RSS

Hari Ke 6 : Osaka – Tokyo (Osaka Castle, Minami, Universal Citywalk, Kita)

22 Nov

Oleh : Vicky Kurniawan

Hari terakhir di Osaka. Rencananya hari ini kami akan mengubek-ngubek kota Osaka dulu sebelum malamnya melanjutkan perjalanan ke Tokyo dengan menggunakan bis Willer Express. Rutenya dibuat melingkar dengan terlebih dahulu mengunjungi Osaka Castle dilanjutkan dengan mengeksplore kawasan Minami, Universal City Walk Osaka dan diakhiri dengan kunjungan ke kawasan Kita yang berada di seputaran Osaka Station. Jadilah jam 7 pagi kami check out dari hostel dengan tujuan utama mencari kantor Willer Express di Umeda Sky Building. Selain untuk menitipkan backpack, kami juga ingin mengecek lokasinya supaya nanti malam saat naik bis tidak usah mencari-cari lagi alamatnya. Rute kami hari ini bisa dilihat pada peta berikut.

Peta diatas dibuat dengan mode jalan kaki supaya didapat gambaran kasar mengenai rutenya. Tapi aslinya penjelajahan kami hari ini merupakan campuran antara walking tour dan naik kereta. Dimulai dari titik (A). J-Hoppers Osaka Central jalan kaki ke (B). Stasiun Fukushima – naik kereta ke (C). Stasiun Osaka – jalan kaki ke (D). Umeda Sky Building – jalan kaki kembali ke Stasiun Osaka disambung naik kereta ke stasiun Osakajo-koen dan jalan kaki ke (E). Osaka Castle – jalan kaki ke stasiun Osaka Business Park dan naik kereta ke stasiun Shinsaibashi disambung jalan kaki ke (F). Amerikamura – jalan kaki ke (G). Dotonbori – jalan kaki ke (H). Namba Park – jalan kaki ke (I). Stasiun Namba – naik kereta ke stasiun Shinimamiya disambung jalan kaki ke (J). Universal City Walk Osaka – naik kereta kembali ke Stasiun Osaka dan jalan kaki ke (K). HEP FIVE – jalan kembali ke (L). Umeda Sky Building.

Terminal Bus Willer Express Osaka – Umeda

Terminal bis Willer Express Osaka berada dalam gedung Umeda Sky Building yang berlokasi di seputaran Osaka Station. Walaupun terletak di sebuah gedung megah yang cukup terkenal di kawasan Kita, sungguh tidak mudah menemukan tempat tersebut. Peta resmi sudah didownload dari websitenya, tapi tidak urung kami dibuat bingung juga saat keluar dari Osaka Station. Maklum tidak pakai GPS atau SmartPhone yang nyambung terus menerus ke internet. Selama di Jepang kami memang fakir Wi-Fi jadi begitu keluar dari hostel, internet langsung mati. Jadilah setelah muter-muter dan nyasar tidak karuan akhirnya sampai juga ke terminalnya. Diperlukan waktu 1,5 jam untuk sampai kesini (sudah termasuk nyasarnya) mulai keluar dari hostel sampai ke Umeda Sky Building.Untuk itu saya tuliskan rutenya secara mendetail supaya para traveler yang lain tidak banyak nyasar seperti saya :).

untitled

Setelah muter-muter tidak karuan, rasanya adem juga melihat suasana waiting room Willer Express. Ruangannya jauh lebih bagus daripada yang di Tokyo, lebih luas dengan fasilitas yang lebih lengkap. Ada powder room untuk merapikan diri, Food and Drink Corner untuk yang butuh makan (disitu terdapat snack vending machine serta konter untuk makan) dan Luggage Storage untuk menitipkan tas. Biaya sewanya Y 300 untuk loker berukuran sedang dan Y 600 untuk loker ukuran besar. Loker berukuran sedang sudah cukup untuk 2 backpack ukuran 25 liter dan satu tas plastik berisi oleh-oleh. Setelah menitipkan backpack kami jalan kaki kembali ke Osaka Station untuk melanjutkan perjalanan menuju Osaka Castle.

Terminal Bis Willer Ekspress di Umeda Sky Building

Waiting Room Terminal Bis Willer Ekspress di Umeda Sky Building

Melewati terowongan penyeberangan, kami berjalan bersama-sama para karyawan yang berkantor di Umeda Sky Building. Maklum saja selain sebagai menara observatory, Umeda Sky Building juga menjadi kantor beberapa perusahaan terkemuka seperti Mazda, Astra Zeneca, bahkan konsulat jenderal Jerman di Osaka juga berkantor disini. Jadi akhirnya kami berjalan bersama-sama ribuan karyawan kantoran yang 90% berpakaian resmi warna hitam, berjas dan berdasi. Mungkin karena hari Senin jadi bajunya sangat resmi dan sangat hitam. Diantara ribuan orang berbaju gelap yang berjalan cepat menuju tempat kerjanya hanya kami berdua yang berpakaian kasual warna warni dan berjalan santai sambil mlipir di pinggir. Soalnya kalau ikut arus yang ditengah mau tidak mau kami harus jalan cepat-cepat juga. Cukup bangga karena orang lain pada sibuk berangkat kerja, kami malah sibuk berangkat jalan-jalan 🙂 .

Para Pekerja Kantoran Jepang Sedang Menunggu Kereta (Photo By : Kobby Dagan)

Para Pekerja Kantoran Jepang Sedang Menunggu Kereta (Photo By : Kobby Dagan)

Saat menuruni tangga terowongan penyeberangan secara otomatis saya berpegangan pada pinggirannya. Sampai diujung pegangannya terasa ada yang “ngrenjel”. Waktu dilihat ternyata ada huruf Braille yang tercetak rapi disitu. Sampai sebegitu besar perhatian dan penghargaan pemerintah Jepang terhadap warganya yang berkebutuhan khusus sampai hal-hal kecil sekalipun tidak pernah luput dari perhatian mereka. Selain diujung pegangan tangga, huruf Braille ini juga sering dijumpai di papan penunjuk lift, tombol penyemprot di toilet, botol shampoo bahkan di kaleng minuman. Selain itu bila diperhatikan banyak juga ubin di lantai-lantai stasiun yang tekstur dan warnanya dibuat lain sehingga bisa “dirasakan” oleh tongkat penuntun orang-orang tuna netra (kapan yah Indonesia bisa seperti ini :)).

Braille di tangga, kaleng bir, toilet, lantai di stasiun dan di botol shampoo

Braille di tangga, kaleng bir, toilet, lantai di stasiun dan di botol shampoo

Tujuan pertama kami hari ini adalah Osaka Castle. Dari stasiun Osaka tempat ini dapat dicapai dengan menggunakan kereta JR Loop Line yang berada di platform nomor 2. Turunlah saat kereta ini berhenti di stasiun Osakajokoen yang merupakan stasiun JR terdekat Osaka Castle.

Osaka Castle

Terlepas dari nama “Castle”-nya, tempat ini merupakan sebuah museum modern yang menceritakan perjalanan Toyotomi Hideyoshi, pendiri Osaka Castle. Toyotomi Hideyoshi dulunya adalah salah satu jendral Oda Nobunaga, salah seorang Daimyo (tuan tanah) yang bercita-cita menyatukan Jepang. Sayang dia meninggal sebelum cita-citanya tercapai dan keinginan tersebut ternyata dapat diwujudkan oleh Toyotomi Hideyoshi yang akhirnya berhasil menyatukan Jepang setelah membunuh semua lawan-lawan Oda Nobunaga. Untuk mengendalikan Jepang dalam satu kekuatan, Hideyoshi  menghancurkan banyak kastil yang dibangun di seluruh negeri selama era perang sipil. Ia menyita senjata semua petani dan melarang samurai untuk aktif sebagai petani dan memaksa mereka untuk pindah ke kota-kota benteng. Dia berusaha menciptakan perbedaan yang jelas antara kelas-kelas sosial untuk meningkatkan kontrol pemerintah terhadap rakyat. Pada saat itu untuk pertamakalinya di Jepang diadakan survei tanah dan sensus penduduk. Sejalan dengan berkembangnya kekuasaan Hideyoshi, Osaka Castle menjadi istana terbesar di Jepang. Saat saya melihat maket Osaka Castle dan kota yang melingkupinya serasa dapat merasakan kemegahan dan kesibukan kotanya saat itu.

Osaka Castle

Osaka Castle

Osaka Castle yang kita lihat sekarang ini sebenarnya bukanlah kastil yang asli dan hanya merupakan rekonstruksi dari kastil lama yang telah terbakar habis tahun 1615 saat pasukan Tokugawa menyerang dan membunuh habis garis keturunan Hideyoshi. Bangunan kastil yang baru ini merupakan hasil renovasi berkepanjangan dari tahun 1931 hingga 1997. Sebagian dana renovasinya didapat dari penggalangan dana warga kota Osaka. Jadi tidaklah mengherankan kalau mereka sangat bangga akan kastil ini. Walaupun menara utamanya adalah hasil rekontruksi, kurang lebih masih ada 13 bangunan di dalam kompleks kastil yang merupakan bangunan asli. Salah satu diantaranya adalah sumur Kinmeisui dan Kinzo Storehouse yang dulunya digunakan sebagai tempat penyimpanan emas dan perak. Beberapa Turret (dinding perlindungan) disekeliling kastil ini juga merupakan bangunan asli dan digolongkan sebagai The Greatest Stonewall di Jepang. Seperti saat mengunjungi Candi Borobudur, saya selalu merasa kagum terhadap bangunan-bangunan besar dari jaman dahulu kala. Tidak bisa membayangkan bagaimana orang dengan tehnologi kuno mampu membangun dinding batu sebesar dan sekuat itu. Salah satu batu pada dindingnya saja berukuran kurang lebih 60 m2 dengan ketebalan 90 cm dan berat 130 ton yang dinamakan Taikoshi Stone. Konon para Daimyo-lah yang mendatangkan batu-batu tersebut sebagai bukti kesetiaan terhadap Hideyoshi. Semakin besar batunya semakin besar pula loyalitas dan kesetiannya.

Kinmeisui Well (Kanan), Takoishi Stone (Kiri Atas), Kinzo Storehouse (Kiri Tengah) dan Ichiban Yagura Turet (Kiri Bawah)

Kinmeisui Well (Kanan), Takoishi Stone (Kiri Atas), Kinzo Storehouse (Kiri Tengah) dan Ichiban Yagura Turet (Kiri Bawah)

Nah,dengan tiket masuk 600 Yen worth it kah masuk museum ini ? sebagai penggemar museum menurut saya worth it banget. Walaupun namanya museum, displaynya tidak kuno dan membosankan. Beberapa bahkan membuat terharu dan terkesan akan cerita dan detailnya. Display yang paling menarik adalah diorama di lantai 7 yang berisi 19 scenes kehidupan Hideyoshi Toyotomi (Karakuri Taiko-ki). Ceritanya disajikan dalam bentuk layar televisi bersambung yang menyala tiap kali penonton melihat kedalamnya. Jadi kita harus berpindah dari satu layar ke layar yang lain dengan Toyotomi Hideyoshi yang ikut berpindah bersama kita. Ceritanya dibuat tidak terlalu serius bahkan cenderung lucu sehingga menarik dan tidak membosankan.

Diorama Karakuri Taiko-ki (Atas) dan beberapa koleksi Osaka Castle (Bawah)

Diorama Karakuri Taiko-ki (Atas) dan beberapa koleksi Osaka Castle (Bawah)

Selain dioramanya ada satu hal lagi yang cukup menarik yaitu Observation Deck di lantai 8 yang menawarkan pemandangan indah disekeliling kota Osaka. Terletak kurang lebih 50 meter diatas permukaan tanah, dari tempat ini kita dapat melihat keseluruhan kompleks Osaka Castle, gedung-gedung modern disekelilingnya serta gunung-gunung dan bukit yang terlihat dikejauhan. Di lantai 8 ini juga terdapat museum shop tempat berjualan souvenir. Bila melihat pemandangan diluar, kita bisa melihat bahwa tiap ujung atap kastil dihiasi oleh ikan berkepala naga berlapis emas yang dinamakan Kinshachi atau Shachihoko. Ikan ini dipercaya dapat mendatangkan hujan sehingga kastil terlindung dari bahaya kebakaran. Selain Kinshachi disekeliling observation deck ini juga dihiasi gambar harimau berlapis emas (fusetora).

Observation Deck Osaka Castle

Observation Deck Osaka Castle dan Pemandangan dari atasnya

Turun dari observation deck, saya masih mampir dulu ke lantai 1 untuk melihat film tentang Osaka Castle dan riwayat Toyotomi Hideyoshi di ruangan Movie Theatre. Disekitaran tempat ini banyak anak sekolah yang antri untuk mendapat stempel Osaka Castle di bukunya. Mungkin sebagai bukti kepada guru kalau dia sudah berkunjung kesini. Melihat bentuk stempelnya yang menarik saya jadi ikut-ikutan antri walaupun sudah tidak sekolah :). Kebanyakan semua tempat wisata di Jepang memang menyediakan stempel kenang-kenangan gratis bagi para pengunjungnya. Jadi kalau pas berkunjung di suatu tempat jangan lupa jelalatan cari stempel model begini. Lumayan juga sebagai pengingat dan bagi beberapa orang stempel ini juga bisa menjadi koleksi. Association of Japanese castle bahkan pernah mengadakan lomba  “Japanese 100 fine castle stamp rally” dimana tiap peserta lomba diminta untuk mengumpulkan 100 stempel dari 100 kastil di Jepang.   Menarik bukan !.

Stempel Osaka Castle dan Contoh Koleksi Stempel Jepang (Photo By : geekofalltrades & Ingrid Lezar)

Stempel Osaka Castle dan Contoh Koleksi Stempel Jepang (Photo By : geekofalltrades & Ingrid Lezar)

Sebagai penutup kunjungan ke Osaka Castle kami mampir ke Japanese Plum Grove Garden satu dari dua taman yang berada di lingkungan kastil. Selain Japanese Plum Grove Garden ada Nishinomaru Garden yang terkenal dengan kebun sakuranya dan menjadi salah satu tempat Hanami (pesta melihat bunga sakura) paling populer di Osaka. Sayang untuk masuk ke taman ini kita masih harus bayar sekitar 200 Yen. Jadi akhirnya saya pilih yang gratisan dengan masuk ke Japanese Plum Grove Garden saja. Selain pertimbangan tiket masuk, saya pikir kunjungan ke Nishinomaru juga akan percuma, karena pada bulan Maret seperti sekarang ini pohon sakuranya pasti belum berbunga. Tapi Alhamdulillah, Allah memang selalu memberikan yang terbaik, saat saya berkunjung ke Japanese Plum Grove Garden pohon-pohon Plum didalamnya tengah mekar berbunga :). Plum Blossom memang selalu mendahului berbunga daripada Cherry Blossom atau yang lebih dikenal dengan nama Sakura. Walaupun kedua tanaman ini berbeda tapi bunganya memiliki bentuk hampir sama sehingga saya rasa orang Jepangpun akan susah membedakan keduanya.

Bunga Plum - Plum Blossom (Kiri) dan Bunga Sakura - Cherry Blossom  (Kanan). Photo By : Quirky Japan Blog

Bunga Plum – Plum Blossom (Kiri) dan Bunga Sakura – Cherry Blossom (Kanan). Photo By : Quirky Japan Blog

Jadi gimana rasanya masuk taman sakura KW 1? he he he rasanya benar-benar amazing dan mungkin menjadi salah satu momen terindah dalam hidup saya (lebay !). Begitu masuk kedalam taman, mata akan dimanjakan oleh pemandangan bunga Plum beraneka warna. Baru kali ini saya tahu kalau bunga Plum itu tidak hanya berwarna putih, ada yang merah, merah muda bahkan merah keunguan dan memang benar-benar mirip dengan bunga Sakura. Indah sekali. Selain mata, hidung juga dimanjakan dengan keharuman bunganya. Karena hampir semua pohonnya berbunga, udara dipenuhi keharumannya hingga tiap tarikan nafas yang tercium hanya wangi, wangi dan wangi. Pohon Plum ini sebenarnya berasal dari Cina yang dibawa ke Jepang saat periode Nara. Yang ditanam disini merupakan hasil donasi dari alumni Osaka Prefectural Kitano High School yang menyumbangkan 800 pohon plum dari 22 jenis saat ulang tahun ke 100 sekolah mereka. Kini pohon itu tumbuh memenuhi taman seluas 1.7 ha yang berada dalam kompleks Osaka Castle.

Kebun Sakura di Taman Osaka Castle

Japanese Plum Grove Garden

Waktu jalan-jalan di seputaran taman ini, saya melihat ada yang menjual pohon Plum dalam pot. Harga satu potnya kurang lebih 2500 Yen. Waduh coba rumah saya dekat pasti kebeli tuh Plum dalam potnya :). Setelah puas berjalan-jalan di taman ini, kami melanjutkan perjalanan ke tujuan berikutnya yaitu Minami. Peta walking tour di seputaran Osaka Castle dapat dilihat pada gambar berikut ini, sedangkan website resminya dapat diklik disini.

Peta Osaka Castle. Garis Merah adalah Rute Datang dan Garis Biru adalah Rute Pulang

Peta Osaka Castle. Garis Merah adalah Rute Datang dan Garis Biru adalah Rute Pulang

Untuk menuju kawasan Minami, dari Osaka Castle kita harus jalan kaki ke stasiun Osaka Business Park untuk naik subway Nagahori Tsurumi-Ryokuchi Line arah Taisho dan turun di stasiun Shinshaibashi exit no. 7. Walaupun di peta terlihat jelas ternyata gampang-gampang susah mencari lokasi stasiun Osaka Business Park ini. Dari Japanese Plum Grove Garden ikuti terus petunjuk jalan menuju stasiun Osaka Business Park. Susahnya petunjuk jalan ini tiba-tiba menghilang ketika kita sudah sampai diluar kompleks. Tak urung kami muter-muter disitu dan tanya sana-sini dimana letaknya sampai seorang karyawan kantoran  yang baru akan membuka bekal makan siangnya bersedia mengantar kami sampai ke stasiun (Arigato ya sam). Keluar dari kompleks Osaka Castle (patokan pada fountain di depan Osaka Jo Hall) jalan lurus saja kurang lebih 350 mt, sampai di perempatan ambil arah kiri dan jalan kurang lebih 250 mt. Diantara jajaran bangunan disebelah kiri cari restoran Mc Donalds. Pintu masuk stasiun Osaka Business Park terletak persis di depan restoran itu.

Minami (Namba)

Keluar dari Stasiun Shinsaibashi sampailah kami di kawasan Minami (Namba) yang merupakan salah satu dari dua pusat kota Osaka. Minami sendiri berarti “Selatan” yang letaknya berlawanan dengan pusat kota yang lain yaitu Kita yang berarti “Utara”. Minami terkenal dengan shopping arcade-nya yang terletak di sepanjang Dotonbori Canal. Bagi pecinta makanan, kawasan ini juga merupakan salah area wajib kunjung karena dipenuhi oleh tempat makan dimana kita bisa menikmati makanan khas Osaka seperti takoyaki, okonomiyaki, tetchiri (ikan kembung) dan udon. Walking tour di area Minami ini saya mulai dari :

a. Amerika Mura

Kalau Tokyo punya kawasan Harajuku, tempat anak muda mengeskpresikan gayanya, maka Osaka punya Amerika Mura atau dikenal juga sebagai Amemura. Disebut Amerika Mura karena pada era 70-an toko-toko di kawasan ini banyak menjual barang-barang impor dari Amerika yang saat itu sangat susah didapat. Barang-barang made in Amerika seperti jeans bekas, piringan hitam artis-artis Amerika, T-shirt vintage sangat digemari anak muda Jepang hingga akhirnya banyak anak muda sering nongkrong-nongkrong di area ini. Hal tersebut mendorong terbentuknya kawasan khusus untuk anak muda yang bebas menentukan gaya dan stylenya.  Hebatnya, banyak anak muda yang dulunya sering nongkrong di sini akhirnya menjadi pemilik toko, pemilik cafe atau EO di Amerika Mura. Mereka tetap mempertahankan image Amerika Mura sebagai “town for young people” dengan banyak menyelenggarakan acara-acara khas anak muda seperti pagelaran musik dan pagelaran fashion hinga sampai sekarang kawasan ini tetap terkenal sebagai tempat kumpulnya anak muda dan menjadi pusat trend tidak hanya di Osaka tapi juga seluruh Kansai. Dari stasiun subway Shinsaibashi tempat ini dapat dicapai dengan berjalan kaki keluar dari pintu exit no. 7 atau no. 4. Di tiap pinggir jalannya terdapat patung lampu unik berbentuk robot. Mereka bahkan punya reproduksi patung liberty kecil yang dipasang di atap gedung New American Plaza.

Patung Lampu yang unik (Kiri) dan Replika Patung Liberty (Kanan)

Patung Lampu yang unik (Kiri) dan Replika Patung Liberty (Kanan)

Nah apa saja tempat wajib kunjung disini?. Yang utama tentu saja Sankaku Park, pusatnya anak muda nongkrong. Tamannya sih tidak terlalu istimewa malah cenderung biasa saja. Yang menarik perhatian malah pengunjungnya. Dengan pakaian yang aneh-aneh, mereka hang-out disini untuk ketemu teman atau break saat belanja. Ketika menuju tempat ini kita juga akan melewati mural Peace on Earth yang menjadi trademark Amerika Mura.  Bagi penggemar live show didekat Sankaku Park tepat terdapat Ribia TV, layar TV besar yang menayangkan program-program terbaru di dunia musik, seni, fashion, film dan olahraga. Tepat dibawah layar ini terdapat panggung pertunjukkan yang biasanya diisi oleh band lokal. Bagi penggemar komik dan manga bisa mampir di Mandarake yang merupakan surga komik baru dan bekas.

Sankaku Park (Kiri Atas) dan Mural Peace On Earth (Kanan)

Sankaku Park (Kiri Atas) dan Mural Peace On Earth (Kanan)

Walaupun bagi beberapa orang kawasan ini terkesan “tacky” (murahan), tapi menurut saya disinilah anak muda Jepang terlihat aslinya. Menjadi remaja di Jepang bukanlah suatu hal yang mudah ketika peraturan orang tua dan sekolah sangat ketat dan dirimu dituntut untuk mentaati peraturan-peraturan tersebut agar diterima di kelas, di keluarga dan lingkungan. Maka di America Mura inilah salah satu tempat dimana mereka bisa menjadi diri sendiri – wear what you want, do what you want and just be yourself. Bagi remaja Osaka mungkin inilah “American Dream” mereka. Peta walking tour America Mura dapat dilihat pada gambar dibawah ini. sedangkan website resminya dapat dilihat disini.

Garis Merah merupakan rute Walking Tour di Amerika Mura

Garis Merah merupakan rute Walking Tour di Amerika Mura

Dari kawasan America Mura kami berjalan kaki menuju kawasan belanja tertua dan tersibuk di Osaka yaitu Shinsaibashi Suji.

b. Shin Sai Bashi Suji

Sejak jaman Edo, sekitar pertengahan abad ke 18, Shinsaibashi Suji ini sudah menjadi pusat perbelanjaan yang dipenuhi dengan toko-toko penjual kimono, barang antik, buku dan perabotan. Mungkin karena letaknya yang strategis diantara Shinmachi (dulunya adalah red light district) dan Dotonbori (theater district) hingga pusat perbelanjaan ini menjadi sangat terkenal dan ramai dikunjungi. Hingga kini, Shinsaibashi Suji masih berfungsi sebagai pusat perbelanjaan yang dipenuhi oleh ratusan toko dan butik, baik yang sudah ternama seperti Uniqlo dan H & M maupun yang belum ternama. Shopping Arcade sepanjang 600 meter ini terletak sejajar dengan jalan Mido Suji Dori dan didominasi oleh Daimaru Dept. Store yang menguasai hampir 2 blok. Selain yang terbesar Daimaru sekaligus merupakan toko tertua yang berusia kurang lebih 250 tahun.

Shin Sai Bashi Suji

Shin Sai Bashi Suji

Tapi dari jaman Edo sampai sekarang, ada satu event yang terus menerus dilestarikan oleh para pedagang di Shinsaibashi Suji yaitu memberikan diskon besar-besaran tiap tanggal 20 Oktober sebagai tanda terima kasih kepada Budha. Jadi bila ingin diskon besar-besaran dan “shop till you drop” datang saja ke tempat ini pada tanggal tersebut. Website resmi shinsaibashi Suji dapat diakses disini.

c. Dotonbori 

Jalan lurus melewati Shinsaibashi Suji, sampailah kami di jembatan Ebisubashi Bridge yang berada tepat diujung Shoping Arcade ini.  Jembatan ini begitu terkenal karena persis didepannya terdapat landmark Dotonbori yang paling ngetop yaitu Mr. Glico Man. Dotonbori sendiri boleh dibilang adalah pusat makanan Osaka dimana disekitar kanalnya banyak terdapat restoran dan pusat perbelanjaan dengan neon sign unik, warna-warni yang bisa menjadi tontonan tersendiri.

Neon Sign di sepanjang Dotonbori

Neon Sign di sepanjang Dotonbori

Beberapa landmark Dotonbori yang wajib dikunjungi adalah : Glico Man, dipasang sejak tahun 1935 neon sign ini menggambarkan seorang pria sedang berlari di sebuah running track. Kalau malam saat neonnya menyala, tangannya terayun-ayun keatas dan kebawah. Glico Man ini dipasang saat perusahaan permen paling terkemuka di Jepang Ezaki Glico meluncurkan permen pertamanya Glico Caramel yang dipercaya dapat memberikan energi cukup untuk berlari sepanjang 300 meter seperti Mr. Glico Man di neon sign tersebut. Beberapa produk Glico yang terkenal antara lain Pocky dan Pretz.

Glico Man

Glico Man

Landmark kedua adalah Kuidaore Taro, berupa boneka seukuran manusia berbaju badut sedang menabuh drum. Dipasang sejak tahun 1950, Kuidaore Taro adalah maskot kota Osaka yang berarti “eat till you drop in Osaka”. Dulunya boneka ini merupakan maskot sebuah restoran yang akhirnya tutup karena bangkrut tahun 1998. Setelah restorannya tutup, ia banyak dipinjam kesana sini untuk berbagai event nasional, tapi akhirnya ia pulang kembali ke rumah tahun 2009. Kini, bila ia sedang dipinjam untuk event nasional akan ada penggantinya di Dotonbori yaitu “adik”nya yang bernama Kuidaore Jiro.

Kuidaore Taro

Kuidaore Taro

Landmark yang ketiga apalagi kalau bukan signboard kepiting raksasa Kani Doraku Crab yang nangkring diatas restoran Kani Doraku. Berumur lebih muda daripada kedua landmark diatas (dipasang tahun 1960), Kani Doraku Crab ini menjadi pemicu awal timbulnya signboard unik disepanjang Dotonbori. Termasuk diantaranya gurita raksasa diatas restoran takoyaki Otakoya  dan ikan kembung raksasa diatas restoran Zubora-ya yang menjual berbagai variasi masakan ikan kembung. Restoran Kani Doraku sendiri sesuai dengan signboardnya menjual berbagai macam masakan kepiting dengan menu andalan kepiting salju. Kebanyakan Japanese snow crabs ditangkap di seputaran Hyogo Prefektur yang notabene sangat dekat dengan Osaka sehingga kepitingnya benar-benar segar. Sayang harganya tergolong mahal menurut ukuran kantong saya. Satu set menu untuk dimakan di restoran harganya berkisar antara 2000 sampai 8000 yen. Untuk bento yang bisa dibawa pulang harganya lebih murah berkisar 1400 – 1800 yen atau kalau mau maksa, ada juga yang lebih murah yaitu beli kroket kepiting yang harganya 600 yen.

Kani Doraku Crab (Kiri Atas), Otakoya (Kanan Atas), Zuboraya (Kiri Bawah), Bento di Kani Doraku (Kanan Bawah)

Kani Doraku Crab (Kiri Atas), Otakoya (Kanan Atas), Zuboraya (Kiri Bawah), Bento di Kani Doraku (Kanan Bawah)

Selain icip-icip food street dan melihat neon sign yang unik, di Dotonbori saya juga melihat demostrasi cara pembuatan sushi mulai dari pemotongan ikan sampai menjadi menu siap makan yang diperagakan melalui video raksasa. Saat itu yang dipertontonkan adalah kilasan-kilasan film dokumenter karya David Gelb mengenai kehidupan sushi maker paling terkemuka di dunia Jiro Ono. Ketika melihat Jiro Ono beraksi, saya baru menyadari bahwa membuat sushi yang berkualitas dibutuhkan keahlian dan teknik yang mumpuni. Saat memotong ikannya, Jiro Ono seolah bertransformasi menjadi seorang ahli pedang yang tahu bagaimana teknik memotong yang baik sehingga cita rasa ikan mentahnya tetap segar dan lezat.

d. Namba Parks

Sebagai penutup walking tour di Minami, saya mengunjungi Namba Parks yang berjarak kurang lebih 1 km dari restoran Kani Doraku Crab. Jalan 1 km itu capeknya tidak terasa karena sambil melihat-lihat keadaan sekitar. Namba Parks terletak diatas gedung perkantoran dan perbelanjaan Park Tower yang terletak di sebelah utara Namba Station. Dibangun di bekas Osaka Stadium yang ditutup pada tahun 1998, taman ini terlihat unik karena dibangun diatas atap gedung (rooftop garden). Lumayan juga untuk nongkrong sore-sore sambil makan siang yang terlambat di bangku-bangku tamannya.

Namba Parks (Photo By : amusingplanet.com & Koleksi Pribadi)

Namba Parks (Photo By : amusingplanet.com & Koleksi Pribadi)

Dari Namba Parks, kami berjalan kaki menuju Namba Station untuk naik kereta menuju Universal City Walk Osaka. Rute walking tour di Minami dapat dilihat pada peta berikut ini.

Universal City Walk Osaka

Rute kereta dari Namba Station menuju Universal City Walk Osaka dapat dilihat pada gambar berikut ini :

untitled2

Universal City Walk sebenarnya adalah nama yang diberikan bagi kompleks perbelanjaan disekitar theme parks Universal Parks & Resorts. Selain di Osaka, Universal City Walk dapat juga dijumpai di Universal Studio Hollywood dan Universal Studio Orlando. Berfungsi sebagai pusat belanja dan makan-makan, Universal City Walk ini juga berfungsi sebagai tempat hiburan dan entrance plaza sebelum masuk ke theme parks-nya. Disini kita bisa berfoto sepuas-puasnya dengan bola globe Universal walaupun tidak masuk ke theme parks-nya.

Universal Studio Osaka

Universal Studio Osaka

Di Universal City Walk ini, kami mampir ke Osaka Takoyaki Museum yang terletak di lantai 4. Namanya memang museum, tapi sebenarnya tempat itu adalah kumpulan penjual takoyaki. Di museum ini Takoyaki (cumi-cumi goreng berbentuk bola dengan topping aneka rasa) dibuat dengan serius. Karena restorannya berbentuk dapur terbuka, kita juga dapat menyaksikan proses pembuatannya. Kelihatannya cukup gampang, tapi saya percaya diperlukan tangan yang terampil dan mantap untuk membolak-balik tiap adonan Takoyaki dengan sumpit. Uniknya, didalam museum ini terdapat kuil kecil yang dipersembahkan bagi deity Ebisu yang dipercaya dapat menyebarkan energi positif bagi penjual restoran sehingga Takoyakinya bisa berbentuk bagus, bundar dan enak :). Tuh serius banget kan :).

Universal CityWalk Osaka dan Osaka Takoyaki Museum

Universal CityWalk Osaka dan Osaka Takoyaki Museum

Waktu hampir menunjukkan jam setengah 7 malam ketika kami meninggalkan Universal City Walk menuju Kita. Bis malam menuju Tokyo dijadwalkan berangkat jam 22.00, jadi paling tidak jam 20.00 kita sudah harus sampai di terminal Willer Express yang berada di daerah Kita.

Kita

Selain Minami (Namba), pusat kota Osaka juga berada di Kita atau dikenal juga sebagai Umeda. Perjalanan dari Universal City Walk Osaka menuju Kita memakan waktu kurang lebih 30 menit dengan rute kereta sebagai berikut :

untitled3

Sebenarnya saat nyasar pagi tadi tanpa disadari saya sudah mengeksplore daerah ini. Menurut saya Kita kurang begitu menarik dibanding Minami. Mungkin karena saat ini di Kita sedang diadakan perbaikan besar-besaran dan masih akan terus berkembang sehingga belum terasa ke-khas-annya. Karena hanya punya waktu sedikit, begitu keluar dari Osaka Station saya langsung menuju HEP (Hankyu Entertainmet Park) yang berjarak kurang lebih 450 meter sebelah barat stasiun. Tempat ini mudah dikenali karena Ferris Wheel (kincir ria) setinggi 106 meter berwarna merah yang menjulang tinggi melewati atapnya. Karena sudah pernah naik Singapore Flyer, saya kurang begitu tertarik untuk naik kincir ini. Apalagi untuk naik kita mesti bayar 500 yen (Rp. 60.000) untuk durasi 15 menit. Setelah pulang ke Indonesia dan melihat beberapa reviewnya di Trip Advisor dan Yahoo Travel, saya jadi agak menyesal karena tidak naik :(. Menurut yang sudah naik, pemandangannya (terutama saat malam hari) cukup fantastis. Kalau soal mallnya menurut saya sama saja dengan mal-mal yang lain.

Ferris Wheel HEP Five

Ferris Wheel HEP Five

Setelah puas mengeksplore HEP Five dan melihat kincirnya dari kejauhan, kami melanjutkan perjalanan menuju Umeda Sky Building, tempat terminal Willer Express berada. Setelah check inn dan mendapat kartu berisi nomor bis dan jam keberangkatan, sembari menunggu kami jalan-jalan ke “Floating Garden Observatory” yang berada di lantai 39. Floating Garden merupakan sebuah taman terbuka yang menghubungkan kedua menara gedung. Berada di ketinggian 173 meter kita tentu bisa menduga bagaimana keindahan pemandangan diatas. Saat itu, kami naik lift sampai lantai 39 kemudian naik eskalator ke menara seberang. Uniknya eskalator yang kami naiki berlantai kaca sehingga terlihat gemerlap kota Osaka dibawah kaki kita. Sangat menakjubkan !. Sampai dilantai atas bila ingin keluar ke taman terbuka, kita harus membayar kurang lebih 700 yen (Rp. 84.000) lagi. Tapi bila tidak ingin keluar seperti saya, ada sebuah ceruk kecil didekat restoran Sky Lounge “Stardust” yang memiliki 3 jendela bundar besar yang bisa digunakan untuk melihat-lihat pemandangan diluar. Lumayan juga buat pemandangan gratisan. Dari jendela ini terlihat gemerlap lampu kota dibawah yang sangat kontras dengan langit malam yang hitam kelam. Sungguh momen yang indah untuk menutup hari di Osaka.

Penampakan eskalataor dari bawah (Kiri), Pemandangan dari jendela bundar (Kanan)

Penampakan eskalator dari bawah (Kiri), Pemandangan dari jendela bundar (Kanan)

Setelah puas melihat-lihat pemandangan diatas kami turun kembali, tapi kali ini turun terus sampai ke basement-nya. Di basement Umeda Sky Building ini ada semacam restorant mall (food court) yang bernama Takimi-Koji. Yang unik dari food court ini adalah bentuknya yang dibuat mirip dengan suasana Osaka jaman dahulu kala. Suasana yang direproduksi disini adalah Jepang di era Showa sekitar tahun 1926 saat kota ini masih bernama Naniwa. Mereka cukup detail juga dengan memasang beberapa benda nostalgia saat itu seperti sumur pompa, gang-gang dari batu, kotak pos berbentuk tabung dan pintu kuno yang terbuat dari kayu. Mereka bahkan punya patung Hachiko yang memang dibuat pada era Showa. Lumayan juga untuk merasakan Jepang kuno di Osaka :).

Suasana di dalam Tamikoji Food Court

Suasana di dalam Takimi-Koji Food Court

Dari Takimi-Koji akhirnya kami kembali ke ruang tunggu Willer Express, bersiap-siap untuk menginap di bis malam menuju Tokyo dan mengucapkan sayonara pada Osaka. Peta area Kita dapat dilihat pada gambar berikut.

4009_map

Kesan saya terhadap Osaka secara keseluruhan tidak begitu mendalam seperti Kyoto, mungkin juga karena minat saya lebih condong pada hal-hal yang berbau kuno sehingga kota modern seperti Osaka kurang begitu mengena di hati. Faktor lain adalah waktu kunjungan yang terlalu singkat disini sehingga tidak bisa eksplore secara lebih mendalam. Bagaimanapun juga bagi pecinta kota modern, kuliner dan belanja, Osaka adalah pilihan yang tepat dibanding Kyoto. Selain itu saya jadi mengenal satu hal yang hanya bisa dipelajari di Osaka yaitu belajar Osaka dialek yang disebut Osaka-Ben. Kebetulan di toilet hostel tempat saya menginap ditempel beberapa kosakata dalam Osaka-Ben. Jadi sambil melakukan ritual pagi hari iseng-iseng saya belajar beberapa kata seperti : Ookini sebagai pengganti dari kata Arigatou (terima kasih) dan honaikoka sebagai pengganti kata Sayonara (selamat tinggal). Mereka juga menyebut restoran McDonald’s “makudo” sementara orang Tokyo menyebutnya ” Makku”.  Jadi bagaimanapun kesan saya terhadap Osaka, saya belajar banyak hal disini terutama keramahan orang-orangnya yang sesibuk apapun tetap punya waktu untuk menjawab atau bahkan mengantar saya bila tersesat (maklum dikota inilah saya paling sering nyasar).

Biaya Hari Ke 6

Biaya ke 6

Advertisements
 
106 Comments

Posted by on November 22, 2013 in Jepang, Osaka

 

Tags: , , , , , , , , , , , , ,

106 responses to “Hari Ke 6 : Osaka – Tokyo (Osaka Castle, Minami, Universal Citywalk, Kita)

  1. tony

    December 10, 2013 at 12:31 am

    Wah, ternyata seru juga pengalaman kalian di Osaka.
    Iya, tuh ‘bahasa’ Osaka. Saya yang pernah dengar & akhirnya mengerti percakapan bahasa Jepang yang ter-‘ngaco’ sekalipun dibuat keblinger waktu pertama kali dengar percakapan Osaka.
    Untungnya dimanapun kita berada, semua orang Jepang baik-baik dan berusaha KERAS untuk membantu kita walaupun akhirnya dengan bahasa tarzan sekalipun 😀
    Subarashii !!!

     
    • aremaronny

      December 11, 2013 at 8:58 am

      wk wk wk…..terima kasih mas Tonny. Sampai kugoogle apa itu artinya Subarashi :).

       
  2. travelwithoutborders

    February 14, 2014 at 4:22 pm

    very detail! love it!

     
    • aremaronny

      February 16, 2014 at 6:50 pm

      Terima kasih sudah mampir kesini mas Alex, blognya juga kerennnn…

       
  3. evi

    February 20, 2014 at 3:25 pm

    Dimana ya beli tiket willer express ditokyo?

     
    • aremaronny

      February 20, 2014 at 7:29 pm

      Belinya lewat online mbak karena mereka tidak menjual secara langsung.

       
  4. Farida Hasanah

    March 22, 2014 at 9:21 am

    Mba Vicky.. salam kenal. Sya rencana awal April mau liburan ke Jepang, n banyak sekali info dari mba vicky yang saya pake buat itinerary saya selama disana ^^ Mkasih byak mba vicky..

     
    • aremaronny

      March 22, 2014 at 5:19 pm

      Terima kasih juga sudah mau mampir kesini mbak Farida..semoga perjalanannya lancar yah…

       
  5. alterina

    March 24, 2014 at 2:38 pm

    mbak saya boleh minta no telp gak …? maaf nih banyak yang mau ditanyain…rencananya tgl 18 juni 2014 berangkat…tp masih banyak bingungnyaaa………apalagi saya pergi bersama anak2 …..>.<…..

     
    • aremaronny

      March 24, 2014 at 7:38 pm

      he he tenang saja mbak Alterina…saya kirim via email no telp saya yah…

       
  6. alterina

    March 24, 2014 at 2:51 pm

    saya sampai osaka hari kamis pagi , saya bermalam di dotonbori hotel, rencananya hari itu saya akan mengunjungi osaka castle , universal citiwalk saja….kira2 rutenya bagaimana ya mbaa… trus besoknya saya akan ke kyoto dan mengunjungi fushimi inari, gion distrik dan malamnya naik willer express ke tokyo…… ruteny bagaimana ya mbaa…..maaf ya banyak tanyaa….sudah buka hyperdia tapi malah bingung…hahahaha….mohon dibantu dong mbaaa …please….

     
    • aremaronny

      March 24, 2014 at 9:22 pm

      maksudnya rute angkutannya?

       
  7. alterina

    March 25, 2014 at 8:56 am

    iya mba rute angkutannya dan enaknya mulai dari mana dulu mba

     
    • aremaronny

      March 25, 2014 at 7:13 pm

      Rute Osaka : dari Dotombori hotel jalan kaki ke Shinsaibashi Station, di stasiun itu naik Subway – Nagahori Tsurumi-ryokuchi Line – arah : Kadomaminami turun di Osaka Business Park Station. Dari Osaka Castle ke Universal City Walk : jalan kaki ke Osakajokoen Station, dari situ naik kereta JR Osaka Loop Line turun di Nishikujo Station, ganti naik JR Sakurajima Line arah Sakurajima turun di Universal City Station. Pakai google map lebih gampang daripada Hyperdia.

       
  8. alterina

    March 26, 2014 at 1:40 pm

    makasiiiiii ya mba vicky…masih boleh tanya2 lagi gak nanti…..???

     
    • aremaronny

      March 26, 2014 at 8:33 pm

      he he boleh mbak…

       
  9. alterina

    April 24, 2014 at 11:10 am

    mba vicky dari shinsaibashi station ke umeda sky bld , naik subway turun di umeda sta, trus jalannya jauh tidah mbak… saya mau naik bis willer ke tokyo

     
    • aremaronny

      April 24, 2014 at 5:16 pm

      Nggak jauh mbak Alterina, mungkin sekitar 5-10 menit.

       
  10. alterina

    April 24, 2014 at 11:26 am

    oiya mba nanya lagi ya…(maap nii) dari arashimaya ke gin distrik yang ada geishanya gimana ya mbaa ?

     
    • aremaronny

      April 24, 2014 at 5:17 pm

      Dari Arashimaya naik bis dulu ke daerah Gion (lihat peta bis Kyoto yah).

       
  11. alterina

    April 25, 2014 at 4:51 pm

    makasie mbaaa….catet nii….

     
  12. hasma

    June 6, 2014 at 7:46 am

    Mbak Vicky nanya nich, saya dari Osaka ke Tokyo dengan bis Willer, apakah bis ini berhenti di rest area, agar penumpang bisa ke toilet atau istirahat sejenak? berapa kali ya Mbak? Terima kasih

     
    • aremaronny

      June 12, 2014 at 2:01 pm

      Iya mbak Hasma, berhenti di rest area hanya sekali.

       
  13. Ainun

    June 8, 2014 at 3:56 pm

    Waahh.. mbak Vicky, websitenya sangat inspiratif. Saya berencana ke Jepang tahun depan (8-16 April 2015. Udah beli tiketnya) kalau mau hubungi mbak Vicky untuk nanya2 tentang itinerary, bisa email kemana ya? Makasih mbak.

     
    • aremaronny

      June 12, 2014 at 2:02 pm

      Halo mbak Ainun…bisa email ke Oktavi23@yahoo.com. Tapi mohon maaf kalau jawabnya sering kelamaan 🙂

       
  14. hasma

    June 19, 2014 at 7:49 am

    Terima kasih ya Mbak Vicky. Ceritanya inspiratif sekali. saya dan keluarga berangkat tgl 21 Juni ini.Saya banyak jadikan cerita mbak sebagai panduan dalam membuat itinerary. Terima kasih ya Mbak.

     
    • aremaronny

      June 19, 2014 at 2:56 pm

      Semoga perjalanannya lancar ya mbak Hasma. Berangkat selamat dan pulang dengan selamat.

       
  15. DICA

    June 23, 2014 at 6:51 pm

    hai Mbak vicky…suka deh baca ceritamu… Mohon info dong klo saya mendarat di osaka rabu pagi jam 8 klo mau langsung ke kyoto caranya gmana. naik apa? saya pulang minggu sore jam 16.50
    enaknya 2 malam pertama kyoto 2 malam terahir osaka atau kyoto 3 malam perftama ..gmana ya mbak enaknya.
    Boleh minta no hp ga biar bisa tanya2 lbh detail?
    makasih ya.

     
    • aremaronny

      June 24, 2014 at 10:12 am

      Halo Dica….
      1. Dari Osaka ke Kyoto kalau mau cepet bisa naik Shinkansen, cuman 15 menit. Naik bis juga bisa kurang lebih 3 jam.
      2. Pulangnya ke Indonesia dari Kyoto atau Osaka? mending malam terakhir dihabiskan di tempat dimana kita kan terbang pulang. Supaya tidak deg-degan kalau terjadi hambatan di jalan.
      3. No. HP tolong inbox via FB yah…

       
  16. Feby

    July 6, 2014 at 5:21 pm

    Halo Mba Vicky, excited banget baca cerita mba Vicky ini, Saya sendiri ada plan ke Jepang mei tahun depan, sdh beli tiketnya.Saya pengagum tempat2 kuno juga Mba, pesawat saya bakal landing di osaka dan saya balik ke indo dari Tokyo. Mau tanya biaya ke kyoto dari osaka kmaren brp mba naik shinkansennya ? dan untuk willer bis nya itu brp jam durasinya dari osaka ke tokyo ? Ide bagus ttg bis soalnya selama ini bacanya cenderung shinaknsen melulu,hehehehe. Mohon infonya ya Mba. Thank you

     
    • aremaronny

      July 7, 2014 at 8:10 am

      Biayanya 1380 yen. Willer Express dari Tokyo – Kyoto memakan waktu kurang lebih 8 jam

       
  17. siska

    August 30, 2014 at 1:52 pm

    halo Mbak Vicky,
    rute yg sy rencanakan mirip nih cuma mmg blm jelas msh bingung mending beli JRP dari Jakarta atau naik kereta seperti rute nya mba Vicky ya?
    rute pertama Jakarta Kansai nah trus dari kansai (osaka) perlu JRP ga? ato beli tiket di stasiun aja? trus kombinasi bus dan jalan kaki ?
    nanya nya mulai sekarang soalnya kita jg bakalan fakir wifi di sana

    Mau dong tolong masukkannya.
    Thank you ya

     
    • aremaronny

      August 30, 2014 at 6:04 pm

      Halo mbak Siska, kalau rutenya seperti saya mending jangan beli Japan Rail Pass karena sudah saya hitung kasar-kasaran jatuhnya lebih mahal. JRP akan bermanfaat kalau eksplore Jepangnya lebih lama dan mencakup banyak kota.

       
  18. siska

    September 5, 2014 at 5:28 am

    thank u info nya kita coba atur transport deh ..

     
  19. mayang

    September 11, 2014 at 2:33 pm

    makasih mba vicky info2 nya dtulisan mbak…boleh minta no hapenya mbak saya mau nanya2 soal rute2 djepang soalnya saya seminggu lagi rencana pergi ke jepang..

     
    • aremaronny

      September 13, 2014 at 3:02 pm

      Inbox FB saya aja mbak Mayang.

       
  20. meska

    November 13, 2014 at 2:55 pm

    Mba Vicky.. saya berencana ke jepang bulan Oktober 2015 dan sudah beli tiket promo Airasia, boleh minta itinerarynya ga mba karena blog mba bener2 ngebantu saya buat trip nanti ke mes_girlie@yahoo.com, terimakasih 🙂

     
    • aremaronny

      November 15, 2014 at 11:30 am

      Iya mbak Meska nanti saya kirim peremail. Tolong ingatkan saya kembali kalau itinerarynya belum diterima ya…

       
  21. vadilawinanda

    November 13, 2014 at 5:58 pm

    Mba vicky kalau saya baca sering menggunakan JR Loop Line… knapa ya mba ? Apakah lebih ekonomis yah ?

     
    • aremaronny

      November 15, 2014 at 11:42 am

      Waktu itu saya cari rute dengan google map mbak Vadila. Saya pilih jalur itu karena lebih cepat dan lebih murah.

       
  22. bambangEKO

    January 1, 2015 at 9:42 pm

    met malam vicky, terima kasih untuk ceritamu yg sangat informatif.
    saya yakin tulisanmu pasti akan sangat membantu perjalanan kami sekeluarga nanti.
    maaf saya memang belum lengkap membaca seluruh kumpulan ceritamu, tapi tolong mungkin bisa di jawab disini.
    pertanyaan saya, untuk alat komunikasi selama kita disana, sebaiknya kita menggunakan apa, roaming dgn hp kita jelas itu ide gila, kalo beli simcard disana katanya rumit prosedurnya, kalo ngandalin wifi katanya jarang yg free. tolong mungkin vicky bisa kasih saran.
    sekali lagi terima kasih dan jangan bosan kalo saya masih akan ada banyak pertanyan.

    salam.

     
    • aremaronny

      January 2, 2015 at 3:54 pm

      Halo mas Bambang….waktu itu saya tetap menggunakan kartu simpati dengan nomor indonesia, nomer itu hanya saya gunakan untuk sms saja. Untuk berkomunikasi dengan rumah, saya mengandalkan free wifi dari hostel. Kalau buat saya itu sudah cukup, tapi setiap orang memiliki kebutuhan yang berbeda, kalau dirasa mas memiliki kebutuhan internet dan komunikasi yang tinggi mending beli sim card atau sewa wifi. Caranya bisa dilihat disini https://jejakvicky.com/2013/06/23/hari-ke-1-surabaya-kuala-lumpur-tokyo/

       
  23. bambangEKO

    January 2, 2015 at 10:40 pm

    Terima kasih Vicky atas respon yg cepat, pada hal ternyata saya juga sdh menemukan jawaban itu ditulisanmu yg lain, dan sayapun juga sdh penuhi saranmu untuk link ke blog nya mbak Ayu Umahat.
    Selanjutnya ada lagi pertanyaan, untuk melihat Mt. Fuji kenapa rata2 orang selalu datang melalui Hakone bukan dari Kawaguchiko, dan kebetulan kebanyakan travel juga selalu menawarkan paket Mt. Fuji via Hakone. Sesungguhnya lebih simpel mana sih kalo kami start dari Shinagawa.
    Maturnuwun. Teriring salam buat suami dan ketiga putramu.

     
    • aremaronny

      January 6, 2015 at 1:16 pm

      Kalau dari Shinagawa mending lewat Hakone aja mas Bambang, karena shinagawa lebih dekat ke Hakone.

       
  24. bambangEKO

    January 16, 2015 at 3:22 pm

    Maaf Vicky, saya membaca catatanmu memang tdk berurutan, itupun bisa jadi satu postingan dibaca berulang2, tapi tetep aja ada yg selalu ingin saya tanyakan, asal Vicky tdk bosan saja.
    Kali ini saya jadi penasaran pengin mencoba willer express dari Tokyo~Kyoto, tapi ketika saya browsing timetable nya ternyata blom muncul sampai pada tanggal yg saya maksudkan dan kenapa saya hanya bisa menemukan day bus, bukan bus malam, mungkin saya salah 😦

     
  25. yosoyong

    January 19, 2015 at 6:19 pm

    Mba Vicky, bolehkah nanya email atau no hp atau line untuk bisa bawel nanya**? krn sy rencana dadakan ada kesempatan untukjalan** ke jepang, dan baca blog mba Vicky tuh asik banget, jadi mau nanya** deil walau tujuan saya ga sepanjang mba sih… boleh ya? makasih banyak. Yos

     
  26. Ben

    January 31, 2015 at 7:09 pm

    Hallo mbak, salam kenal saya baru saja membaca blog ini informasi nya sangat baik sekali, akan sy baca kembali dgn teliti, sy perlu bantuan nih rencana nanti Bulan Desember (2015) akhir taon ini mau menghabiskan waktu liburan natal dan tahun baru di Jepang sdh booking tiket promo KL-Osaka, apa bisa bantu email itinerary nya ga mbak? Sy akan di Jepang dari tanggal 22 Des 2015 sampai 1 Jan 2016 penerbangan pergi dan pulang melalui Osaka, sangat inging juga ke Tokyo. Bs bantu email ke bennitaslim@yahoo.com ? Terima kasih sebelumnya.

     
    • Vicky Kurniawan

      February 2, 2015 at 2:07 pm

      Salam kenal juga mas Beni. Untuk itinerary, mas bisa mencontoh itinerary yang saya tulis di blog ini dengan rute terbalik. Selain itu sesuaikan saja destinasinya dengan kesukaan mas. Yang tidak menarik menurut mas dibuang saja.

       
      • Ikram

        April 27, 2015 at 12:52 pm

        Mbak Vicky saya ada tugas kampus nih
        boleh tanya rute dari indo ke istana osaka gak?

         
  27. mirriam chen

    May 5, 2015 at 8:56 am

    Mbak Nicky, mohon petunjuknya, awal juni kami tiba di osaka jam 22.30, rencana langsung ke tokyo, saya lihat jadwal willer bus paling telat jam 24.30, kira2 sempat gak yah,takutnya urus imigrasi lama terus takut jg delay pesawat, atau ada jadwal transportasi lain yang lebih malam, thanks sebelumnya

     
    • Vicky Kurniawan

      May 8, 2015 at 12:38 pm

      Halo mbak Mirriam, lebih baik jangan ambil resiko untuk mengambil bis Willer yang jamnya mepet seperti itu. Daripada stress. Mending nginap saja dulu di bandara, kemudian eskplore kota Osaka sehari kemudian dilanjutkan ke Tokyo malam harinya.

       
  28. Phita

    May 11, 2015 at 2:07 pm

    mbak,, boleh minta contact nya gak.. mau banyak tanya2 nih mbak.. karena agustus bsok saya rencana ke Osaka sendiri.. butuh info.. trims..

     
    • Vicky Kurniawan

      May 16, 2015 at 8:34 pm

      Bisa add friend FB saya mbak Phita. Badge FB sudah saya cantumkan di sebelah kanan halaman blog.

       
  29. Yohan

    June 1, 2015 at 7:22 pm

    Salam kenal mbak Vicky,saya yoha saya ada rencana ke Jepang di bulan July…(bilangnya pas musim panas….) kalo saya cek rute di google maps perjalanan dari tokyo ke osaka naik JR shinkansen bisa membutuhkan 10 jam lebih… tapi saya dapat informasi juga kalau hanya 3 jam saja…bole pencerahannya mbak trims…

     
    • Vicky Kurniawan

      June 4, 2015 at 2:38 pm

      Salam kenal juga mas Yohan. Naik Shinkansen dari Tokyo ke Osaka itu lama perjalanannya tergantung jenis Shinkasennya. Kalau pakai Nozomi kurang lebih hanya 2.5 jam, Hikari 3 jam dan Kodama 4 jam. Seluk beluk Shinkasen, cara pemesanan dan jenis-jenisnya bisa dilihat disini http://www.japan-guide.com/e/e2018.html

       
      • katerina

        June 6, 2015 at 10:37 pm

        Halo mba Vicky
        .salam kenal..saya katrin berencana mau ke jpn ..tapi maasih bingung…apakah perlu beli Jr pass tidak..dari kyoto mau ke tokyo..selama 8 hari.dan kalo dari kyoto ke tokyo naik shinkansen brp lama..dan jr pass nya kepake ga??makasi banyak mba…mohon bantuannya…

         
      • Vicky Kurniawan

        June 23, 2015 at 9:27 am

        Salam kenal juga mbak Katrin. Perlu tidaknya JR Pass tergantung itinerary yang akan dijalani. Kalau persis ngikut itin yang ada di blog, tidak perlu pakai JR Pass karena sudah saya hitung jatuhnya akan lebih mahal.

         
  30. lidia

    June 2, 2015 at 2:16 pm

    hi mba vicky, salam kenal…
    aku mau tanya kalo aku plan ada layover di haneda 24 jam , dan mau jelajahin tokyo dalam waktu itu untuk pertama kali, ada saran rute yang mana?
    aku tertarik dengan rute hari ke 2 mba vicky, please give more advise, thanks alot mba…

     
    • Vicky Kurniawan

      June 8, 2015 at 2:51 pm

      Iya mbak Lidia…mbak bisa ambil itin hari ke dua saya.

       
  31. Duwi deli

    June 5, 2015 at 4:47 pm

    Salam kenal, mba rute transport yang maba naeikin itu pake tiket apa y? Apakah dengan Khansai Thru Pass ?

     
    • Vicky Kurniawan

      June 8, 2015 at 3:25 pm

      Salam kenal mbak Duwi..saya tidak pakai Kansai Thru Pass.

       
  32. tony

    June 8, 2015 at 6:39 pm

    Halo mbak. Biar bisa dibaca teman2 lain, saya sharing disini saja ya 🙂

    Awal April 2015 ini saya ke Jepang bersama Ibu & istri saya.
    Beli bulan Oktober 2014 promo AirAsia utk keberangkatan awal Maret ke Haneda 2.5jt jkt-hnd pp.
    Karena sesuatu hal, Airasia membatalkan tiket tanggal tsb (Januari) dan kemudian sekali lagi meniadakan penerbangan ke Haneda mulai Maret. Jadi kita diberi kesempatan 2 kali untuk mereschedule penerbangan pp masing2 maksimal 2 minggu dari tanggal keberangkatan awal Maret tsb.
    Jadilah tiket peak season sakura dengan harga super promo 😀 😀
    Yang kocar-kacir adalah bookingan akomodasinya karena sdh peak season dan sbgn bsr sdh full booked. Bookingan utk awal Maret yg sdh se-ekonomis mungkin di-cancel semua. Ya gitu deh, ada plus minusnya pasti 😀
    Ternyata di Jepang ada rusuhnya juga lho.
    Waktu kita mampir istana Hogwarts Harry Potter di Universal Studio itu saya lihat chaos versi Jepang karena semua orang (mostly Japanese) ‘berebut’ locker penitipan barang (gratis) & berusaha tdk ketinggalah dr teman2 lainnya.
    Kru-nya mungkin sampe kehabisan napas teriak2 apalagi setelah ride-nya selesai dan masuk toko suvenir yang cukup kecil…..haduuuhhh mungkin kalo di Indonesia, barang2-nya udh pd ilang semua kali saking ‘chaos’nya.
    Tapi walopun ‘rusuh’ begitu, mereka tetap antri dengan teratur bahkan sampai antri dari luar istana untuk membayar&mengambil foto & membayar suvenirnya.

    Negara yang sangat mungkin akan saya kunjungi berkali-kali lagi walaupun sdh berkali-kali jg saya kesana 😀 😀

     
    • Vicky Kurniawan

      June 23, 2015 at 9:47 am

      Ha ha ha seru juga yah…satu hal yang patut dicontoh…

       
  33. apartemenkl

    June 27, 2015 at 9:46 pm

    hi mba vicky,

    senangnya ketemu blog ini :), mau nanya donk willer express bus recommended gak ya? rencana mau naik bus ini dari tokyo ke osaka yg stop lgs di universal studio (night bus) nah yg jadi pertanyaan, kita rombongan 13 orang incude 1 manula memakai kursi roda, apakah bisa repot gak ya? Waktu kita sangat terbatas di jepang, kalo naik bus malam selain mengirit 1 malam hotel, irit waktu juga karena sampai osaka pagi bisa lgs main ke USJ.

    ditunggu jawabannya ya

    thanks

     
    • Vicky Kurniawan

      June 30, 2015 at 2:34 pm

      Terima kasih sudah mampir kesini. Willer Express sangat recommended. Disamping punya website berbahasa Inggris, mereka sangat tepat waktu.

       
    • tony

      July 3, 2015 at 7:52 am

      Numpang nambahin ya mbak Vicky 🙂
      Setuju. Willer Express recommended jadi sepagi mungkin masuk USJ.
      Kalo bisa, udh ditentukan sebelumnya di USJ mau kemana saja, karena antrian non-ekspressnya lumayan panjang, Waktu peak season, 1 atraksi bisa 2-3 jam lebih antriannya (ada notifikasi ekspektasi lamanya antrian di setiap atraksi). Apalagi utk masuk Harry Potter World, kalo pas rame (dan biasanya selalu rame) kita harus ambil dulu timed entry ticket di ticket machine dimana kita cuma bisa masuk di waktu yg tertera di tiket tsb.
      Kalo ada uang lebih bisa juga dipertimbangkan beli Universal Express Pass 5 & 7 di Golden Rama Tours atau Panorama Tours utk mempersingkat antrian di atraksi2 tertentu, bukan/tidak termasuk tiket masuk USJ ya – ada package tiket tersendiri tergantung agennya.
      Have fun!!! 😀
      Regards 🙂

       
      • Vicky Kurniawan

        July 3, 2015 at 3:12 pm

        Terima kasih atas tambahan infonya mas Tonny

         
  34. apartemenkl

    July 5, 2015 at 7:35 pm

    dear mba vicky,

    thanks a lot ya atas balasannya. Yang terpenting sih Bus willer express ini bisa gak dinaiki ibuku? ibuku pakai kursi roda sih, apakah busnya ada tempat duduk dibawah ya? takutnya semuanya double decker, seat cuman ada diatas. Puyeng juga kalo soalya ibuku perlu dibantu untuk jalan, boro2 naik tangga 🙂

     
    • Vicky Kurniawan

      July 6, 2015 at 4:16 pm

      Bisnya tidak double decker. Mohon maaf apakah ibu masih bisa berjalan atau tidak? Soalnya kalau naik keatas dengan kursi roda sptnya tidak memungkinkan. Sepengetahuan saya, kursi roda akan dilipat dan disimpan di bagasi. Bila ibu sudah tidak dapat berjalan mohon disampaikan pada pihak willer supaya diberi kursi terdepan.

       
  35. priscil

    September 8, 2015 at 9:32 am

    hallo mbak Vicky, mau tanya sebenarnya untuk rute tokyo-osaka-kyoto-tokyo lebih irit menggunakan JRP atau memakai jasa willerexpress?

     
    • Vicky Kurniawan

      September 8, 2015 at 1:56 pm

      Halo juga mbak Priscil..

      Sebenarnya lebih hemat pakai JRP atau Willer Express benar-benar tergantung itinerarynya mbak. Kalau mau persis seperti punya saya pakai Willer Express akan lebih hemat daripada JR Pass

       
  36. mchaerulumam

    October 8, 2015 at 1:33 pm

    Mbak Vicky, bisa minta dijelasin itu dari Osaka St. ke HEP FIVE Kita aksesnya gimana? jalan kaki sekitar berapa menit? dan akses dari HEP FIVE ke Umeda Sky Buildingnya jg berjalan kaki atau menggunakan apa? dan berapa menit yang dibutuhkan dari HEP FIVE ke Umeda Sky Building..? Terima Kasih mbak ^^

     
  37. Syahrul

    October 11, 2015 at 2:41 pm

    Hi mba Vicky,

    Saya bakalan ke Japan maret nanti, mendarat d haneda Dan plg dr Osaka. Kalo boleh minta dishare itinerarynya ke email saya asyharul.fityan@gmail.com. Makasih ya mba, Seneng sekali nemu blog travel yang kesukaannya hamper sama.

     
    • Vicky Kurniawan

      October 12, 2015 at 1:25 pm

      Halo mas Syahrul, sayang sekali itin Jepangnya sudah tidak ada di komputer. Tapi jangan kuatir sudah saya tulis semua di blog kok. Enjoy Jepang ya.

       
      • syahrul

        October 12, 2015 at 2:11 pm

        iyaaaah,

        thanks mba vicky, ini sekarang lg mindahin blognya jadi excel. mohon ijinya yah.

        oiya lg deg2an abis naro e-paspor di kedutaan. mungkin gagal ga sih?

         
  38. Venny

    October 25, 2015 at 2:25 pm

    Hi Mba Vicky,
    mba, dikau ga nginep ya di Osaka?

     
    • Vicky Kurniawan

      October 26, 2015 at 6:59 am

      Saya menginap semalam kalau nggak salah mbak venny. Coba dicek do postingan sebelum atau sesudahnya.

       
  39. 123456

    January 9, 2016 at 4:17 pm

    Mbak Vicky berapa jam ya perjalanan dari Osaka ke Tokyo?

     
    • Vicky Kurniawan

      January 10, 2016 at 9:22 pm

      Kurang lebih 8-9 jam mbak Amel

       
  40. wenny

    January 27, 2016 at 8:24 pm

    hi mbak, menarik sekali cerita erjalannya, bikin ga sabar buat kesana. btw aku mau tanya, bus willer nya akan ada setiap hari ga ya? atau kita perlu beli dari online dulu? tapi pas aku cari di web, dia belum keluar harganya , apa karena masih lama ya? thanks

     
    • Vicky Kurniawan

      January 30, 2016 at 7:35 pm

      Halo mbak Wenny, bus Willernya sih selalu jalan, cuman terkadang kalau tidak dibeli dahulu seringnya kursi yang dikehendaki sudah tidak ada. Jadi untuk pembelian tiket bis Willer Express ini saya sarankan untuk membooking tiketnya di Indonesia saja dengan pertimbangan : 1. Di Jepang mereka juga tidak melayani pembelian secara konvensional karena semua penjualan dilakukan lewat internet. Daripada disana masih harus repot mencari koneksi internet mending tiketnya dipersiapkan dari Indonesia saja, dimana kita masih gampang untuk akses internet, email dan printer.2. Untuk overnight bus (bis malam), kursi dengan harga terendah biasanya selalu full book duluan jadi jarang tersedia untuk pemesanan pada hari yang sama. Jadwal baru muncul kalau tidak salah 2 bulan sebelum tanggal keberangkatan

       
      • 125040414

        February 22, 2016 at 8:12 am

        Halo Mba Vicky, itinerary jepang mba sangat lengkap, saya mau nanya, kalau saya ke jepang efektif 7hari6malam dengan kondisi tidak memakai JR Pass (hanya subway pass/buspass) apakah tokyo saja atau tokyo & kyoto ya? ke Tokyo aja 7hari itu kelebihan atau tidak ya?trims

         
      • Vicky Kurniawan

        February 22, 2016 at 9:13 pm

        Mending ke Kyoto aja mas biar nggak bosen. Tokyo – Kyoto naik bis aja lebih murah.

         
  41. Zikrie Ruford

    February 7, 2016 at 2:41 pm

    Hallo mba, tulusan mba inspiratif sekali.. mau tanya mba, klo naik willer tujuan shinjuku dari osaka yg lewat mishima, apakah kita bisa turun d mishima(sebelum pemberhentian akhir) atau ketika kita naik willer, tetap harus trun di penberhentian akhir? Tx

     
    • Vicky Kurniawan

      February 8, 2016 at 9:40 pm

      Halo mbak Zikrie, yang jelas Willer punya titik-titik pemberhentian sendiri seperti untuk jalur Osaka – Tokyo mereka akan berhenti di Momoyamadai – Kousoku Nagaokyako – Kyoto – Kawasaki – Tokyo. Lebih lengkap rute bis Willer bisa dilihat disini http://willerexpress.com/st/3/en/pc/bus/feature/sales-period/

       
  42. ina

    March 12, 2016 at 10:59 am

    assalamualaikum mba…..sy rencn ber2 tmn mw ke jepang april nanti…..yg jd mslh kita ber2 sm sekali ga bs bhs jepang n english kita pun kacau….dgn kt lain modal nekad…..kira2 bkl kesasar ga ya kitaa……..

     
    • Vicky Kurniawan

      March 12, 2016 at 1:13 pm

      He he he instal aplikasi peta offline Maps With Me sama aplikasi translator offline punya Google translate Insyaallah beres mbak.

       
  43. Erika

    March 17, 2016 at 10:15 am

    hallo mba, saya ada rencana ke jepang tp masih bingung dgn transportasinya. klo tiket kereta yang mbak pakai, harus booking dulu atau bisa langsung beli di stasiun mbak? thx

     
    • Vicky Kurniawan

      March 17, 2016 at 1:36 pm

      Semua saya beli on the spot mbak kecuali tiket bis Willer Express yang saya beli online dari Indonesia

       
      • Erika

        March 18, 2016 at 8:49 am

        trims mba jawabannya. Satu lagi mba, cari hotel di osaka sebaiknya dekat dengan stasiun osaka atau stasiun shin osaka ya? terima kasih

         
      • Vicky Kurniawan

        March 19, 2016 at 7:54 pm

        Dari Osaka selanjutnya mbak Erika mau kemana?. Kalau menurut saya sih dekati aja stasiun yang akan menjadi destinasi selanjutnya. Kalau mbak merencanakan naik Shinkansen mending milih yang dekat Shin Osaka. Tapi kalau mau ke destinasi yang lain tidak menggunakan shinkansen mending nginep di dekat Osaka Station.

         
  44. meity silvana

    April 14, 2016 at 4:37 pm

    mbak aku juni 2016 mau kejepang bersama keluarga aku mau ty2 ada no telp yg bs dihubungi atau pinbb makasih

     
    • Vicky Kurniawan

      April 14, 2016 at 11:08 pm

      Coba email saya ke Oktavi23@yahoo.com atau add FB saya mbak Meity. Nanti saya inbox.

       
  45. Yuni

    August 24, 2016 at 3:30 pm

    Mbak Vicky….. mohon tanya yaa…., untuk mencapai tujuan dgn jalan kaki bgmn caranya biar nggak kesasar ya? , apakah mbak Vicky menggunakan gooble map ?

     
    • Vicky Kurniawan

      August 25, 2016 at 8:08 pm

      Halo mbak Yuni. Saya pakai peta offline mbak, yaitu peta yang bisa diakses tanpa menggunakan internet. Peta ini menunjukkan titik tempat kita berada. Titik ini akan berpindah bila kita berjalan. Dengan begitu kita tidak akan kesasar. Peta offline yang sering saya gunakan adalah Maps Me ini mbak http://maps.me/en/home . Jadi sebelum berangkat saat ada jaringan internet kita download aplikasinya di Playstore dan kita download juga peta kota kota yang akan kita kunjungi.

       
  46. Yola

    December 8, 2016 at 11:55 pm

    Hi mba vicky,
    Aku pernah denger info kalo willer bus itu dipisah bus nya antara penumpang perempuan dan laki laki. Bener ga ya mba? Terimakasih 🙂

     
    • Vicky Kurniawan

      December 9, 2016 at 3:12 am

      Halo mbak yola. Iya mbak mereka punya aturan yang dinamakan Ladies Seat Policy dimana penumpang perempuan akan didudukkan di sebelah perempuan juga. Tapi aturan ini hanya berlaku bagi orang perempuan yang perginya sendirian. Kalau seperti saya yang perginya berdua dan pesan dalam satu kode booking yah tetep didudukkan berdua walaupun beda jenis kelamin.

       
  47. qq

    December 21, 2016 at 3:08 pm

    Halo mb Vicky, salam kenaal. mbak waktu itu ke jpangnya tanggal berapa maret ya? Kok di Osaka sudah blooming sakuranya? q rencana 18 -28 mar brkt, tpi bca di forecast predicted baru blooming tgl 26 mar 😦

    Thanks before

     
    • Vicky Kurniawan

      December 26, 2016 at 8:27 pm

      Saya berangkat tanggal 6 sampai 18 Maret 2013. Yang blooming disitu bukan sakura tapi Plum Blossom yang memang mirip dengan sakura :).

       
  48. araaa

    February 17, 2017 at 9:07 am

    mb mau tanya mb
    1. Nambah St ke Nanka Main Line Station itu apa kah satu bangunan? Apakah jaraknya jauh?
    2. Lalu mengapa naik JR Osaka loop line nya arah teroji ya mba? bukannya ke arah mamiya aja ya? apakah karena searah jarum jam keretanya?
    3. kl dr osaka castel ke universal city naik JR stop di nishikujo, apakah kita tetap diam saja kekereta ya ? tks ya

     
  49. Ikrar

    March 24, 2017 at 11:07 pm

    Mba mau nanya, booking willer busnya sebaiknya brp hari atau bro bulan sebelumnya???

     
    • Vicky Kurniawan

      March 25, 2017 at 9:54 am

      Waktu itu saya booking seminggu sebelum berangkat.

       
    • Vicky Kurniawan

      May 15, 2017 at 4:07 pm

      Kalau mau murah mending jauh jauh hari aja mas ikrar. Kalau udah deket biasanya tinggal yang mahal mahal aja.

       
      • Ikrar

        May 15, 2017 at 4:17 pm

        Oke makasih banyak infonyaa.. ini udh di osaka

         

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: