RSS

Hari Ke 9 : Kuala Lumpur – Surabaya (Putrajaya & Bukit Bintang)

27 Mar

Olehย  Vicky Kurniawan

Jam 06.40 pagi pesawat yang saya tumpangi mendarat di LCCT. Alhamdulilah setelah semalam bisa tidur nyenyak di pesawat, rasanya saya siap untuk memulai penjelajahan hari ini. Jadi setelah kelar urusan imigrasi, mandi dan makan pagi, akhirnya tepat jam 10.15 kami mulai menuju destinasi pertama hari ini yaitu Putrajaya. Berkali-kali mampir ke Kuala Lumpur dalam beberapa perjalanan sebelumnya, saya tidak pernah punya kesempatan untuk mampir ke sini. Padahal dari liputan di televisi atau cerita teman-teman yang pernah datang kesini, sepertinya Putrajaya memang menarik untuk didatangi. Buat saya pribadi melihat Putrajaya sebenarnya bukan satu-satunya alasan, alasan yang lain lebih pada keinginan untuk naik kereta KLIA Transit yang menghubungkan bandara KLIA dengan Putrajaya. Maklum saja selama ini saya belum pernah naik pesawat yang mendarat di KLIA jadi belum tahu juga gimana rasanya naik kereta ini.

Luggage Storage di LCCT

Luggage Storage di LCCT

Sebelum pergi, seperti biasa kami mencari-cari luggage storage untuk menitipkan backpack dulu. Tapi apa mau dikata satu-satunya tempat penitipan tas di LCCT hanyalah kounter Baggage Solution milik Talasco Dagang Sdn Bhd (LCCT Left Luggage Service) yang harganya cukup mahal. Harga sewa termurah untuk satu tas kecil berukuran 43cm x 31cm x 21cm adalah 18 RM dan dua backpack 25 liter milik kami berdua dihitung sebagai 2 tas (sekitar 36 RM). Dengan harga 3 kali lipat dari harga sewa di KL Sentral rasanya saya lebih rela menyeret-nyeret tas itu sampai Putrajaya ๐Ÿ™‚ . Jadi dengan wajah pasrah, saya memang terpaksa tidak jadi nitip dan membawa-bawa backpack itu sampai KL Sentral.

Putrajaya

Berjarak sekitar 30 km sebelah selatan Kuala Lumpur, Putrajaya memang menjadi tempat yang ideal bagi pemerintah Malaysia untuk memindahkan pusat administrasi dan keuangannya apalagi mengingat kondisi Kuala Lumpur yang sudah begitu padat. Dengan luas hampir 5000 hektar, mereka bebas membangun gedung semegah apapun disana. Maka tidaklah mengherankan bila disamping kantor-kantor pemerintahan, kawasan tersebut juga dilengkapi dengan danau, taman, kebun raya dan berbagai monumen.

How To Get There

Untuk mencapai Putrajaya dari LCCT sebenarnya ada dua cara. Pertama, seperti yang saya lakukan yaitu naik bis Nadi KLIA ke bandara KLIA (tarif 2.5 RM perorang) kemudian disambung naik kereta KLIA Transit (tarif 6.20 RM) turun di stasiun Putrajaya. Cara pertama ini jauh lebih mahal daripada cara kedua yaitu naik shuttle bis KLIA dari LCCT ke stasiun Salak Tinggi disambung naik kereta KLIA Transit ke stasiun Putrajaya. Tiket bis dan kereta ini ditarik dalam satu paket sebesar 5.5 RM. Tapi karena kemaruk kepingin naik kereta KLIA lebih lama, saya tetap ngeyel pakai cara yang pertama ๐Ÿ™‚ .Bis Nadi KLIA menuju KLIA dapat dijumpai didepan pintu gerbang Domestic Departure dan Domestic Arrival di LCCT (petanya tergambar dibawah).

LCCT_floor_layout-769455

Perjalanan dari LCCT menuju Putrajaya memakan waktu hampir 2 jam, kebanyakan karena kami nyasar saat mencari stasiun kereta KLIA Transit di bandara KLIA. Saat itu memang sedang diadakan renovasi di stasiun kereta KLIA Express sehingga gerbang utamanya ditutup dan dialihkan ke lantai 2. Dari pemberhentian bis di lantai dasar, kita naik sampai ke lantai 3 selanjutnya berjalan terus sampai ke ujung Barat, dari situ naik lift kembali untuk turun ke lantai 2 tempat stasiun KLIA Transit berada.

Stasiun Kereta KLIA Transit

Stasiun Kereta KLIA Transit

Ketika sudah masuk ke dalam kereta, saya amati ternyata Interior dalamnya cukup lega dengan model tempat duduk sedikit berbeda dengan MRT. Kalau di MRT, tempat duduknya terletak memanjang disamping kanan dan kiri kereta sedangkan disini tempat duduknya dibuat seperti dalam bis dengan gang antar bangku yang luas. Maklum saja kereta ini memang dikhususkan untuk keluar masuk bandara sehingga interiornya dibuat selega mungkin sehingga dapat menampung koper-koper besar tanpa menganggu lalu lintas orang yang keluar masuk.

Bagian Dalam KLIA Transit

Bagian Dalam KLIA Transit

Walaupun menurut jadwal, perjalanan dari KLIA ke Putrajaya hanya memakan waktu 15 menit tapi saya yakin waktunya lebih dari itu karena jam di kamera saya menunjukkan waktu kurang lebih 30 menit dari saat pengambilan foto pertama di kereta sampai foto saat turun. 15 menit pertama di kereta masih seneng banget walaupun rasanya jadi sangat hambar setelah naik kereta di Jepang. Terbiasa melihat suasana yang super bersih di Jepang setelah sampai di Malaysia terasa ada yang kurang (wk wk wk sombong banget). 15 menit berikutnya saya malah tertidur pulas. Jadi setelah bersusah payah bayar mahal-mahal agar bisa naik kereta ini lebih lama, buntut-buntutnya ngorok juga ๐Ÿ™‚ .

Ngorok dengan suksesnya

Ngorok dengan suksesnya

How To Get Around

Mencari informasi bagaimana mengelilingi tempat-tempat wisata di Putrajaya dengan cara yang murah tidaklah mudah. Pilihan yang paling murah adalah dengan naik bis yang sayang rutenya cukup membingungkan bila ingin digunakan untuk menjangkau tempat-tempat menarik disana. Saking kepenginnya mengeskplore kawasan ini dengan cara murah, saya sampai pernah mendownload semua peta rute bis Nadi Putra dan mencoba merangkai rute yang dapat menjangkau tempat-tempat yang ingin saya lihat. Suatu tindakan yang sia-sia karena perlu beberapa kali berganti bis dan perlu waktu yang lama mengingat bis-bis disana kebanyakan tidak tepat waktu. Sayang memang, karena boleh saja kawasan ini dilengkapi dengan berbagai macam sarana rekreasi seperti 12 taman dan danau buatan tapi dengan tidak adanya sarana transportasi yang murah dan dapat menjangkau tempat-tempat tersebut rasanya juga akan sia.sia. Jadi bagaimana cara keliling Putrajaya ? Cara termahal untuk menikmati kawasan ini adalah dengan mengikuti tour dari Kuala Lumpur atau KLIA. Durasi rata-rata sekitar 4 jam dengan biaya termurah sekitar 140 RM. Ada juga yang menawarkan paket tur Putrajaya diwaktu malam dilengkapi dengan makan malam ditepi danau Putrajaya.

Contoh paket tour ke Putrajaya

Contoh paket tour ke Putrajaya

Cara kedua yang masih dalam kategori mahal adalah dengan menyewa taksi dari stasiun Putrajaya. Taksi berkupon rata-rata mengcharge 8-10 RM ke satu tujuan tertentu di Putrajaya. Tapi kebanyakan mereka menyewakan taksinya dengan harga rata-rata 30 RM perjam (harga masih bisa dinego) dengan sopir taksi yang sekaligus akan merangkap menjadi guide.

Taxi Counter di Putrajaya

Taxi Counter di Putrajaya

Cara ketiga yang paling murah, meriah dan mantap adalah ikut The “Best of Putrajaya Tour” yang diadakan oleh pemerintah. Cukup dengan membayar 1 RM, kita akan diajak keliling Putrajaya dalam 2 jam tour berbahasa Inggris.Disamping ditunjukkan landmarks dan tempat-tempat menarik, kita juga akan dibawa ke Medan Tani Agricultural Square untuk makan siang (kalau yang ini bayar sendiri). Sayangnya tur ini hanya diadakan Sabtu dan Minggu setiap jam 11 siang dan jam 3 sore. Karena tempatnya terbatas hanya untuk 40 orang saja persekali berangkat, maka sangat disarankan untuk memesan tempat terlebih dahulu. Cara memesannya gampang saja, cukup datang dan daftar di stand “Best Putrajaya Tour” Putrajaya Sentral station dengan batas maksimal 30 menit sebelum keberangkatan. Informasi terbaru tentang tour ini bisa diklik disini.

Pamflet Best Of Putrajaya Tour

Pamflet Best Of Putrajaya Tour

Nah, kalau datangnya pas bukan hari Sabtu dan Minggu seperti saya, bisa juga memakai cara keempat yaitu naik bis Nadi Putra. Waktu itu saya cuman bilang saja sama petugas di loket kalau saya mau pergi ke Masjid Putrajaya. Dia menyarankan naik bis no. L 11 dengan harga tiket 1.5 RM. Bis ini membawa penumpang lansung dari stasiun Putrajaya ke Putra Mosque dan jalan Alamanda melewati Precint 2, 3 & 4 dan Complex A, B, C, D & E.

Loket bis di terminal Putrajaya

Loket bis di terminal Putrajaya

Tempat-Tempat Menarik di Putrajaya

Dalam perjalanan ke Masjid Putrajaya, kami melewati beberapa bangunan yang menjadi landmarks Putrajaya antara lain Gedung Perdana Putra yang merupakan kantor Perdana Mentri Malaysia, Taman Putra Perdana dan Seri Saujana Bridge, satu dari 8 jembatan megah yang menghubungkan Precint 2,3 dan 4 dengan precint-precint lainnya. Sesampai di Masjid Putra, pak supirnya teriak-teriak “Masjid Putra…Masjid Putra”. Penumpangnya waktu itu hanya 5 orang, 3 penumpang turun di Masjid Putra jadi hanya tinggal kita berdua. “Tak nak turun?,” tanyanya. “Tak nak pakcik, panas”, kata kami serempak. Entah yah, rasanya memang malas banget turun, melihat cuaca panas diluar dibanding sejuknya AC dalam bis, belum lagi lihat backpack yang pasti pengen digendong. Ternyata semangat eksplorasi diawal hari kalah sama usia uzur. ๐Ÿ™‚ . Jadilah kami ikut bis tersebut kembali ke Stasiun Putrajaya dengan semua kegiatan memotret dilakukan dari dalam bis (nggak niat banget). Itupun butuh waktu kira-kira 1 jam 15 menit untuk menyelesaikan satu putaran.

Siang yang terik di Putrajaya

Siang yang terik di Putrajaya

Bila ingin mengeksplore dengan menggunakan taksi atau mobil sewaan, kita bisa mengacu pada tempat-tempat yang menjadi tujuan dalam “Best of Putrajaya Tour”. Rutenya bisa kita mulai dari Putrajaya Station menuju :

1. Prime Minister Residence (Seri Perdana Complex).

Bangunan ini menjadi kediaman resmi Perdana Mentri Malaysia. Mulai dihuni sejak tahun 1990 oleh Dr. Mahathir Mohamad (Perdana Mentri Malaysia ke 4), rumah ini sekarang ditempati oleh Perdana Mentri Malaysia ke 6 Datuk Seri Najib Razak. Dengan luas sekitar 17 hektar rumah ini memang bukan rumah biasa, maka tidaklah mengherankan bila tagihan listrik dan airnya membuat gerah para pembayar pajak di Malaysia sampai dibahas segala di Parlemen. Bayangkan saja selama tahun 2012 mereka membayar 2.2 juta RM atau sekitar 8 milyar rupiah hanya untuk listriknya saja. Keseluruhan kompleksnya tertutup untuk umum kecuali Protocol Block dan Banquet Block yang boleh dikunjungi secara berombongan atau sendiri-sendiri. Jadwal untuk bekunjung dapat dilihat disini.

Bagian luar Seri Perdana Complex (atas), Banquet Block (kiri), Protocol Block (kanan) Photo by : seriperdana.gov.my

Bagian luar Seri Perdana Complex (atas), salah satu sudut Banquet Block (kiri) dan Protocol Block (kanan) Photo by:seriperdana.gov.my

2. Seri Perdana Bridge

Dengan adanya 650 hektar danau buatan yang mengelilingi kompleks Putrajaya tentu saja mereka harus membangun banyak jembatan untuk menghubungkannya dengan pulau utama. Total terdapat 8 jembatan dengan 5 jembatan yang menurut saya paling megah dan paling indah konstruksinya. Salah satunya adalah jembatan Seri Perdana ini. Menghubungkan Precinct 1 dengan Royal Palace dan kantor Perdana Menteri, mungkin inilah jembatan yang paling sering dilalui oleh pak Menteri kalau mau pergi ke kantor. Di sepanjang jembatan ini terdapat 8 paviliun untuk istirahat sehingga para pejalan kaki dapat menikmati indahnya pemandangan beberapa landmark Putrajaya seperti Perdana Putra, Putra Mosque and Seri Perdana.

Seri Perdana Bridge

Seri Perdana Bridge (Photo By :ppj.gov.my)

3. Putra Mosque

Didominasi oleh granit berwarna merah muda masjid ini juga dikenal sebagai pink mosque yang bertengger dengan indahnya di tepi danau buatan Putrajaya. Masjid ini memang sering menjadi destinasi utama karena letaknya yang strategis : berada ditengah kawasan, dilewati oleh bis dan dekat dengan tempat-tempat menarik lainnya seperti Putra Square dan Taman Putra Perdana. Bila ingin istirahat dan makan-makan disebelahnya terdapat Food Court Selera Putra. Masjid ini juga berdekatan dengan Jeti Putra tempat perahu-perahu Cruise Tasik Putrajaya mangkal. Sewa perahu paling murah 40 RM perkepala dan beberapa malah hanya untuk disewakan pada grup saja.

Masjid Putera dan perahu Dondang Sayang (Photo by : Wikipedia)

Masjid Putera dan perahu Dondang Sayang (Photo by : Wikipedia)

4. Putra Square

Berdekatan dengan Putra Mosque dan Perdana Putra alun-alun ini sering dijadikan tempat penyelenggaraan berbagai acara antara lain parade hari kemerdekaan Malaysia dan penyambutan resmi tamu negara yang datang berkunjung.

5. Prime Minister Office (Perdana Putra).

Kantor Perdana Menteri Malaysia ini sepintas terlihat seperti masjid karena dibagian tengah atapnya dibangun kubah. Bentuk kubahnya dibuat serupa seperti kubah utama Zahir Mosque di Alor Setar, Kedah. Bangunan ini sangat menonjol karena terletak dengan megahnya di blok utama.

Putra Square dikelilingi oleh Masjid Putra (kiri) dan (kanan) (Photo by : guy4versa4)

Putra Square dikelilingi oleh Masjid Putra (kiri) dan Perdana Putra (tengah) (Photo by : guy4versa4)

6. Putrajaya Botanical Garden

Menempati area seluas 92 hektar taman ini merupakan botanical garden terluas di Malaysia. Koleksi tanamannya cukup lengkap dengan 700 jenis bunga dan tanaman dari 90 negara yang terbentang sepanjang kawasan Asia Pasifik dan Afrika. Tiket masuknya gratis dengan jam buka dari jam 7 pagi sampai jam 9 malam. Bila ingin menyewa Tram untuk keliling taman tiketnya RM4 untuk dewasa. Bila ingin makan-makan di taman ini juga terdapat Putrajaya Seafood Restaurant. Dari hasil riset di internet untuk menuju taman ini kita bisa naik bis Nadi Putra 900 dari stasiun Putrajaya. Tapi untuk lebih pastinya nanti pas beli tiket di loket bilang saja kalau mau pergi ke Botanical Garden. Apakah taman ini bagus untuk dikunjungi ? kalau dilihat dari foto-foto, tayangan di televisi dan ratingnya di Trip Advisor, saya kira bagus juga. Tapi banyak yang menyarankan untuk datang kesini pagi atau sore hari saat udara lebih sejuk.

Taman Botani (Photo By : putrajaya.gov.my)

Putrajaya Botanical Garden (Photo By : putrajaya.gov.my)

7. Putra Perdana Park (Taman Putra Perdana)

Karena berdekatan dekat dengan Putrajaya Shangrila Hotel, taman ini seolah-olah menjadi halaman depannya. Letaknya yang berada di titik tertinggi precint 1 membuat pengunjung dapat melihat hampir keseluruhan panorama Putrajaya. Taman ini mudah dikenali dengan adanya monumen Mercu Tanda Plaza dengan bentuk seperti piramid yang menjadi simbol Putrajaya. Selain taman, tempat ini juga dilengkapi dengan jogging track dan banyak sekali air mancur yang berfungsi mendinginkan suasana. Tiket masuknya gratis dan buka dari jam 7 pagi sampai jam 8 malam.

8. Agriculture Heritage Park (Taman Warisan Pertanian)

Sesuai dengan namanya taman ini lebih menekankan pada koleksi tumbuhan yang memiliki nilai ekonomis untuk dijual seperti pohon buah, pohon karet, pohon kopi. Selain pohon buah didalamnya juga terdapat sawah lengkap dengan padinya. Sayang tiket masuknya tidak gratis, pengunjung harus membayar RM 2 untuk bisa masuk kedalam. Kalau ingin tahu bagian dalamnya coba intip tulisan di blog ini.

Wawasan

Salah satu sudut Putra Perdana Park (Kanan) dan Agricultural Heritage Park (Kiri). Photo By : mtc.com.my

Beberapa tujuan yang saya tulis diatas sebenarnya kurang lengkap bila dibandingkan dengan rute “Best of Putrajaya Tour” yang juga melengkapi kunjungannya ke Putrajaya Square dan Putrajaya International Convention Centre (PICC) termasuk melewati 2 jembatan yaitu Seri Gemilang Bridge dan Seri Saujana Bridge. Peta lengkap Putrajaya dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

putrajaya-map-big

UPDATE TERBARU PUTRAJAYA

Per 9 Mei 2014, LCCT telah ditutup setelah selama 8 tahun menjadi salah satu rumah bagi penerbangan low cost carrier seperti Air Asia, Tiger Air, Lion Air dan Cebu Pasific. Airport penggantinya adalah KLIA 2 yang berjarak kurang lebih 1 jam dari KL Sentral. Akses ke Putrajaya dari KLIA 2 dapat ditempuh menggunakan kereta KLIA Transit. Saat saya ke Putrajaya bulan Oktober 2014 The โ€œBest of Putrajaya Tourโ€ seharga 1 RM untuk keliling kompleks Putrajaya sudah ditiadakan. Sebagai gantinya sekarang tersedia shuttle bus “Putrajaya Sightseeing” dengan harga tiket 15 RM untuk Dewasa dan 7 RM untuk anak-anak. Tersedia setiap hari jam 10.30 dan 15.00 kecuali hari Jum’at jam 15.00 saja. Kalau ingin melihat Putrajaya diwaktu malam bisa ikutan Night Tour tiap Jum’at dan Sabtu jam 19.30. Bis ini akan berhenti di 12 tempat yang dianggap menarik di Putrajaya dengan durasi tour 2.5 – 3 jam. Kelemahannya tidak ada guide yang menemani jadi kita mencari informasi sendiri tentang gedung-gedung yang kita kunjungi. Loket tersedia di terminal Putrajaya Sentral. Lokasi yang dikunjungi adalah : (1) Putra Square, (2) Putra Mosque, (3) Prime Minister Office, (4) Sultan Mizan Zainal Abdin Mosque, (5) Putrajaya Square, (6) Wawasan Square, (7) Gemilang Square, (8) PICC, (9) Seri Gemilang Bridge, (10) Putra Bridge, (11) Seri Saujana Bridge, (12) Seri Wawasan Bridge.

_DSC0413

Selepas dari Putrajaya sekitar jam 13.30, kami masih punya waktu untuk menjelajah satu tempat lagi yang juga belum pernah saya datangi. Tempat itu adalah Bukit Bintang, satu destinasi yang banyak diwajibkan oleh orang Indonesia saat pergi ke Kuala Lumpur. Saya penasaran dengan tempat ini karena tiap kali saya bertanya pada kenalan atau teman yang hobi traveling apakah sudah pernah ke Bukit Bintang, pasti kebanyakan jawabannya “sudah pernah”, jawaban yang bikin tambah penasaran saja.

Bukit Bintang

Dari stasiun Putrajaya kami naik KLIA Transit sampai ke KL Sentral. Perjalanan memakan waktu kurang lebih 30 menit ditambah dengan waktu tunggu kereta. Sesampai di KL Sentral butuh waktu 30 menit lagi untuk sholat, makan dan menitipkan tas di loker. Titip tas disini memang jauh lebih murah, untuk dua backpack ukuran 25 dan 35 liter kami hanya perlu menyewa satu loker sedang seharga 10 RM. Harga lokernya bervariasi, yang terkecil bertarif 5 RM, sedang 10 RM dan besar 20 RM berlaku dari jam 4 pagi sampai jam 12 malam. Terbebas dari backpack, sekitar jam 14.30 mulailah perjalanan ke Bukit Bintang. Daerah Bukit Bintang ini paling gampang dijangkau dengan naik monorail, jadi dari KL Sentral kami berjalan keluar menuju jalan Tun Sambanthan tempat stasiun Monorail berada. Saat itu KL Sentral dan KL Monorail masih merupakan dua area yang berbeda sehingga calon penumpang monorail harus keluar dulu dari KL sentral. Tapi di masa mendatang akan dibangun jembatan sepanjang 400 mt yang akan menghubungkan KL Sentral dan KL Monorail sehingga orang tidak perlu jalan keluar untuk naik monorail. Di stasiun monorail KL Sentral ini kita tinggal membeli tiket ke stasiun Bukit Bintang.

Stasiun Monorail KL Sentral

Stasiun Monorail KL Sentral

Ternyata naik monorail itu asyik juga, karena relnya berada diatas jadi pemandangannya tidak jauh-jauh dari gedung-gedung bertingkat yang berada sejajar dengan kita. Beda dengan subway atau kereta bawah tanah yang tanpa pemandangan, disini kita bisa melihat-lihat pemandangan dari atas, merasakan kehangatan sinar matahari, sekaligus mengamati aktivitas lalu lintas dan orang-orang dibawah sana. Kelemahannya hanya satu yaitu jarak tempuhnya yang lama dan keseimbangan keretanya. Kalau belok miring banget serasa mau terguling ๐Ÿ™‚ (dasar ndeso).

Stasiun Bukit Bintang (atas) dan kereta monorail (bawah)

Stasiun Bukit Bintang (atas) dan kereta monorail (bawah)

Tiga puluh menit kemudian sampailah kami di Bukit Bintang, saat itu jam sudah menunjukkan pukul 15.00 jadi saya hanya punya waktu satu setengah jam di tempat ini sebelum kembali lagi ke KL Sentral. Dalam waktu sependek itu, hanya dua mall yang sempat saya eksplore yaitu Lot 10 dan Pavilliun KL Sentral.

Lot 10

Letaknya yang berdekatan dengan stasiun Bukit Bintang membuat saya memutuskan untuk melihat-lihat mall ini terlebih dulu. Disebut “Forest in The City” karena eksterior bangunannya yang berwarna hijau, mall ini terkemuka karena keanekaragaman toko bermerk yang membuka cabang didalamnya. Mulai dari label yang “agak” terjangkau seperti Zara sampai yang benar-benar mahal seperti Debenhams semua ada disini. Konsumennya memang ditujukan untuk tingkat menengah keatas. Memang bikin ngiler kalau lihat barang-barang disini tapi dasar otak traveler, tiap lihat barang bagus pasti langsung dikonversi ke harga tiket pesawat. Jaket 3 juta langsung kebayang tiket pp ke Jepang, sepatu 1,5 juta dibandingkan sama tiket pp ke Hanoi. Walhasil akhirnya memang tidak terbeli dengan alasan utama tidak punya uang he he he.

Bagian Depan Mall Lot 10

Bagian Depan Mall Lot 10

Terlepas dari barang bermerknya, saya tertarik menjelajahi mall ini karena di Lower Groundnya terdapat foodcourt Lot 10 Hutong. Tidak seperti foodcourt yang lain, Lot 10 Hutong dikhususkan untuk menjual makanan kaki lima (Hawker Food) dengan resep orisinal yang sudah bertahan 2 sampai 3 generasi. Para penjualnya dipilih dari para pedagang kaki lima mulai dari Kuala Lumpur sampai Penang untuk membuat masakan kaki lima paling otentik dari masing-masing daerah. Jadi konsep dasarnya adalah membawa masakan kaki lima ke dalam food court modern yang bersih dan ber AC. Sayangnya kelemahannya ada dua, pertama, walaupun namanya masakan kaki lima jangan harapkan harganya juga kaki lima, karena harga makanan disini lebih mahal daripada masakan kaki lima asli (lah iyalah kan sudah dibawa ke mal). Yang kedua, pilihan makanan halalnya tidak banyak. Diantara 30 vendor yang berada di tempat itu saya baru menemukan satu yang halal yaitu Sarifah Cafe. Harga makanannya berkisar antara 21-40 RM dengan menu campuran antara India dan Malaysia seperti kare kepala ikan dan roti canai goreng.

Stand di Lot 10 Hutong (atas)  dan Sarifah Cafe (bawah)

Stand di Lot 10 Hutong (atas) dan Sarifah Cafe (bawah)

Walaupun tidak jadi makan di food court ini (karena kebanyakan harganya melebihi anggaran saya), rasanya senang juga melihat-lihat koleksi makanan kaki lima yang terkemuka di Malaysia. Dari Lot 10, kami berjalan kaki menuju tempat kedua yaitu Pavilliun KL yang terletak persis berada di belakang Lot 10.

Pavilliun KL

Buat orang yang buta mall seperti saya, rasanya tidak ada beda antara Pavilliun KL ini dengan mall-mall yang lain. Padahal menurut hasil survey badan pariwisata Malaysia, bersama-sama dengan Suria KLCC, Pavilliun KL ini terpilih menjadi “the most popular mall in Kuala Lumpur among tourists”. Bahkan di tahun 2009 mall ini memenangkan the Malaysia tourism award sebagai mall paling inovatif. Terlepas dari hal tersebut, saya memilih mall ini karena tertarik dengan display mobil-mobil Formula 1-nya. Sebagai bagian dari kampanye F 1, tiap kali mendekati Grand Prix season di mall ini akan dipajang mobil-mobil Formula 1. Saat saya kesini, yang sedang dipajang adalah 11 mobil F1 milik “The Caterham F 1 Team” yang display di Centre Court Pavilliun KL. Caterham F1 Team merupakan sebuah tim balap asal Malaysia yang dikelola dan dimanajeri oleh Pemerintah Malaysia bekerja sama dengan berbagai perusahaan yang kemudian membentuk sebuah konsorsium. Perusahaan-perusahaan yang terlibat antara lain, Air Asia, Sepang International Circuit, dan Naza Motors dengan Tony Fernandes, CEO dari AirAsia, yang menjadi Team Principal-nya.

Display mobil-mobil Formula 1 di Pavilliun KL

Display mobil-mobil Formula 1 di Pavilliun KL

Setelah puas berfoto seolah gadis pit stop (kapan lagi bisa foto sama mobil balap tanpa harus pergi ke arena), kami sedikit jalan-jalan mengeksplore mall ini. Disini terlihat jelas bahwa Parkson-lah yang menjadi anchor tenant di mall ini. Parkson Pavilion menguasai 4 lantai dari 7 lantai yang ada. Untuk makanan ada supermarketย  Mercato yang terletak di lantai 1 dan Food Court “Food Republic” disebelahnya. Harga makanannya cukup lumayan, sekitar RM15 untuk satu paket makan lengkap yang bisa dimakan berdua. Walaupun stand makanannya banyak sekali, akhirnya kami memilih amannya saja yaitu makan nasi lemak ๐Ÿ™‚ yang dibeli dari salah satu food stall di sana.

Bagian depan Pavilliun KL (atas) dan Food Republic (bawah)

Bagian depan Pavilliun KL (atas) dan Food Republic (bawah)

Jam sudah menunjukkan pukul 16.15 ketika saya harus mengakhiri kunjungan ke Bukit Bintang karena pesawat saya akan berangkat ke Indonesia jam 20.45. Bisa dibilang daerah ini memang surganya mall. Bayangkan ada 9 mall besar disini dan anehnya disetiap mall itu sering sekali terdapat satu brand toko yang sama. Sayangnya mall yang sudah tua tidak sepenuhnya direnovasi, mereka hanya mengosongkannya dan membangun mall yang baru disebelahnya. Lama-lama area Bukit Bintang ini akan habis dimakan mall. Satu setengah jam memang waktu yang sedikit untuk menjelajah tempat ini. Kalau ada waktu pengennya main ke jalan Alor yang terkenal dengan makanannya dan menyusuri Bintang Walk yang menghubungkan mall-mall di Bukit Bintang dengan saudaranya di Suria KLCC.

Penutup

Bukit Bintang menjadi penutup 9 hari perjalanan saya mengelilingi Tokyo, Kyoto, Osaka, Nara dan Hakone. Ada beberapa destinasi yang bisa tercapai dan ada juga yang tidak, tapi secara keseluruhan saya amat bersyukur karena Allah melancarkan perjalanan saya dan selalu melindungi kami selama dalam perjalanan. Jadi pelajaran apa yang bisa saya ambil dalam perjalanan kali ini ?

1. Jepang ternyata bersih sekali.

Lebih bersih dari Singapura dan kota manapun yang pernah saya kunjungi, Jepang memberikan bukti bahwa sebuah negara juga bisa sangat bersih karena kedisiplinan penduduknya. Mulai dari kota besar sampai kota kecil, bahkan disudut kuil yang terpencil pun semuanya bersih. Bersihnya sampai terasa tidak wajar karena tidak tampak satu sampahpun dibiarkan berceceran. Kalau sedang jalan-jalan di Tokyo, mungkin setelah jalan satu setengah blok baru kita ketemu sampah. Itupun hanya berupa ujung rokok yang habis dihisap pemiliknya Padahal ini Tokyo, kota besar dengan 35 juta orang dan menjadi salah satu pusat keuangan dan tehnologi dunia.

Gang antar rumahpun terlihat bersih dan bebas sampah

Gang antar rumahpun terlihat bersih dan bebas sampah

2. Jepang surganya toilet.

Berbagai macam bentuk toilet ada disini, mulai dari bidet tradisional sampai modern dan senangnya semua toiletnya selalu bersih dimanapun dan kapanpun. Tidak ada satupun toilet yang saya temui berbau pesing dengan tissue berceceran. Toiletnya pun memiliki peralatan yang lengkap dan menunjang kesehatan. Sebagai contoh sebelum duduk di toilet disediakan tissue basah pembersih kuman yang harus diusap di dudukannya. Itupun masih ditambah dengan kertas transparan yang harus diletakkan sebelum kita mendudukinya. Jadi aman banget pakai toilet dudukan di Jepang secara toilet duduk adalah sarana penyebaran kuman dan virus kanker serviks yang paling baik.

3. Penduduknya sangat fashionable.

Selain kebersihan, ada satu hal lagi yang sangat saya kagumi dari orang Jepang yaitu penampilan mereka yang selalu chic dan fashionable. Kalau ada yang bilang di Jepang itu “Everyoneโ€™s super fashionable” itu memang betul. Dari orang tua sampai anak-anak nggak ada tuh yang bajunya sembarangan. Karena saat itu musim semi, jaket panjang dan boot bertebaran dimana-mana. Tapi banyak juga anak muda yang nekat pakai stocking dan rok supermini sampai saya heran kok mereka tidak kedinginan yah.

4. Orang Jepang itu ternyata jujur, sopan dan suka menolong.

Bicara soal kejujuran, waktu berkunjung ke Okochi Sanso Villa, tanpa sengaja tas kamera kami terjatuh di dekat pintu masuk. Selama satu jam muter-muter didalam taman tidak sekalipun kami ingat tentang tas kamera itu (dudul banget yah). Pas giliran mau pulang dan lewat didepan loket penjual tiket, kami baru lihat ada tas kamera. Itupun masih sambil mikir, “ini kok persis sama tas kamera kita yah” ๐Ÿ™‚ . Nah, baru saat itu kami sadar kalau tasnya ketinggalan, hebatnya lagi, tas kamera itu tidak bergeser sedikitpun dari terakhir kali kami meninggalkannya. Padahal banyak juga orang yang lalu lalang, tapi nggak ada tuh yang iseng menyingkirkan atau mengambilnya. Selain tas kamera , kami juga seringkali ketinggalan tripod (dasar pasangan uzur) dan tetap saja bisa kita temukan kembali. Belakangan setelah bertemu dengan Teddy baru saya tahu kebiasaan orang Jepang untuk tidak memungut sembarangan barang yang bukan miliknya karena mereka meyakini bahwa si pemilik akan kembali untuk mencarinya. Bila tidak ketemu ditempat semula, hampir semua barang yang hilang akan berakhir di kantor Lost and Found yang ada disetiap stasiun. Kalau hilangnya di Tokyo akan berakhir di Tokyo Metropolitan Police Lost and Found Center yang memiliki gedung berlantai 4 khusus untuk barang hilang yang kesemuanya dilabeli dan disimpan dengan rapi. Menurut data statistik kepolisian, 76% dompet yang hilang telah kembali kepada pemiliknya masih lengkap dengan kartu kredit dan uang didalamnya. Kalau handphone yang kembali malah sudah 95%. Sungguh ajaib bukan. Kalau di Indonesia sudah sayonara tuh dompet dan HP. Kebiasaan ini setidaknya jadi sentilan buat diri saya yang suka banget memulung barang yang jatuh di jalan. Jadi selama di Jepang dan setelah kembali dari Jepang akhirnya secara resmi saya mengundurkan diri jadi pemulung ๐Ÿ™‚ .

Payung-payung yang ketinggalan dan terdampar di gudang Lost & Found (photo by : globalsherpa

Payung-payung yang ketinggalan dan terdampar di gudang Lost & Found (photo by : globalsherpa

Kalau soal kesopanan, pernah kejadian saat di stasiun kereta karena saya meleng liat kanan kiri tanpa sengaja backpack gede saya menyenggol lelaki tua yang tangannya bengkak. Kalau di Indonesia mungkin saya sudah diomelin sama si bapak, tapi disini eh dianya malah yang membungkuk meminta maafย  sehingga saya jadi malu sendiri. Kalau soal suka menolongnya, entah sudah berapa kali dalam ketergesa-gesaannya mereka dengan sabar mau memberi petunjuk jalan kepada saya. Walaupun hanya dengan bahasa isyarat, mereka tetap semangat memberi tahu bahkan mengoogling dengan HP bila tidak tahu letaknya.

5. Hemat energi menjadi topik utama negeri ini.

Sejak ditutupnya pembangkit listrik tenaga nuklir Fukushima Daiichi bulan Maret 2011 karena gempa bumi dan Tsunami Sendai, warga Jepang dipaksa lebih keras untuk menghemat energi. Apalagi karena alasan keamanan dan tekanan masyarakat umum, hanya 2 dari 50 pembangkit listrik tenaga nuklir yang boleh beroperasi sampai 19 bulan setelah bencana. Tekanan masyarakat begitu hebat hingga akhirnya pemerintah Jepang setuju meninggalkan energi nuklir dengan menutup reaktor nuklir terakhirnya di Oi pada bulan September 2013. Padahal pembangkit listrik tenaga nuklir memberikan sumbangan 30% dari keseluruhan kebutuhan listrik Jepang. Menyadari hal itu, pemerintah Jepang bekerja sama dengan media mengkampanyekan gerakan Setsuden atau hemat listrik untuk menutup lubang 30% kebutuhan listrik yang harus diambilkan dari sumber non nuklir seperti solar dan tenaga angin.

Beberapa pamflet kampanye Setsuden (Photo by :japantoday.com)

Beberapa pamflet kampanye Setsuden (Photo by :japantoday.com)

Gerakan Setsuden ini secara gencar dikampanyekan di televisi dan poster-poster yang ditempel di tempat-tempat umum seperti kuil dan supermarket. Perusahaan-perusahaan besar seperti Panasonic menyediakan berbagai informasi dan kuliah online tentang hemat energi. Bukan itu saja mereka juga dituntut untuk membuat produk elektronik hemat energiย  yang lebih efisien dibanding produk mereka sekarang. Gerakan nasional ini bukan hanya basa-basi karena melibatkan hampir semua lapisan masyarakat. Saya pernah baca di Reuters saat puncak kampanye Setsuden, musim panas 2011, lampu-lampu di Shibuya dimatikan dan PM Jepang Naoto Kan sampai menggunakan kipas ala emak-emak saat rapat di parlemen karena kantor-kantor pemerintah mengurangi penggunaan ACnya (di Indonesia mana aja yah pejabat model begini).

Shibuya yang gelap saat puncak kampanye Setsuden (kiri) dan PM Jepang pakai kipas saat rapat (kanan)

Shibuya yang gelap saat puncak kampanye Setsuden (kiri) dan PM Jepang Naoto Kan pakai kipas saat rapat (kanan)

Saking seriusnya kampanye ini, sampai-sampai saat saya menginap di hostel J-Hoppers Osaka di dekat saklar lampunya ada tulisan yang berbunyi “Matikan Lampu dan Selamatkan Negara Kita” (turn off and save our nation). Akhirnya kampanye besar-besaran ini sukses mengatasi blackout karena pasokan listrik yang berkurang. Bahkan dibanding tahun lalu, energi yang dipergunakan selama jam-jam peak season berkurang hingga 20%, dari pemakaian maksimal 60 gigawatts menjadi 49 gigawatts. Hebat bukan.

6. Tingkat kesadaran lingkungan yang tinggi.

Pertama kali naik bis di Kyoto sempat heran juga karena bisnya sering banget berhenti. Berhentinya bukan hanya di halte tapi juga di tempat-tempat non halte. Sempat kepikiran jangan-jangan bisnya mogok, tapi melihat penampilan luarnya sepertinya sangat tidak mungkin kalau bis ini mogok. Setelah saya amati baik-baik mereka ternyata berhenti saat lampu merah, saat menaik turunkan penumpang dan saat jalanan macet. Belakangan baru saya tahu, bahwa ini adalah bagian dari kampanye gerakan “Stop Idling” yang mulai dilaksanakan bulan Juni 1997, saat Kyoto menjadi tuan rumah acara COP3 konferensi PBB tentang perubahan lingkungan. Gerakan ini meminta para pengemudi untuk mematikan mesin mobilnya bila dalam 1 menit mobil itu tidak digunakan seperti saat menunggu lampu merah, mengisi bensin atau disaat macet.

Beberapa tanda "Stop Idling" di beberapa kota di Jepang

Beberapa tanda “Stop Idling” di beberapa kota di Jepang

Gerakan ini dipercaya dapat mengurangi emisi gas karbon dan menghemat bahan bakar. Menurut studi mereka, sebuah mobil yang mesinnya dibiarkan menyala selama kurang lebih 10 menit akan memproduksi 90 gram karbon dioksida dan mengkonsumsi 0.14 liter bahan bakar. Jika diperkirakan 68.6 juta mobil di Jepang melaksanakan gerakan ini berapa ton emisi karbon yang dapat dikurangi dan berapa juta liter bahan bakar dapat dihemat. Imbasnya polusi udara juga menurun. Itulah sebabnya saat jalan-jalan di Tokyo kenapa rasanya seperti bukan jalan di kota besar karena tidak ada bau knalpot yang bikin sesak napas atau kendaraan yang main slonong nyerempet pejalan kaki. Untuk mempermudah kerja sopir, para operator bis memasang semacam sensor yang secara otomatis akan mematikan dan menghidupkan mesin dalam jangka wantu tertentu.

7. Semodern apapun mereka, tradisi kuno tetap dilaksanakan dan dilestarikan.

Satu hal lagi yang membuat saya kagum adalah kemampuan orang Jepang menjaga tradisi mereka. Bukan hanya pada bentuk fisik seperti bangunan kuno tapi juga pada tradisi yang sifatnya non fisik seperti musik dan tarian. Hal ini terasa sekali saat kita berkunjung ke Kyoto, dimana masa lalu dan masa sekarang saling bertemu. Diantara deretan gedung modern masih ada kompleks kuil berusia ratusan tahun. Diantara para remaja yang berpakaian aneh-aneh ala cosplay masih banyak juga yang wira wiri berpakaian kimono. Diantara segala bentuk alat-alat modern, penjualan jimat di kuil juga masih terus berjalan.

Dasar orang Jepang, jimatnyapun lucu-lucu

Dasar orang Jepang, jimatnyapun lucu-lucu

Yang lebih mengherankan lagi, secanggih dan semodern apapun, mereka masih percaya pada hal-hal gaib dan mencoba tidak melakukan hal-hal tertentu yang dapat menyebabkan ketidak beruntungan. Kalau kebanyakan hotel atau gedung menghindari angka 13 maka di Jepang angka 4 lah yang biasanya dihindari karena pengucapannya yang hampir mirip dengan kematian (shi). Mereka juga tidak menancapkan sumpit pada nasi karena hal tersebut hanya dilakukan saat pemakaman ketika nasi dijadikan sesaji di altar. Unik bukan.

8. Yang boleh dan tidak boleh dilakukan di Jepang.

Yang boleh (Do) : Satu, bila masuk ke rumah, hostel atau kantor ganti sepatu atau sandal yang dipakai dengan sandal dalam. Walaupun tidak semua memiliki aturan tersebut alangkah baiknya bila sebelum masuk perhatikan dulu apakah didepannya ada Genkan atau lemari untuk menyimpan sepatu. Bila ada, berarti kita harus melepas sepatu kita dan menggantinya dengan sandal yang telah disediakan. Kedua, biasakan menggunakan kedua tangan saat menerima apapun (piring, uang kembalian, kartu nama, hadiah. Ketiga, jangan lupa membungkuk saat berterima kasih atau berpamitan.

Berbagai macam cara membungkuk

Berbagai macam cara membungkuk

Yang tidak boleh (Don’ts) : Satu, berisik di kereta atau kendaraan umum. Kedua, menggunakan tripod saat berfoto di kuil atau tempat-tempat yang ramai. Ketiga, mengambil barang bukan milik kita yang tergeletak dijalan. Keempat, membuang ingus atau bersuara seperti membuang ingus ditempat umum. Kelima, jangan makan atau minum sambil berjalan dan berdiri. Entah apa alasannya tapi mereka memang tidak melakukannya. Keenam, ini yang paling asyik yaitu tidak memberikan tip saat makan di restoran Yang ada mereka akan mengejar kita karena dikira uang kembaliannya lupa tidak diambil ๐Ÿ™‚ .

Etika makan di Jepang

Etika makan di Jepang

Selama 9 hari, saya banyak belajar dan mengenal budaya Jepang. Terkadang saya juga merasa kasihan melihat mereka berjalan cepat kemana-mana dengan muka serius ke arah yang dituju seolah-olah seluruh dunia mengejar dibelakang mereka. Tidak ada kata santai apalagi woles. Saya juga merasa kasihan melihat kepatuhan mereka pada peraturan. Menunggu lampu berwarna hijau boleh menyeberang padahal jalanan sepi tanpa kendaraan. Entah apa alasan saya merasa kasihan padahal buat mereka semua itu hal-hal biasa yang tidak patut dikasihani. Tapi ada satu hal yang pasti, diantara berbagai negara yang pernah saya kunjungi Jepang memberikan kesan tersendiri yang membuat saya kangen untuk kembali. Semoga Allah mengabulkan doa saya untuk kembali kesini. Hapy traveling, semoga catatan perjalanan saya ini bermanfaat.

Biaya Hari Ke 9

untitled2

Advertisements
 
42 Comments

Posted by on March 27, 2014 in Jepang, Kuala Lumpur, Malaysia

 

Tags: , , , ,

42 responses to “Hari Ke 9 : Kuala Lumpur – Surabaya (Putrajaya & Bukit Bintang)

  1. Matius Teguh Nugroho

    March 27, 2014 at 6:03 pm

    Mbak, tulisannya panjang bangeeeeeettt ๐Ÿ˜ฆ Itu bisa jadi 3 tulisan atau lebih lho. Lumayan biar frekuensi posting-nya lebih rata, jadi nggak sekali nongol nulis panjang bgt terus abis itu ilang lama bgt. Saya aja nggak kuat baca sampai kelar ๐Ÿ˜€

    Btw, apakah memungkinkan eksplor Putrajaya dengan berjalan kaki?

     
    • aremaronny

      March 28, 2014 at 7:02 am

      He he he terima kasih banyak atas masukannya mas Matius….layout saya memang ditujukan satu hari untuk satu artikel. Maksunya supaya pembaca tidak repot nyari tulisan sambungannya. Anyway, sekali lagi terima kasih masukkannya yah. apakah memungkinkan eksplor Putrajaya dengan berjalan kaki? memungkinkan mas, asalkan : 1. tidak bawa backpack berat, 2. Lebih nyaman kalau dilakukan sore atau pagi hari, 3. Jalan kakinya hanya terbatas di bagian tengah Putrajaya diarea seputaran masjid Putra.

       
      • ima

        January 30, 2015 at 2:41 pm

        iya mbak setuju layoutnya menurutku g membingungkan dan easy to read kok. makasih buat kerja kerasnya. kalau boleh tahu kira-kira budgetnya berapa ya mbk untuk bisa keliling ke jepang yg itinenarynya kayak mbk gitu, soalnya rencana pengin jalan-jalan ke jepang tp bingung harus nabung sampai seberapa. makasih banyak

         
      • Vicky Kurniawan

        January 31, 2015 at 11:23 am

        9 hari di Jepang tahun 2013 saya menghabiskan Rp. 7.9 juta. Rinciannya bisa dilihat disini https://jejakvicky.com/2013/06/08/9-hari-keliling-tokyo-kyoto-osaka/#more-2690

         
      • rika zein

        October 12, 2015 at 8:54 am

        thanks mba, saya malah merasa senang dengan tulisan yang detail seperti ini . selain sangat membantu bagi yang butuh, juga merasa ikut berada di tmpt tersebut. thanks mba

         
      • Vicky Kurniawan

        October 12, 2015 at 2:01 pm

        Terima kasih sudah mampir ya mbak Rika

         
    • aulia

      October 12, 2016 at 11:54 pm

      wuihhhhh jangan mas
      yakin deh pasti nggk kuat

       
  2. Afriani

    March 28, 2014 at 2:38 pm

    Waaah… ini nih yang sy tunggu2. Hari ke 9…!
    Siap2 nih dicontek itinerary nya.
    maksih mbak Vicky…:)

     
    • aremaronny

      March 28, 2014 at 6:15 pm

      He he he…udah lengkap Jepangnya mbak Afriani…setelah hampir setahun ๐Ÿ˜ฆ

       
  3. arin Osanai

    March 30, 2014 at 4:15 am

    Terharu bacanya ulasan tentang kebaikan Jepang, tapi memang betul begitulah adanya bahkan boleh dibilang negara yg penduduknya tidak beragama tapi kelakuan mereka lebih baik apalagi kalo mereka taat beragama, mungkin persentase bunuh diri akan menurun tajam.

     
    • aremaronny

      April 1, 2014 at 7:02 am

      Iya mbak Arin…dimanapun kalau tanpa agama memang terasa hampa dan kosong.

       
    • rika zein

      October 12, 2015 at 8:55 am

      betul mba. termasuk hal yang sepele kalau mereka tidak makan dan minum. yang di dalam islam juga melarang.hal ini … tapi masih banyak yang melanggar

       
  4. mila

    March 30, 2014 at 8:50 pm

    komunikasi disana gimana mba? susah gak?

     
    • aremaronny

      April 1, 2014 at 7:04 am

      Harus beli atau sewa HP disana mil, karena nggak ada yang jual kartu perdananya aja. Aku hanya bisa memnfaatkan WIFI di hostel kalau malam. Jadi malam aja baru bisa komunikasi karena kebanyakan WIFInya pun di lock.

       
  5. devy

    March 31, 2014 at 1:21 pm

    Mb vicky merasa kasihan mungkin krn mrk spt yg tdk bahagia mbak? Hehehe sotoy,,kadang2 mrk yg tinggal di negara maju,disiplin tinggi dll emang keliatan lbh “serius” dan unhappy hehe beda dgn di negara kita yg walaopun spt begini adanya tapi tingkat ke’happy’annya termasuk yg tertinggi ya,,heran juga ๐Ÿ™‚

     
    • aremaronny

      April 1, 2014 at 7:14 am

      he he mungkin betul juga ya mbak Devy. Setelah saya kaji pendapat mbak Devi ada benarnya juga ๐Ÿ™‚ Tapi kalo Indonesia mah kelewatan tidak disiplinnya yah…he he he…

       
  6. tony

    April 10, 2014 at 10:03 pm

    Eh, iya masih ada hari ke-9 ya? Malah baru baca hehehe… sori ๐Ÿ˜€
    Mbak Vicky mau liat sampah di Jepang? ๐Ÿ™‚
    Keluarlah sebelum jam 5.15 pagi waktu masih gelap. Di sekitar Asakusa, di jam segitulah saya melihat ‘truk’ sampah (ukurannya sebesar Suzuki Carry tapi di belakang ada loadernya seperti truk sampah modern) dan 2 pekerjanya mengangkuti sampah dari tempat2 sampah di pinggir jalan & di luar rumah.
    Waktu itu yang saya lihat sepertinya rit terakhir mereka karena setelah itu ‘truk’ langsung tancap gas karena jalanan sekitar sdh bersih. ๐Ÿ˜€

     
    • aremaronny

      April 13, 2014 at 7:51 am

      Ealah, kukira mereka memang nggak pernah buang sampah he he he. Habis bersih banget.Kapan-kapan kalau dikasih kesempatan ke Jepang lagi, mau kotongkrongin deh subuh-subuh ๐Ÿ™‚

       
  7. asambackpacker01

    May 12, 2014 at 7:11 pm

    saya rasa tulisan mbak vicky lebih menarik daripada beberapa buku travel, karena detil dan gambarnya itu bagus2. meski sebagian gambar diambil dari laman lain, tapi disebutkan sumbernya. kalau cari sendiri susah menemukannya. baca tulisan mbak lebih praktis, menarik dan masuk akal. perlu belajar nulis blog dari mbak vicky. terimakasih mbak.
    untuk Putrajaya saya sempat nikmati tur yang cuma bayar tiket bus seRinggit dan ada pemandunya. Waktu itu hari Sabtu.

     
    • aremaronny

      May 29, 2014 at 1:01 pm

      He he he terima kasih banyak mas Widodo, asambackpacker juga bagus kok. Rapi dan cukup detail. Wah semoga suatu hari saya juga keturutan ikutan tour yang satu ringgit itu.

       
      • asambackpacker01

        May 29, 2014 at 2:54 pm

        Iya mbak
        Semoga kesampaian. Hemat, info lengkap n ga capek ๐Ÿ™‚

         
      • rika zein

        October 12, 2015 at 8:57 am

        mba vicky, boleh tau negara mana aja yang mau di jalanin lagi?

         
      • Vicky Kurniawan

        October 12, 2015 at 2:02 pm

        Saya masih hutang tulisan Eropa yang saya kunjungi tahun 2014 kemarin, setelah Eropa saya juga masih hutang Cina yang saya kunjungi Maret 2015 kemarin. Ada juga tulisan Umroh Mandiri Juli 2015. Duh..saya masih hutang tulisan banyak mbak ๐Ÿ˜ฆ

         
  8. winnymarch

    December 21, 2014 at 10:47 pm

    kak kalau dari Kuala Lumpur International Airport ke stasiun kl central naik bus apa ya kak? mungkin gk kak langsung ke phuket?

     
    • aremaronny

      December 22, 2014 at 4:27 pm

      KLIA 2 atau KLIA aja? kalau dari KLIA 2 bisa naik Sky Bus atau Aero Bus. Jadwalnya bisa diklik disini http://www.skybus.com.my/skybus-at-klia2/. Kalau dari KLIA bisa naik kereta KLIA Transit atau KLIA Express

       
      • winnymarch

        December 24, 2014 at 9:54 am

        klia2 kak… tp nyampe dsana jam 23:30 malam kak pdhal mw ngejar phuket trs lamanya cuma 5 hari. cukup gk kak ya?

         
      • aremaronny

        December 26, 2014 at 11:03 am

        Sebaiknya dari KL – Phuket naik pesawat terbang aja winny, kalau naik bis kelamaan (rasanya tidak ada bis dari KL-Phuket) atau pilihan kedua naik kereta api dari KL Sentral ke Hatyai kemudian disambung bis ke Phuket. Jadwal keretanya bisa dilihat disini http://www.seat61.com/Malaysia.htm#Singapore_-_Kuala_Lumpur_-_Penang_-_Bangkok

         
      • winnymarch

        December 26, 2014 at 2:28 pm

        thank u infonya ya

         
  9. Relinda Puspita

    March 12, 2015 at 2:01 pm

    Terakhir ke Putrajaya sih, sightseeing tour bayar 20RM dan hanya ada jam 11 dan 15.

     
  10. ryan

    May 7, 2015 at 12:46 pm

    mantap….

     
  11. iwan

    May 9, 2015 at 8:42 am

    keren tulisanya…jadi banyak dapat info…aku ada rencana backpackeran ke kuala lumpur termasuk putra jaya.

     
    • Vicky Kurniawan

      May 16, 2015 at 8:24 pm

      Selamat jalan-jalan mas Iwan..semoga lancar ya

       
  12. Adelia

    June 7, 2015 at 2:14 pm

    suka suka suka banget baca blog nya mba Vicky.. very detail! buat yang suka backpacker ini udah jadi blog wajib untuk referensi hihiii ..
    aku pengen banget ke jepang mba tapi blm ada tiket murah nih ๐Ÿ˜ฆ
    by the way abis dari jepang mau kemana lagi mba ? gak korea gitu , kan lagi happening banget tuh hihihii…

     
    • Vicky Kurniawan

      June 23, 2015 at 9:29 am

      Sayang saya belum ada rencana ke Korea. Terima kasih sudah mampir ya mbak Adelia.

       
  13. Gusti

    November 8, 2015 at 1:41 pm

    Mbak Vicky… Saya benar2 berterimakasih karena tulisan2 detailnya. Bulan Mei 2014 lalu Saya full contek ittinerarynya untuk ke Hongkong dan Macau. Dan ini contek lagi untuk trip ke Jepang bulan Januari 2016 nanti… Semoga nanti bisa contek juga ittinerary Eropanya. Amin….

     
    • Vicky Kurniawan

      November 9, 2015 at 6:59 am

      He he terima kasih sudah mampir ya mas Gusti…

       
  14. rhea

    January 6, 2016 at 1:30 pm

    sangat bermanfaat sekali blog Mba Vicky..bener2 dijabarkan secara detail. inshaallah bulan ini saya mau ke negeri sakura ini. terimakasih ya mba buat tulisannya ^^

     
    • Vicky Kurniawan

      January 7, 2016 at 10:53 am

      Terima kasih sudah mampir ya mbak Rhea. Semoga perjalanannya lancar

       
  15. Dorris Tjahjadi

    February 14, 2016 at 10:17 pm

    Hai mba vicky.. Seneng dech baca blognya.. Btw sy mau ty apa mba vicky beli JR pass dr indo?

     
    • Vicky Kurniawan

      February 17, 2016 at 9:54 am

      Saya tidak beli JR Pass mbak Dorris, karena setelah saya hitung-hitung dengan itinerary saya kemahalan kalau pakai JR Pass.

       
  16. Mia

    October 7, 2016 at 1:22 pm

    Mba klo dari kl sentral naik taksi kupon ke hotel marriott putrajaya kira-kira tarifnya berapaan ya mba?

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: