RSS

Hari Ke 3 : Boracay (Helmet Diving & Island Hopping)

29 Oct

Oleh : Vicky Kurniawan

Selesai mandi dan sholat Shubuh, saya pergi ke dapur guest house untuk memberitahu si ibu bahwa kami akan keluar jam 7 pagi. Jadi kalau bisa saya minta sarapan kami dipercepat karena kebetulan harga yang saya bayar sudah termasuk sarapan pagi. Si ibu bilang, “No problem”, your breakfast will be ready on time”. Kemudian kami mengobrol sedikit tentang rencana saya hari ini. Ketika saya hendak kembali ke kamar dia bertanya, “Do you like pineapple?”. Tanpa mengerti arah pembicaraannya saya jawab asal saja, “yes, I like it very much”. Ternyata setelah sarapannya datang baru saya ‘ngeh’ kalau pineapple (nanas) nya merupakan bagian dari menu. Jadi menu untuk sarapan terdiri dari dua tangkap roti bakar, telur ceplok setengah matang plus seiris nanas. He he he seumur-umur baru kali ini sarapan pakai nanas.

Sarapan Pagi ala Pilipina

Sarapan Pagi ala Pilipina

Walaupun sudah dijadwalkan keluar jam 07.00 tetap saja kita molor sampai jam 07.30. Hari ini kami berencana ikutan Island Hopping dan Helmet Diving. Sebelumnya saya sudah googling dulu harga-harganya di internet. Harga termurah untuk Helmet Diving adalah 500 PHP dan Island Hopping 700 PHP perorang. Jadi sambil menyusuri pantai menuju station 1 kami juga berhenti di beberapa travel agen dan berbicara dengan para calo untuk membanding-bandingkan harga. Harga termurah kami dapat dari Allan B. Funtour yang menawarkan harga persis seperti yang kami cari. Sebenarnya di tarif resmi tertulis 700 PHP untuk Helmet Diving tapi kami berhasil menawarnya sampai 500 PHP. Travel agen ini memiliki beberapa booth kecil yang terbentang dari station 1 sampai 3, boothnya juga gampang dicari karena warna-warna brosurnya yang menyolok. Berikut penampakan Booth dan daftar harganya.

Harga Tur di Allan B

Harga Tur di Allan B

Kios Allan B Funtour

Kios Allan B Funtour

Island Hopping akan dimulai jam 10 pagi sehingga kami meminta agar Helmet Divingnya dilakukan duluan. Alasan utamanya karena Helmet Diving sebaiknya memang dilakukan pagi hari saat air masih jernih. Setelah sepakat tentang harga dan pembayaran mereka menggiring kami menuju mobil yang mengarah ke Bulabog Beach yang terletak disebelah utara pulau.

Helmet Diving

Sesampai di Bulabog Beach, kami dinaikkan kapal dan berlayar menuju pangkalan Helmet Diving yang terletak agak jauh dari pantai. Kebetulan kami berdua adalah diver pertama pagi ini jadi asyik juga serasa private tour karena dilayani dengan cepat. Setelah berganti baju renang (kebetulan baju renangnya sudah saya pakai dari hotel), instruktur divingnya memberi sedikit pengarahan tentang apa yang akan kami lakukan dibawah sekaligus menjelaskan cara berkomunikasi dengan tangan (hand signals). Sebelumnya saya tidak pernah tahu helmet diving itu kegiatan apa, tapi setelah melihat foto-fotonya di internet sepertinya asyik juga. Helmet Diving ini memungkinkan orang yang tidak bisa snorkeling atau menyelam merasakan turun dan berjalan dikedalaman 10 sampai 20 kaki di dasar laut.Β  Konsepnya sama seperti gelas berisi udara yang dimasukkan kedalam air. Dalam kegiatan ini, kepala kita akan ditutup oleh helm fiberglas seberat 20-30 kg yang apabila sudah masuk ke dalam air tidak akan terasa beratnya. Helm ini memiliki jendela kaca lebar di bagian depan dan 3 selang diatas kepala, satu selang untuk membuang udara keluar dan 2 lainnya untuk memasukkan udara segar kedalam helm. Setelah siap mulailah kami satu persatu menuruni tangga menuju dasar laut.

