RSS

Hari Ke 7 : Puerto Princesa – Manila (Baywalk, Mitra Ranch, Baker’s Hill)

30 Mar

Oleh : Vicky Kurniawan

Hari ini adalah hari terakhir di Puerto Princesa yang rencananya akan kami manfaatkan untuk mengelilingi obyek-obyek wisata di seputaran kota. Sebenarnya obyek wisatanya banyak sekali namun dengan keterbatasan waktu (pesawat kami dijadwalkan lepas landas jam 12.55) hanya ada 3 tempat yang sempat kami datangi. Jadi selesai sarapan di hotel yang termasuk dalam fasilitas hotel, kami langsung cabut ke tempat – tempat berikut  :

Puerto Princesa City Baywalk Park

Terletak kurang lebih 500 meter dari hotel, tempat ini dapat dijangkau dengan 5 menit berjalan kaki seperti peta dibawah ini. Sesuai dengan namanya, Baywalk Park merupakan taman di tepi pantai tempat orang bisa menikmati sunset atau sekedar bersantai-santai dan makan-makan bersama teman atau keluarga. Taman ini lebih terlihat ramai di malam hari saat warung-warung penjual makanan mulai buka dan orang wira-wiri menyewa sepeda. Tapi sayangnya kalau malam, lautnya jadi tidak terlihat. Jadi saat saya kesana di pagi hari, taman ini terihat sangat sepi, hanya beberapa orang yang sedang asyik berolahraga atau menikmati pemandangan pagi.

Patung Ikan di Puerto Princesa City Baywalk Park

Patung Ikan di Puerto Princesa City Baywalk Park

Di taman ini terdapat patung merak raksasa yang merupakan simbol dari kota Puerto Princesa. Merak dipilih karena termasuk hewan langka tapi menjadi endemik di kota ini. Patung lain yang menonjol adalah patung seorang putri sedang melepas burung. Menurut cerita rakyat, nama Puerto Princesa diambil dari  nama seorang putri yang konon selalu terlihat berjalan-jalan di tempat ini tiap malam tertentu. Tapi bagi orang yang tidak percaya mistis, nama kota ini diambil dari posisi pelabuhan Puerto Princesa yang ideal karena sepanjang tahun selalu terlindungi dari badai dan memiliki kedalaman yang dapat menampung berbagai ukuran kapal termasuk kapal-kapal besar yang oleh orang-orang Spanyol saat itu disebut “Princess”. Tapi berdasarkan sejarah, kota ini dinamai menurut nama Princess Asunción, anak dari Queen Isabella II yang meninggal karena sakit. Setelah meninggalnya putri ini Queen Isabella mengganti nama kota ini menjadi Puerto de la Princesa. Tapi apapun itu, putri ini telah menjelma menjadi patung berbahan fiberglass yang berdiri di ujung dermaga dengan rambut berkibar yang menjadi simbol berpadunya cerita rakyat dan budaya Palawan.

Mitra Ranch

Dari Baywalk Park, kami mencegat tricyle yang lewat untuk mengantar kami ke dua tujuan berikutnya yaitu Mitra Ranch dan Bakers Hills. Kedua tempat ini walaupun searah, letaknya kurang lebih 10 km sebelah utara kota. Dari hasil tawar menawar, kami menyepakati harga 220 PHP untuk mengantar, menunggu ke kedua tempat tersebut dan mengantar balik ke hotel.

Mitra Ranch

Mitra Ranch

Bernama asli Rancho Sta Monica, Mitra Ranch terletak di puncak bukit St. Monica. Dimiliki oleh Senator Ramon Mitra, tiket masuknya gratis. Nah karena letaknya di puncak bukit, di tempat ini kita dapat melihat pemandangan indah kota Puerto Princesa dan Honda Bay dibawahnya. Selain menikmati pemandangan indah dari gardu pandangnya, kita juga bisa berzipline atau berfoto bersama kuda dengan padang rumput sebagai latar belakang. Kalau mau kita juga bisa piknik di tempat ini karena banyak terdapat bangku-bangku yang memang disediakan untuk keperluan tersebut.

Baker’s Hill

Agak turun sedikit dari Mitra Ranch terdapat Baker’s Hill atau arti kasarnya bukit pemanggang. Dinamai demikian karena tempat ini produk utamanya adalah roti dan kue terutama kue-kue khas Palawan seperti Hopiang (kalau di Indonesia seperti kue Pia), Mamon (sponge cake), Crinkles (chocolate chip) dan Pianono (roti gulung). Pokoknya tempat ini cocok untuk membeli Pasalubong atau oleh-oleh dalam bahasa Indonesia.

7785714_orig

Selain Bake Shopnya, Baker’s Hill banyak dikunjungi orang karena ada mini theme park dibelakangnya. Tapi jangan dibayangkan theme park yang ini ada roller coaster atau perahu ayun. Theme parknya berupa taman-taman yang dirawat apik sehingga memungkinkan orang untuk duduk-duduk menikmati keindahan alam. Bagi keluarga dengan anak-anak tersedia mini playground dan taman burung. Kalau kelaparan, ada 2 restoran disitu, satu restoran khusus menjual Pizza dan satu lagi menjual makanan biasa. Bagusnya tiap sudut tempat ini bisa dijadikan spot yang menarik untuk difoto.

Penerbangan Puerto Princesa – Manila

Dari Baker’s Hill, kami kembali dengan menggunakan tricycle yang setia menunggu. Saat kami kembali, mbak resepsionis mengingatkan bahwa mobil pengantar ke bandara (fasilitas gratis dari hotel) akan siap jam 10.45. Masih ada sedikit waku untuk packing akhir dan sedikit istirahat. Akhirnya jam 10.45 tepat kami meninggalkan hotel menuju bandara. Perjalanan memakan waktu 15 menit jadi jam 11.00 tepat kami sudah sampai di bandara. Lumayan masih ada waktu hampir 2 jam sebelum pesawat kami terbang. Jadilah sekali lagi kami ‘ngetem di bandara. Dalam penerbangan ini kami masih harus membayar terminal fee 100 PHP perorang karena tidak termasuk dalam tiket.

Bagian Dalam Puerto Princesa Airport

Bagian Dalam Puerto Princesa Airport

Sebagai gerbang masuk ke Underground River, bandara ini sangat kecil. Mungkin beda-beda tipislah dengan ukuran bandara di Malang. Bangunannya kecil, sehingga jalan sedikit saja sudah masuk kedalam. Didalam sama panasnya dengan di luar karena mereka tidak memiliki AC. Enaknya bandara ini dekat sekali dengan kota sehingga jalan kaki aja sudah sampai. Kalau malas, tinggal jalan sedikit ke jalan raya dan cegat saja tricyle yang lewat.

Tempat duduk dalam Gate

Tempat duduk dalam Gate

Penerbangan Puerto Princessa – Manila memakan waktu kurang lebih 2 jam yang Alhamdulillah lancar-lancar saja. Dihitung-hitung sudah 6 penerbangan yang saya lakukan kurang 2 kali lagi sampai pulang. Rasanya sudah eneg banget sama bandara.

Manila

Untuk kedua kalinya selama 7 hari saya menginjak Manila lagi. Kali ini saya akan tinggal dan mengeskplore kota ini sampai pulang. Karena akan menjelajah agak lama, saya memilih hotel yang agak enak dan agak mahal, tidak seperti hostel di Manila yang terakhir kali saya inapi. Pesawat Tiger yang kami naiki kembali mendarat di Terminal 4 yang agak jauh dari hotel sehingga kami harus memutar otak bagaimana caranya kesana dengan biaya murah.

Transportasi dari NAIA Terminal 4 ke Hotel

Malate Pensionne Hotel yang saya pilih terletak di daerah Malate, jadi dari terminal 4 NAIA mesti naik jepney disambung naik LRT dan jalan kaki. Karena keterbatasan budget, saya hanya bisa memilih mau naik taksi saat datang atau saat pulang. Dengan pertimbangan saat datang kami punya lebih banyak waktu, jadi diputuskan nanti saat pulangnya saja naik taksi dari hotel ke bandara. Dari terminal 4, kami jalan kaki sampai depan pom bensin Petron Mia seperti peta dibawah ini.

Peta jalan kaki dari NAIA terminal 4 ke tempat lintasan jepney menuju EDSA

Peta jalan kaki dari NAIA terminal 4 ke tempat lintasan jepney menuju EDSA

Selanjutnya kami mencegat Jeepneey yang bodi bagian sampingnya bertuliskan EDSA sebagai salah satu tujuan. Jangan lupa sebelum naik tanya sama pak supir apakah mereka berhenti di stasiun LRT EDSA/Pasay. Sampai di stasiun LRT EDSA naik LRT jalur 1 arah Monumento turun di stasiun Quirino Avenue. Dari stasiun ini kita masih harus berjalan kaki sekitar 750 meter menuju hotel.

Manila LRT & MRT

Sistem kereta di Manila terbagi menjadi dua jenis : LRT (Light Rail Transit System) dan MRT (Metro Rail Transit System). LRT pada saat tulisan ini dibuat memiliki dua jalur yaitu jalur 1 (sekarang jalur hijau dulunya bernama jalur kuning) dan jalur 2 (sekarang jalur biru dulunya jalur ungu). Sedangkan MRT baru memiliki satu jalur.Peta rute MRT dan LRT dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

Peta Rute MRT dan LRT Manila

Peta Rute MRT dan LRT Manila

LRT dan MRT menjadi satu-satunya pilihan bila ingin keliling Manila tanpa macet. Tidak heran bila kedua moda transportasi ini selalu penuh. MRT yang berkapasitas 450.000 orang perhari bisa dinaiki sampai 650.000 orang. Kebayang kan umpel-umpelannya. Jadi walaupun umpel-umpelan dan tiketnya lebih mahal dibanding naik jepney, saya lebih suka naik kereta ini daripada terjebak macet di jalan-jalan Manila. Sayangnya karena keterbatasan jalur, banyak daerah-daerah yang tidak terjangkau olet MRT dan MRT jadi mau nggak mau kita tetap mengandalkan jeepney.

Umpel-umpelannya sampai kayak gini (Photo By : abs-cbnnews.com)

Umpel-umpelannya sampai kayak gini (Photo By : abs-cbnnews.com)

Pertama kali masuk stasiun LRT dan MRT EDSA sempat heran juga karena pemeriksaannya sangat ketat. Ada meja khusus tempat petugas memeriksa tas-tas calon penumpang. Setelah lolos dari pemeriksaan baru antri di loket untuk beli tiket. Sampai di dalam seperti yang dibayangkan sudah umpel-umpelan banget. Untung saja Quirino hanya 4 stasiun dari EDSA jadi berdirinya nggak kelamaan karena sampai turunpun nggak kebagian tempat duduk 😦 .

Akomodasi di Manila

Menurut saya cari hotel di Manila itu susah karena mereka tidak memiliki titik transportasi terpusat seperti KL Sentral di Kuala Lumpur atau Central Station di Sydney. Dalam kriteria saya hotel ideal itu, murah, bersih dan dekat dengan stasiun kereta atau halte bis. Nah itu yang susah didapat di Manila. Dari berbagai pertimbangan akhirnya pilihan saya jatuh pada Malate Pensionne Hotel yang berjarak 750 meter dari stasiun LRT-1 Quirino. Jarak segitu sudah yang paling dekat dengan stasiun. Tapi walaupun jauh, hotel ini gampang dicari. Dengan berbekal peta hasil cetakan dari Google Map, saya sukses menemukannya tanpa nyasar 🙂 .

Peta Jalan Kaki dari LRT Quirino ke Malate Pensionne Hotel

Peta Jalan Kaki dari LRT Quirino ke Malate Pensionne Hotel

Hotel ini saya pesan via Agoda.com yang dapat di klik disini karena saat itu hanya Agoda yang mengiklankannya. Terakhir kali saya cek, mereka juga beriklan di booking.com. Jadi jangan lupa membandingkan harganya bila mau pesan. Tipe kamar yang saya pesan adalah Premium Room Deluxe Queen Aircon Room dengan tarif Rp. 353.100 permalam tanpa sarapan. Jadi jatuhnya sekitar Rp. 176.550 perorang. Hotel ini termasuk hotel tua karena dibangun tahun 1974. Keunggulannya, pertama hotel ini bersih. Kedua, dekat dengan LRT dan Manila Baywalk. Ketiga, bila tidak bermasalah dengan makanan, banyak restoran atau cafe disekitar tempat ini. Kelemahannya, Pertama, walaupun bersih suasananya terasa tua dengan lantai kayu dan perabotan tua. Bahkan TVnya saja masih berbentuk tabung. Tapi yang paling saya tidak tahan adalah baunya. Begitu masuk kamar langsung tercium bau kayu lembab seolah-olah kamar itu sudah lama tidak dibuka. Tapi untunglah hidung manusia adalah indera yang paling peka sekaligus paling tidak peka. Setelah beberapa menit di dalam baunya sudah tersamarkan walaupun kalau masuk kamar lagi baunya kembali tercium. Kelemahan kedua, adalah lampu kamar yang menurut saya terlalu remang-remang. Sudah lantainya dari kayu, perabotnya didominasi warna coklat ditambah lampunya yang remang-remang jadi terasa makin sumpek. Kelemahan ketiga, susah mencari makanan halal disini. Tapi dibanding hotel terakhir yang saya tempati di Manila, hotel ini bisa dibilang surga. Review Malate Pensionne Hotel di Trip Advisor merata antara yang menyebut bagus dan jelek. Review selengkapnya bisa dilihat disini. Saran saya, hotel ini tidak cocok diinapi untuk jangka waktu yang lama kecuali kalau kamu tidak keberatan dengan bau dan lampu yang remang-remang. Kalau boleh memilih, saya lebih senang menginap di Tune Hotel Ermita yang terletak persis satu blok di belakangnya. Sayangnya tarif Tune Hotel yang dua kali lipat Malate Pensionne membuat saya tetap memilih hotel ini. Haha dasar turis kere 🙂 .

Bagian luar dan dalam Malate Pensionne Hotel

Bagian luar dan dalam Malate Pensionne Hotel

Makanan Halal di Manila

Sebelum berangkat ke Filipina, saya sudah membrowsing restoran makanan halal yang dekat dengan Malate Pensionne Hotel. Kurang lebih ada 3 tempat yang saya dapatkan. Entah karena saya yang tidak becus mencari atau alamatnya yang sudah pindah, tidak ada satupun restoran itu yang saya temukan. Akhirnya saya terdampar makan malam di cafe The Coffee Bean yang lokasinya jadi satu dengan hotel. Suami saya yang lebih berhati-hati soal makanan, memandang ngeri ketika saya makan lasagna di cafe itu. Tapi saya yang sudah kelaparan karena lebih dari satu jam jalan kaki muter-muter mencari restoran halal di seputaran hotel (mana hujan lebat lagi) sudah tidak peduli dan langsung makan saja 🙂 .

Bagian Dalam The Coffe Bean

Bagian Dalam The Coffee Bean

Selesai makan dan badan mulai terasa sedikit hangat. Saya yang tidak tega melihat suami belum makan, setuju untuk sekali lagi menemaninya mencari restoran halal. Total sebenarnya ada 12 restoran halal yang saya temukan alamatnya di internet dan diyakini berlokasi di seputaran Malate. Tapi dasar kita juga malas mencari akhirnya suami saya hanya beli nasi dan telur rebus di 7 Eleven dekat hotel. Info restoran halal di sekitar Malate dapat dilihat disini.

Ghazal Restaurant, Salah satu restoran halal dekat Malate Pensionne (Photo By : DJ-AT)

Ghazal Restaurant, Salah satu restoran halal dekat Malate Pensionne (Photo By : DJ-AT)

Waktu sebenarnya masih menunjukkan pukul 7 malam, tapi hujan yang semakin deras membuat kami malas menjelajah daerah sekitar. Akhirnya, kedua pasangan uzur ini memutuskan untuk sekali lagi nongkrong di Coffee Bean, sekali ini sambil beli jus mangga segelas sambil memperhatikan orang lalu lalang di jalanan. Petugas Coffee Bean menawari untuk membeli kartu keanggotaan yang berlaku selama setahun Penawarannya saya tolak dengan halus karena di Indonesia hampir tidak pernah kami nongkrong di cafe apalagi yang sekelas Coffee Bean. Jadi ini untuk pertama kalinya kami nongkrong di cafe, itupun karena terpaksa dan yang paling gaya, nongkrongnya di Coffee Bean Manila lagi 🙂 .

Biaya Hari Ke 7

untitled

Advertisements
 
14 Comments

Posted by on March 30, 2015 in Filipina, Manila, Puerto Princesa

 

Tags: , , , , ,

14 responses to “Hari Ke 7 : Puerto Princesa – Manila (Baywalk, Mitra Ranch, Baker’s Hill)

  1. ceritariyanti

    April 1, 2015 at 8:15 am

    Duh mesti meluangkan waktu buat explore Philippines lebih dalam ya, dulu hanya sempat merambah makati dan itu pun sekejap banget… keren niii mba…

     
    • Vicky Kurniawan

      April 1, 2015 at 7:32 pm

      Saya juga pengen kembali ke Filipina mbak Yanti..belum kesampaian lihat Oslob Whale Shark Watching di Cebu sama Chocolate Hills di Bohol..

       
  2. bungko

    April 3, 2015 at 1:12 pm

    asyiknya di filipina, trakhir kesana april tahun kemarin… walau cuma bawa uang pas2an… untung tidur di apartmen yg isinya mahasiswa indonesia. jadi bisa lebih irit.. april ini saya terbang lagi ke sana… semoga bisa lebih explore.. walau cuma 3 hari…hehehe

     
    • Vicky Kurniawan

      April 4, 2015 at 9:18 am

      Wah semoga bisa mengeskplore lebih banyak lagi ya…

       
  3. jano

    April 30, 2015 at 4:11 pm

    mba vicky,. bole ak minta alamat emailnya?? mau bertanya seputar jepang.. thanks ^.^

     
  4. Jevon

    May 14, 2015 at 1:58 pm

    Wih keren banget! Jadi penasaran
    Visit juga ya jevontar.co.vu

     
    • Vicky Kurniawan

      May 17, 2015 at 9:13 am

      Terima kasih sudah mampir ke sini ya Jevon. Btw blogmu juga keren lay outnya.

       
  5. doremiribu

    May 15, 2015 at 5:34 pm

    kalau sekarang kira2 masih bisa dapat 363 rb gak mbk vicky

    Thanks

     
    • Vicky Kurniawan

      May 17, 2015 at 9:53 am

      Sepertinya masih bisa 🙂

       
  6. Jontavit

    June 28, 2015 at 8:20 pm

    Mbakkk keren ya itinerary nya,, data rencana Augustus ini ke Filipina, tp masih belum nemu yang pas itinerary nya., waktu di boracay itu mbak stay sickest white beach ya? Terus mba, apa ada agent perjalanan ga ya buat nganterin ke Ariel’s point?

     
    • Vicky Kurniawan

      June 30, 2015 at 2:38 pm

      Iya saya tinggal di Station 3 White Beach. Di sepanjang White Beach banyak kok agen perjalanan yang menawarkan paket wisata ke Ariel’s Point. Nanti tinggal tawar aja.

       
  7. yenni kakisina

    October 20, 2015 at 12:00 am

    Mlm pak.pak klu dari bandara ke manila,rutenya bagaimana dan trasportasi bagaimana…saya mau ke cecilio j.santos poblacion 2 valenzuela city..bisakah anda bantu saya menjelaskan rute dan kendaraan yg harus saya gunakan..pak bagaimana dengan kartu hp indonesia tak bisa digunakan disana ya..klu tak bisa gimana saya bisa membeli kartu hp philipina. Soalnya saya tak bisa berbahasa inggris jadi harus pakai tranlate lewat google.. Pak tolong bantu saya kasih infonya pak..

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: