RSS

Hari Ke – 2 (Trans Studio Makassar)

Oleh : Vicky Kurniawan

Bangun pagi-pagi, badan mulai terasa tidak enak. Wah, jangan-jangan ketularan suami saya nih !. Buru-buru minum vitamin dan obat flu (minum obatnya ngawur aja, padahal belum tentu flu). Bener juga, sehabis mandi malah pengennya meringkuk di tempat tidur sambil selimutan. But the show must go on, sebelum terlanjur males, cepat-cepat siap-siap untuk cabut ke tujuan berikutnya.

Fort Rotterdam

Fort Rotterdam & Museum La Galigo

Tujuan pertama saya hari ini adalah benteng paling terkenal di Makassar yaitu Fort Rotterdam. Berjarak 15 menit jalan santai dari hostel (sekitar 600 mt), benteng ini sangat mudah dikenali dari arsitektur gedungnya yang serba kemerahan dan bernuansa ‘Belanda’. Rute jalan kaki dari hostel menuju benteng dimulai dari  Jln. Jampea – Jln. Ahmad Yani – Jln. Riburrane – Jln. Ujung Pandang. Jam buka benteng adalah jam 08.00 – 15.30, tidak ada tiket masuk hanya pada saat mengisi buku tamu diharapkan pengunjung memberi donasi sesukanya.Benteng ini dulunya adalah milik kerajaan Gowa-Tallo, tapi waktu itu konstruksinya terbuat dari batu padas dan tanah liat dan berbentuk seperti seekor penyu yang hendak merangkak turun ke lautan. Dari segi bentuknya sangat jelas filosofi Kerajaan Gowa, bahwa penyu dapat hidup di darat maupun di laut. Begitu pun dengan Kerajaan Gowa yang berjaya di daratan maupun di lautan. Read the rest of this entry »

 
 

Tags: , , , , , ,

Hari Ke 1 (Pulau Samalona)

Oleh : Vicky Kurniawan

Dua hari sebelum berangkat, partner backpack saya yang baru pulang dari Pulau Bintan mendadak jatuh sakit karena kecapekan. Sampai detik-detik terakhir keberangkatanpun badannya masih panas dan terlihat lemas. Sempat terpikir untuk membatalkan saja perjalanan ini toh kita baru keluar uang tiket pesawat pulang pergi untuk berdua sebesar  Rp. 316.000,- dan belum booking hotel. Sempat terpikir juga untuk berangkat sendiri saja, tapi meninggalkan suami dalam keadaan sakit bersama tiga anak yang harus diurus sepertinya juga bukan pilihan yang baik. Tapi partner saya itu memang TOP banget, kasihan melihat saya yang kebingungan jadi berangkat atau tidak dia memantapkan hati dan bilang “I will be fine”, dan kita tetap jadi berangkat”. Jadi 4 jam sebelum keberangkatan jadilah saya mengepak 2 ransel dengan kecepatan tinggi :). Untung saja perginya hanya empat hari dan hanya di Indonesia gitu..

Bandara Sultan Hasanuddin

Bandara Sultan Hasanuddin

Penerbangan ke Makassar akan berangkat jam 06.30 pagi, jadi kami pesan travel jam 3 dari Malang untuk mengantar kami ke Juanda. Tidak ada hambatan yang berarti sampai mendarat di bandara Sultan Hasanuddin. Bandara ini walaupun tidak sebesar Juanda memiliki interior dalam yang cantik dengan ornamen-ornamen khas Makassar di setiap sudutnya.  Desain eksteriornya bersifat minimalis dan eco-friendly yang bertujuan meminimalisir penggunaan energi listrik dan lebih mengandalkan cahaya matahari sebagai penerang ruangan dengan melapisi rangka bagian luarnya dengan kaca sehingga tampak lebih terang. Dari dalam plaza, calon penumpang bisa menikmati pemandangan hilir-mudik pesawat yang baru mendarat dan akan lepas landas. Read the rest of this entry »

 
 

Tags: , , , , , , , , ,

4 Hari Keliling Makassar

Oleh : Vicky Kurniawan

Saya begitu tertarik dengan Makassar ketika seorang teman memberi saya foto air terjun Bantimurung. Foto itu sebenarnya tidak begitu istimewa dan diambil saat musim kemarau dimana debit air sedang turun sehingga batu-batuannya lebih banyak terlihat ketimbang airnya. Tapi entah yah, ada sesuatu di foto itu yang membuat saya ingin kesana. Beberapa hari kemudian saya melihat liputannya di salah satu televisi swasta kali ini sekalian dengan gua-gua dan taman kupu-kupu yang ada di sekelilingnya. Wah jadi tambah ngebet kepingin kesana.

Akhirnya kesempatan itu datang ketika Garuda Citilink berbaik hati mengadakan promo satu harga kesemua jurusan. Maka jadilah saya terbang dari Surabaya ke Makassar dengan hanya RP. 158.000,- pulang pergi (Thank’s ya Citilink, sering-sering promo yah biar saya bisa menjelajah Indonesia).

Dalam penyusunan itinerary, saya sangat terbantu dengan buku “Travelicious Makassar” terbitan B-First punya bang Toar Andi Sapada & Fauzan Mukrim. Informasinya cukup lengkap dan akurat walaupun disana-sini saya juga masih perlu sedikit riset tentang jalur angkutan umum dan jalan kakinya. Itinerary saya buat tidak begitu mendetail karena merasa masih jalan-jalan “di rumah sendiri”, kalau tidak tahu tinggal senyum dan bertanya, kalau tersesat tinggal naik becak atau taksi. Enak kan!.. Read the rest of this entry »

 
 

Tags: , , , , ,

Hari Ke – 8 (Macau – Kuala Lumpur – Surabaya)

Oleh : Vicky Kurniawan

Hari ini adalah hari terakhir dari petulangan saya selama 8 hari keliling Hongkong-Shenzhen-Macau. Apakah yang dirasakan seorang traveler saat akan pulang ?. Seperti biasa semuanya campur aduk, antara kangen, kesal sekaligus exciting, tapi saya cukup beruntung karena ada gadis-gadis dan jejaka kecil yang selalu menanti saya di rumah. Kerinduan untuk memeluk merekalah yang mengalahkan rasa kesal karena harus mengakhiri petualangan ini sekaligus menghapus rasa enggan karena harus kembali ke rutinitas semula. Hanya satu yang tetap saya benci yaitu NAIK PESAWAT. Walaupun pesawat kami berangkat jam 10.45,  jam 06.45 saya sudah siap check out dari hostel saking nervousnya. Pop Mie yang sudah dibuat sebagai sarapan sama sekali tidak tersentuh, kebanyakan makan pop mie sampai liat tempatnya aja udah enek 🙂 dan bersumpah sampai di Indonesia tidak makan mie paling nggak selama 1 bulan.

Dari hostel kami menyeberangi jalan Avenida de Almeida Ribeiro menuju halte bis terdekat. Sambil menunggu  bis no 10 atau 10 A menuju ferry terminal saya sempatkan mengamati kegiatan warga Macau dipagi hari. Semua sedang tergesa-gesa menuju tempat kerja walaupun pagi itu sedikit gerimis dan angin bertiup cukup kencang. Turun di ferry terminal, kami naik bis AP1 menuju Macau International Airport yang terletak di Taipa. Perjalanan dari Macau Peninsula menuju Airport memakan waktu hampir 1 jam.

Macau International Airport

Nama resminya adalah Aeroporto Internacional de Macau, mulai dibuka tahun 1995 bandara ini merupakan satu-satunya bandara komersial di Macau. Untung saat mengunjungi bandara ini saya tidak melakukan riset terlalu mendalam. Kalau tahu runwaynya terletak di tengah laut dengan panjang “hanya” 3420 mt mungkin saya pilih naik perahu daripada pesawat :). Bis AP1 yang kami tumpangi berhenti tepat di depan pintu bandara yang masih sepi. Sambil menunggu bagian imigrasi buka, kami menjelajahi bandara yang tidak terlalu besar ini. Read the rest of this entry »

 
81 Comments

Posted by on January 2, 2012 in Macau

 

Tags: , ,

Hari Ke – 7 (Macau)

Oleh : Vicky Kurniawan

Unik dan cantik. Itulah kesan pertama yang saya dapat ketika menginjakkan kaki di Macau. Kota yang dijuluki “The Vegas of The East” ini memiliki percampuran budaya timur dan barat yang unik antara Cina dan Portugis. Semua nama jalan dan istilah-istilah masih menggunakan bahasa Portugis begitu juga dengan bentuk jalan, bangunan dan taman-taman kotanya. Semua itu bercampur aduk dengan kuil dan kelenteng Cina serta bahasa Kanton yang juga mendominasi kota ini. Perpaduan unik inilah yang membuatnya cantik. Tidak heran kalau Unesco sampai mengakuinya sebagai salah satu World Heritage Site.

Salah Satu Sudut Senado Square

Macau terdiri dari tiga bagian, pertama adalah Macau Peninsula yang menjadi satu dengan daratan Cina di sebelah utara. Di bagian tengah adalah pulau Taipa yang tersambung dengan Peninsula melalui tiga jembatan penghubung : Macau-Taipa Bridge (dengan panjang 2.5 km), Friendship Bridge (panjang 4,5 km) dan jembatan anti typhoon Sai Van Bridge yang panjangnya 2.2 km.Bagian terakhir dari Macau adalah Coloane Island yang tersambung dengan Taipa berkat adanya tanah reklamasi yang dinamai Cotai.

Ruins of The Church of St. Paul

Sisa bangunan gereja yang menjadi ikon Macau ini adalah tempat pertama yang saya datangi hari ini. Cabut dari hostel sekitar jam 8 pagi hanya perlu waktu 30 menit berjalan kaki dan enaknya tidak perlu bolak-balik melihat peta karena penunjuk jalan tersebar dimana-mana. Sebagai negara yang setengah GDP-nya berasal dari tourism, Macau memang mempersiapkan diri sebagai negara wisata. Selain petunjuk jalan yang lengkap, peta dan brosur-brosur wisata dalam berbagai versi bahasa juga gampang didapat. Yang mengherankan mereka bahkan menerbitkan pamflet peringatan yang ditulis dalam Bahasa Indonesia (bukan bahasa Melayu lho!). Walaupun beberapa ejaannya salah tapi isinya masih bisa dimengerti. Setelah 6 hari tidak menemukan tulisan lain selain Inggris dan Kanton surprise banget waktu nemu pamflet model gini :). Read the rest of this entry »

 
80 Comments

Posted by on December 22, 2011 in Macau

 

Tags: , , , , , , ,