Pangkalan Helmet Diving dan Perlengkapannya

Pangkalan Helmet Diving dan Perlengkapannya

Mulanya deg-degan juga, gimana kalau saya panik, gimana kalau airnya masuk kedalam helm, gimana nanti kalau helmnya lepas (soalnya helmnya asal ditaruh saja di kepala dan bahu tanpa pengikat apa-apa). Jadi sambil baca Bismillah banyak-banyak saya mulai turun pelan-pelan kedalam air laut yang dingin. Turunnya memang tidak boleh langsung nyemplung tapi pelan-pelan untuk menyesuaikan tekanan udara dalam helm. Instrukturnya sudah memberikan saran bila telinga berdenging atau buntu karena tekanan udara, kita tinggal memencet hidung dan menelan agar telinga bisa plong lagi. Setelah sampai di dasar laut ternyata semua kekuatiran saya tidak beralasan. Posisi helmya ternyata stabil dan didalam sangat kering sehingga saya bisa tetap memakai kacamata seperti biasa.

Lubang Tempat Nyemplung

Lubang Tempat Nyemplung

Pemandangan yang saya lihat dibawah sungguh menakjubkan, ternyata melihat ikan dan karang dari atas (saat snorkeling) berbeda jauh dengan melihat langsung dari bawah. Saking takjubnya saya sampai bertekad kalau nanti ada uang kepingin belajar diving. Saat itu sinar matahari pagi bersinar cerah menembus laut, airnya sangat jernih hingga sesaat saya merasakan bagaimana para duyung dan raja Neptunus hidup didasar laut (kebanyakan nonton film Ariel-nya Disney πŸ™‚ ). Sambil berjalan menembus segerombolan ikan yang berenang renang, kita juga bisa memegang dan memberi makan secara langsung. Walaupun tampaknya mereka berenang lambat didepan mata tapi tidak seekorpun yang berhasil dipegang, sampai gemas sekali rasanya. Selain ikan, disekitar tempat itu juga banyak tumbuhan laut dan terumbu karang warna warni yang melambai-lambai seolah ingin disentuh. Tapi padaΒ  saat pengarahan para instruktur sudah memperingatkan dengan keras untuk tidak menyentuhnya. Yah, walaupun penampakannya garang, terumbu karang sebenarnya mahluk yang rapuh karena satu sentuhan saja dapat membunuh mereka.

Helmet Walking

Berjalan Di Dasar Laut

Selama berjalan-jalan didasar laut dua instruktur tetap berenang disekitar kita, yang satu bertugas memastikan keselamatan dan satunya memotret serta membuat video. Foto dan video ini sudah termasuk dalam satu paket harga Helmet Diving yang akan diberikan langsung setelah kegiatan selesai. Kalau pas pesertanya banyak, CD berisi video dan foto biasanya bisa diambil keesokan harinya. Tapi kami sangat beruntung karena saat itu hanya ada kami berdua jadi begitu kegiatan selesai, CD nya juga langsung bisa jadi. Belum puas rasanya bermain-main didasar laut ketika para instruktur memberikan isyarat waktu kami telah habis dan harus segera naik keatas. Sambil menunggu CDnya jadi dan kapal penjemput datang dari pantai, kami sempat mengobrol dengan para diver itu. Seperti biasa saya promosi tentang keindahan laut Indonesia dan memprovokasi mereka untuk datang kesana. Mereka bilang, “We don’t have money to go there”. Wuih mereka ternyata belum tahu kalau jaman sekarang tiket pesawat terkadang bisa semurah harga kacang goreng. Jadi sekalian deh kami mengompori mereka untuk traveling dengan menunjukkan harga tiket-tiket pesawat yang kami dapat untuk datang kesini πŸ™‚ . Kami mengobrol cukup lama, mereka banyak bercerita tentang kehidupan mereka sebagai diver dan saya banyak bercerita tentang Indonesia. Setelah kapal penjemput datang, kami diantar kembali ke pantai Bulabog untuk mengikuti kegiatan selanjutnya yaitu Island Hopping.

Island Hopping

Untuk Island Hopping, kami menggunakan kapal yang lebih besar berkapasitas 20 orang. Kalau saya perhatikan, di semua lambung kapal ditulis dengan jelas kapasitas penumpangnya dan demi standar keselamatan mereka selalu mengisi kapal sesuai dengan kapasitas tersebut (tidak lebih). Selama Island Hopping kegiatan yang paling dominan adalah snorkeling dan berenang dari satu pulau ke pulau yang lain. Jadi kalau tidak suka kegiatan outdoor yang melibatkan basah-basahan lebih baik jangan ikut tur ini. Karena sudah tahu kalau bakalan basah-basahan, paspor untuk pertama kalinya saya tinggal di guest house. Tapi bodohnya, semua cetakan tiket dan bukti booking hostel terbawa didalam tas. Jadi bisa dibayangkan saat pulang ke guest house semua tiket-tiket itu harus dijemur karena tasnya basah kuyup πŸ™‚ . Parahnya lagi, saya juga membawa baju ganti, handuk dan perlengkapan mandi dengan harapan selesai snorkeling nanti ada waktu untuk mandi. Ternyata perkiraan saya meleset, selama kegiatan Island Hopping tidak ada waktu sama sekali untuk mandi dan ganti pakaian karena dari berangkat sampai pulang isinya nyemplung-nyemplung air melulu. Jadi sia-sia banget bawa ransel berat-berat.

Bulabog Beach (atas), Penyedia Jasa Tur di Bulabog (Kiri Bawah), Kapal Pengangkut Island Hopping (Kanan Bawah)

Bulabog Beach (atas), Penyedia Jasa Tur di Bulabog (Kiri Bawah), Kapal Pengangkut Island Hopping (Kanan Bawah)

Saran saya sebaiknya jangan bawa ransel tapi bawa saja Dry Bag untuk kamera, dompet dan handuk. Kalau bisa dompetnya juga jangan diisi uang atau kartu banyak-banyak karena selama snorkeling praktis tas akan tergeletak tanpa pengawasan diatas kapal (kecuali ada yang rela jagain tas). Bila tidak punya Dry Bag langsung beli saja di toko-toko sekitar White Beach yang menyediakan berbagai pilihan warna, ukuran dan harga. Baju renang langsung dipakai dari hotel kemudian ditutup dengan kaos, celana atau sarung Bali yang gampang dilepas dan dipakai kembali. Jadi jangan repot-repot bawa baju ganti atau perlengkapan mandi. Kalau bisa kameranya pilih yang waterproof, karena bisa langsung dibawa saat snorkeling. Waktu itu kita bawa kamera DSLR (belum punya kamera waterproof) jadi repot banget nyembunyiin waktu kita mau snorkeling.

Contoh Dry Bag

Contoh Dry Bag

Island Hopping ini dimulai jam 10 pagi dan berakhir sekitar jam 4 sore dengan tempat-tempat pemberhentian sebagai berikut.

a. Crocodile Island

Dinamakan Crocodile Island karena bentuk pulaunya yang persis dengan buaya. Letaknya sekitar 15 menit dari pantai Bulabog dan dinyatakan sebagai salah satu tempat menyelam terbaik di Boracay. Di pulau ini kita akan diturunkan di bagian yang dangkal (mungkin sekitar 5 meter) untuk kegiatan snorkeling pertama kami. Waktu yang diberikan untuk snorkeling kurang lebih 30 menit dan harus membayar snorkeling fee 20 PHP perorang. Biaya ini untuk ijin sekaligus biaya sewa alat snorkel karena ada beberapa tamu yang membawa alat snorkel sendiri tetap ditarik biaya yang sama untuk ijinnya.

Crocodile Island

Crocodile Island

Walaupun saat itu arusnya agak deras, kejernihan airnya menonjolkan keindahan koral dan terumbu karang di bawah. Saat kru kapal melempar-lempar roti agar ikan-ikan datang, kita langsung diserbu segerombolan ikan yang berenang-renang disekeliling kita. Beberapa ikan bahkan ada yang berani menggigit kaki dan jemari saya.Ketika terompet kapal dibunyikan tanda waktu 30 menit habis, perlahan-lahan kapal dijalankan untuk menuju tempat pemberhentian berikutnya yaitu Crystal Cove Island.

b. Crystal Cove Island

Crystal Cove Island yang dulunya bernama Tiguatian Island sebenarnya hanyalah sebuah pulau kecil dengan luas kurang lebih 2 hektar. Terletak diantara Boracay dan Caticlan, pulau ini memang tergolong unik karena konturnya yang didominasi batu karang tapi penuh dengan tumbuh-tumbuhan hijau dikelilingi perairan jernih. Daya tarik utamanya adalah dua gua di dasar pulau dimana kita bisa berenang – renang dan snorkeling diantara kejernihan laut Sibuyan. Tapi karena pulau ini dikelola oleh Crystal Cove Island Resort, mereka mengenakan tiket masuk sebesar 200 PHP perorang. Karena penasaran dengan guanya, walaupun saat itu hujan deras kami sepakat membayar tiket masuk dan diberi waktu 1.5 jam untuk mengeskplore pulau ini. Bagi penumpang yang tidak ingin masuk dipersilahkan menunggu dan bermain-main di pantai sekitar pulau.

Crystal Cove Island

Crystal Cove Island

Pertama kali masuk ke resort ini memang terasa aneh karena dimana-mana banyak batu karang, bahkan bangunannya pun didominasi oleh batu dan kayu. Sepintas lalu memang telihat gersang karena tidak ada pohon yang tumbuh sampai rimbun disini. Secara keseluruhan penampilan resortnya tidak terlalu istimewa, tapi pemandangan disekitarnyalah yang membikin tempat ini jadi spesial. Pemandangan laut lepas Sibuyan dengan air sejernih kristal.

Kalau cuaca cerah kira-kira pemandangannya seperti ini

Kalau cuaca cerah kira-kira pemandangannya seperti ini

Begitu masuk, hal pertama yang saya cari adalah jalan menuju gua 1, jangan kuatir tersesat karena petunjuk arahnya sangat jelas. Gua 1 terletak dekat dengan area piknik dan untuk masuk kedalamnya, kita harus turun melalui tangga sempit yang licin. Tangga ini mungkin agak sulit bagi yang berbadan besar atau gemuk karena sempit dan curam. Sampai di dasar tangga langsung kelihatan mulut gua yang menghadap kelaut lepas. Disini kita bisa snorkeling atau sekedar berenang-renang. Bagi yang tidak bisa berenang bisa pakai jaket pelampung dari kapal, tapi kalau jaketnya tidak terbawa,Β  disitu juga disediakan tali bagi yang takut berenang di laut lepas. Berenang di gua ini memang asyik, selain airnya yang sejenih kristal, ombaknya juga tidak terlalu keras. Kalau capek berenang, kita bisa naik keatas batu karang yang di beberapa tempat tampak menonjol.

Pintu masuk ke gua 1 dan suasana didalamnya (Photo koleksi pribadi dan marcosoulexplorer.com)

Pintu masuk ke gua 1 dan suasana didalamnya (Photo koleksi pribadi dan marcosoulexplorer.com)

Puas berenang di gua 1, kami menyusuri jalan menuju gua 2 yang terletak agak jauh di sisi selatan pulau. Arah menuju gua 2 ini juga cukup jelas karena jalannya telah dipadatkan dengan batu dan kayu. Gua 2 ini relatif lebih susah daripada gua 1, selain jaraknya lebih jauh, untuk masuk kedalamnya kita harus merangkak melalui terowongan sempit yang ngepas hanya untuk satu orang. Jadi untuk mencegah terjadinya tabrakan dalam gua, didepan pintu masuknya ada penjaga yang memberi tanda kapan kita bisa masuk atau keluar.

Jalan ke Gua 2 dan pintu masuknya (Foto : koleksi pribadi dan michaelcruz.com)

Jalan ke Gua 2 dan pintu masuknya (Foto : koleksi pribadi dan michaelcruz.com)

Di gua 2 ini keinginan berenang saya langsung amblas melihat tebingnya yang curam. Airnya memang lebih jernih dan tenang tapi tidak ada permukaan karang yang landai untuk dituruni. Kalau mau berenang harus loncat langsung dari tebingnya. Jadi disini saya hanya lihat-lihat dan duduk-duduk saja walaupun kaki gatel pengen nyemplung.

Bagian dalam gua 2

Bagian dalam gua 2

Keluar dari gua 2 sempat bingung juga karena tidak tahu jalan keluar, maunya kembali lewat jalan yang sudah kita lalui tadi. Tapi melihat jaraknya, pasti akan terlambat sampai ke kapal. Untung saja setelah muter-muter sedikit akhirnya ketemu juga sama rombongan teman sekapal yang diguide sama kru. Jalan sedikit langsung kelihatan pintu keluarnya, ternyata Gua 2 letaknya dekat dengan pintu masuk. Supaya tidak nyasar berikut saya sertakan peta Crystal Cove Island.

crystal-cove-island

Jadi dengan tiket 200 PHP (setara dengan Rp. 57.000) worth it kah berkunjung kesini ?. Menurut pendapat saya, untuk pengalaman sekali seumur hidup boleh juga karena walaupun unik dan bagus tetap saja kalau bicara soal pantai, pulau dan laut Indonesia tidak kalah walaupun belum dikelola dan dikembangkan dengan baik. Sayang sekali waktu 1.5 jam yang diberikan untuk menjelajah pulau ini kurang lama. Banyak hal yang belum saya lihat karena disamping gua, resort ini ternyata punya aviary juga.

Makan Siang di Tambisan Port

Tepat jam 12 siang, kami meninggalkan Crystal Cove Island untuk makan. Waktu yang diberikan kurang lebih 45 menit. Saya mengira bisa mandi atau minimal ganti baju sebelum atau sesudah makan, tapi waktu segitu ternyata sudah habis hanya untuk makan dan antri. Yah sudahlah, toh selesai makan siang masih ada acara snorkeling di laguna dan berenang di Ilig-ilig Beach. Jadi saya makan sambil pakai baju setengah basah.

Boracay-Island-Hopping-food_17

Sistim makannya prasmanan dengan free drink yang boleh nambah kapan saja. Saya pilih makanan yang netral seperti ikan, bakar, udang bakar dan menghindari daging bahkan sayur karena meragukan kehalalannya (soalnya mereka juga menghidangkan sate babi disini). Ada satu kejadian lucu saat makan siang. Saat mengambil makanan, seperti biasa secara otomatis saya sambar aja beberapa tusuk sate. Yah, sate selalu menjadi makanan yang pertama kali saya ambil kalau sedang makan prasmanan di Indonesia. Mungkin ini terkait dengan kebiasaan sedari kecil kalau sate adalah makanan istimewa yang tidak setiap hari ada (papa saya membelikan sate hanya kalau saya mau ujian πŸ™‚ ). Nah, pas sudah duduk di meja dan baca doa sebelum makan, baru nyadar eh ini daging apaan yah?. Sambil bawa piring, akhirnya tanya sama petugas yang jaga prasmanan. “What is it?”, si petugasnya otomatis bilang, “It’s satay”, (pertanyaan yang salah). “I mean, is it beef or chicken ?”, kata saya lagi dan jawabannya sungguh mengejutkan, “It’s pork,”. Pheww nyaris saja…ternyata berdoa sebelum makan benar-benar menyelamatkan dan satu lagi hilangkan kebiasaan otomatis ambil sate saat di negeri orang πŸ™‚ .

Laguna De Boracay

Selesai makan siang, kami naik kapal untuk snorkeling ke salah satu tempat diving terbaik di Boracay. Terletak kurang lebih 600 mt dari Bulabog Beach, Laguna De Boracay bersama-sama dengan Angol dan Coral Garden merupakan sasaran utama para diver pemula atau profesional karena keindahan dan kekayaan alam lautnya. Saya yang nggak punya keahlian diving hanya bisa snorkeling sambil memandang iri teman-teman di kapal sebelah yang nyebur rame-rame untuk diving. Dengan arus yang tidak terlalu kuat dan visibility yang jernih tempat ini memang menjadi area snorkeling yang lebih baik dari Crocodile Island.

Suasana Snorkelingnya

Suasana Snorkelingnya

Kedalaman Laguna ini kurang lebih 5-20 meter dengan area yang cukup luas. Hampir tiap incinya tertutup dengan hard dan soft koral dengan jenis ikan yang lebih beragam sehingga cocok bagi penggemar diving dan fotografi dasar laut. Waktu 30 menit yang dijadwalkan rasanya masih kurang jadi saat kapal mulai berjalan pelan meninggalkan laguna ini saya dan beberapa orang masih meneruskan snorkeling sambil berpegangan pada pinggiran kapal. Baru ketika kecepatannya mulai bertambah, mau tidak mau kami harus naik keatas kapal.

Ilig Iligan Beach

Terletak di ujung utara Boracay, Ilig-iligan Beach walaupun tidak sepopuler White Beach memiliki pasir yang sama putihnya. Walaupun teksturnya tidak selembut pasir White Beach tapi tetap saja terlihat putih dan bersih dibandingkan pasir pantai pada umumnya. Pantainya sendiri masuk dalam kategori biasa saja. Tapi selain pasir, ada 3 hal yang membuat pantai ini istimewa, Pertama, tidak ada karang. Jadi puas banget berenang-renang dan berjalan di laut tanpa kaki sakit. Kedua, pantainya sepi. Memang pantai ini agak susah dicapai lewat darat sedangkan akses dari laut benar-benar tergantung pada angin dan cuaca. Jadi tidak semua Island Hopper bisa mampir kesini. Yang ketiga, dan paling membuat saya senang adalah banyaknya bintang laut yang terdampar di pantainya. Sayangnya, hewan-hewan ini terlihat kering dan mati karena berada jauh dari habitatnya. Walaupun demikian tetap menarik juga memegang dan mengamati mereka.

Ilig-Iligan Beach

Ilig-Iligan Beach

Di sebelah utara pantai ini juga terdapat beberapa gua dan teluk yang sebenarnya menarik untuk dijelajahi. Beberapa pemuda lokal bahkan menawari kami tur ke gua kelelawar yang terletak sekitar 30 menit dari pantai. Tapi karena waktu yang terbatas, kami menolak ikut dan berenang-renang saja di pantainya. Hari menjelang sore, ketika sekali lagi kapal membunyikan terompet tanda berakhirnya kegiatan dan mengangkut kami kembali menuju Bulabog Beach. Dari 20 orang di kapal, saya perhatikan ada 2 orang yang sama sekali kering. Memang selama kegiatan Island Hopping ini mereka tidak pernah sekalipun ikutan berenang dan snorkeling. Kegiatannya hanya menonton kami berenang seperti ibu-ibu yang mengawasi anaknya main di kolam πŸ™‚ . Yah, dunia memang aneh, ngapain buang-buang uang untuk ikutan tur yang 99% kegiatannya berbasah-basah kalau kamu sendiri tidak enjoy dengan basah πŸ™‚ . Karena sudah bersama-sama selama 6 jam, kami jadi mengenal beberapa teman di kapal. Separuh peserta adalah turis lokal yaitu warga Pilipina yang datang dari berbagai tempat. Mereka semua sangat ramah, menawarkan mengambil foto dan mengajari kami beberapa kata dalam bahasa Tagalog. Kami bersenang-senang membandingkan beberapa kesamaan kosa kata dalam bahasa Indonesia dan bahasa Tagalog seperti payung, batu. Tapi ada satu peserta yang membuat saya terkesan karena keaktifannya traveling ke Indonesia. Hampir seluruh Indonesia pernah dijelajahinya Jadi dia tidak heran waktu kami bilang kalau kami tinggal di Malang, dia bilang “oh, Malang lebih dingin dari Surabaya”. Satu reaksi yang membuat saya terkejut, biasanya sih boro-boro Malang, letak Indonesia saja terkadang mereka tidak tahu πŸ™‚ .

Teman-Teman Sekapal

Teman-Teman Sekapal

Sesampai di Bulabog Beach, sang kapten mengucapkan terima kasih kepada para peserta karena telah mengikuti turnya. Sebaliknya kami juga mengucapkan terima kasih kepada kapten dan krunya yang sudah seharian menemani kami. Mulanya saya mengira bahwa kami akan diantar balik kembali ke White Beach, tapi ternyata turnya benar-benar telah berakhir disini. Jadi setelah mengucapkan selamat tinggal pada beberapa teman di kapal, kami berjalan keluar pantai Bulabog untuk mencegat Tricycle yang membawa kami kembali ke hotel.

Plato D’Boracay

Di hotel setelah 1 jam istirahat, mandi dan sholat, kami memutuskan untuk menjelajah Pantai White Beach untuk melihat sunset sekaligus mencari makan malam. Berhubung dekat dengan laut, kurang afdol rasanya kalau ke Boracay tapi tidak mencicipi makanan lautnya. Jadi untuk makan malam kami memutuskan untuk paluto seafood. Apa itu Paluto? Paluto adalah kata dalam bahasa Tagalog yang berarti memasakkan, kita bebas membeli bahan kemudian meminta orang lain untuk memasakkan. Untuk paluto seafood, pertama kita membeli bahannya di D’Talipapa Wet Market. Tempat ini gampang ditemukan karena terkumpul di satu tempat dekat dengan kios-kios Souvenir. Pasar ikannya hampir mirip dengan pasar ikan di Indonesia karena berupa kios-kios terbuka. Uniknya harga sudah ditentukan dengan jelas untuk semua kios, jadi kita keliling kios-kios itu hanya untuk memilih mana seafood yang paling segar. Karena harga sudah ditentukan, jadi tidak ada tawar menawar dan semua kios konsisten menerapkan harga tersebut. Waktu meneliti harganya saya terkejut karena walaupun kategori pasar tapi harganya cukup mahal juga, belum nanti harga untuk paluto (memasakkan) yang dihitung berdasarkan berat bahan. Kalau dihitung-hitung jatuhnya akan lebih mahal daripada makan seafood di restoran. Akhirnya kita keliling di restoran-restoran seafood sekitar wet market tersebut untuk melihat apa ada restoran yang menjual seafood tanpa paluto. Setelah bertanya sana-sini ternyata tidak ada restoran yang menjual seafood tanpa Paluto. Jadi mereka semua hanya memasakkan saja. Apa mau dikata, akhirnya kita memutuskan untuk paluto juga. Di pasar ini kita beli udang 1/2 kg seharga 250 PHP (sekitar Rp. 72.500) sedang cuminya 140 PHP (sekitar Rp. 40.600).

D'Talipapa Wet Market

D’Talipapa Wet Market

Setelah dapat bahan, kami antri di restoran Plato D’Boracay, restoran Paluto paling direkomendasikan di Trip Advisor dan Lonely Planet. Letaknya persis disamping pasar ikan dan terlihat menonjol karena paling besar dan ramai dibandingkan restoran-restoran lainnya. Kami memilih cara yang termurah yaitu dipanggang, tarif palutonya adalah 100 PHP per 1/4 sampai 1/2 kg untuk bahan yang dipanggang. Selain teknik memasak (direbus, dipanggang atau digoreng) jenis bahan (ikan, sayur atau daging) juga mempengaruhi tarif masaknya. Kami memilih dipanggang selain karena paling murah juga paling aman karena di tarifnya saya lihat mereka juga menerima daging babi untuk dimasak.

Bagian Depan Plato D'Boracay

Bagian Depan Plato D’Boracay

Jadi total tarif masak ditambah nasi adalah 250 PHP. Ditambah harga udang dan cumi, kami menghabiskan 640 PHP (sekitar Rp. 185.600) untuk makan malam. Nggak berani pesan minum karena pengeluaran untuk paluto ini sudah melampaui anggaran makan yang cuma 150 PHP perorang persekali makan πŸ™‚ . Tapi ternyata waktu makanannya datang alhamdulillah dikasih air putih gratis. Karena dipanggang rasa udang dan cuminya benar-benar asli tanpa tambahan apa-apa. Yah ada harga ada mutulah πŸ™‚ . Untuk pengalaman sekali seumur hidup bolehlah dicoba, tapi kalau untuk kedua kalinya saya lebih memilih makan di Khalil Muslim Restorant karena harga yang murah dengan rasa yang lebih enak.

Cooking Charge di Plato D'Boracay dan masakannya (Photo By marxtermind.com)

Cooking Charge di Plato D’Boracay dan masakannya (Photo By marxtermind.com)

Jam menunjukkan pukul 9 malam ketika kami berjalan pulang ke hotel. Suasana masih ramai walaupun jalan menuju hotel di station 3 juga mulai sepi. Satu hari di Boracay terlampaui sudah. Sayang besok pagi-pagi kami sudah harus melanjutkan perjalanan lagi, kalau boleh inginnya nambah satu hari lagi untuk pergi ke Mt. Luho View Deck, sewa perahu bangka ke Carabao Island atau terjun dari Ariel’s Point yang menempati peringkat 1 di Trip Advisor’s Top Things To Do In Boracay. Yah, semoga Allah memberikan kesempatan lagi untuk datang kesini.

Biaya Hari ke 3

untitled2

Advertisements
 
7 Comments

Posted by on October 29, 2014 in Boracay, Filipina

 

Tags: , , , , , , ,

7 responses to “Hari Ke 3 : Boracay (Helmet Diving & Island Hopping)

  1. tony

    October 29, 2014 at 9:27 pm

    Ayo mbak belajar diving. Budget-in khusus utk itu. Kan berlaku seumur hidup, paling nanti kl kelamaan ga diving lg, cm ikutan refresher course sebentar.
    Btw ditunggu tulisan Eropa (???)-nya (utang tulisan lg nih πŸ™‚ )
    Sayang sy ga FB-an, tp liat foto ‘kursi patah’ itu jd inget wkt sy stgh mati berusaha foto ‘duduk di kursi patah’ it πŸ˜€
    Mampir CERN jg kah? Ga sabar nunggu ‘repotase’-nya wkwkwk πŸ™‚

     
    • aremaronny

      October 30, 2014 at 8:55 am

      wk wk wk….waduh gimana cara duduknya? jadi pengen tahu fotonya…Iya nih mas Tonny pengen banget belajar diving, sayang kalau di Malang belajarnya harus di Surabaya.

       
  2. mila said

    November 9, 2014 at 3:37 pm

    kayaknya seru yang helmet diving, jadi pengen hihihiii

     
    • aremaronny

      November 10, 2014 at 2:01 pm

      He he ayo ndang dicoba. Cebu kan sering promo Jakarta – Manila…

       
  3. lilik

    November 10, 2014 at 1:01 pm

    halo mbak..apa kbr?? seneng rasanya nemuin tulisan mbak lg. kbtlan thn depan kt pingin ke filipina nih. sdh dpt tket AA pp 1-4jt pp. maaf mbak mo nanya klo kesana 5 hr cukup ga ya. mtrnwn…salam aremania

     
    • aremaronny

      November 11, 2014 at 2:19 pm

      He he cukup banget mbak Lilik, 5 hari mau di Manila aja atau mau muter-muter..BTW Air Asia mendarat di Clark ya?

       
  4. ryan

    May 7, 2015 at 12:42 pm

    makanannya mantap….

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: