RSS

Hari Ke 6 : Puerto Princesa (Underground River Tour, Souvenir Shop & Badjao Seafront Restaurant)

02 Feb

Oleh : Vicky Kurniawan

Sebelum naik ke kamar, kami sudah diingatkan oleh mbak resepsionis kalau besok travel penjemput menuju Underground River akan datang pagi-pagi. Jadi diharapkan jam 7 pagi sudah siap di lobi (siap mbak !). Sejujurnya saya paling tidak suka ikut tur. Saya orangnya tipe “sungkanan” jadi kalau ikut tur (biasanya diselenggarakan oleh kantor) saya selalu berusaha datang di bis tepat waktu supaya yang lain tidak menunggu-nunggu. Nah, datang di bis tepat waktu inilah yang saya anggap menganggu kebebasan menjelajah suatu tempat. Rasanya seperti diburu-buru. Maka dari itu di kebanyakan perjalanan, saya tidak menggunakan tur bila tidak terpaksa. Saya suka berlama-lama atau malah tinggal sebentar di suatu tempat tergantung dari pas atau tidaknya di hati.

Gua Underground River

Gua Underground River

Jadi sebelum memutuskan ikut Underground River Tour ini, saya berusaha membuka segala informasi “Do It Yourself Underground River Tour”, karena maunya berangkat sendiri tidak usah pakai tur. Dari semua informasi tersebut, ternyata berangkat sendiri saya rasa hanya cocok bagi orang yang punya banyak waktu. Kendala utama pergi ke sini berkaitan dengan surat ijin untuk masuk kawasan tersebut.  Visitor’s Entry Permit (VEP) menuju kawasan Underground River diterbitkan dalam jumlah terbatas yaitu 900 permit perhari dan bisa diajukan minimal 2 hari sebelum tanggal keberangkatan. Jadi bila hari ini kuotanya sudah terpenuhi, maka kita harus mengajukan ijin untuk besok harinya karena mereka menerapkan kebijakan “No Permit, No Entry” yang sangat ketat. Alasan utamanya adalah demi kelestarian kawasan konservasi tersebut. Kalau dihitung-hitung, berangkat sendiri jatuhnya memang akan lebih murah daripada ikut tur. Tapi memang lebih ribet dan memerlukan banyak waktu. Bila ingin berangkat sendiri berikut ada dua blog yang menurut saya paling terinci menjelaskan langkah-langkah yang harus dilakukan. Blog-blog tersebut dapat diklik disini dan disini.

Underground River Tour

Bernama resmi Puerto Princesa Subterranean River National Park atau disingkat Puerto Princesa Underground River ini sebenarnya terletak di Sabang, sekitar 80 km arah utara Puerto Princesa. Selain dinobatkan sebagai New 7 Wonders of Nature, Underground River ini juga termasuk dalam Unesco World Heritage Site. Sesuai dengan namanya, tempat ini merupakan gua sejauh 24 km yang 8,2 km bagian bawahnya dialiri sungai Cabayugan River. Jadi untuk menjelajah kedalamnya kita harus naik perahu. Itupun yang baru bisa dijelajahi hanya sekitar 4.2 km atau separuhnya saja. Sampai tahun 2007 sebelum ditemukannya underground river di Yucatan Peninsula, Mexico Puerto Princesa Underground River ini memiliki reputasi sebagai underground river terpanjang di dunia. Gimana sih rasanya menjelajah gua tapi melalui sungai? saking penasarannya saya sampai membuang kesempatan Island Hopping di Honda Bay dan memilih ikut tur ini.

Peta Puerto Princessa ke Underground River

Peta Puerto Princessa ke Underground River

Underground River Tour ini saya pesan melalui hotel tiga minggu sebelum tiba di Puerto Princessa. Cukup dengan mengirim email berisi permintaan penawaran tur ke email hotel yang saya tempati (mariannehomeinn_palawan@yahoo.com), mereka akan langsung menangani permit dan transportasinya. Sistem pembayarannya ada dua, Pertama, menggunakan transfer antar bank. Dengan sistem ini, kita hanya perlu membayar 50% sebagai uang muka dan sisanya dibayar saat tiba di hotel. Kedua, menggunakan kartu kredit. Sistem ini mengenakan pembayaran penuh (100%) ditambah 3% untuk charge. Bila setuju, mereka akan meminta data kartu kredit kita yang meliputi : nama, nomor kartu dan tanggal berakhirnya. Bukti pembayaran akan dikirim melalui email dan jangan lupa mencetaknya sebelum pergi. Harga tur yang saya dapat dari hotel 1236 PHP (sudah termasuk charge kartu kredit). Harga ini jauh lebih murah daripada harga-harga tur online yang rata-rata mematok harga 1900 PHP. Untuk pengurusan permit, mereka juga akan meminta data pribadi meliputi : nama sesuai paspor, tanggal lahir dan umur. Kronologis tur Underground River Tournya sendiri sebagai berikut :

Jadwal Underground River Tour

a. Jazz Souvenir Shop

Pemberhentian pertama adalah toko cindera mata Jazz Souvenir Shop yang letaknya “in the middle of nowhere” alias di tengah hutan. Disini kita berhenti sebentar untuk ke kamar kecil dan meluruskan kaki. Harga souvenirnya lumayan murah dan mereka punya viewing deck untuk melihat keindahan pulau Tres Marias, Ulugan Bay dan Rita Island.

Pemandangan dari viewing deck Jazz Souvenir Shop

Pemandangan dari viewing deck Jazz Souvenir Shop

b. Sabang Wharf

Dari Jazz Souvenir Shop perjalanan ke Sabang Wharf memakan waktu sekitar 45 menit melewati daerah berhutan dengan jalan yang berkelok-kelok. Di sepanjang perjalanan mbak guide bercerita tentang sejarah Underground River dan seluk beluk kehidupan serta budaya di Filipina yang beraneka ragam. Dengan bangga dia bercerita bahwa Filipina punya 170 bahasa. Tidak mau kalah, saya juga cerita kalau Indonesia punya 700 bahasa. Saat dia bercerita tentang Filipina sebagai negara kepulauan yang punya 7107 pulau, saya menyainginya dengan menyebutkan kalau Indonesia memiliki 18.307 pulau. Kalah 2-0, dia juga mulai panas dan membandingkan jumlah suku di Filipina yang punya 180 suku. Untung saya ingat pelajaran tematik anak saya yang menyebutkan kalau Indonesia punya lebih dari 300 suku (he he he). Jadi apapun yang dia bandingkan jelas Indonesia lebih unggul karena negara kita jauh lebih besar dan beragam. Satu pertanyaan yang bikin saya mentok adalah makanan ekstrem apa yang paling terkenal di Indonesia (karena Filipina punya Balut dan Tamilok). Kalau pertanyaan yang ini mah saya nyerah kalah karena saya tahunya makanan yang enak-enak dan bukan makanan yang ekstrem ha ha ha. Saking penasarannya, sampai di rumah saya mulai googling makanan ekstrem di Indonesia. Ternyata kita punya beberapa antara lain rujak cingur (what? ini sih bukan makanan esktrem), sate buaya di Sumatra dan Kalimantan, belalang goreng di Gunung Kidul dan ulat sagu di Papua. Setelah saingan data statistik dengan mbak guide satu pertanyaan akhirnya yang bikin saya miris adalah “Indonesia itu dimana sih?”. LAH, dari tadi kita saing-saingan ternyata dia tidak tahu dimana Indonesia, anti klimaks banget 🙂   Dia mungkin penasaran ada negara yang begitu besar, dengan beragam budaya, suku dan bahasa tapi tidak terkenal gaungnya. Dia hanya samar-samar ingat kalau Indonesia terkenal dengan acara “Eat Bulaga-nya”. Akhirnya dengan susah payah saya menjelaskan bahwa kami adalah negara tetangga terdekatnya karena persis di bawah Filipina ada pulau Sulawesi. Jadi jangan berbangga dulu kalau kita merasa Indonesia adalah negara besar karena bagi orang di luar Indonesia, nama Thailand dan Bali jauh lebih terkenal dibanding nama Indonesia. Ini jadi tambahan pekerjaan rumah bagi kita sebagai duta wisata tidak resmi untuk lebih mengenalkan Indonesia.

Sabang Wharf dan suasana antriannya

Sabang Wharf dan suasana antriannya

Dengan obrolan yang seru tanpa terasa kami tiba di pelabuhan Sabang. Di pelabuhan ini kami menunggu sekitar 30 menit untuk antri naik perahu menuju Underground River dan pengurusan permit. Model perahu yang digunakan untuk menyeberang adalah perahu Bangka berkapasitas 8 orang. Mereka sangat disiplin dengan mengisi perahu sesuai kapasitas dan demi keamanan, semua penumpang diwajibkan memakai jaket pelampung. Kami berdua yang paling terakhir naik dapat kapal paling bontot yang diisi hanya bertiga (kami berdua dan mbak guidenya). Mungkin kalau di Indonesia kita akan dijejalin aja ke kapal-kapal yang lain daripada sewa satu kapal hanya untuk bertiga 🙂 .

c. Underground River

Perjalanan dari Sabang Wharf menuju docking area Underground River memakan waktu kurang lebih 30 menit dengan ombak lumayan tinggi mengayun-ngayun perahu bangka yang kami naiki. Tapi perjalanan itu terbayar dengan pemandangan indah sesampainya di docking area. Pantai di area tersebut dikelilingi oleh pegunungan kapur, pasir putih sehalus bedak bayi dan tanpa karang, sayang ombaknya yang besar tidak memungkinkan untuk direnangi.

Pantai menuju Underground River

Docking Area Underground River

Dari docking area kita masih harus berjalan menembus hutan untuk menuju gua. Tapi jangan khawatir tersesat karena terdapat jalan berkayu menuju pos penyeberangan Underground River. Menariknya walaupun berada di alam terbuka dimana-mana terdapat tanda dilarang merokok dengan denda yang tidak main-main. Denda larangan merokok ini berkisar antara 500-3000 PHP. Sepanjang perjalanan menuju gua banyak monyet-monyet yang berkeliaran tanpa takut sedikitpun pada manusia. Mereka sudah sangat terbiasa diberi makan oleh manusia sehingga kalau tidak memberi kera-kera itu suka merebut makanan kita. Tapi yang paling menonjol disini adalah suara burungnya, maklum burung adalah spesies terbesar di taman nasional ini.

Jalan menuju Underground River

Jalan menuju Underground River

Sampai di pos penyeberangan sambil menunggu giliran ada sedikit pengarahan dari petugas apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama di dalam. Berlokasi di dalam taman nasional yang luasnya 22 ribu ha dengan berbagai macam kekayaan flora dan fauna sangatlah wajar bila turis menjadi ancaman terbesar bagi kelangsungan hidupnya. Untuk itu, mereka menerapkan aturan yang ketat dengan membatasi jumlah pengunjung sebanyak 900 orang perhari, mengadakan survey tahunan populasi flora dan fauna dan terus melatih para staff dan pelaku usaha mengenai pentingnya pelestarian lingkungan. Semua itu bertujuan untuk meminimalisir dampak turis terhadap kehidupan satwa liar disana. Sedangkan untuk keselamatan, selain jaket pelampung, pengunjung juga diharuskan menggunakan helm untuk melindungi kepala dari kotoran kelelawar dan stalaktit yang jatuh.

Perahu menuju Underground River

Perahu menuju Underground River

Saat giliran datang, kami dinaikkan ke perahu berkapasitas 10 penumpang dengan satu orang pengayuh merangkap guide di bagian belakang. Penumpang paling depan dapat jatah memegang lampu yang akan digunakan untuk melihat keindahan formasi batu-batuan dalam gua. Sebenarnya traveling di Philipina itu relatif mudah karena kebanyakan warganya pintar berbahasa Inggris. Mulai dari tukang ojek, tukang becak, tukang perahu sampai tukang angkot semuanya bisa berbahasa Inggris. Salah satu yang bahasa Inggrisnya bahkan lebih bagus daripada saya adalah tukang perahu merangkap guide kami saat ikut Underground River Tour ini. Karena duduk paling belakang, saya jadi tahu perjuangannya saat harus mengayuh sendirian perahu dengan 10 penumpang ditambah harus teriak-teriak menerangkan sejarah gua. Walaupun dari 10 penumpang hanya kami berdua yang orang Indonesia (lainnya orang filipin) dia tetap menghormati kami dengan menggunakan bahasa Inggris sebagai pengantarnya. Salut atas pelayanannya.

Boatman kami selama di Underground River

Boatman kami selama di Underground River

Perjalanan menyusuri gua Underground River ini memakan waktu kurang lebih 45 menit. Arus air didalam gua relatif tenang walaupun sungai yang mengalir dibawahnya langsung tembus ke laut. Di dalam gua tidak dipasangi lampu jadi kalau tidak bawa lampu dari luar suasananya akan gelap gulita. Saat lampu mengarah keatas memang banyak kotoran-kotoran kelelawar yang menempel di langit-langit. Yah, gua ini memang menjadi rumah bagi 9 spesies kelelawar, makanya ada guyonan dari pak guide, kalau selama mengikuti tur ini kita tidak boleh terlalu menganga melihat keindahan stalaktitnya karena siapa tahu ada kotoran kelelawar yang jatuh (upsss). Harus diakui kalau formasi batu di dalam gua ini memang indah dan bermacam-macam. Ada yang mirip sayuran, buah-buahan, binatang, orang dan yang paling mengesankan adalah luas chamber atau kamar-kamarnya. Chamber terbesar luasnya sekitar 2.500.000 m2 dengan langit-langit berbentuk kubah setinggi 360 meter. Formasi stalaktit dan stalagmit itu dinamai sesuai dengan bentuk-bentuknya. Ada yang dinamai rambut Dora, Kubis, Sharon Stone (karena berbentuk wanita seksi) dan Highway karena berbetuk lorong luas seperti jalan bebas hambatan. Sayangnya kita hanya menjelajahi sekitar 1.5 km dari 4.2 km bagian sungai yang bisa dijelajahi. Bila ingin menjelajah lebih lanjut diperlukan surat ijin tersendiri karena semakin kedalam arus sungainya juga makin deras.  Tapi perjalanan selama 45 menit itu cukup untuk merasakan keindahan perut bumi dan betapa kecilnya manusia di tengah ciptaan Tuhan yang mengagumkan ini.

Beberapa bentuk stalaktit dan stalagmit dalam gua (foto koleksi pribadi dan website www.itsmorefuninthephilippines.com)

Beberapa bentuk stalaktit dan stalagmit dalam gua (foto koleksi pribadi dan website http://www.itsmorefuninthephilippines.com)

Turun dari kapal, kita diarahkan kembali ke docking area untuk antri naik kapal kembali ke Sabang Wharf untuk makan siang.

c. Gusto Grill and Resto

Makan siang di restoran ini sifatnya prasmanan dengan ketentuan utama boleh tambah berkali-kali asal dihabiskan. Ada denda sebesar 200 PHP bila makanan bersisa. Seperti biasa, tidak ada ketentuan makanan mana yang halal atau tidak. Jadi sebisa mungkin saya pilih menu ikan dan menghindari semua jenis daging.

Picture 582-crop

Bagian depan Gusto Grill & Resto

Usai makan siang, dalam perjalanan pulang kita ditawari apakah mau mampir ke Ugong Rock atau tidak. Sayang sekali tidak ada yang mau mampir kecuali saya, padahal kalau mau mampir dan foto-foto didepannyapun tidak akan dikenai biaya tambahan kecuali bila kita ingin masuk ke gua dan melakukan zipline atau rappeling. Cerita tentang Ugong Rock bisa dilihat di blog ini .

Souvenir Shop di Puerto Princessa

Karena tidak berkunjung ke Ugong Rock, jam 14.30 kami sudah sampai di hotel. Setelah 1 jam sholat dan istirahat kami berencana menghabiskan sore untuk jalan-jalan sambil berbelanja souvenir. Jalan kaki sampai ke pasar depan hotel sempat bingung juga mau kemana. Untunglah saat beli air putih di toko pojok, pemiliknya dengan ramah mengobrol dengan kita. Hasil omong-omong dengan pak warung, dia menyarankan untuk menyewa tricycle saja dan meminta supirnya mengantar ke toko souvenir. Dia juga berbaik hati mencegatkan tricycle dan bicara tentang tujuan kami pada supirnya. Dengan biaya 20 PHP pak supir mengantarkan kami ke tiga toko souvenir berikut :

a. Mercado De San Miguel

Mercado De San Miguel ini sebenarnya sebuah kompleks pertokoan dengan cafe, hotel dan toko souvenir di dalamnya. Ada dua toko souvenir yang saya kunjungi disini. Yang pertama adalah Island Souvenir Shop,  toko ini cukup nyaman karena berAC dan barang-barang yang dijual cukup baik kualitasnya. Sayang harganya masih terlalu mahal untuk kantong saya. Untuk kaos harganya berkisar antara 250-350 PHP. Selain baju dan kaos, mereka juga menjual footwear seperti sandal dan sepatu serta berbagai macam pernak pernik traveling. Bagi penggemar notecard, disini juga dijual “The World Best Sandbox” yang berisi kartu-kartu bergambar pantai-pantai paling indah di Filipina.

Bagian depan Mercado De San Miguel dan toko souvenir Island

Bagian depan Mercado De San Miguel dan toko souvenir Island

Keluar dari Island Souvenir Shop, kami mampir ke toko souvenir kedua di kompleks ini yaitu Delma Pearl and Souvenir Shop. Toko ini jauh lebih besar daripada Island Souvenir Shop dan barang-barang yang dijual juga lebih beragam. Berbeda dengan Island Shop, kebanyakan barang-barang yang dijual disini merupakan hasil kerajinan rakyat seperti dompet anyam, gantungan kunci kulit, kain tenun yang menurut saya kualitasnya jauh dibawah barang-barang kerajinan Indonesia dan Thailand. Selain itu mereka juga menjual makanan khas Palawan seperti kacang mente dan madu lebah liar. Tapi sesuai dengan nama tokonya, barang utama yang dijual disini adalah mutiara. Enaknya disini masih boleh tawar menawar. Saya sih tidak membeli apa-apa hanya senang saja melihat orang Filipina tawar menawar harga mutiara. Dari hasil pengamatan saya, ternyata yang paling mahal adalah mutiara dari laut selatan (the south sea pearls) dan yang paling murah adalah mutiara dari kerang air tawar (tidak tahu juga gimana membedakannya 🙂 ) . Ada ibu-ibu yang menawar 3 pasang anting hanya 20 PHP.

Delma Souvenir Shop

Delma Souvenir Shop

b. LRC 908 Market Mall

Tidak beli apa-apa di Mercado De San Miguel, kami meminta pak supir trcycle yang setia menunggu untuk mengantarkan kami menuju toko souvenir berikutnya. Sekitar 250 meter dari Mercado de San Miguel, kami diturunkan di sebuah pasar besar bernama LRC 908 Market Mall. Merasa bakalan lama disini, kami minta ditinggal saja dengan pertimbangan nanti kalau mau pulang bisa mencegat tricyle yang lewat mengingat letak pasar ini yang dekat dengan jalan besar.

LRC 908 Market Mall

LRC 908 Market Mall

Tidak sesuai dengan namanya, LRC 908 ini sebenarnya sebuah pasar dengan stand-stand penjual souvenir didalamnya. Yang paling dominan adalah toko penjual T-Shirt yang bisa didesain sendiri sesuai selera pembeli. Jadi kita bebas memilih warna, ukuran, gambar dan tulisan yang akan diletakkan di T-shirt pilihan kita. Saking banyaknya toko costumized T-shirt seperti ini, harganya sangat bersaing dan kita bisa membanding-bandingkan harga sebelum membuat. Ini foto T-Shirt desain saya.

Tulisannya "Backpacker Dunia Explore Palawan Philipina"

Tulisannya “Backpacker Dunia Explore Palawan Philipina”

Selain T-Shirt dengan desain sendiri di pasar ini kita juga banyak menjumpai stand-stand penjual souvenir kerajinan rakyat seperti yang dijual di Delma Souvenir Shop tapi dengan barang-barang yang lebih beragam. Sayang kualitasnya juga sama, sehingga akhirnya saya memutuskan untuk membeli kaos dan magnet saja sebagai oleh-oleh. Gantungan kunci dan magnet harganya berkisar 10-25 PHP, Souvenir Shirts (yang bukan customized) berkisar 80-120 PHP.

Bagian dalam LRC 908 Market Mall

Bagian dalam LRC 908 Market Mall

Sebenarnya kalau dipikir-pikir 20 PHP untuk naik tricycle ke tempat-tempat tersebut rasanya masih terlalu mahal karena seperti kebanyakan daerah wisata di Indonesia, disini juga berlaku pemberian tips dari toko souvenir bagi supir tricyle yang mengantar pembeli ke tokonya. Bedanya disini terletak pada tipsnya yang berupa beras. Satu orang pembeli setara dengan 1 kg beras yang harus diberikan oleh pemilik toko souvenir kepada supir tricyle.

Badjao Seafront Restaurant

Keluar dari LRC 908 Market Mall tidak terasa jam sudah menunjukkan pukul 7 malam dan perut sudah mulai keroncongan. Kami mencegat tricycle kembali dan tawar menawar dengan supirnya untuk mengantar ke restoran paling recommended no 2 di Puerto Princessa yaitu Badjao Seafront Restaurant yang berjarak kurang lebih 3 km ke arah selatan kota. Dari 3 tricycle yang kami cegat hanya satu yang mau membawa kami ke restoran ini dengan biaya 50 PHP tanpa menunggu. Perjalanan dari LRC ke Badjao Seafront memakan waktu kurang lebih 30 menit.

Pintu Depan

Pintu Depan

Terletak di tengah hutan mangrove, kunjungan ke restoran ini sebenarnya paling ideal bila dilakukan siang atau sore hari saat hari masih terang. Lokasinya yang agak menjorok ke laut dan menghadap teluk Honda Bay membuat pemandangan di sekitarnya menjadi nilai tambah. Banyak pengunjung datang untuk sekedar menikmati sunset sambil makan seafood yang menjadi menu utama. Sayang, saat kami kesana, hari sudah malam jadi pemandangan indah di sekelilingnya tidak terlihat. Saat sore hari pemandangan yang terlihat kira-kira seperti ini.

Pemandangan dari Badjao Seafront Restoran di waktu senja (Photo By : felicityfinds.wordpress.com)

Pemandangan dari Badjao Seafront Restoran di waktu senja (Photo By : felicityfinds.wordpress.com)

Begitu datang, kita harus melewati jembatan bambu panjang menuju ruang makan utama. Menariknya, interior restoran ini didominasi oleh bambu dan kayu. Bahan ini mendominasi atap, dinding, lantai dan perabotan yang digunakan. Seperti Kalui Resto, tempat ini juga memasang berbagai pernak pernik kerajinan warga lokal sebagai penghias ruangannya.

Jembatan bambu menju restoran dan suasana di dalamnya

Jembatan bambu menuju restoran dan suasana di dalamnya

Saat melakukan riset di internet saya tahu kalau menu utama di restoran ini adalah seafood. Sayangnya saya kurang teliti membaca menu saat itu dan tidak tahu kalau ternyata mereka juga menyediakan masakan berbahan daging babi sebagai menu tambahan. Suami saya yang betul-betul menjaga apa yang dimakannya akhirnya tidak jadi makan. Kalau saya mah, karena sudah terlanjur masuk kesini tetap makan dan memesan saja (istri sadis). Harga makanannya hampir sama dengan Kalui berkisar antara 65-595 PHP. Disini saya memesan Mix Seafood (140 PHP), Fish Steak (225 PHP) dan satu nasi putih (25 PHP) yang kalau dilihat dari porsinya memungkinkan sekali kalau dimakan berdua. Minumnya air putih dingin yang diberikan gratis. Total biaya makan saya disini 430 PHP ditambah pajak dan biaya pelayanan 10%.

Fish Steak (atas) dan Mix Seafood Platter (bawah)

Fish Steak (atas) dan Mix Seafood Platter (bawah)

Hampir satu jam makan di tempat ini, sekitar jam 9 malam kami memutuskan untuk pulang ke hotel. Sempat was-was juga kalau tidak ada tricyle karena letak restoran yang terpencil dan jauh dari jalan besar. Untung saja di tempat parkir ada sekitar 3 tricycle yang menunggu. Tawar menawar dengan supirnya, mereka setuju untuk mengantar sampai ke hotel dengan biaya 100 PHP. Mahal juga, tapi tidak ada pilihan lain akhirnya kami pasrah saja memintanya untuk mengantar ke hotel. Peta jalan-jalan sore dari hotel ke Mercado De San Miguel,LRC 908 Market Mall dan Badjao Seafront Restaurant dapat dilihat pada gambar dibawah ini .

Peta

Biaya Hari Ke 6

Biaya Hari Ke 6

Advertisements
 
14 Comments

Posted by on February 2, 2015 in Filipina, Puerto Princesa, Sabang

 

Tags: , , , ,

14 responses to “Hari Ke 6 : Puerto Princesa (Underground River Tour, Souvenir Shop & Badjao Seafront Restaurant)

  1. tony

    February 10, 2015 at 8:10 am

    Kerennn, mbak !!!!
    Mungkin kalo rujak cingurnya pake rawit 50 biji –> makanan ekstrem. Wkwkwk…
    Sama kaya kita, mbak. Kalo ada yang nanya “Where are you/do you come from?” , setelah kita jawab & yg nanya CUMA manggut2, saya PASTI balikin tanya “Do you know where Indonesia is?”
    Jawabannya bisa ‘ajaib2’. Huahaha….
    Kaosnya sih ‘BD explore Philipine’ tp background fotonya Yurop. Wkwkwk…
    Kalo nanti jadi berangkat ke China, jangan (spoiler alert!!) ‘culture shock’ ya kl traveling ke desa2 atau perbatasan desa kota apalagi pake KA ‘ekonomi’nya. Have fun!!

     
    • Vicky Kurniawan

      February 10, 2015 at 10:18 am

      ha ha ha tahu aja nih mas Tony kalau backgroundnya Europe. Iya nih..kemarin ketemu sama mbak Trinity, dia bilang kalau negara paling susah dijelajahi itu Cina karena bahasanya. Bayangkan dia sudah menjelajahi 65 negara dan dia bilang Cina paling susah 😦 . Jadi penasaran juga, kira-kira saya bisa lolos nggak yah. He he he. Yang paling diwaspadai kata dia adalah Toilet dan ya itu kereta ekonominya…wk wk wk

       
  2. Diamita

    February 12, 2015 at 11:00 pm

    Kereeennnnnnnn Mba Vic. Ini perjalanan waktu ke Filipina pas Miss Worldnya yang menang dari Filipina tempo hari itu yaaaaa ?

     
    • Vicky Kurniawan

      February 13, 2015 at 7:55 am

      Iya..BTW trims atas kritikannya ya mit..aku juga langganan blokmu loh..Memang banyak yang bilang tulisan saya terlalu panjang. Tapi memang maunya satu hari satu halaman aja biar tahu gambaran secara keseluruhan. Yuk kapan-kapan kita ketemuan lagi yah…

       
  3. Rifqy Faiza Rahman

    February 22, 2015 at 1:29 pm

    Underground RIver nya keren ya mbak, cuma kayaknya pegelolaannya jauh lebih profesional dibandingkan kita ya…

     
    • Vicky Kurniawan

      February 23, 2015 at 7:24 pm

      Iya mas Rifqy, pengelolaannya bagus dan mempermudah wisatawan. Andai Indonesia bisa seperti itu yah.

       
      • Rifqy Faiza Rahman

        February 23, 2015 at 7:25 pm

        Iya mbak, jadi Pe-Er banget buat kita semua. Ironis deh padahal tanah kita tanah surga 😦

         
  4. Vanie

    March 16, 2015 at 8:17 pm

    Pemandangannya bagus-bagus banget. pengen ih kesana Mbak..

     
    • Vicky Kurniawan

      March 26, 2015 at 6:16 pm

      Ayo kesana mbak Vanie

       
  5. ryan

    May 7, 2015 at 12:40 pm

    mantap…

     
  6. neti

    September 2, 2015 at 7:13 am

    ngerih jalan-jalannya.. ajak saya doong.. hehehehe

     
    • Vicky Kurniawan

      September 2, 2015 at 10:40 am

      Terima kasih sudah mampir mbak Neti

       
  7. Fadhil Hazmi Musyaffa

    February 7, 2016 at 5:18 pm

    saya sempet kesana januari kemarin dan memang benar pariwisata di Underground River sudah matang dan potensial, serta palawannya sendiri sangat potensial untuk jadi pusat pariwisata sehingga mengancam pariwisata Indonesia. harus segera berinovasi nih Indonesia hehehe btw tulisannya keren!

     
    • Vicky Kurniawan

      February 8, 2016 at 9:40 pm

      Terima kasih mas Fadhil sudah mampir kesini

       

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: