RSS

Hari Ke 5 : Manila – Puerto Princesa (Irawan Eco Park & Kalui Restaurant)

Oleh : Vicky Kurniawan

Seperti tergaris di tangan, tiap kali menginap di dormitory hostel yang tempat tidurnya bertingkat, saya selalu mendapat tempat tidur teratas. Tidak terkecuali di Manila International Youth Hostel ini, dapat tempat tidur teratas dengan tangga kayu yang sempit plus bonus anak tangga yang hilang di bagian bawah. Jadi saya masih butuh kursi untuk naik ke anak tangga terdekat. Akhirnya sambil bersusah payah naik keatas, saya berkata dalam hati “ooooh…I’m too old for this”. Tapi betapa terkejutnya ketika sampai diatas, tepat diseberang tempat tidur ada seorang nenek yang juga dapat tempat tidur teratas sedang asyik melakukan ritual sebelum tidurnya yaitu mengerol rambut. He he he saya langsung berasa 20 tahun lebih muda dan merasa malu karena kalah stamina dengan nenek-nenek tersebut.

Bagian Depan Manila Intenational Youth Hostel

Bagian Depan Manila International Youth Hostel

Sekitar jam 3 pagi saya terbangun karena lampu besar di kamar sudah menyala dan suara ribut orang berbenah. Sambil mengantuk berat saya mengintip lewat selimut untuk melihat siapa gerangan yang ribut itu. Wah, ternyata si nenek yang kelihatannya harus chek out pagi-pagi. Rupanya dia belum tahu etika menginap di Dormitory Hostel yang salah satu diantaranya adalah jangan menyalakan lampu besar sebelum waktu bangun normal tiba. Aturan yang lain adalah bila kamu harus check out pagi-pagi sekali, mulailah berbenah malam harinya supaya saat pagi tidak ribut seperti induk ayam kehilangan anaknya. Kurang lebih 2 jam dia sibuk mondar-mandir dan akhirnya ketika dia pergi, kami bertujuh otomatis langsung terbangun sambil mengomel dan “ngrasani” dia :) .

Perjalanan Manila – Puerto Princesa

Selesai makan pagi seadanya di 7 Eleven, tepat jam 07.15 kami check out dan mulai jalan kaki ke airport NAIA 4. Walaupun pesawat kami dijadwalkan terbang jam 10.00, kami memutuskan untuk datang ke airport pagi-pagi karena sudah nggak tahu harus ngapain lagi di hostel :) . Penerbangan Manila – Puerto Princesa memakan waktu 1 jam 15 menit, tidak perlu membayar airport tax karena sudah termasuk dalam tiket. Ini merupakan salah satu tiket penerbangan termurah yang saya dapat yaitu Rp. 107.275 pulang pergi dengan maskapai Tiger Airways. Read the rest of this entry »

 
6 Comments

Posted by on November 28, 2014 in Filipina, Puerto Princesa

 

Tags: , , ,

Hari Ke 4 : Boracay-Kalibo-Manila (Bakhawan Mangrove Park & SM Mall of Asia)

Oleh : Vicky Kurniawan

 Hari terakhir di Boracay. Penerbangan kami menuju Manila dijadwalkan berangkat jam 16.10 dengan pesawat Tiger Airways. Berbeda dengan Cebu Pasific yang lepas landas dari Caticlan, Tiger Airways akan berangkat lewat Kalibo yang berjarak 72 km dari Boracay. Menurut teori, perjalanan Boracay РKalibo akan memakan waktu 1.5 jam. Kalau mau sebenarnya kami masih bisa berangkat siang-siang dan main-main sebentar di White Beach. Tapi tidak mau ambil resiko saya memilih berangkat pagi-pagi dari Boracay dan sisa waktu yang ada rencananya akan saya gunakan menjelajah kota Kalibo saja. Jadi sekali lagi saya pesan ke ibu Guest House agar sarapan kami disiapkan pagi-pagi dan berdoa dalam hati semoga kali ini tidak dapat nanas lagi :)   Setelah sarapannya datang ternyata doa saya terkabul juga karena nanasnya diganti dengan pisang :) .

Peta Boracay - Caticlan - Kalibo

Peta Boracay – Caticlan – Kalibo

Selesai sarapan dan check out, akhirnya jam 07.00 tepat mulailah perjalanan kami menuju Kalibo. Memang enak rasanya keluar hotel pagi-pagi, hawa yang sejuk dan pemandangan White Beach di pagi hari membuat saya ogah pergi. Dari hotel kami berjalan kaki menyusuri pantai menuju jalan besar di Station 3 dan dari situ kami mencegat tricyle yang lewat untuk mengantar kami ke Tambisaan Port (kalau bukan musim Monsoon yang buka adalah Cagban Port). Karena tidak mencharter, kami hanya membayar 20 PHP perorang dengan lama perjalanan sekitar 30 menit termasuk waktu tunggu.

Perjalanan Boracay – Kalibo

Setibanya di Tambisaan Port, kami langsung diarahkan petugas pelabuhan ke loket untuk membayar terminal fee 20 PHP dan biaya boat sekaligus minivan ke Kalibo sebesar 200 PHP perorang. Pengaturannya enak juga karena kami tidak perlu lagi mencari-cari transportasi menuju Kalibo. Setelah perahunya datang, kami langsung berangkat menuju Tabon Port (kalau bukan musim Monsoon perahunya akan menuju Caticlan Jetty Port). Read the rest of this entry »

 
5 Comments

Posted by on November 13, 2014 in Boracay, Filipina, Kalibo

 

Tags: , , , , , , , , ,

Hari Ke 3 : Boracay (Helmet Diving & Island Hopping)

Oleh : Vicky Kurniawan

Selesai mandi dan sholat Shubuh, saya pergi ke dapur guest house untuk memberitahu si ibu bahwa kami akan keluar jam 7 pagi. Jadi kalau bisa saya minta sarapan kami dipercepat karena kebetulan harga yang saya bayar sudah termasuk sarapan pagi. Si ibu bilang, “No problem”, your breakfast will be ready on time”. Kemudian kami mengobrol sedikit tentang rencana saya hari ini. Ketika saya hendak kembali ke kamar dia bertanya, “Do you like pineapple?”. Tanpa mengerti arah pembicaraannya saya jawab asal saja, “yes, I like it very much”. Ternyata setelah sarapannya datang baru saya ‘ngeh’ kalau pineapple (nanas) nya merupakan bagian dari menu. Jadi menu untuk sarapan terdiri dari dua tangkap roti bakar, telur ceplok setengah matang plus seiris nanas. He he he seumur-umur baru kali ini sarapan pakai nanas.

Sarapan Pagi ala Pilipina

Sarapan Pagi ala Pilipina

Walaupun sudah dijadwalkan keluar jam 07.00 tetap saja kita molor sampai jam 07.30. Hari ini kami berencana ikutan Island Hopping dan Helmet Diving. Sebelumnya saya sudah googling dulu harga-harganya di internet. Harga termurah untuk Helmet Diving adalah 500 PHP dan Island Hopping 700 PHP perorang. Jadi sambil menyusuri pantai menuju station 1 kami juga berhenti di beberapa travel agen dan berbicara dengan para calo untuk membanding-bandingkan harga. Harga termurah kami dapat dari Allan B. Funtour yang menawarkan harga persis seperti yang kami cari. Sebenarnya di tarif resmi tertulis 700 PHP untuk Helmet Diving tapi kami berhasil menawarnya sampai 500 PHP. Travel agen ini memiliki beberapa booth kecil yang terbentang dari station 1 sampai 3, boothnya juga gampang dicari karena warna-warna brosurnya yang menyolok. Berikut penampakan Booth dan daftar harganya. Read the rest of this entry »

 
6 Comments

Posted by on October 29, 2014 in Boracay, Filipina

 

Tags: , , , , , , ,

Hari Ke 2 : Jakarta – Manila – Boracay (White Beach)

Oleh : Vicky Kurniawan

Salah satu ketidaknyamanan dari tiket promo adalah jam terbangnya yang ajaib. Seperti jam terbang saya ke Manila ini, jam 00.25, jamnya kuntilanak buang anak. Tapi sekali lagi mengingat harga, rasanya berlebihan kalau mengeluh terlalu banyak :) . Untung saja Cebu Pacific yang terkenal suka delay kali ini terbangnya tepat waktu dan nggak molor. Jadi dengan lancar jam 05.25 saya mendarat di bandara internasional Manila, Ninoy Aquino International Airport atau sering disingkat NAIA.

Ninoy Aquino International Airport (NAIA)

Terletak sekitar 7 km dari pusat kota, NAIA seperti juga Soekarno Hatta memiliki banyak terminal yang terpisah satu sama lain. Transportasi antar terminal juga dilayani dengan shuttle bus. Bersamaan dengan Clark International Airport, NAIA melayani penerbangan domestik dan internasional untuk area Manila. Hanya saja Clark International Airport lebih dikhususkan untuk penerbangan Low Cost Carrier karena landing fee-nya yang lebih rendah daripada NAIA.

Bagian Depan Terminal 3 NAIA

Bagian Depan Terminal 3 NAIA

NAIA memiliki 5 terminal dan Cebu Pacific bersama dengan Airphil Express menjadi tenant utama di Terminal 3. Terminal ini merupakan terminal terbaru dan terbesar dalam komplek NAIA. Pertama kali mempelajari transportasi di bandara ini, saya agak risau juga mengingat shuttle bisnya yang agak ruwet. Tapi untunglah, pesawat Cebu menuju Caticlan juga terbang dari terminal 3. Mungkin lain cerita kalau untuk penerbangan berikutnya saya harus naik Tiger yang mangkal di terminal 4. Saat riset tentang transportasi, saya menemukan satu blog yang cukup jelas menerangkan tentang Shuttle Bus yang menghubungkan terminal 1 sampai 3 NAIA. Nama blognya Directions On Web yang bisa diklik disini. Read the rest of this entry »

 
20 Comments

Posted by on August 12, 2014 in Boracay, Filipina

 

Tags: , , , , , , , , ,

100 % Air Asia

Bila melihat saya sekarang, orang tidak akan percaya kalau dulu bagi saya, pergi ke luar negeri itu hanyalah mimpi. Jangankan ke luar negeri, sampai umur hampir kepala 3 saya belum pernah sekalipun naik pesawat. Untunglah akhirnya saya mendapat tugas belajar di Universiti Brunei Darussalam. Waktu itu usia saya 28 tahun dan saat itulah untuk pertama kalinya saya pergi ke luar negeri sekaligus pertama kali naik pesawat. Jaman itu karena belum ada budget airlines, saya beli tiket pesawat full board yang harganya mahal. Sejak itulah bayangan kalau pergi ke luar negeri sangatlah mahal mulai melekat di ingatan saya.

Berfoto di depan masjid Sultan Omar Ali Saiffudin Brunei Darussalam

Berfoto di depan masjid Sultan Omar Ali Saiffudin Brunei Darussalam

Setahun setelah pulang dari Brunei, saya menikah. Pengalaman selama sekolah di luar membuka mata saya betapa menyenangkannya melihat budaya dan kehidupan negara lain. Untungnya saya berjodoh dengan laki-laki yang berpandangan sama. Jadilah perjalanan bulan madu kami diisi dengan backpacking ke Singapura dan Malaysia. Lagi-lagi karena belum ada budget airlines kami harus membeli tiket pesawat full board. Bulan madunya memang menyenangkan dan mengesankan tapi mengingat besarnya biaya yang kami keluarkan, saya pesimis kalau kami bisa traveling ke luar negeri lagi. Sepulang dari bulan madu, saya hamil dan melahirkan bayi kembar perempuan yang cantik-cantik. Setelah itu, karena satu dan lain hal kami berdua malah kehilangan pekerjaan. Punya dua anak dan menjadi pengangguran, bisa dibilang tamatlah karier saya sebagai backpacker. Jangankan kepikiran traveling, untuk hidup sehari-hari saja kami harus berhemat karena tabungan selama bekerja harus dibagi antara kebutuhan hidup dan modal usaha. Terkadang kalau pas ke gudang dan melihat ransel saya tergantung penuh debu serasa ada suatu kerinduan yang menyesak dalam dada. Tapi yah hidup harus terus berjalan. Read the rest of this entry »

 
25 Comments

Posted by on July 7, 2014 in Jawa Timur, Panduan

 
 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 195 other followers