RSS

Hari Ke – 2 (Trans Studio Makassar)

09 Mar

Oleh : Vicky Kurniawan

Bangun pagi-pagi, badan mulai terasa tidak enak. Wah, jangan-jangan ketularan suami saya nih !. Buru-buru minum vitamin dan obat flu (minum obatnya ngawur aja, padahal belum tentu flu). Bener juga, sehabis mandi malah pengennya meringkuk di tempat tidur sambil selimutan. But the show must go on, sebelum terlanjur males, cepat-cepat siap-siap untuk cabut ke tujuan berikutnya.

Fort Rotterdam

Fort Rotterdam & Museum La Galigo

Tujuan pertama saya hari ini adalah benteng paling terkenal di Makassar yaitu Fort Rotterdam. Berjarak 15 menit jalan santai dari hostel (sekitar 600 mt), benteng ini sangat mudah dikenali dari arsitektur gedungnya yang serba kemerahan dan bernuansa ‘Belanda’. Rute jalan kaki dari hostel menuju benteng dimulai dariΒ  Jln. Jampea – Jln. Ahmad Yani – Jln. Riburrane – Jln. Ujung Pandang. Jam buka benteng adalah jam 08.00 – 15.30, tidak ada tiket masuk hanya pada saat mengisi buku tamu diharapkan pengunjung memberi donasi sesukanya.Benteng ini dulunya adalah milik kerajaan Gowa-Tallo, tapi waktu itu konstruksinya terbuat dari batu padas dan tanah liat dan berbentuk seperti seekor penyu yang hendak merangkak turun ke lautan. Dari segi bentuknya sangat jelas filosofi Kerajaan Gowa, bahwa penyu dapat hidup di darat maupun di laut. Begitu pun dengan Kerajaan Gowa yang berjaya di daratan maupun di lautan.

Bagian Depan Fort Rotterdam Dulu & Sekarang

Begitu kalah perang, benteng ini akhirnya diserahkan kepada Belanda yang menjadikannya pusat penampungan rempah-rempah di Indonesia bagian timur. Namanya diganti dengan Fort Rotterdam sesuai dengan nama tempat kelahiran Cornelis Speelman yang saat itu menjabat sebagai Gurbernur Jenderal Hindia Belanda. Bangunan bentengnya bergaya arsitektur Eropa abad ke 16 yang masih terpelihara dengan baik. Bila ingin menjelajah benteng menggunakan pemandu tarifnya Rp. 50.000, bila tidak jelajahi saja sendiri ke lima sudutnya yang lazim disebut Bastion. Bastion-bastion ini bernama Bastion Bone terletak disebelah barat yang merupakan kepala penyu, Bastion Bacam,Β Bastion Butan,Β Bastion Mandrasyah dan Bastion Amboina. Jangan lupa ngobrol-ngobrol aja dengan bapak-bapak PNS yang berada di sekitar situ, mereka dengan senang hati akan bercerita tentang sejarah benteng (nah sama kan dengan pemandu πŸ™‚ ! ).

Bagian Dalam Fort Rotterdam

Didalam area benteng ini juga terdapat Museum La Galigo, museum 2 lantai yang banyak menyimpan berbagai benda peninggalan kuno masyarakat Bugis-Makassar. Nama La Galigo sendiri diambil dari nama tokoh dalam karya epos La Galigo yang konon merupakan karya sastra terpanjang didunia melebihi kisah Mahabarata. Website resmi dan barang-barang koleksi museum dapat dilihat disini. Tiket masuk museum ini adalah Rp. 3.000 untuk dewasa dan Rp. 2.000 untuk anak-anak.

Museum La Galigo (Photo By : Skycrapper.com)

Sayang pada saat saya kesana museumnya sedang dibongkar. Dalam rangka revitalisasi Fort Rotterdam, pemerintah kota Makassar berusaha mengembalikan benteng ke keadaan semula, salah satunya dengan merenovasi Museum La Galigo dan membangun kembali kanal-kanal yang dulunya mengelilingi tempat ini. Kalau pembangunan kanal-kanalnya memang bisa terlaksana hasilnya pasti akan bagus sekali karena dari udara akan terlihat penyunya seolah mengambang di tengah kolam. Setelah puas berkeliling di benteng ini, kami berjalan kaki lagi menuju tujuan berikutnya yaitu Pantai Losari.

Peta Asal Fort Rotterdam

Pantai Losari

Rute jalan kaki dari Fort Rotterdam ke Pantai Losari dimulai lurus dari Jln. Ujung Pandang melewati Jln. Pasar Ikan dan Jln. Penghibur sampai kelihatan anjungan Pantai Losari yang terkenal itu. Jaraknya sekitar 1 km yang menurut versi resmi google map dapat ditempuh hanya 14 menit jalan kaki (kalau saya sampai 1 jam, soalnya jalannya lelet dan masih mampir sana-sini cari sarapan πŸ™‚ ).

Pantai Losari

Pantai Losari merupakan salah satu landmark wajib kunjung di Makassar. Disamping gratis, posisinya yang unik yaitu memanjang dari utara ke selatan memungkinkan orang untuk melihat matahari terbit dan tenggelam disatu titik berdiri yang sama. Sebenarnya waktu yang ideal untuk mengunjungi pantai ini adalah sore hari saat matahari akan tenggelam. Udara yang tidak terlalu panas, lalu lalang orang, banyaknya pedagang makanan dan pemandangan sunset yang indah akan menjadi daya tarik tersendiri bagi pantai ini. Setelah 15 menit berpanas-panas menonton orang memancing dan menjala ikan, kami melanjutkan perjalanan mencari halte shuttle bus menuju Trans Studio Makassar.

Trans Studio Makassar (TSM) & Trans Studio Mall

Dari pantai Losari memang tidak ada penunjuk jalan yang jelas menuju halte ini. Di buku Travelicious pun hanya tertulis “terletak di depan rumah jabatan walikota”, di website resmi Trans Studio juga tidak disebutkan masalah halte dan shuttle bus. Sempat bertanya kepada dua orang, satu menyarankan naik taksi yang satu malah tidak tahu dimana rumah walikotanya :). Akhirnya nekat aja jalan terus melewati RSU. Stella Maris sampai akhir Jln. Penghibur. Ketika arah lalu lintas berubah menjadi 2 arah satu berbelok menuju Jln. Metro Tanjung Bunga dan satu lurus kearah Jln. Penghibur kami menemukan satu halte yang kami “curigai” sebagai halte shuttle bus menuju Trans Studio Makassar. Sebenarnya halte itu cukup bagus cuman sayang terlihat kotor dan tidak terurus. Dari luar hanya nampak sebuah billboard raksasa iklan kartu kredit dan di dalamnya juga tidak nampak tanda-tanda ada hubungan dengan TSM. Dari hasil tanya-tanya dengan seorang bapak yang sedang duduk di dalamnya, ternyata benar ini adalah halte bus yang dimaksud.

Halte dan Shuttle Bus TSM (Foto Diambil Sore Hari Sepulang dari TSM)

Memang ini hanyalah sebuah halte biasa, tapi sebenarnya berarti penting dalam menimbulkan kesan pertama. Kalau teringat Hongkong Disneyland dengan kereta MTR Disneynya jadi sedih juga melihat halte ini. Bayangkan, berkilo-kilo jauhnya sebelum masuk ke Hongkong Disneyland kita sudah merasakan suasana ceria sebuah theme park hanya dengan masuk dan naik kereta MTR-nya yang unik. Padahal Theme Parknya sendiri tidak masuk kategori yang bagus sekali tapi cara pengemasannya yang hebat menimbulkan kesan “wah”.

Hongkong Disneyland MTR

Anyway, kesan pertama yang mengecewakan ini tidak diikuti dengan kesan mengecewakan yang lain tentang TSM. Bis gratis yang kita tunggu datang dengan cepat dan hebatnya walaupun penumpang hanya berdua bis langsung berangkat. Theme Parknya sendiri juga bersih dan sangat terawat. Petugasnya ramah-ramah, harga makanan di dalam tidak terlalu mahal dan satu lagi musholanya bersih dan cukup luas. Jam buka TSM dari jam 10.00 – 21.00 (Hari Kerja) dan sampai jam 22.00 (Hari Sabtu-Minggu dan Hari Libur). Tiket masuknya cukup unik yaitu berupa kartu isi ulang bernama Studio Pass yang berfungsi sebagai alat pembayaran untuk segala macam transaksi dalam TSM (beli makanan, minuman dan souvenir). Tarif masuk berikut 15 wahana permainan (bermain sepuasnya) adalah Rp. 100.000, harga kartu Studio Pass Rp. 10.000 dan harga paket 6 wahana utama Rp. 50.000. Tapi saat itu kami cukup beruntung karena hanya dengan harga tiket Rp. 110.000 sudah mendapat 15 wahana permainan plus bonus 6 wahana utama :). Website resmi TSM bisa diakses disini.

Studio Pass dan Pintu Gerbang TSM

Bagi penggemar Theme Park, jenis permainan dalam TSM masuk dalam kategori tidak mengerikan sama sekali. Bahkan 6 wahana utamanya yaitu : Bioskop 4D, Kids Studio, Magic Thunder Coaster, Dragon’s Tower, Jelajah dan Dunia Lain menurut saya masih aman untuk anak-anak usia 7 tahun. Wahana “Dunia Lain” yang dipromosikan sangat menakutkan, ternyata tidak menakutkan sama sekali. Saya yang penakut dan paling anti dengan wahana-wahana rumah hantu semacam itu bisa melek terus dari awal sampai akhir, padahal biasanya begitu masuk langsung tutup mata dan tutup telinga sampai terkadang tidak tahu kalau sudah keluar :). Jadi coba saja semua wahana kecuali beberapa wahana anak-anak yang tidak dapat dicoba orang dewasa. Sambil istirahat dan makan kita juga bisa menikmati street performance dan live music dalam theme park ini.

Beberapa Wahana Dalam TSM

Setelah hampir 7 jam berada dalam TSM (dengan setengah jam ketiduran di mushola, maklum orang sakit main ke Theme Park), saya keluar dan menjelajahi Trans Studio Mall, mall terbaru dan terbesar di Makassar. Pusat perbelanjaan 5 lantai ini merupakan bagian dari Trans Studio Resort Makassar. Mallnya bersih, bagus dan tidak kalah kualitasnya dengan mall-mall di Jakarta dan di Surabaya. Lobi atasnya dihiasi lukisan kupu-kupu Bantimurung yang indah. Pangsa pasar yang dibidik adalah menengah keatas dengan adanya tenant dari merek-merek ternama dan suasananya yang terkesan mewah. Akhirnya setelah hampir setengah jam melihat-lihat, di depan pintu masuk Trans Studio Mall ini kami naik shuttle bus kembali ke halte di Jln. Penghibur.

Kawasan Kuliner Makassar

Dari Jln. Penghibur kami jalan kaki kembali ke Pantai Losari. Disamping ingin menikmati pantai di sore hari, kami juga ingin menjelajahi Kawasan Kuliner Makassar yang berada di depan anjungan Pantai Losari tepatnya di Jln. Datu Musseng disamping RSU. Stella Maris. Berhenti di Anjungan Pantai Losari, kami mencoba jajanan Pisang Epe yang banyak dijual di daerah itu. Pisang Epe adalah pisang bakar yang dijepit hingga pipih dan disajikan dengan gula merah dengan beberapa varian rasa seperti coklat, susu dan keju. Harga perporsinya Rp. 12.000 berisi 3 pisang yang cukup besar (sampai tidak habis dimakan berdua). Selain pisang epe, kami juga mencoba Es Palu Butung dengan harga perporsi Rp. 10.000. Es ini adalah es campur gaya Makassar dengan bubur sumsum dan pisang kepok dicampur dalam santan yang diatasnya ditaburi es serut dan susu kental manis seperti layaknya es campur.

Pisang Epe dan Es Palu Butung Losari

Selesai menikmati pisang epe, es palu butung dan sunset di pantai Losari, kami lanjut terus menjelajah Jln. Datu Museng. Jalan ini bisa dikatakan sebagai Kawasan Kuliner Makassar karena hampir di sepanjang jalannya banyak terdapat warung-warung yang menjual makanan khas Makassar. Dua rumah makan yang paling terkenal di jalan ini adalah Mie Titi dan RM. Lae-Lae yang terkenal dengan ikan bakarnya. Mie Titi adalah mie kering yang disiram dengan kuah kental berisi sayuran dan daging (kalau di Jawa hampir sama dengan Tamie Cap Jay). Harga porsi besarnya Rp.18.000 yang bisa dimakan untuk bertiga (bahkan berempat πŸ™‚ ).

Kawasan Kuliner Makassar dan Mie Titi

Kenyang dengan Mie Titi, kami berjalan kaki pulang sekalian olahraga sehabis makan besar. Berhenti sejenak di Taman dekat Fort Rotterdam yang pertengahan Pebruari akan diresmikan dan dibuka untuk umum sebagai bagian dari revitalisasi benteng. Sampai di hostel langsung mandi dan meringkuk di selimut, capek tapi puas karena baru kali ini jalan-jalan seharian tanpa mengeluarkan uang untuk biaya transport sama sekali. Hidup Kaki…:)…

Biaya Hari Ke-2

Advertisements
 
 

Tags: , , , , , ,

16 responses to “Hari Ke – 2 (Trans Studio Makassar)

  1. ardy

    March 11, 2012 at 10:43 pm

    keren-keren ceritanya.. pulang ga pegel2 kan? hehe..

    Halte transstudio jangan disamain dengan Hkg Disney dong, jauh mah.. disini juga jarang yang nunggu2 di halte karena damri sudah ga ada(kecuali Shuttle Bandara) jadi sudah ga terawat, yang ada angkot yang naik-turunin penumpang di mana aja.. :p
    aslinya yang pallubutung itu tidak pakai sirup atau buah cuma santan aja, yang pake sirup itu es pisang ijo dan harus nyoba klo datang ke Makassar lagi.. πŸ™‚

    diTransStudio sampai jam 5 lewat ga? Ada parade di jam tersebut biasa tari atau electrical parade(lampu hias dengan manusia/benda sebagai objek).. πŸ˜€

     
    • aremaronny

      March 12, 2012 at 7:27 am

      Ha Ha..aslinya pulang dari Mie Titi kaki sudah pegel2 dan pengen naik becak aja. Tapi teringat dirimu yang sanggup mengelilingi Jatim Park 1, 2 plus BNS juga he he he..Kalau gitu Es Palu Butungku abal-abal ya..(he he kayak aki aja). Di TSM nggak sampai jam 5 soalnya sudah lama banget disana sampai mainan anak-anak di coba juga. Sayang ya..harusnya aku liat paradenya..

       
  2. Catatan Perjalananku

    March 12, 2012 at 8:39 am

    saya juga sudah pernah jalan2 ke makassar, tapi sayang salah musim jadi lebih banyak dapet hujan, ke fort rotterdam juga lagi di renovasi ==” ya sudahlah nanti mampir lagi πŸ˜€

     
    • aremaronny

      March 12, 2012 at 2:36 pm

      Sudah melihat catatan perjalannmu, bagus banget template blognya.

       
  3. Mila

    March 12, 2012 at 10:20 am

    yah Mba, jangan disamain atuh trans studio makasar sama disneyland hahaha…

    aku pernah kesana, tapi kog kurang yah kayaknya.. rasanya hampir sama aja kayak di MOI kelapa gading hehee….

     
    • aremaronny

      March 12, 2012 at 1:03 pm

      ha ha ha..terima kasih Mila. Sekali lagi bukan maksud saya menyamakan TSM dan Hongkong Disneyland. Hanya prihatin saja dengan haltenya. Paling nggak disapu dan diberi hiasan info-info menarik tentang TSM kan lumayan banget itu. Jadi orang yang nunggu di halte bisa membayangkan keceriaan TSM bahkan sebelum sampai di TSM-nya sendiri sekalian dijadikan tanda pengenal bagi penduduk Makassar kalau TSM itu juga punya halte..gitu maksud saya :).

       
  4. Indah

    April 12, 2012 at 3:26 am

    Ditunggu info perjalanannya yg di oz ya..

     
    • Vicky Kurniawan

      April 20, 2012 at 7:07 am

      Oke mbak..ditunggu ya..

       
  5. Ila

    July 18, 2012 at 4:55 am

    Haiiii,,,,,,Salam kenal ya semua
    Nanti klau sya ke makassar pasti sya juga akan ke TSM,
    Sya lihat tempat Nya lebih kurang sama mcm d tempat sya d GENTING HIGHLAND

     
    • aremaronny

      July 18, 2012 at 7:19 am

      TSM memang hampir sama dengan taman indoornya Genting Higland mbak. Cuman mungkin yang ini lebih kecil πŸ™‚

       
  6. yulisetiawanadiningrat

    August 30, 2012 at 10:51 am

    waduh kepengen nih jadinya, tapi dana minim, kalo mau tahu berita seputar jakarta silahkan kunjungi http://www.108jakarta.com/

     
    • aremaronny

      August 30, 2012 at 11:29 am

      weee terimakasih mas link-nya, BTW ayo mulai diisi blognya..

       
  7. eddy cimong

    September 12, 2013 at 12:49 pm

    Mba Vicky Hostel nya recomended Ya Skarang Naik 10 Ribu,trima Kasih Aku Dapat Penginapan dari Baca Perjalanan Mba insyaAllah Awal Oktober Ini Aku Ke Sana,apa Nama Halte Bus Yg Deket Hostel? Trim

     
    • aremaronny

      September 12, 2013 at 9:14 pm

      He he he senang sekali bisa membantu. Nama Halte-nya adalah Halte Bis Riburane

       
  8. angie

    October 24, 2013 at 1:57 pm

    mbak untuk shuttle bus ke TSM ada jadwalnya ga?tiap berapa jam sekali ada?thx

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: