RSS

TERGODA RAYUAN TNT*

12 Mar

//
Oleh : Vicky Kurniawan

Segara Anakan, Pulau Sempu

Tertarik dengan tulisan Mbak Trinity di Majalah Shape Edisi November 2006 yang judulnya “Pack Your Bag and Head To The Shore”, saya menodong suami untuk mengantar saya pergi ke Pulau Sempu. Ada dua alasan utama yang mendasari saya untuk nekad pergi kesana. Pertama, secara geografis selama hampir 21 tahun saya tinggal di Malang. Masa sih saya tidak pernah ke Pulau Sempu. Kedua, melihat deskripsi mbak Trinity di artikel tersebut, rugi dong kalau ada pantai seindah dan sedekat itu tidak dijabanin. Akhirnya dengan alasan-alasan tersebut sukseslah saya merayu suami untuk menemani saya trekking ke Pulau Sempu. Tentu saja dengan janji akan dapat pijat gratis sepulangnya dari sana.

Pemandangan Di Perjalanan

Kami berangkat pagi-pagi dari Malang dengan bersepeda motor. Sepanjang 2 jam perjalanan saya semakin bersemangat melihat pemandangan yang indah. Apalagi sesampainya di pantai Sendang Biru, keindahan Pulau Sempu semakin terlihat nyata.

Pantai Sendang Biru

Setelah mendapat ijin dari petugas (Pulau Sempu merupakan cagar alam) akhirnya kami bersebelas (kami bergabung dengan anak-anak mahasiswa yang kami temui di kantor cagar alam) menyeberang dengan perahu ke Pulau Sempu. Selama menyeberang dengan perahu, angin yang sejuk dan pemandangan laut yang indah membuat saya benar-benar tidak menyesal menuruti anjuran TNT untuk pergi kesini.

Sesampainya di seberang mulailah perjalanan kami menembus hutan menuju ke Segara Anakan, sebuah danau yang menjadi daya tarik utama Pulau Sempu. Pada awalnya saya sudah membayangkan akan ada trekking selama 1,5 jam menurut deskripsi dalam artikel tersebut. Saya sih santai saja, maklum sebagai mantan pramuka dan pecinta alam, jalan kaki sudah menjadi makanan saya waktu muda dulu (ingat ! waktu muda dulu he he he). Karena berencana akan kembali sore harinya, saya hanya membawa satu tas kecil berisi baju ganti, minuman dan makan siang. Begitu memasuki hutan, crotttt….kaki saya berikut sepatunya langsung ambles sampai ke mata kaki. Olala rupanya saya tidak memperhitungkan musim hujan yang terus menerus melanda kawasan Malang dan sekitarnya. Baru saat itu saya jadi ‘ngeh’ mendengar komentar petugas jaga wana yang menyebut Pulau Sempu sebagai Lapindo kedua. Rupanya jalur trekking yang pada musim kemarau merupakan jalan padat menjadi jalan lumpur selama musim penghujan. Hal tersebut semakin memperberat perjalanan kami. Akhirnya setelah berjalan terpeleset-terpeleset selama 15 menit, saya menyerah, melepas sepatu yang penuh lumpur dan berjalan dengan kaki telanjang menyusuri hutan. Sepanjang perjalanan, saya sama sekali tidak bisa menikmati keindahan hutan karena sibuk berkonsentrasi memilih jalan yang aman untuk kaki saya. Salah jalan sedikit bisa nancap akar pohon atau semak berduri di kaki saya. Jalur trekkingnya sih tidak pernah terputus karena sering dilalui para trekker yang lain, tapi semakin banyak yang lewat semakin parah keadaan jalannya. Akar pohon dan batuan semakin menonjol karena tanahnya sudah berubah menjadi lumpur. Di beberapa tempat kita bahkan harus merangkak untuk dapat meneruskan perjalanan. Jalur yang normalnya bisa ditempuh dalam 1,5 sampai 2 jam bisa menjadi 3 sampai 4 jam karena berlumpur. Sungguh, sepanjang karir saya sebagai pecinta alam, tidak pernah saya jumpai jalur trekking seberat itu. Saat itu jadi nyesel setengah mati karena mengikuti rayuan TNT untuk datang ke tempat ini.

Jalur Trekking Yang Berat

Sepanjang perjalanan saya banyak berpapasan dengan para pengunjung yang lain. Rata-rata mereka sudah menginap semalam di Segara Anakan dan dalam perjalanan pulang ke Sendang Biru. Saya perhatikan mereka kebanyakan adalah anak muda yang ikut dalam kegiatan  pecinta alam dan benar-benar memiliki penampilan seperti layaknya pecinta alam dengan ransel besar, sepatu bot dan bandana di kepala. Pokoknya kelihatan siap banget untuk trekking dengan medan seberat itu (tidak seperti saya yang penampilannya kayak mau pelesir di mall he he he). Saya kaget juga waktu ada yang bawa tabung Blue Gas segala. Padahal berjalan dengan dua tangan yang bebas aja sudah sulit sekali. Yang membuat saya terkesan adalah pertemuan saya dengan salah satu anggota pecinta alam yang memikul kantong plastik besar berisi botol-botol plastik bekas air minum. Usut punya usut sepanjang perjalanan pulang dia memunguti dan mengumpulkan botol-botol tersebut. Dia sadar bahwa botol-botol tersebut merusak alam. Saya jadi malu sendiri. Saya memang tidak pernah membuang sampah sembarangan tapi untuk berbuat seperti dia disaat keadaan jalan yang sulit seperti ini rasanya sama sekali tidak terpikirkan. Dialah yang disebut pecinta alam sejati.

Setelah berjalan menembus hutan selama 4 jam, sampailah saya di Segara Anakan yang kata Mbak Trinity seperti pantai dalam The Beach nya Leonardo Di Caprio. Dan apakah yang saya jumpai?. Olala ternyata 100 persen benar. Tidak pernah saya jumpai lagun seindah itu. Hamparan pasir putih yang lembut. Airnya sangat jernih dengan warna yang bergradasi, mulai dari hijau tua, hijau muda, sampai biru muda, plus aman untuk direnangi karena pinggirnya yang dangkal dan airnya tidak berombak sama sekali. Dikelilingi tebing batu karang dan hutan lebat, memang rasanya seperti surga. Walaupun teman saya yang pernah mengunjungi Raja Ampat dan Pulau Kangean menilainya sebagai pantai yang ‘biasa’ tapi bagi saya pantai ini Luarrr Biasaaa…mungkin karena susah dicapai menjadikan pantai ini mempunyai prestise tersendiri. Setelah puas berenang-renang, melamun dan makan siang di Segara Anakan, kamipun memulai perjalanan pulang yang melelahkan.

Indahnya Segara Anakan

Akhirnya Sampai Juga

Terus terang saya kagum terhadap stamina teman-teman seperjalanan saya yang semuanya mahasiswa. Bayangkan setelah naik sepeda motor selama 2 jam dilanjutkan berjalan kaki dalam medan berat selama 4 jam, di Segara Anakan mereka hanya makan cemilan seperti roti, snack dan minum air putih. Saya saja yang sudah menyikat habis dua paha ayam bakar masih berkokok ria dalam perjalanan pulang. Ditambah lagi mereka tidak membawa baju ganti, jadi dengan baju basah mereka berjalan lagi menembus hutan selama 4 jam untuk pulang. Bener-bener bikin geleng kepala. Kalau saya jadi mereka, bisa kerokan tujuh turunan tuh. Satu hal lagi yang bikin saya kagum adalah sikap suami saya. Selama ini saya menilainya sebagai pribadi yang cuek. Bukan tipe lelaki ‘gentleman’ yang akan membukakan pintu mobil atau membawakan barang tanpa diminta. Tapi hari itu, dengan begitu sabar dan telatennya dia mendampingi dan membantu saya melalui track-track yang berat. Padahal sebenarnya dia bisa loh berjalan lebih cepat dan nyampai duluan. Pokoknya jadi makin cinta (uhuy..)

Pulang Belepotan Tanah

Sesampai dirumah, setelah ganti baju, makan dan hangat di tempat tidur saya merenungi perjalanan selama sehari ini. Begitu banyak pengalaman dan kesan yang tertancap dalam pikiran saya. Walaupun badan rasanya pegal-pegal, kaki sakit dan otot ngilu (maklum tulang tua) tapi rasanya puassss karena sudah menaklukkan Pulau Sempu dan sama sekali tidak menyesal karena tergoda oleh rayuan TNT.

*TNT adalah kepanjangan dari The Naked Traveler, sebuah travel blog terkemuka di Indonesia yang ditulis oleh Trinity, salah satu bacpacker wanita Indonesia yang menjadi Indonesia Leading Travel Writer tahun 2010

Advertisements
 
17 Comments

Posted by on March 12, 2011 in Indonesia, Jawa Timur

 

Tags: , , , ,

17 responses to “TERGODA RAYUAN TNT*

  1. Huget

    March 16, 2011 at 7:55 am

    Udah cakep Vick. mengalir ceritane..seperti bertutur.. tp memang gaya bahasa sing ngene iki sing tak senengi 🙂

     
    • aremaronny

      March 16, 2011 at 10:06 am

      Thank’s ya guh…semoga bisa bertambah baik…

       
  2. Oktavi

    March 16, 2011 at 10:00 am

    Test

     
    • aremaronny

      March 16, 2011 at 10:12 am

      udah masuk tuh…

       
  3. DIAN

    March 16, 2011 at 1:43 pm

    Mbak-mbak setelah aku baca, TNT itu apa??maklum tulalit

     
    • aremaronny

      March 16, 2011 at 5:13 pm

      ha ha ha maaf ya TNT itu singkatan dari The Naked Traveler sebuah blog perjalanan yang ditulis oleh Trinity salah satu blogger traveling terkemuka di Indonesia..

       
  4. gwie christy

    December 23, 2012 at 11:09 pm

    Mbak vicky mau tanya dong., di pulau sempu ini kalo mw k pantai anakan nya apakah ada akomodasi lain selain berjalan menembus hutan itu? Mungkin mobil khusus? Thanks

     
    • aremaronny

      December 24, 2012 at 7:09 pm

      Sayangnya harus jalan kaki mbak, tidak bisa mobil atau sepeda motor karena jalannya hanya jalan setapak kecil.

       
  5. citramanica

    October 11, 2013 at 1:24 pm

    Aku juga orang Malang yang sampai saat ini belum pernah ke pulau Sempu… Baca tulisan ini jadi pengen ke sana…. Tapi kalau bareng anak-anak kecil kelihatannya repot ya? Anakku umur 2 dan 4 tahun… Nunggu mereka gedean kali….

     
  6. citramanica

    October 11, 2013 at 1:28 pm

    Haduh, I admit tadi belum selesai baca bener, baru baca sekilas dan liat foto-foto pantainya langsung ngiler…. Setelah dibaca lagi dengan benar, ohlala… Ok, jelas terlalu berat kalau ke sana sama anak-anak….:p

     
    • aremaronny

      October 11, 2013 at 7:43 pm

      Kalau sama anak-anak masih bisa kok mbak, tidak usah tracking sampai kedalam tapi hanya main-main di pinggiran pulaunya. Dari Sendang biru sewa perahu Rp. 100.000 minta pilihkan pantai yang cocok sama tukang perahunya. Nanti kalau sudah puas maennya bisa telepon tukang perahunya untuk dijemput lagi.

       
      • citramanica

        October 11, 2013 at 7:45 pm

        Oh ok, kalau begitu nanti bisa dicoba pas mudik… makasih infonya!

         
  7. mian

    February 1, 2014 at 12:17 pm

    Mbak Vicky…kyknya tracking berat ya?rencana 10 feb kesana,kira2 musim hujan gini tetap aman kan ya?soal nya uda terlanjur beli tiket pesawat star jakarta 🙂
    teropsesi sama Blog mbak ini,dr 2013 uda Niat mbak 🙂

     
    • aremaronny

      February 2, 2014 at 8:17 am

      He he iya terutama kalau pas musim hujan. Nanti di Sempu sewa guide saja supaya dipilihkan jalan yang lebih cepat dan enak.

       
  8. widia

    March 28, 2014 at 5:25 pm

    wah padahal tdnya ingin sekali kesini, tp berat juga jalur trekkingnya… untung aja ada foto2nya , jd sementara ini cukup liat foto2 di blog ini 🙂 tks sharing ya

     
    • aremaronny

      March 28, 2014 at 6:16 pm

      He he…ayo kesini mbak Widia mumpung masih muda..

       
  9. frederik

    May 6, 2015 at 3:57 pm

    Yah………begitulah tempat wisata yg bagus…………..

    coba bayangkan jika jalannya sudah dibuat aspal…………..

    ada kendaraan bermotor masuk dll……….

    wah……..pantainya akan cepat rusak dech……….sampah dimana-mana………

    anak-anak muda yang bukan pecinta alam sejati…..akan berbuat Vandalism dsb………

    corat-coret dimana-mana………….alam tidak akan natural lagi………polusi suara & udara…

    hotel & villa tumbuh subur di sana………limbah hotel & villa mulai menggenang di pantai….

    banyak pemukiman liar di mana-mana…….air tanah mulai banyak tersedot…..

    perambah hutan tak bertanggung jawab mulai masuk………..

    WAH…WAH…WAH….BAGAIMANA JADINYA NANTI…………tak terbayangkan……..!!!!

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: