RSS

Monthly Archives: January 2016

Hari Ke 6 : Munich – Obertraun (Hallstatt)

Oleh : Vicky Kurniawan

Tengah malam terbangun oleh suara pintu kompartemen yang dibuka dengan keras dan sejurus kemudian terdengar suara, “passport and ticket please”. Dengan mata setengah terpejam, tangan saya merogoh-rogoh bawah bantal tempat terakhir kali saya menyimpan paspor dan tiket dan ternyata mereka TIDAK ADA. What ? ?.. Mata yang tadinya setengah merem langsung melek 100 watt, dimana? dimana?. Pas mencoba duduk langsung DUK, kepala kejeduk langit-langit. Tanpa sadar saya langsung berteriak keras “WADOH”, kontan 5 penumpang, kondektur dan petugas keamanan perbatasan semuanya pada menengok keatas. Mungkin mereka berpikir, bahasa apa “wadoh” itu ?. Sambil menggosok-nggosok kepala yang sakit saya merasakan ada yang mengganjal di perut. Rupanya tanpa sadar saya sudah memindahkan paspor dan tiket dari bawah bantal ke kantong baju dalam. Langsung deh umek membuka selimut, jaket, sweater dan kaos masih ditambah perjuangan membuka resleting kantong baju dalam yang macet (duh). Akhirnya sambil keringatan saya mengulurkan paspor dan tiket pada petugas dibawah (pheww). Setelah selesai, mereka mengucapkan terima kasih dan berlalu dari situ. Secepat mereka datang secepat itu pulalah mereka pergi sampai seperti mimpi saja.

Hallstatt

Hallstatt

Tanpa terasa saya kembali hanyut dalam mimpi merasakan enaknya naik kereta tidur. Ini pertama kalinya saya naik kereta tidur untuk perjalanan malam yang panjang. Biasanya saya dan suami akan memilih naik bis yang harganya lebih murah. Tapi demi ibu tercinta bolehlah sekali ini kami membuat pengecualian. Enak juga ternyata pergi dengan ibu karena bisa dijadikan alasan untuk sedikit kemewahan 🙂 . Rasanya sudah lama sekali tidur, ketika saya merasakan keretanya berhenti. “Ah paling cuma menaik turunkan penumpang”, pikir saya. Setelah berjalan kurang lebih 30 menit, kereta masih belum jalan juga. Penasaran sekaligus kepanasan karena AC nya mati, saya turun dari tempat tidur dan melihat keluar. Kami sampai di stasiun Mannheim dan kereta berhenti cukup lama untuk menunggu lokomotif penariknya. Saya memang pernah membaca di suatu artikel kalau jalur City Night Line ini menerapkan sistim Through Coach dimana dalam suatu rangkaian perjalanan dia akan ditarik bergantian oleh dua kereta yang berbeda. Sebagai contoh misal dari Amsterdam berangkat dua kereta dengan dua jurusan yang berbeda, satu jurusan Amsterdam – Munich dan satu lagi Amsterdam – Zurich. Dari Amsterdam mereka akan berangkat bersama-sama dalam satu rangkaian, sampai di Manheim mereka akan berpisah. Kereta menuju Munich akan bergabung dengan kereta dari Paris dengan tujuan Munich, sedangkan kereta menuju Zurich akan bergabung dengan kereta dari Hamburg. Dengan sistem ini penumpang tidak perlu berpindah kereta dan perusahaan kereta api juga tertolong dengan efisiensinya.

Read the rest of this entry »

 
44 Comments

Posted by on January 21, 2016 in Austria, Hallstatt, Obertraun

 

Tags: , , , , , , , , , , , , ,

Hari Ke 5 : Amsterdam – Munich (Edam, Volendam & Marken)

Oleh : Vicky Kurniawan

Udara pagi terasa dingin ketika saya menapakkan kaki keluar dari hostel. Termometer di hand phone sebenarnya masih menunjuk ke angka 12 derajat tapi dinginnya sudah ampun ampunan. Sambil menunggu suami dan ibu mertua check out saya mengamati tukang ledeng yang sedang bekerja memperbaiki pipa di sepanjang jalan Warmoesstraat. Ternyata susah juga memperbaiki pipa di sini mengingat jalanan yang sempit dan berbatu. Seperti layaknya kota-kota kuno di Eropa, jalan kebanyakan ditutupi dengan ubin atau batu dan bukan aspal. Tapi dengan mengerahkan sedikit tenaga bisa juga mas tukang mengangkat batu tersebut dan memeriksa pipa di dalamnya. Kalau diamati tukang pipanya ganteng juga. Kelihatan maskulin dengan celana jeans, kaos putih dan sabuk peralatan di pinggang. Coba kalau dibawa ke Indonesia bisa jadi artis dia. Sambil mengamatinya bekerja saya berpikir, “Duh, kalau pipanya diperbaiki pasti jalanan bakal tambah macet, soalnya jalan ini kan sempit,”. Tapi pemikiran saya ternyata salah karena petang harinya saat saya kembali ke hotel jalannya sudah rapi seperti sedia kala seolah-olah tidak pernah didongkel sama sekali. Bah, coba tukang-tukang PDAM di Indonesia seperti ini nggak bakalan ada tuh orang jatuh ke lubang galian sampai masuk rumah sakit.

Jalan Warmoesstraat depan Hostel Meeting Point

Jalan Warmoesstraat depan Hostel Meeting Point

Perhatian saya sedikit teralihkan ketika terdengar suara gedebuk keras barang-barang dijatuhkan dari tingkat atas rumah sebelah. Rupanya si penghuni sedang mengadakan pembersihan besar-besaran. Cara membersihkannya juga unik. Cukup menaruh gerobak sampah besar di bawah jendela dan mereka tinggal membuang barang-barang yang tidak dikehendaki melaluinya. Dengan begitu mereka tidak perlu naik turun tangga yang sempit untuk membuang sampah-sampah itu. Praktis juga. Saat akan memasukkan barang-barang berat ke dalam rumah, mereka mengikatnya dengan tali dan mengereknya masuk lewat jendela. Tidak heran banyak rumah-rumah kuno di Amsterdam yang memiliki kerekan di atapnya. Jadi kerekan disini memang ada fungsinya dan bukan sekedar hiasan saja.

Kerekan di atap rumah (atas) dan cara mereka memasukkan barang (bawah) Photo by : gypsynester.com

Kerekan di atap rumah (atas) dan cara mereka memasukkan barang (bawah) Photo by : gypsynester.com

Setelah selesai urusan check out dan menitipkan backpack, mulailah kami berjalan menuju stasiun Amsterdam Centraal untuk naik bis menjelajah dua kota dalam itinerary saya yaitu Volendam dan Marken.

Sepeda di Amsterdam

Dalam perjalanan menuju halte bis di Amsterdam Centraal, saya dibuat kagum melihat tempat parkir sepeda yang bertingkat-tingkat. Bukan sepeda motor tapi sepeda pancal. Yah, dengan jumlah sepeda lebih banyak dari jumlah penduduk seharusnya saya tidak perlu terlalu heran dengan hal tersebut. Bagi Amsterdammers, sepeda sudah menjadi bagian dari hidup. Hampir 58% warganya menggunakan sepeda untuk pergi kemana saja. Dari orang tua, anak-anak, remaja bahkan mbak-mbak kantoran dengan sepatu hak tinggi semuanya menggunakan sepeda. Jenis sepeda yang digunakan pun bermacam-macam dari city bikes, road bikes sampai mountain bikes. Tapi kebanyakan mereka menggunakan city bikes berjenis omafiets atau opafiets yang modelnya tidak banyak berubah sejak abad ke 18.

Read the rest of this entry »

 
19 Comments

Posted by on January 16, 2016 in Belanda, Edam, Marken, Volendam

 

Tags: , , , , , , ,