Indonesia kalau tidak mau berubah.

Commorn Room Di City Backpacker Hostel Biber

Common Room Di City Backpacker Hostel Biber

Setelah urusan check inn selesai, kami berdua kembali SBB Lounge di Zurich HB untuk menjemput ibu. Rencana awal saya setelah pulang dari Rheinfall adalah memanfaatkan salah satu benefit pass dari Eurail Pass yaitu free naik ZSG Boat Services di Lake Zurich. Idealnya perjalanan dengan boat ini memakan waktu setengah hari bila ingin maksimal. Jadi dari Zurich HB jalan sekitar 3 menit ke pangkalan boat Zürich Landesmuseum yang berada persis disebelah Swiss National Museum. Di pangkalan boat inilah Limmat River Cruise berada. Naik Limmat River Cruise kurang lebih 15 menit turun di pangkalan Zürich Bürkliplatz dan dari sini baru mengikuti Lake Cruise yang pilihannya bermacam-macam dari yang berdurasi 7 jam sampai 1.5 jam. Sayangnya karena waktu sudah sangat terlambat karena harus bolak balik ke hostel dulu untuk check inn kami ketinggalan Limmat River Cruise. Jadilah sebagai gantinya kami jalan-jalan di seputaran Zurich HB ini. Bagi yang berminat dengan perjalanan ZSG Boat Services di Lake Zurich dapat mengecek jadwalnya disini .

Limmat River Cruise (Photo by : myswitzerland.com

Limmat River Cruise (Photo by : myswitzerland.com)

Rute walking tour kami di mulai dari Zurich HB dan diakhiri di Bellevueplatz sebelum kembali ke hostel. Rute ini membentang sejauh 2,7 km dengan waktu tempuh kurang lebih 1.5 jam karena kita banyak berhenti untuk istirahat dan berfoto. Peta Walking tour seputaran Zurich HB dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

Sebenarnya waktu terbaik menyusuri tempat ini adalah jam 9 pagi sampai jam 5 sore ketika kebanyakan toko-toko buka. Sayangnya kami memulai agak malam sekitar jam 7, jadi toko-tokonya sudah banyak yang tutup. Tapi lumayanlah jadi hiburan daripada harus mendekam di hostel. Dari Zurich HB kami berjalan kaki menuju Pestalozzi Park, disebut demikian karena di dalamnya terdapat patung Johann Heinrich Pestalozzi seorang guru yang banyak berjasa di bidang pendidikan. Setelah istirahat sejenak disini, kami berjalan menyusuri Bahnhofstrasse .Di kiri kanan jalan ini banyak ditanam pohon-pohon Linden yang menutupi toko-toko dan bank-bank yang berada di sepanjang tepi jalan. Kebanyakan toko-toko disini ditujukan bagi konsumen menengah keatas dengan produk utama arloji Swiss dan perhiasan.

Tram di Zurich

Tram di Zurich

Pemandangan seputar Limmat River di sore hari (Photo by : plasticexpert.co.uk)

Pemandangan seputar Limmat River di sore hari (Photo by : plasticexpert.co.uk)

Menyusuri Bahnhofstrasse sampailah kami di Paradeplatz, yang merupakan tempat interchange Central Tram di Zurich. Sekarang orang tidak akan mengira kalau dulu pada abad ke 18 tempat ini adalah pasar ternak yang paling terkenal di Zurich. Sekarang tempat ini kelihatan menonjol dengan bangunan abad ke 18 yang ditempati kantor Crédit Suisse. Berjalan terus sampai diujung jalan Bahnhofstrasse sampailah kami di Bürkliplatz. Disinilah titik berakhirnya Limmat River yang akhirnya bergabung dengan Lake Zurich. Dari sini terlihat Quaibrücke, sebuah jembatan yang menghubungkan bagian kanan dan kiri sungai. Tempat ini juga menjadi pangkalan Lake Cruise berada.

Menara jam St Peter dilihat dari Limmatquai

Menara jam St Peter dilihat dari Limmatquai

Menyeberangi Quaibrücke, kami tiba di Bellevueplatz. Disini kami duduk sejenak menikmati pemandangan senja di tepi danau Zurich. Sungguh kegiatan yang menyenangkan untuk menutup hari. Bersantai-santai di tepi danau sambil melihat bebek-bebek yang asyik berenang. Kalau sudah bosan lihat danau ganti melihat kegiatan orang yang lalu lalang di sekitarnya. Ada yang olahraga, bersantai bersama teman sambil ngemil. Duh jadi keinget perut yang keroncongan. Akhirnya sebelum pulang kami mampir dulu di supermarket Coop untuk beli telur yang dimasak di hostel dan dimakan dengan sambol cocol yang dibawa dari Indonesia. Hmm sedap.

Bellevueplatz

Bellevueplatz (Photo By : zanzig.com & koleksi pribadi)

Biaya Hari Ke 9

1

Kronologi Waktu

untitled2

 

 

Advertisements
 
17 Comments

Posted by on March 24, 2016 in Swiss, Zurich

 

Tags: , , , , ,

17 responses to “Hari Ke 9 : Munich – Zurich (Rheinfall, Schloss Laufen & Walking Tour Zurich’s Bahnhofstrasse)

  1. Herry

    March 24, 2016 at 8:28 pm

    Akhirnya postingan baru ya mbak.
    Blog ini mrpk best travelling blog menurut aku. Detail banget. Uda kek ensiklopedia. Kekurangannya hanya agak lama tunggu postingan baru. Heheheheh.

    Senangat nulis ya mbak. Ur blog is really helpful.

     
    • Vicky Kurniawan

      March 25, 2016 at 12:12 am

      He he terima kasih atas pujiannya ya mas Herry. Semoga saya bisa lebih cepat menulis soalnya masih utang banyak. Masih ada 3 perjalanan lagi yg belum ditulis ke China, Arab Saudi sama ke Kamboja dan vietnam..😅

       
  2. Herry

    March 25, 2016 at 12:55 pm

    Wahhhhhh

    Masi byk banget mbak yg blm ditulis.
    Semangat nulis mbak.

    Ke arab saudi backpackeran jg??

    Next trip k mana lg mbak??

     
    • Vicky Kurniawan

      March 25, 2016 at 5:17 pm

      Iya ke Arab backpackeran juga. Oktober ini saya mau ke Cina lagi 🙂 . Doh makin banyak utang saya..

       
  3. Herry

    March 25, 2016 at 8:33 pm

    Asli senang banget baca blog mbak. Cocok jd panduan.

    Salut sama mbak yg sblm travelling uda research sana sini. Kalo aku suh yg penting punya gbrn mau ke mana. Lalu mbak bisa ingat segitu detail.
    Salut 🙂

    Oktober ke cina lg ya mbak?? Rute beda ya sama yg kmrn??

     
    • Vicky Kurniawan

      March 26, 2016 at 5:50 pm

      Ha ha ha…saya harus riset mas karena nggak pengen buang waktu. Cuti kantor saya terbatas. Tapi orang memang punya gaya traveling berbeda. Kalo seperti mas Herry mungkin tidak nyaman kalau harus riset dulu karena kurang Surprise jadinya. Itu juga baik kok. Saya ingat detail karena saya catat dengan detail. Jadi kalau pas di kereta, lagi nunggu bis atau mau tidur di hostel pasti saya tulis. Soalnya saya nulisnya bisa lama kalau nggak dicatat pasti lupa. Oktober nanti saya coba ke Cina Selatan. Pengen ke Guilin sama lihat Canton Fair

       
  4. Herry

    March 27, 2016 at 8:09 pm

    it’s me again mbak.
    gmn cara subscribe blog mbak ya? biar kalo ada postingan baru lgsg ada pemberitahuan. (aku gk ada tulis blog)

    Mbak, bisa minta itinerary ke cina n kamboja vietnam gk? (kalo gk merepotkan)
    Kalo bisa, ke email aja ya mbak..
    email sy dr.herianto@yahoo.com
    makasi byk

     
    • Vicky Kurniawan

      March 28, 2016 at 6:54 pm

      Halo mas Herry, cara subsribe-nya cukup klik kotak berwarna Oranye yang terletak persis dibawah tulisan daftar isi. Nanti tinggal isi email mas Herry. Oke, insyaallah akan saya kirim. Kalau saya kelupaan tolong email saya di Oktavi23@yahoo.com

       
  5. mila said

    April 18, 2016 at 1:33 pm

    naik kereta mewah gitu punggung pasti gak akan pegel ya mba hahahaa

     
    • Vicky Kurniawan

      April 18, 2016 at 10:52 pm

      He he he nggak lah..bikin mata merem yang iya.. 🙂

       
  6. ubugibabyshop

    January 17, 2017 at 4:11 pm

    Mbak vicky kl sy di swiss 4 hari (tanpa eurailpass) dengan itinerary spt mbak Vicky sebaiknya beli pass yg mana ya? Atau lbh hemat point to point aja? Sy ingin mengunjungi jungfraujoch jg.
    Transpotasi gratis dalam kota hanya di geneva saja atau di semua kota (lurence, zurich, interlaken)?

     
  7. mytha

    February 26, 2017 at 3:16 pm

    hai mba vicky.. seneng baca web nya karena detail dan informatif. mau tanya mbak, kalo reservasi kereta pake eurorail pass itu g bisa dilakukan di indonesia ya? berarti harga eurorail pass nya belum termasuk biaya reservasi y mbak?
    thx before.

     
    • Vicky Kurniawan

      February 26, 2017 at 4:17 pm

      Iya mbak Mytha, reservasinya bisa dilakukan di Indonesia. Harga tiket kereta belum termasuk dalam reservasi.

       
  8. amalya

    April 15, 2017 at 12:47 pm

    halo Mba Vicky, wah akhirnya ketemu blog se detail ini ke Zurich. Mba, aku mau tanya untuk beli tiket kereta yang ke Rheinfall, langsung beli disana ya? atau itu termasuk Eurail Pass? soalnya aku ketengan aja untuk kereta nya. Thank you 🙂

     
    • Vicky Kurniawan

      May 15, 2017 at 4:12 pm

      Langsung beli aja disana bisa mbak Amalya. Terima kasih sudah mampir kesini ya

       
  9. Lilik

    April 15, 2017 at 8:10 pm

    Mas Vicky, nanya dong
    Besok tgl 13 mauke Paris neh

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: